
Entah kemana tujuan dari Baron pergi, tapi dia merasa tidak memiliki tujuan kemana pun. Dia hanya menaiki sebuah angkutan umum untuk sekedar berkeliling Jakarta saja. Dia cukup bosan berada di rumah kerabatnya, apalagi istri dari kerabatnya itu adalah seorang yang cerewet. Keberadaan dari Baron di rumah itu pun menjadi bulan-bulanan dari istrinya. Sehingga Baron merasakan perasaan yang begitu kesal dengan istri dari kerabatnya.
Mungkin dengan berjalan-jalan seperti ini, dia akan lebih merasa tenang lagi. Ada angin yang akan membuat dirinya merasa tenang. Begitu juga dengan suasana kota yang ramai akan membuat semuanya menjadi lebih tenang lagi. Perjalanan yang akan membuat pikiran Baron akan selalu berasa baru.
Beberapa orang asyik dengan gawai yang di bawanya. Mereka terlihat begitu bahagia dengan gawai pintar yang di mainkan. Sebagian tidak henti tertawa melihat beberapa unggahan video dari beberapa konten kreator. Sebagian lainnya sibuk berbalas pesan di gawai pintarnya tersebut. Mereka semua terlihat begitu antusias dalam memainkan gawai pintar yang di milikinya.
Perjalanan dari Baron semakin tidak jelas arahnya. Dia merasa semakin tidak memiliki tujuan pasti. Apalagi terminal terakhir sudah hampir di tuju oleh angkutan umum tersebut. Satu rute lagi yang akan di jalani oleh Baron. Namun dia masih tetap merasa hampa dengan kedatangan dirinya di Jakarta tersebut.
__ADS_1
Sebenarnya Baron ingin bertemu dengan Kartini. Dia ingin meminta maaf pada Kartini dengan apa yang telah di lakukan olehnya. Dia menjual Kartini pada Ian, sebelum Ian mengumpankan Kartini pada Riko dan teman-temannya. Itu kejadian yang rasanya akan sulit untuk di maafkan oleh Kartini akan Baron. Namun dia berharap semua itu akan berjalan baik-baik saja untuk dirinya. Sehingga tidak ada lagi hal yang harus membuat Kartini merasa canggung.
Baron semakin tidak percaya diri dengan keadaan yang ada. Dia melihat bagaimana hujan mulai mengguyur dengan begitu derasnya di terminal. Ini sudah jadi tujuan akhir dari angkutan umum tersebut. Baron harus segera turun dari angkutan umum tersebut. Sebab angkutan umum itu akan berhenti cukup lama di terminal tersebut.
Baron tidak memiliki pilihan lain lagi. Tentu dia harus segera turun dari angkutan umum tersebut. Apalagi Baron sudah cukup lama berada di angkutan umum itu. Akan ada kecurigaan yang datang dari sopir angkutan umum itu saat Baron masih berada di sana. Mungkin saja Baron akan di curigai oleh sopir angkutan umum itu sebagai orang yang melakukan tindakan yang jahat. Itu yang harus di pikir ulang oleh Baron. Dia harus segera memikirkan hal yang tentunya tidak akan membuat dirinya menjadi bahan kecurigaan dari sopir angkutan umum tersebut.
Perlahan perut Baron mulai terasa perih. Dia merasakan lapar yang cukup besar. Pagi ini Baron belum sempat sarapan. Dia masih merasa kesal dengan apa yang di lakukan oleh istri kerabatnya. Dia tidak henti memberikan komentar buruk pada Baron. Itu yang membuat Baron merasa tidak nyaman untuk sarapan bersama dengan kerabatnya tersebut.
__ADS_1
Dia melihat rumah makan yang ada di terminal. Banyak orang yang makan di sana. Sehingga soal rasa, tentu sudah tidak di ragukan lagi oleh Baron. Namun dia masih harus berpikir panjang akan hal lainnya. Ada suatu hal yang akan membuat Baron harus berpikir berulang kali. Mungkin saja harga di rumah makan itu akan melonjak jauh lebih mahal dari rumah makan biasanya. Itu yang di rasakan oleh Baron di rumah makan sebelumnya. Jadi dia harus bisa lebih hati-hati ketika akan membeli makanan yang ada di rumah makan tersebut. Mengingat dana yang ada di kantongnya pun saat ini tidak begitu banyak.
Namun Baron yang sudah sangat lapar, tetap mendatangi rumah makan tersebut. Dia berjalan perlahan masuk ke dalam rumah makan itu. Melihat banyaknya pengunjung yang makan di rumah makan tersebut. Sehingga Baron kesulitan mencari tempat duduk untuk dirinya.
Saat Baron akan ke salah satu tempat duduk yang kosong. Baron melihat bagaimana Emin yang sudah terlihat bahagia dengan suami barunya. Mereka asyik berbincang sambil menyantap makanan yang mereka pesan. Emin sudah jauh lebih bahagia kini saat bersama dengan suaminya.
Baron tersenyum melihat wajah Emin yang sudah kembali berseri. Mungkin ini bisa menjadi indikasi jika memang Emin sudah jauh lebih bahagia dengan kondisi yang ada. Tidak ada hal yang harus Baron khawatirkan saat ini. Dia harus bisa lebih tenang dengan semua yang ada.
__ADS_1
Baron yang tidak ingin mengganggu kebahagiaan dari Emin dengan suami barunya. Pada akhirnya lebih memilih untuk pergi dari rumah makan tersebut. Dia merasa keberadaan dari dirinya akan membuat Emin merasa tidak nyaman. Semuanya akan hancur saat Emin melihat Baron berada di sana. Mungkin itu yang ada di pikiran Baron saat ini. Sehingga dia lebih memilih untuk pergi dari tempat tersebut. Tempat yang menurut Baron sama sekali tidak layak untuk dirinya saat ini.