Kasih Tak Sampai

Kasih Tak Sampai
CIUMAN DIKENING


__ADS_3

Saat Melati memasuki kamarnya setelah makan malam dengan mama dan papanya, Melati mendengar suara ponselnya berdering, dengan malas-malasan Melati berjalan ke arah meja belajarnya dimana ponselnya berada, Melati fikir itu panggilan dari dari Rani, Dio atau gak Denis, tapi begitu melihat nama yang tertera dilayar ponselnya, mata Melati hampir saja melompat keluar.


"Rangga." gumamnya sembari mengucek-ngucek matanya karna berfikir matanya kabur, tapi ternyata beneran Rangga yang menghubunginya, sebuah peristiwa langka lho Rangga menelponya, sehingga tidak heran Melati jadi kaget begini.


"Ini beneran Rangga yang telpon ya, duhh ada apa ya, tumben amet dia nelpon, jadi deg-degan gini deh." Melati berusaha menenangkan debaran jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat.


"Ekhem ekhem." Melati membersihkan tenggorokannya sebelum dia menjawab panggilan dari Rangga.


"Halo Ga, tumben nieh nelpon." sapa Melati dia sudah menjawab panggilan.


"Gue hanya mau bilang sama elo, jaga baik-baik buku paket bahasa inggris gue yang lo pinjem, jangan sampai lecet, sobek, apalagi sampai hilang, mengerti lo."


"Astaga, lo nelpon gue hanya gara-gara itu ternyata, gue fikir ada apa, masalah itu lo tenang saja deh, istri lo itu akan gue jaga dengan sepenuh hati, pakai nyawa gue kalau perlu."


Dari seberang Melati bisa mendengar suara dengusan Rangga, dan itu membuatnya terkekeh.


"Besok gue mau ke panti asuhan." ujar Rangga, karna kebetulan juga besok adalah hari minggu dan mereka tidak sekolah.


"Lo ngajak gue Ga." Melati antusias.


"Ihh geer, siapa juga yang ngajakin elo."


Melati memberengut, "Kalau lo gak mau ngajak, ngapain lo pakai bilang segala, dasar menyebalkan."


"Ngambek, dasar manja."


"Habisnya lo itu menyebalkan, kesel deh gue."


"Kalau lo mau ikut, ya udah deh, besok gue jemput."


"Beneran lo ngajakin gue ikut."


"Ya terpaksalah, habisnya lo ngambek."


"Kalau lo terpaksa ngajak gue, gue gak ikut deh." dia yang tadinya sudah antusias kini manyun lagi.


"Iya iya, gue ikhlas kok ngajak lo, besok gue jemput deh pagi-pagi."


"Hmmm." Melati menjawab dengan dengusan.


Mendengar dengusan Melati, Rangga berkata, "Lo gak mau ikut "


"Ya maulah, besok gue tunggu deh."


"Ya udah kalau gitu, gue tutup telponnya, bye."


Dan Rangga menutup sambungan begitu saja tanpa menunggu jawab dari Malati yang membuat Melati kesal.


"Ihhh dasar Rangga, selalu saja begitu." namun kemudian Melati tersenyum mengingat kalau besok dia akan ke panti lagi bersama dengan Rangga.


*****


"Bangun lo dasar kebo."


Dio merasa ada yang menimpuk kepalanya, tapi dia mengabaikannya karna dia menganggap itu hanya mimpi, tapi ketika untuk kedua kalinya bantal mendarat di dahinya, mau tidak mau dia membuka matanya.


Argggghhh, teriak Dio langsung menutup dadanya dengan meyilangkan kedua tangannya, karna kebiasaannya kalau tidur hanya mengenakan celana pendek.


Rani hanya memandang Dio heran.


“Lo kenapa tiba-tiba di kamar gue." protes Dio menarik selimut mencoba menutupi dada telanjangnya.


Rani geli sendiri melihat tingkah Dio, bukannya merasa bersalah karna masuk kamar Dio tanpa permisi, dia malah mendekati Dio yang masih duduk diranjangnya, Rani mendudukkan pantatnya ditepi ranjang.


"Apaan sieh lo, kok lo malah duduk sieh, keluar gieh sana, gue mau pakai baju dulu." usir Dio mengibas-ngibaskan tangnnya tapi gak digubris sama sekali oleh Rani.


Saat Rani memperhatikannya dengan intens, Dio kembali menarik selimut semakin ke atas sampai menutupi lehernya.


"Apa sieh lo mandang gue kayak gitu, dasar mesum lo ya."


"Idihh, kayak gue nafsu saja sama lo."


Dio mendengus mendengar kata-kata Rani.


"Sudah sana lo keluar dulu kenapa sieh, gue mau pakai baju ini."


"Lo kalau mau pakai baju, ya pakai aja, kenapa malah nyuruh gue keluar."


"Ntar lo nafsu lagi ngelihat tubuh seksi gue, ntar lo khilaf lagi."


"Hoekkk, sumpah pingin muntah gue."


"Sialan lo." umpat Dio.


"Dio, gue bosan nieh, jalan yuk, kita kemana kek gitu, inikan hari minggu, gak asyik banget deh kalau hanya ngedekam doank dikamar." muka Rani kelihatan bete.


"Iya kita jalan, makanya lo keluar dulu bisa gak sieh, lagian siapa sieh yang ngizinin lo masuk."


Rani menyunggingkan senyum tidak bersalahnya, "Tantelah yang nyuruh gue masuk, dia bilang lo masih tidur, dan sekalian saja gue disuruh bangunin elo yang kalau tidur sudah ngalah-ngalahin kebo."


"Uhhh mama itu, benar-benar deh, main nyuruh orang saja masuk ke kamar putranya." rutuk Dio.


"Kenapa lo masih betah duduk sieh, ayok bangun, ganti baju, kita jalan Dio." Rani jadi gregetan karna Dio tidak kunjung beranjak dari posisinya.


"Emangnya kita mau kemana."


"Kemana saja deh yang penting gak dirumah, suntuk gue."


"Oke, tapi ajak Melati juga yah." usul Dio.


Mendengar nama Melati disebut oleh Dio, Rani terlihat kecewa, tapi Dio tidak memperhatikan perubahan diwajah Rani tersebut.


Dio berdiri dan memungut kaosnya yang tergeletak sembarangan dibawah.


"Ya udah lo keluar sana Ran, gue mau siap-siap dulu, lo mending telpon Melati gieh biar nanti kita jemput ke rumahnya."


Rani menghela nafas cembrut, tapi Dio tidak bisa melihat wajah Rani karna posisi Rani yang membelakangi Dio.


"Gue tungggu lo diluar yah." desah Rani dengan suara lemah.


"Jangan lupa telpon Melati." teriak Rangga dari kamar mandi.


"Iya, iya, dasar bawel."

__ADS_1


Begitu Dio keluar dari kamarnya, dan menuju ruang tamu, dilihatnya Rani tengah menelpon Melati, Dio duduk di dekat Rani yang masih bicara dengan Melati ditelpon.


"Jadi, lo gak bisa ikut Mel."


"......"


"Oh ya udah deh."


"......"


"Iya, gue akan kasih tau dia, oke bye Mel." Rani mengakhiri sambungan.


"Gmana gimana." tanya Dio gak sabaran begitu Rani menurunkan ponsel dari telinganya.


Rani pura-pura memasang wajah kecewa padahal dalam hatinya dia senang ternyata Melati tidak bisa ikut bersama mereka, dia pura-pura mendramatisir keadaan.


"Gimana Ran, Melati mau ikutkan jalan sama kita."


Rani menggeleng dan pura-pura menampilkan wajah penuh kekecewaan.


Dio mengerti arti gelengan Rani, "Emang Melati lagi ngapain sampai gak bisa ikut Ran." tanya Dio kecewa.


"Katanya dia keluar bersama Rangga."


"Apa, dia keluar bersama Rangga." ulang Dio.


Mendengar suara Dio yang lebih mengarah pada kemarahan membuat Rani menyesal telah mengatakan hal itu, kenapa tadi dia tidak mencari alasan yang lain aja, "Dio pasti cemburu sama Rangga." batin Rani.


"Mereka dimana Ran, kita susulin mereka, kita gabung aja sama mereka." Dio gak bisa mengontrol kata-katanya lagi.


"Begitu sukakah Dio sama Melati, sampai dia gak bisa melihat kalau gue juha suka sama dia." jerit hati Rani.


"Ran, kok lo malah bengong sieh." kata Dio terdenger kesel karna Rani gak menangggapinya.


"Itu...itu mereka..."


Dio menaikkan alisnya menunggu kata-kata Rani.


Rani menelan ludahnya sendiri, antara mau jujur atau bohong, sebenarnya tadi Melati sempat bilang dia ada dimana bersama dengan Rangga, "Gue gak..." suara Rani tercekat, "Maksud gue Dio, Melati tidak memberitahu gue dia dan Rangga ada dimana." sekarang suara rani terdengar mantap untk menyakinkan Dio, dan ternyata dia memilih untuk berbohong.


Dio kemudian merogoh kantung celana jinsnya dan menarikan tangannya dilayar hpnya, dia berusaha mencari kontak Melati dan begitu ketemu dilangsung mendial nomer tersebut dan menempelkannya ditelinganya, gak lama kemudian, dia kembali menurunkannya, wajah Dio terlihat muram.


"Gak aktif." gumam Dio.


Dio kemudian mencoba menelpon Melati sekali lagi, tapi tetap saja tidak aktif, dan pada akhirnya dia menyerah juga untuk menghubungi Melati.


Rani melihat Dio dan menanti Dio bersuara


"Melati sepertinya sengaja mematikan ponselnya Ran, kayaknya dia gak mau diganggu deh."


"Horeee." teriak Rani dalam hati, lisannya mengatakan, "Kita jadi jalankan meskipun tanpa Melati."


Dio mengangguk lemas, "Emangnya kita mau kemana Ran."


"Ke tempat dimana lo bisa heppy.".


"Emang bisa gue happy tanpa Melati." gumamnya nelangsa membayangkan Melati dan Rangga saat ini tengah menghabiskan waktu berdua.


***


Terkadang Melati mendengar cerita dari anak-anak yang menggerubunginya sambil sesekali menyela dan dia juga dengan sabar menghadapi Alfi, bocah kecil yang duduk manja dipangkuannya yang berceloteh panjang lebar dengan suara yang belum terlalu jelas, ini sudah ketiga kalinya Melati ke panti asuhan, dan Melati memang sudah agak akrab dengan anak-anak panti itu.


Rangga hanya mengawasi Melati sambil berdiri dipintu.


Dengan polosnya Alfi, salah satu anak panti yang duduk di pangkuan Melati nyelutuk.


"Kakak cantik ini pacarnya kak Rangga yah." tanya bocah lucu itu.


Melati dan Rangga bertatapan satu sama lain, mereka sama-sama heran karna bocah sekecil itu bisa mengenal yang namanya pacaran.


"Kemarin Putri yang nanyain apakah gue pacarnya Rangga atau bukan, dan sekarang Alfi yang bertanya, kenapa sieh bocah zaman sekarang sudah mengenal yang namanya cinta-cintaan." desah Melati dalam hati.


Kemudian Melati menunduk, dia mencoba menyejajarkan pandangannya dengan Alfi sambil mengelus-elus rambut anak kecil itu Melati mencoba menjelaskan, "Bukan sayang, kak Melati ini bukan pacarnya kak Rangga tapi temennya kak Rangga."


"Hore." teriak Alfi membuat Melati terlonjak saking kencengnya teriakan bocah itu.


Melati memandang Rangga meminta penjelasan atas perubahan sikap Alfi tersebut, namun Rangga hanya menggeleng yang berarti dia tidak mengerti.


Setelah anak itu tenang, barulah dia bicara lagi, "Kalau kakak cantik bukan pacarnya kak Rangga, berarti kakak cantik mau gak jadi pacarnya Alfi."


Sebelum menjawab, terlebih dahulu Melati melirik Rangga yang kelihatannya tersenyum geli dengan kepolosan bocah kecil itu, Melati kemudian kembali menatap Alfi, Melati tersenyum dan berusaha untuk menjelaskan dengan lembut.


"Sayang, kamu itu masih kecil lho, belum boleh ya yang namanya pacar-pacaran, nanti kalau kamu sudah segede kak Rangga, baru boleh pacaran."


"Kalau Alfi sudah sebesar kak Rangga, kakak cantik mau jadi pacarnya Alfi."


"Hmmm, iya, tapi kamu harus tumbuh besar dulu oke."


"Oke, kalau begitu mulai sekarang, Alfi akan banyak makan agar cepat gede seperti kak Rangga, supaya kak Melati mau sama aku."


Melati terkekeh mendengar clotehan polos dari bibir Alfi tersebut.


Rangga mendekati mereka dan menimpali, "Tapi sebelum kamu keburu gede, kak Melnya sudah tua lho Alfi, emang kamu masih mau kalau kak Mel sudah tua."


"Mau donk, kak Melnyakan cantik." jawab bocah kecil itu polos yang membuat Rangga dan Melati tertawa.


"Lo berhasil nyingkirin gue dan ngambil perhatian anak-anak panti." ucap Rangga begitu mereka hanya tinggal berdua.


"Lo bisa aja Ga, tetap saja anak-anak itu lebih suka sama lo dibanding gue."


"Mel."


"Iya."


"Gue gak pernah menduga ternyata lo suka sama anak-anak, gue fikir lo...."


"Gak suka diribetin oleh anak-anak, gitu maksud lo." potong Melati cepat.


Rangga hanya tersenyum polos.


"Gue juga gak pernah menyangka lo ternyata suka sama anak-anak juga dan sering main kesini."


"Kesepianlah yang membawa gue kemari Mel."

__ADS_1


"Maksud lo."


"Yahh, mama dan papa gue sibuk kerja, gue anak tunggal, dan mereka selalu nitipin gue sama ART, orang tua tidak pernah berfikir kalau gue selama ini kesepian, dan saat gue mulai beranjak remaja, gue bisa mencari hal-hal positif yang tidak membuat gue kesepian lagi, yaitu dengan menjambangi panti dan bermain dengan anak-anak panti Mel, selain itu juga, berada diantara anak-anak itu mampu membuat gue bersyukur karna orang tua gue masih lengkap meskipun mereka tidak pernah memperhatikan gue, tapi seenggaknyakan gue tetap masih memiliki orang tuakan."


"Ahh iya lo benar juga Ga, kita memang harus banyak-banyak bersyukur ya, dan terimakasih ya Ga karna lo telah mengajarkan hal itu ke gue, dengan mengajak gue ke panti."


"Hmmm."


Mereka sekarang berjalan menuju taman belakang, tempat yang asyik untuk bersantai.


"Ternyata dibalik sikap dingin dan cuek lo...."


Melati menghentikan kata-katanya karna Rangga mendekatinya, begitu jarak mereka sudah dekat, Rangga berhenti dan tangannya terulur dan hal itu membuat Melati menahan nafas.


"Ada daun dirambut lo Mel." desis Rangga memperlihatkan daun yang diambilnya dari rambut Melati.


Posisi mereka begitu sangat dekat, saking dekatnya, Melati bisa merasakan hembusan nafas Rangga.


"Oh, eh. " Melati salah tingkah wajahnya bersemu merah.


"Kok wajah lo memerah Mel."


Melati reflek memegang wajahnya, "Ini karna gue kepanasan kayaknya, iya ini karna gue kepanasan Ga, habisnya matahari bersinar dengan sangat terik." alibinya.


"Begitu ya, sebaiknya kita masuk saja yuk."


"Iya ayok." Melati berjalan cepat, dia rasanya agak gimana gitu.


***


Hari ini bener-benar hari yang melelahkan buat Melati dan Rangga setelah seharian mereka menghabiskan waktu berdua di panti bersama anak-anak yang tiada hentinya mengajak mereka bermain, hari yang melelahkan sekaligus hari yang menyenangkan sieh sampai sudah menjelang malam barulah Rangga tiba dirumah Melati.


Sebelum mengantar Melati pulang, Rangga mengajak Melati untuk makan terlebih dahulu, dan setelah mengisi perut mereka yang kroncongan dan tanpa berniat mampir kemana-mana lagi Rangga kembali melajukan sepedanya untuk mengantar Melati ke rumahnya.


“Terimakasih ya Ga untuk hari ini.” lirih Melati begitu turun dari boncengan sepeda Rangga.


Rangga ikut turun dari sepedanya dan mendekati Melati, untuk kedua kalinya hari ini Rangga begitu dekat dengannya, dan untuk kedua kalinya juga Melati harus bersusah payah menahan nafas.


"Gue harap lo gak akan menolak kalau gue ajakin lo keluar lagi."


“Menolak keluar sama lo, yah gak bakalan pernah lah.”


Rangga menyunggingkan senyumnya begitu mendengar kata-kata Melati.


Tahu dirinya kecoplosan menyuarakan kata hatinya, Melati buru-buru meralat kata-katanya, "Maksud gue, pergi sama lo ke panti ya gue maulah." Melati jadi malu sendiri.


“Yahhh." Rangga mendesah, "Gue kecewa, padahal tadi gue udah seneng banget denger lo gak nolak keluar sama gue karna memang lo ingin, meskipun itu bukan ke panti."


Rangga pura-pura menampilkan ekspresi kecewa diwajahnya.


"E itu anu, bukan begitu maksud gue Ga." Melati gak tau mau ngomong apa mendengar kata-kata Rangga, tapi satu hal, dia sangat seneng ketika Rangga kecewa mendengar kata-katanya yang gak sepenuhnya bener, "Mmm, lo mau ngajak gue jalan kemanapun, gue...gue mau kok."


"Benarkah."


Melati mengangguk.


"Kalau gue ngajak lo jalan ke neraka, apa lo mau."


"Ishh apaan sieh, ya gak ke neraka juga kali Ga."


Rangga terkekeh.


Dan untuk sesaat mereka berdua hanya berpandangan tanpa bersuara, setelah beberapa detik dalam kesunyian, Rangga lah yang pertama kali buka suara.


“Mel."


"Iya."


"Gue minta maaf."


"Maksud lo." tanya Melati gak mengerti


"Sikap gue yang ngebentak lo waktu itu, meskipun gue sudah minta maaf lewat pesan, tapi gue ingin minta maaf secara langsung sama elo."


"Ohh itu." kata Melati, "Sudahlah Ga, gak usah difikirin lagi."


Meskipun Melati bilang gak apa-apa, Rangga tetap saja merasa tidak enak dan berkata, "Gue bener-benar nyesel dengan sikap gue yang kemarin ke elo Mel, gue cuma gak suka lo terlalu akrab dengan Dio." Rangga menyuarakan isi hatinya.


"Hah." Melati terkejut sekaligus seneng mendengar hal yang baru saja dikatakan oleh Rangga.


"Sudah gue duga tanggapan lo bakalan kayak gitu, gue tau gue gak punya hak buat gak suka dengan kedekatan lo dengan Dio, gue hanya...."


"Gak." ucap Melati cepat, "Gue dan Dio gak punya hubungan apa-apa kok, gue sama dia cuma temenan doank." Melati berusaha melihat ekspresi Rangga walaupn tidak terlalu jelas karna suasana yang temaram, namun Melati bisa melihat Rangga menyunggingkan senyum tipis.


Untuk sesaat Melati berharap Rangga akan menembaknya saat ini, tapi dia kecewa setelah mendengar kata Rangga berikutnya, "Sudah malem nieh." potong Rangga melihat jam di pergelangan tangannya, "Lo mending masuk gieh."


Bukannya malah masuk, tapi Melati malah gak beranjak dari tempatnya, dia kok rasanya berat berpisah dengan Rangga.


Walaupun seharian keluar bersama dengan Rangga, tapi bau parfum bercampur bau keringat Rangga masih tercium di hidung Melati.


Melihat Melati masih belum beranjak dari tempatnya mendorong Rangga untuk mendekati Melati, Melati yang menunduk memandang tanah kosong dibawahnya tidak menyadari saat Rangga mendekatinya, begitu Rangga sudah sangat dekat, barulah Melati mendongak dan kaget karna Rangga sudah berdiri sudah sangat dekat dengannya, dan tanpa tedeng aling-aling, Rangga semakin mendekatkan wajahnya, Melati entah kenapa juga memejamkan matanya, dan dia merasakan bibir hangat Rangga mendarat dikeningnya, bibir hangat itu cukup lama nongkrong dikening Melati.


Begitu mereka berdua sadar dengan apa yang terjadi, Melati dan Rangga merasa gugup  dan salting.


"Sudah sana lo masuk."


"Eh." suara Melati terdengar gugup, "Iya, gue masuk ya." Melati gugup, "Lo hati-hati ya dijalan ya Ga."


"Lo gak perlu khawatirin gue Mel." kata Rangga, sekarang tangannya mengacak-ngacak rambut Melati "Asal lo tahu saja, guekan pemegang sabuk hitam kareta."


"Iih, geer banget sieh lo, siapa juga yang ngawatirin lo." Melati memukul bahu Rangga dengan manja.


Sekarang baik Rangga maupun Melati terasa berat untuk berpisah, sehingga akhirnya untuk ketiga kalinya Rangga menyuruh Melati masuk.


" Masuk sana, kenapa masih betah berdiri disini sieh."


Melati mengagguk pelan, "Iya."


Melati melangkahkan kakinya dan sempat menengok ke belakang, dia masih melihat Rangga berdiri ditempatnya, dilihatnya Rangga melambaikan tangan.


Melati membalas lambaian tangan Rangga dengan senyum lebar, hingga pada akhirnya Melati memasuki rumahnya masih dengan senyum semuringah, ledekan mamanya bahkan tidak dia hiraukan sama sekali saat dia melewati mama dan papanya yang tengah duduk diruang tengah sambil menonton TV.


***

__ADS_1


__ADS_2