
Semuanya langsung merasakan suasana yang begitu berbeda saat sudah berada di dalam vila. Apalagi mereka merasakan udara di sekitar vila memiliki perbedaan yang signifikan dengan udara kota yang sudah tercemar dengan polusi yang berat. Itu sebabnya mereka begitu menikmati suasana dan udara yang ada di vila. Mereka mengaku senang dengan udara vila yang sejak dan tenang. Mereka pun tidak bisa meluapkan kata-kata selain kebahagiaan yang bisa mereka rasakan saat ini.
Riko yang sudah mulai lelah, langsung masuk ke dalam kamar. Dia terlihat butuh sedikit istirahat untuk mengembalikan kondisi tubuh yang sudah cukup terkuras. Riko yang di temani oleh Alex dan Vito. Mulai berpikiran jorok saat berada di dalam kamar itu. Mereka mulai membayangkan hal yang tentunya tidak pantas di bayangkan oleh mereka bertiga.
"Aku pikir ini kasur yang baik untuk menggenjot perempuan itu nantinya." ucap Alex.
"Mungkin loe bisa pakai gaya apa aja di atas kasur ini Lex. ***** *****, 69 atau lainnya. Di sini bakal terasa nyaman." lanjut Vito.
"Tapi ngomong-ngomong, gue belum lihat cewek yang bakal kita gilir. Pasti cewek itu cantik banget." ucap Alex.
Untuk menjawab rasa penasaran dari Alex. Riko langsung merogoh saku celananya, kemudian Riko mengambil handphone yang menyimpan gambar Kartini. Sebelum Riko menunjukkan photo Kartini yang terlihat begitu cantik di dalam photo tersebut. Alex dan Vito seketika di buat kagum akan kecantikan dari seorang Kartini. Mereka berdua pun mengaku sudah tidak sabar untuk menjamah Kartini.
"Namanya Kartini. Dia adalah kembang desa di sini. Dia sama sekali belum pernah melakukan hubungan badan. Tentu kita beruntung bisa mendapatkan perempuan itu." ucap Riko.
"Ini sih spek bidadari banget. Cantik, gue suka yang modelnya kayak begini. Cewek gue aja lewat." ucap Alex.
"Benar Lex. Cantik banget, gue juga suka. Jadi gak sabar buat jajal dia." Lanjut Vito.
__ADS_1
Riko tersenyum ketika kedua temannya itu merasa puas dengan perempuan yang akan bersenang-senang dengan mereka semua. Tentu ini adalah pilihan yang terbaik yang di pilih oleh Riko. Dia belum buta, sehingga dia bisa memilih perempuan yang menurutnya memang akan di sukai oleh semua temannya.
Berbeda dari Riko dan kedua temannya. Irpan yang penasaran dengan suasana kampung, berjalan ke arah kampung. Di mana dia mulai berjalan untuk melihat kondisi dari kampung tersebut. Mungkin saja Irpan akan menemukan inspirasi yang akan di jadikan bahan dari skripsi untuk dirinya nanti. Kampung ini sepertinya masih memiliki tradisi yang kuat. Hingga ada banyak hal yang bisa Irpan lihat di kampung ini. Mungkin tradisi itu yang akan membuat Irpan merasa nyaman dengan semua yang ada.
Irpan terdiam sejenak di salah satu pos ronda yang ada di kampung. Seorang penduduk lokal yang sedang mencari rumput juga duduk di pos ronda itu. Dia mengeluarkan kopi yang sudah di sedih dari plastik di dalam karung itu. Penduduk lokal itu pun menawarkan Irpan kopi itu. Namun Irpan yang memang tidak menyukai kopi, menolak tawaran dari penduduk lokal itu pada dirinya. Irpan lebih memilih untuk tidak meminum kopi yang di berikan oleh penduduk lokal pada dirinya. Dia merasa tidak harus meminum kopi. Namun dia bisa mendekatkan diri dengan penduduk lokal lewat sebuah perbincangan hangat.
"Bapak penduduk asli kampung ini?" tanya Irpan.
"Iya Mas. Memangnya kenapa?"
Bapak tua yang renta itu ternyata adalah bapak dari Fitri. Dia yang sudah di tunggu oleh Fitri di rumah. Langsung di marahi oleh Fitri saat bapaknya berada di pos bersama dengan Irpan. Fitri merasa bapaknya begitu lama dalam mencari rumput untuk kambing-kambingnya. Hingga kambing di rumahnya sudah begitu berisik, ingin makan rumput yang di berikan oleh bapaknya.
Namun sikap dari Fitri seketika berubah saat dia melihat ada sosok pria tampan yang berada di dekat bapaknya. Pria tampan itu seketika membuat Fitri bersikap begitu manis. Padahal sejak awal wajahnya terlihat begitu marah pada bapaknya yang di anggap lelet dalam mencari rumput untuk kambing-kambingnya.
"Kamu siapa?" tanya Fitri dengan penuh kelembutan.
"Perkenalkan, nama saya Irpan." jawab irpan menyodorkan tangannya.
__ADS_1
"Aku Fitri. Kembang desa di sini." Fitri menjabat tangan Irpan.
"Aku berasal dari kota. Aku dan teman-teman baru saja tiba di vila. Aku penasaran dengan kondisi kampung ini. Makanya aku berjalan ke sini." ungkap Irpan.
Fitri yang semakin tertarik dengan paras dari Irpan yang terlihat begitu tampan dan mempesona. Semakin tidak tahan untuk mengajak Irpan jalan-jalan di sekitar kampung. Dia pun menawarkan pada Irpan untuk melihat panorama alam yang ada di kampungnya. Panorama itu tentunya akan membuat Irpan semakin terpesona akan kampungnya terlihat begitu asri dan berseri. Fitri berharap Irpan akan menyukai setiap keindahan yang ada di kampungnya tersebut.
Fitri dan Irpan pun mulai berjalan menyusuri jalanan kampung yang masih di penuhi dengan bebatuan. Fitri begitu senang bisa berjalan secara berdampingan dengan Irpan. Itu tidak pernah di bayangkan oleh Fitri sebelumnya. Padahal Fitri dan Irpan baru mengenal beberapa menit saja. Namun Fitri sudah jatuh hati pada sosok Irpan yang menurutnya sosok yang sempurna.
Irpan yang penasaran dengan kultur dari masyarakat lokal yang ada. Mulai mengajukan beberapa pertanyaan pada Fitri. Namun Fitri yang tidak paham akan budaya dari kampungnya sendiri. Kerap kali kesulitan penerjemahkan pertanyaan dari Irpan. Hingga beberapa kali Fitri merasa apa yang di tanyakan oleh Irpan tidak sesuai dengan apa yang di ketahui oleh dirinya.
Keseruan dari Fitri dan Irpan pada akhirnya harus usai. Baron yang masih kesal terhadap anak dan istrinya. Berjalan menghampiri Fitri dengan rasa cemburu. Dia tentu tidak senang selingkuhannya itu jalan dengan pria lain. Baron pun langsung meminta Fitri untuk tidak bermain-main dengan dirinya. Apalagi saat ini Baron sudah bercerai dengan Emin demi Fitri. Sehingga Fitri harus bisa memberikan cintanya pada Baron sepenuhnya.
Irpan yang tidak ingin menjadi biang keributan antara Fitri dan Baron. Pada akhirnya meminta maaf pada Baron. Dia tidak ada maksud untuk jalan berdua dengan Fitri. Irpan hanya mencari panorama alam yang ada di kampung. Juga untuk mencari tahu perihal kultur yang ada di kampung ini.
Baron tentu percaya dengan Irpan, apalagi Irpan terlihat begitu yakin saat menceritakan semuanya. Itu semakin membuat Baron merasa bahagia dengan semua yang ada. Baron pun mulai merasakan hal yang biasa lagi. Tidak ada lagi rasa cemburu yang melanda hatinya. Kini dia sudah bisa lebih tenang lagi.
Fitri sedikit kesal dengan kedatangan dari Baron. Sebab dengan kedatangan dari Baron itu, maka dirinya tidak akan bisa berlama-lama lagi dengan Irpan. Padahal Fitri masih berharap bisa berduaan dengan Irpan. Sebuah harapan yang pada akhirnya menjadi sia-sia.
__ADS_1