Kasih Tak Sampai

Kasih Tak Sampai
RANGGA TIDAK MASUK


__ADS_3

Melati saat ini tengah membaca novel yang dibelinya ditoko buku bersama dengan Rani, saat dia mendengar ada notifikasi pesan masuk ke ponselnya, namun Melati mengabaikannya karna saat ini dia lagi seru-serunya membaca kisah yang terjadi di novel.


Namun saat ponselnyanya berbunyi untuk kedua kalinya, dengan terpaksa Melati meraih ponselnya untuk mengetahui siapa sik pengirim pesan.


Rangga : Malam Mel


Melati tentu saja kaget melihat chat yang dikirim oleh Bara tersebut setelah disekolah mereka bersitegang satu sama lain.


Rangga : Gue minta maaf karna telah ngebentak elo disekolah


Melati tentunya senang mengetahui kalau Bara minta maaf padanya, "Bara minta maaf, gue harus bilang apa ya, apa langsung maafin dia gak ya, atau pura-pura jual mahal aja."


Melati : Iya Rangga, gue maafin elo


Akhirnya Melati memilih untuk memaafkan Rangga tanpa proses yang berbelit-belit.


Rangga : Makasih Mel


Rangga : Mel, kalau seandainya besok gue gak masuk sekolah, lo izinin gue ya


Melati : Lo gak masuk sekolah, emang lo mau ngapain


Rangga : Gue sakit Mel


Melati : Lo sakit, sakit apaan


Rangga : Gue jatuh dari sepeda tadi siang


Melati : Astaga, lo udah ke rumah sakit belum


Rangga : gak parah kok sakitnya, jadi gak perlu ke rumah sakit segala


Melati : Syukurlah


Melati tentunya khawatir saat mengetahui kalau Rangga jatuh dari sepedanya.


Melati : Berarti besok lo gak masu ya


Rangga : Mungkin iya, mungkin tidak, ada dua kemungkinan, kalau gue gak masuk makanya lo izinin ya


Melati : Iya


Rangga : Kenapa lo belum tidur Mel jam segini


Melati : Gue lagi baca novel


Rangga : Novel yang lo baca, pantes saja dikit-dikir baperan


Melati : Iya biarin aja, habisnya seru sieh.


Dua remaja itu berbalas pesan lumayan lama sebelum mereka memutuskan untuk mengakhiri.


*****


Jalanan kota Bandung seperti  biasa gak pernah sepi, padat oleh kendaraan yang  berlalu lalang, kota Bandung sama padatnya dengan Jakarta sehingga mama Rita tidak habis-habisnya mengkritik pemerintah yang gak bisa mengatasi kemacetan.


Melati hanya sebagai pendengar yang baik karna dia lagi males ngomong dia sama sekali tidak merespon kata-kata mamanya.


Dan setelah berjuang menerobos kemacetan kota Bandung, akhirnya mobil yang dikendarai mama Rita kini berhenti didepan gerbang sekolah, bertepatan dengan itu dari arah berlawanan motor ninja Dio melaju semakin mendekat, dan walaupun Dio memakai helm fullface, tapi Melati  bisa mengetahui kalau Dio tengah tersenyum kepadanya dibalik helmnya , Dio berhenti tepat didepan Melati yang kini sudah keluar dari mobil. Dio membuka helmnya dan menyapa Melati.


"Hai Mel, hai tante." sapa Dio ramah sembari menengok pada kaca mobil yang terbuka untuk memberi sapaan pada mamnya Melati. 


Di dalam mama Rita melongokkan kepalanya untuk membalas sapaan Dio, "Pagi Dio, tante tinggal dulu ya."


"Iya tante hati-hati." balas Dio


"Mel."


"Iya.


"Naik."


"Apa." ujar Melati padahal dia bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Dio.


 "Naik Mel."


"Naik kemana."


"Ke motor guelah."


"Gak deh, sudah didepan gerbang ini." Melati berjalan pelan, dan Dio melambatkan motornya mengikuti setiap langkah Melati.


Begitu sampai di parkiran, Melati tidak melihat sepeda Rangga terpakir, Melati kecewa, sebenarnya dia mengharapkan Rangga masuk karna semalam saat ditanya apakah dia akan masuk atau tidak, jawabanya antara iya dan tidak.


Melati celingak celinguk, fikirnya siapa tau Rangga memarkir sepedanya agak ditengah.


"Mel." Dio memandangnya dengan bingung, "Lo cari siapa sieh."


"Tidak, tidak ada kok." bohong Melati dan mengajak Dio masuk untuk membuat Dio tidak menanyakan apa-apa lagi, "Mending kita masuk saja yuk."


***


Gelisah duduk sendirian di depan tanpa kehadiran Rangga membuat Melati berniat untuk mengirim pesan pada Rangga, dab ketika dia sudah mengetik dan bersiap untuk mengirimnya, terlintas keraguan dibenak Melati, dia takut kalau Rangga pada waktu seperti ini lagi istirahat dan kemudian terganggu dengan pesan yang dikirimnya, tapi Melati juga pengen tahu keadaan Rangga dan berharap Rangga akan membalas. Setelah mengalami pergulatan batin, pada akhirnya Melati memilih untuk mengirim pesan tersebut.


Dari arah depan pak sena guru biologi mereka yang tengah mengajar melihat Melati sibuk menunduk dengan hpnya menegurnya.


“Melati, apa kamu kesini hanya untuk mau main hp." bentak pak Sena, ”Kalau kamu gak suka pelajaran saya kamu boleh meninggalkan kelas."


Wajah Melati seperti terbakar karna pusat perhatian temen-temannya sekarang terarah padanya.


Melati terdiam gak tau mau jawab apa karna dia memang bersalah, sedangkan Dio di seberangnya memandangnya dengan tatapan seolah-olah mengatakan, “Lo ngalakuin apa sih.”


Melati hanya menunduk  dengan gumaman pelan dia minta maaf dan untungnya pak Sena tidak sampai mengeluarkannya dari kelas.


Setelah mendapat bentakan, Melati buru-buru menonaktifkan hpnya karna dia gak mau tergoda untuk membalas pesan Rangga kalau seandainya nanti Rangga membalas pesannya.


"Ahhkk.” Melati mendesah, Melati merasa tolol sendiri karna belum tentu kan Rangga akan membalas pesannya.


****


“Lo kenapa sieh sampai ditegur pak Sena.” tanya Dio dan Rani bersamaan begitu Melati duduk dikursi diantara mereka berdua ketika mereka tengah berada dikantin begitu jam istirahat.


“Oh itu.” ucap Melati nyengir.


“Neh anak yah ditanya malah nyengir.”,


“Bukan apa-apa kok.” kata amelati pada akhirnya dan mulai menyantap makanannya.


"Oh astaga.” kata Melati dengan suara melengking.

__ADS_1


“Menapa lagi sieh lo Mel.”, Rani bertanya, jelas dia jengkel dengan kelakuan Melati.


Sedangkan dio hanya memandang Melati dengan rasa ingin tahu.


Tanpa mempedulikan kata-kata Rani, Melati merogoh kantong rok abu-abunya dan mengeluarkan hpnya yang dinonaktifkan,setelah beberapa detik hpnya akhirnya nyala dan bunyi bersahutan yang menandakan pesan masuk menyambut Melati, sekarang 5 pesan menghiasai layar hpnya yang berasal dari satu orang yaitu pesan dari Rangga.


“Astaga.” pekik Melati lagi saat membaca pesan yang balasan yang dikirim oleh Rangga, padahal pesan yang dikirim oleh Rangga biasa-biasa saja, tapi dia sampai memekik kegirangan begitu.


Rangga : Iya Mel, gue gak masuk, agak parahan nieh sakit gue, tapi terimakasih ya karna telah mengkhawatirkan gue.


"Apa apaan sieh Mel, dari tadi lo histeris mulu dah.” Rani sekarang menjulurkan lehernya supaya bisa mengintip ke arah layar hp Melat.


,”Ih, lo kepo aja.” Melati menjauhkan hpnya supaya Rani tidak bisa mengintipnya.


Dio juga yang dari tadi diem gak bisa lagi menahan diri, dia bangkit dan sekarang mencoba melihat hp Melati dari dekat, karna merasa terkepung dari kiri dan kanan akhirnya Melati menyerah dan memberitahu kedua sahabatnya itu dengan sukarela tanpa paksaan sama sekali.


“Oke deh, oke, gue kasih tahu elo.” seru Melati, karna Melati sudah berjanji membicarakan apa yang terjadi, akhirnya Dio kembali duduk dan Rani kembali menjauhkan lehernya dan dengan mereka tetap memandang Melati menunggunya untuk ngomong.


“Gue tadi itu moncoba mengirim pesan ke rangga, dan Rangga membalasnya.” beritahu Melati.


Dio terbatuk-batuk, sementara Rani tersenyum sumringah.


“Lo ngirim pesan ke Rangga, ngapain." suara Dio terdengar dingin.


,”Ngapain lo bilang.” sahut Rani, ”Yah Melati nanyain kabarnya Ranggalah, lo gak nyadar atau pura-pura gak tau kalau rangga hari ini gak masuk, ketua kelas macam apa lo gak menanyakan kabar anggota kelas lo, Melati saja yang cuma anggota kelas saja perhatian tuh sama Rangga."


"Gue gak ngomong sama lo yah Ran." balas Dio seperti gak suka mendengar kata-kata Rani.


Melati yang menyadari sebentar lagi akan terjadi pertumpahan darah antara kedua sahabatnya itu berusaha untuk menengahi, "Sudah-sudah, ngapain kalian yang pada ribut sieh, inikan masalah kecil dan gak ada sangkut pautnya dengan lo berdua."


Dio menggebrak meja dan tanpa mengucapkan kata sepatah katapun dia pergi meninggalkan Melati dan Rani.


"Dio, lo mau kemana." Melati berusaha memanggilnya walaupn itu sia-sia.


Melati kembali memandang Rani yang juga terlihat cembrut, "Dia kenapa sieh, akhir-akhir ini peka banget."


"Lo tanya saja sendiri sama orangnya." jawab Rani acuh tak acuh.


Melati sebel juga sama Rani, bisa-bisanya dia mendengar kata-kata itu dari Rani, tapi berhubung dia lagi laper dan belum makan apa-apa akhirnya dia memilih untuk tetap duduk bersama Rani yang suasana hatinya juga buruk.


***


Sampai bel pulang berdering suasana antara Dio dan Rani belum membaik, mereka juga tidak bertegur sapa, Melati berusaha mendatangi  keduanya mencoba untuk mendamaikan mereka ketika jam pelajaran kosong, tapi gak ada hasilnya karna keduanya sama-sama keras kepala.


Begitu bel pulang berdering, Melati dengan gesit membereskan peralatan tulisnya dan tanpa melihat kiri kanan lagi dia bergegas meninggalkan kelas, suara Dio yang memanggilnya tidak dia hiraukan sama sekali.


Melati berjalan berbaur dengan puluhan murid-murid lainnya berjalan menuju gerbang sekolah. Melati merasakan dadanya sesak, dia merasa sulit bernafas diantara kerumunan anak-anak yang lainya, selama beberapa bulan belakangan ini memang penyakitnya agak jarang kambuh, hanya kalau dia terlalu kelahan saja hal itu terjadi, begitu sampai diluar gerbang, Melati sudah ngos-ngosan, dia mencoba menarik nafas dan mengeluarkanya sambil mengelus dadanya yang terasa berat, dia tidak bersusah payah merogah tasnya karna memang dia gak membawa obatnya.


Sebuah motor ninja berwarna merah berhenti tepat didepanya, Melati takut, sehingga dia berfikir yang bukan-bukan tentang pengendara motor yang tidak dikenalnya itu.


“Ya ampun, belum cukup apa dada gue sesak tadi, kok masih ada orang yang mau jahatin gue, tapi inikan sekolah dan masih banyak anak-anak yang berlalu lalang, kalau nieh orang macam-macam, gue tinggal teriak aja.” batin Melati.


Ketika Melati akan membuka mulutnya, si pengendara motor itu terlebih dahulu membuka helmya dan berhasil membuat Melati terbengong ditempatnya dengan mulut terbuka seperti orang bodoh saat melihat siapa sik pengendara motor tersebut, rasa takutnya sekarang sudah terlupakan, dia perlu beberapa detik untuk mengembalikan kesadaranya, Melati mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memastikan apakah yang dilihatnya itu beneran Rangga atau tidak.


“Kenapa lo Mel, gak pernah lihat orang ganteng yah.” ujar suara yang sudah sering didengarnya sekaligus suaranya yang membuatnya rindu, tapi Melati tidak bergeming sehingga membuat Rangga turun dari motornya dan mengguncang bahu Melati pelan.


“Mel, lo baik-baik sajakan.” sekarang Rangga memandangnya karna dia yakin dia salah orang.


Melati menggelengkan kepalanya dan mencoba tidak terlihat tolol.


“Rangga lo....” suara Melati terhenti, "Lo pakai motor."


"Ishh, Rangga." kesal Melati mendengar kata-kata Rangga.


Sekarang Rangga malah sudah naik ke atas motornya lagi.


“Naik Mel, gue anter lo.”


Melihat Melati masih berdiri ditempatnya, Rangga menyodorkan helm merah pada Melati yang diambil dengan ragu oleh Melati 


“Ga, lo bisa emang bawa motor.” ragu Melati.


“Kenapa, lo takut ya gue boncengin.“


“Eh gak kok, tapi lo kan lagi sakit kenapa lo bisa dateng kesekolah dan pakai motor lagi."


“Gue mau jemput lo.”


"Lo mau jemput gue."


"Iya, takutnya lo rindu lagi." goda Rangga yang membuat wajah Melati bersemu.


"Rangga apaan sieh."


"Ayok naik Mel gue anterin."


“Tapi Ga..."


“Percaya deh, gue sudah sehat dan gue janji akan membawa elo sampai rumah dengan utuh.” canda Rangga.


Mau tidak mau Melati tersenyum juga.


"Baiklah."


Setelah Melati duduk diboncengan  motor Rangga, Rangga menstater motornya dan melaju meniggalkan sekolah, Rangga membawa motornya dengan pelan.


Melati menikmati saat-saat dia bersama dengan Rangga, Melati pengen melingkarkan tangannya dipinggang Rangga tapi dia takut Rannga akan marah kalau dia melakukan itu.


“Kalau lo takut jatuh, pegangan saja." kata Rangga seolah-olah bisa membaca isi hati Melati.


“Gue pegangan dimana." tanya Melati terdenegar bodoh.


“Sini tangan lo.” 


Melati mengulurkan tangannya yang kemudian dipegang oleh Rangga dan dikaitkan dipinggangnya, “Tangann lo yang satunya lagi Mel.” Melati dengan patuh melingkarkan tangan kirinya.


Saat motor sudah mulai melaju, Melati tanpa sadar menyandarkan kepalanya dipunggung Rangga, rasanya begitu nyaman sehingga dia gak menyadari kalau sudah sampai dirumah 


“Mel, udah sampai nieh.” tegur Rangga mengguncang tangan Melati.


Melati buru-buru melepaskan pegangannya pada pinggang Rangga dan turun dari motor.


Setelah menyerahkan helm pada Rangga, Melati berkata, ”Masuk yuk Ga.”


“Gak ngerepotin nieh.”


“Tentu saja gak donk.” Melati mengibaskan tangannya, “Yuk.” ajak Melati lagi.


"Ma, mama." panggil Melati begitu memasuki rumah dan begitu terkejutnya Melati karna yang ditemukan diruang tengah adalah Denis.

__ADS_1


Denis begitu melihat Melati langsung berdiri dan menyongsong Melati, Melati tidak habis fikir Denis secara tiba-tian memeluknya.


Rangga yang berada dibelakang Melati membeku ditempatnya, selama beberapa detik Melati baru tersadar dan mendorong tubuh Denis.


“Gue kangen sama lo Mel." kalimat pembuka Denis.


Melati mengedip-ngedipkan matanya seperti orang kelilipan.


“Denis lo kok tiba...”


“Gue kangen lo Mel.” potong Melati.


suara dehemen rangga membuat melati tersadar kalau dia dateng bersama rangga,,bersamaan denis dan melati menoleh dimana rangga masih berdiri berharap dia disapa,,


“Hai Rangga." sapa Denis karna sebelumnya mereka telah berkenalan.


"Hmm." gumam Rangga datar menanggapi sapaan Denis.


“ga,den masuk yuk”,ajak melati yang gak memperhatikan yang terjadi dianatara rangga dan denis. rangga dan denis mengikuti melati yang berjalan didepan,,sesaat rangga dan denis saling pandang,,menilai masing2..


“duduk ga, lo mau minum apa” tawar melati pada rangga terlebih dahulu,,


“apa aja deh mel.”.


“kalau lo den” tanya melati memandang denis ,,


“gak usah repot2 mel”,,


“oke deh kalau gitu tunggu sebentar deh”.


denis menatap rangga yang duduk disofa ujung,,”jadi kata denis,,lo sama melati punya hubungan apa”,,


“apa pentingnya buat lo” balas rangga memandang denis tajam,,begitu denis akan membalas kata2 rangga  terdengar langkah dari arah dapur yang ternyata melati yang telah kembali sambil membawa nampan berisi 3 gelas minuman dan makanan kecil,,


“sori lama,”,melati menaruh masing minuman dimeja tanpa menyadari suasana dingin anatara rangga dan denis,,


“tante mana mel” tanya rangga,,


“ada kok didapur lagi masak,,pada makan disini aja yah”,,tawar melati penuh harap pada rangga tanpa melihat denis dan hal itu membuat denis dongkol,,rangga akan menjawab “ya” tapi suara bel dari membuatnya harus menyimpan jawabannya.ting tong suara bel membuat 3 remaja mengarahkan pandangannya pada pintu,,


“siapa yah” tanya melati pada diri  sendiri,,”gue lihat dulu,”,melati berdiri dan melangkah kearah pintu,begitu pintu terbuka,punggung cowok berseragam putih abu memungginya dan walaupun dilihat dari belakang dia kenal cowok itu,,


“dio”cowok itu berbalik,,


“mel,”


“lo ngapain kesini,”,


“cuma mau mastiin, kalau lo baik2 aja”,,


melati terlihat bingung, “gue gak sakit”,,


“makanya itu gue mau mastiin, tadi lo buru2 banget ninggalin kelas gue kiraan lo kenapa2 gitu,,


melati senyum bersalah karna memang dia sengaja buru2 untuk menghindari dio ataupun rani,”masuk yuk,”,


“ehmm,,boleh emang”,


“apaan sieh lo kayak gue orang lain aja lagian didalam ada rangga juga”,,


“hah,,dia ngapain suara dio meninggi tanpa disadari”,


“main2 aja, kan tadi dia yang ngantarin gue, ayuk masuk” ajak melati gak sabaran menarik tangan dio,,


begitu masuk dio melihat rangga tengah duduk menyeruput minumannya dan satu lagi cowok yang gak dikenal dio,,pandangan rangga dan denis berfokus pada melati yang datang bersama dio,sementara rangga kembali meminum minuman yang dusuguhkan melati,,denis memandang dio seolah dari pandangannya itu mengatakan “mel ini siapa lagi sieh”.


“rangga” melati berseru “ada dio nieh”,,


rangga hanya tersenyum sebentar,,”dan dio gue yakin lo belum kenal denis, temen gue dari jakarta,”,melati memperkenalkan kedua cowok itu yang menampilkan ekspresi dingn,,


“Dio” suara dio terdengar kaku


“Denis” ucap denis gak kalah kakunya


“lo mau minum apa dio” tawar melati lagi,,


“gak usah mel terimakasih” nada suara dio rendah begitu ngomong dengan melati,


beberapa menit kemdian suasanaa hening tercipta diruangan itu gak ada satupun yang memulai percakapan,,melati berusha memancing pembicaraan tentang hal yang gak penting tapi hanya ditanggapi dengan kata2 seperti “oh”,,masa sieh,,kapan,” membuat melati kesel pada 3 cowok itu,,tapi untungnya bu rita mama melati datang menemui mreka mengajak mereka untuk makan siang,


“makan siang udah siap anak2 ayok kemeja makan,,eh ada nak dio juga toh rupanya,,kapan datangnya nak dio” sapa nurita ramah seperti biasanya,,


“baru kok tante”,,


“mel ayok ajak temen2 mu,”,


“baik ma,”,dengan berjalan didepan melati membimbing rangga,dio dan denis kemeja makan yang letaknya berada didapur,,ternyata burita memasak cukup banyak,,


“wah,ini tante semua yang masak”,,dio bertanya basa-basi,,


“ea donk,,ayok duduk,,tante tinggal dulu yah tante harus ikut arisan nieh,”,


“yah tante gak ikut makan dengan kami”,,denis menyahut,,


“tante udah kok tadi,,mama berangkat yah sayang burita mengecup pipi melati sebelum beranjak pergi


“,mel lo harus mkan banyak sayur supaya lo sehat” rangga mengambil sayur yang berada dekat dengannya dan menuangknnya dipiring melati begitu mereka semua duduk dimeja makan saling berhadapan,,


melati senyum “makasih ga,, lo perhatian banget”,,


“itu yang akan sering gue lakuin sama lo” kata rangga menampakakn senyum termanisnya yang dibalas dengan senyuman oleh melati


dio dan denis gerah melihat adegan yang berlangsung didepannya itu tentu saja mereka berdua gak mau kalah.


Denis mengambil ayam yang agak jauh dari jangkaunanya dia menjulurkan tangannya sedemikian rupa dan begitu piring berisi daging ayam goreng itu dia terlihat lega 


“jangan hanya makan syur aja mel,nieh lo juga perlu makan daging biar gizi yang masuk ketubuh lo seimbang,melati kembali tersenyum dan mengucapkan terimaksih sekali lagi,,


“maksih den,, tapikan gue bisa ambil sendiri lagian kan tadi jaraknya lebih dekat dari gue”


Rangga dan dio menyirangai,,”gak apa2kan mel sekali kali”,,timpal denis,karna kan gak setiap hari gue bisa makan bareng lo,tentu saja dio yang duduk didekat rangga melihat dua rifalnya memasang ancang2 membuat dio juga gak mau ketinggalan,,


“oh yah mel,, nieh lo juga harus makan tempe yaang baik banget untuk kesehatan,, dio baru akan mengambil piring tempe tapi keburu dicegah oleh melati,,


“dio,,aduh entar aja deh yah, nieh makanan dipiring gue udah penuh,,melati memandang dio dengan pandangan minta maaf,,dio kembali menarik tangannya terlihat kecewa,


“oh,ucapnya kecewa,,dia kemudian mulai makann,suasana meja makan bener2 mencekam,,melati yang lelah mengajak mereka ngobrol akhirnya diem karna hanya direspon tanpa minat.


***

__ADS_1


__ADS_2