Kasih Tak Sampai

Kasih Tak Sampai
Permohonan Baron


__ADS_3

Hampir sebungkus rokok telah di habiskan oleh Baron di hari ini. Tapi Fitri tidak kunjung keluar dari rumah untuk menemuinya. Sudah hampir satu jam lebih Baron menunggu di teras rumah Fitri. Tapi tidak tidak kunjung datang menemui dirinya. Baron pun mulai merasa kesal dengan Fitri yang masih betah berada di dalam rumahnya.


Baron bangkit dari kursi di depan rumahnya. Dia melihat dari celah-celah jendela di rumah Fitri. Melirik ke dalam rumah Fitri. Menyaksikan bagaimana kondisi dalam rumah Fitri yang terlihat begitu sunyi. Tidak ada aktivitas apapun di dalam rumah Fitri.


Baron kembali menggedor pintu rumah Fitri. Dia memanggil nama Fitri sekuat mungkin. Berharap perempuan yang pernah menjadi pacarnya itu keluar dari dalam rumah. Namun tidak urung datang juga, dia tetap berada di dalam rumah dengan kesunyian.


Baron yang semakin kesal dengan sikap dingin Fitri pada dirinya. Mengancam Fitri untuk menghancurkan pintu rumah. Ini terdengar seram bagi seorang Fitri. Mungkin saja Baron benar-benar mengamuk di depan rumahnya. Fitri yang sempat tidak peduli dengan kedatangan dari Baron ke rumahnya. Kini mulai bergegas dari dalam kamarnya untuk melihat apa yang hendak di lakukan oleh Baron di depan rumahnya.

__ADS_1


Cekrek..


Fitri membuka pintu rumahnya. Dia melihat bagaimana Baron terlihat begitu bahagia dengan kedatangan dari dirinya. Namun Fitri yang justru tidak menyukai kedatangan Baron ke rumahnya. Terlihat begitu jijik dengan laki-laki tua tersebut. Fitri pun merespon kedatangan dari Baron itu dengan ekspresi wajah yang kurang menyakinkan. Dia menatap Baron dengan tatapan yang begitu ekpresip. Bagaimana perempuan itu terlihat begitu benci dengan keberadaan dari Baron di depan rumahnya.


"Aku benar-benar rindu denganmu Fitri." ungkap Baron mendekat ke arah Fitri.


Tapi Baron adalah seorang yang tidak mudah menyerah. Dia berusaha untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Baron melakukan itu semua untuk bisa memuaskan nafsunya. Dia tetap berusaha mendekatkan tubuhnya ke arah Fitri. Sehingga hal itu membuat Fitri semakin merasa kurang nyaman dengan apa yang di lakukan oleh Baron.

__ADS_1


"Menjauh atau aku panggil warga sekarang juga!" ancam Fitri pada Baron.


"Aku tidak peduli jika harus di pukuli oleh warga. Terpenting aku bisa memelukmu Sayang." balas Baron dengan wajah bergairah.


Ancaman dari Fitri bukanlah ancaman yang sepele. Dia siap melakukan tindakan yang akan membuat Baron menyesali apa yang di lakukan oleh dirinya. Fitri pun langsung berteriak sekencang mungkin. Teriakannya pun terdengar oleh beberapa warga yang ada. Mereka seketika langsung datang ke rumah Fitri. Melihat apa yang terjadi pada Fitri. Sehingga dia berteriak dengan begitu kencangnya.


Baron yang panik dengan kedatangan dari para warga ke rumah Fitri. Pada akhirnya memilih untuk pergi dari rumah Fitri. Tidak ada pilihan lain selain pergi. Mungkin saja dia akan babak belur di buat oleh para warga. Mengingat Fitri yang akan membuat karangan cerita yang terdengar menjijikan oleh Baron. Sehingga Baron harus segera kabur dari rumah Fitri secepat mungkin. Apalagi sudah ada beberapa warga yang datang dengan sebilah kayu. Mereka datang untuk merespon permintaan tolong yang di ucapkan oleh Fitri.

__ADS_1


__ADS_2