
Suasana diruangan itu terasa hening,hanya bunyi bip-bip dari monitor yang terdengar, derap-derap langkah diluar ruangan gak mampu membuat suasana didalam ruangan itu hidup, suara pintu yang didorong pelan mampu membuat seorang yang duduk disofa itu mendongak,,
“denis,,” seru burita begitu melihat cowok yang sekarang melangkah kearahnya,denis membawa bingkisan buah-buahan yang ditata dengan rapi,
“tante”,sapanya,denis mencium tangan burita dan menyerahkan bingkisan yang dipegangnya,,
“terima kasih loh nak denis sudah repot2”,ujar burita sekarang meletakkan bingkisan itu dimeja didekat tempat tidur melati.denis sekarang berbalik,tatapannya teralih pada melati yang terbaring dengan mata terpejam,
“apa dia masih belum sadar juga tan”,,denis bertanya tapi tatapannya melekat pada melati,burita terlihat menarik nafas berusaha menguatkan hatinya dan kemudian berkata,,
“dia masih belum sadarkan diri,sudah dua hari” sekarang burita tidak bisa membendung air matanya,bulir2 air mata menetes,
denis menutup matanya,seolah mengumpulkan kekuatanya,dia berdiri ditepi tempat tidur dimana melati terbaring,gerakannya reflek mengelus rambut melati yang untuk pertama kalinya dia lakukan,”dia akan baik aja tan”,kemudian sekilas denis melihat tangan melati bergerak,dan gerakan tangan melati semakin intens,
“tan,,melati,,tan,,”
“dia kenapa?” tanya burita
Khawatir dia mendekat supaya bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi.
denis menunujuk pada tangan melati yang bergerak,,”tangan melati bergerak tan”
“astaga” burita terpekik seneng,burita langsung memencet tombol didekat tempat tidur melati,gak lama kemudian dokter dan perawat dateng kekamar melati dengan tergesa-gesa,,
“maaf,, apa kalian bisa menunggu diluar,” dokter itu berkata,
tanpa disuruh dua kali burita yang diikuti denis dibelakangnya berjalan kearah pintu,dan menutupnya,beberapa saat pak ardi dateng setelah istrinya menelpon,,dan kemudian dio dan rani menyusul dateng kemudian.10 menit kemudian dokter keluar,,begitu dia keluar,,4 orang yang menunggu dengan cemas langsung menyerbunya tanpa memberikan kesempatan dokter itu untuk bicara terlebih dahulu,burita yang gak tenang beberapa hari belakangan ini langsung membrondong dokter itu dengan pertanyaan,,
“gimana keadaan anak saya dok”
“ea, dokter gimana keadaan putri kami” pak ardi juga bertanya,
“oh,,” kata dokter itu tersenyum,”dia sudah sadar sekarang, tapi kondisinya masih sangat lemah,” walaupun begitu terlihat ada kelegaan disetiap wajah,”tapi jangan khawatir” dokter itu melanjutkan”,mungkin dia akan pulih gak lama lagi,siapa yang bernama rangga diantara kalian” tanya dokter itu mengedarkan pandangannya,denis dan dio saling pandang satu sama lain dan secepat mungkin mereka membuang pandangan masing2,
“rangga,”,celutuk rani,,”kenapa,,ada apa”
“tidak apa2” kata dokter itu buru2 menjelaskan maksudnya supaya lebih jelas,”hanya saja pasien begitu membuka mata terus saja menyebut satu nama,,yaitu rangga”
“dia temennya putri kami dokter” pak ardi memberitahu,,
“sebaiknya rangga menemui melati karna sepertinya rangga ini berarti buat pasien” doter itu menyarankan,,
burita menggaguk,dan tanpa disuruh rani langsung meelpon rangga,bu rita dan pak ardi masuk terlebih dahulu menemui melati,sementara itu rani,dio dan denis menunggu diluar,suara langkah kaki membuat mereka seketika mengarahkan pandangan secara bersaaman pada sumber suara,rangga jelas seperti tergesa-gesa dateng begitu rani menelponya,rani berdiri,,
“ga kok cepet amet lo nyampe,”,rani mengintip arlojinya,”10 menit, benar-benar hebat lo ya.” katanya memuji tapi rangga tidak terkesan,
“melati gimana,,”
“didalam, tapi om dan tante ada didalam”
rangga kemudian duduk didekat rani yang juga sekarang duduk,gak lama pintu terbuka mama dan papa melati muncul dengan wajah yang sedikit cerah,,
“rangga kamu sudah dateng” sapa pak ardi begitu melihat rangga,rangga langsung berdiri begitu melihat mereka keluar,rangga hanya mengangguk,,
“om rasa,,biar rangga aja dulu yang menemui melati”,terlihat helaan nafas kecewa dari belakang bahu rangga yang jelas datenganya dari dio dan denis,rani memandang dio dan denis bergantian,,
“itu ide yang bagus”
“err,,,apa,,tidak apa tan”
“melati terus menyebut nama nak rangga begitu dia sadar,mungkin dengan melihat nak rangga bisa memberi semangat baginya untuk cepat sembuh”
mendengar hal itu rangga tidak bisa menyembunyikan rasa senengnya yang tampak jelas dari rona wajahnya,dan tanpa ngomong apapun rangga masuk dan meniggalkan wajah iri denis dan dio yang memandang punggungaya sampai pintu tertutup dibelakangnya,rangga melihat melati tengah memandang kosong pada langit kamar rumah sakit,begitu mendengar suara derit pintu dia langsung memandang kearah pintu dan melihat rangga tersenyum berjalan kearahnya,melati berusaha tersenyum,,
“hai,,”sapa rangga menarik kursi dan duduk didekat tepi ranjang,
melati tidak mengedipkan matanya,melati menggerakkan bibirnya untuk membalas sapaan rangga,tapi tidak ada suara yang keluar,rangga menggenggam tangan melati yang tergeletak ditepi tempat tidur,mengelusnya dengan sangat lembut,
“kalau lo masih lemah”,ucap rangga memandang mata sayu melati”,lo gak perlu ngomong dulu”
“gu,,e,, kang,,en,, lo”,suara melati berbisik hampir tidak terdengar namun masih bisa ditangkap oleh rangga dengan jelas yang membuatnya bersorak dalam hati,,
sepersekian detik rangga kemduian berkata,”gue juga”
melati memandangnya dengan penuh harapan,”gue juga kangen lo tau”,rangga tertawa,melati tersenyum,”lo tau gak udah berapa lama lo tertidur dan membuat semua orang panik”,ada rasa bersalah dari raut wajah melati kemudian dia menggeleng,,
“dua hari mel”,rangga mengangkat dua jarinya seolah dia bicara dengan orang gagu,”lo tidur dua hari,semua orang panik dengan kondisi lo,dan semua orang kangen sama lo”,
“a,,pa”,,melati terbata-bata “apa lo juga panik”
“gue takut mel,,gue takut waktu lo nelpon dan kata yang loekeluarin adalah tolong,,waktu itu gue pengen secepatnya tiba dan nyamperin lo,,gue khawatir benget,,gue mengira,,gue mengira, gue gak akan lagi lihat lo lagi”,wajah rangga memandang melati dengan lembut menyakinkan melati,dan begitulah rangga terus bercerita pada melati mulai dari menceritakan kepanikannya dan orang2 yang menyayangi melati sampai dia menceritakan hal yang gak penting walupun melati kadang menyahut singkat dengan mengatakan “ea,,masa atau terkadang dia menggeleng dan mengangguk menyetujui,sampai pada akhirnya dia tertidur,dan ketika rangga keluar kembali dio,denis dan juga rani bersiap untuk masuk,tapi rangga menjelaskan melati sedang beristirahat yang membuat dio, rani dan denis kecewa dan berniat untuk dateng keesokan harinya.
***
__ADS_1
Sudah lima hari melati menginap dirumah sakit,tapi selama itu juga kondisinya belum bener2 membaik secara total,rangga tentu saja gak pernah absen berkunjung membawakan bunga ataupun juga coklat,dengan datengnya rangga membuat melati punya semangat untuk sehat,sedangkan denis juga sering berkunjung dan mengajaknya bercanda,begitu juga dio dan rani yang selalu dateng bersama sehingga suatu hari ketika rangga tengah berjalan menuju kekamar melati dia berpapasan dengan pak ardi yang baru saja keluar dari kamar melati,,mereka berpasasan,
“,mel,,,,”rangga akan mencoba bicara tapi pak ardi terlebih dahulu mendahuluinya,
“rangga,,” terdengar suaranya yang berwibawa,”apa rangga mau menemenin om minum dikafetaria rumah sakit” tanyaya sopan,
rangga sempat heran,dia bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan pak ardi mengajaknya minum gak seperti biasanya,meski heran namun akhirnya dia mengatakan ia juga.mereka memilih tempat duduk paling pojok dan memesan masing2 secangkir kopi,sambil menunggu pesanan mereka dianter,,pak ardi memulai membuka percakapan,,
“ehhmmm” dia berusaha menjernihkan tenggrokannya,rangga hanya menunggu sampai pak ardi bicara terlebih dahulu,”begini rangga,,kami,”,dia terdiam seolah menghapalkan kata yang akan dikeluarkannya,”apa rangga cinta sama melati”
rangga sempet bingung dengan pertanyaan yang gak diharapkannya itu,namun ea berkata dengan malu2”,ea om memangnya kenapa”,sekejap kemudian pak ardi terdiam mendengar pengakuan rangga, fikiran2 buruk bermunculan dikepala rangga,”apa mungkin om ardi menyuruh gue menjauhi melati,,apa dia gak setuju seandainya gue pacaran sama melati,,apa,,,”
“apa rangga bener2 cinta sama melati” kata pak ardi menghentikan fikiran buruk rangga yang mulai gak masuk akal,
“ea om” kata rangga mantap,,
“begini rangga,,” pak ardi sekarang memandang rangga,”kami belum memberitahu rangga apa yang sebenarnya terjadi sama melati”
“memangnya apa,,maksud saya memangnya melati mengidap penyakit apa”,pertanyaan ini memang yang selalu ingin ditanyakannya,,
pak ardi meminum kopinya pelan,dan barulah kemudian dia melanjutkan kata2nya yang dipotong,,”putri om,melati,mengidap penyakit kanker otak,,”
rangga bagai disambar petir mendengar pengakuan papa melati, dia tau melati mengidap penyakit tertentu tapi dia gak pernah mengira kalau penyakit yang diderita melati separah itu,kaku mulutnya bagai terkunci,
“kanker,,kanker”,rangga seperti gak bisa bicara dengan benar,”tapi,,kok bisa om”
“stadium akhir” belum hilang rasa terkejutnya mendengar kata pak ardi barusan kalimat berikutnya yang diucapkan pak ardi,kembali membuatnya seperti disambar petir untuk kedua kalinya.
“om tapi,,”
pak ardi menghembuskan nafasnya,”,mama melati sebenarnya melarang saya memberitahu rangga yang sebenarnya karna dia takut kalau temen2 melati tau dia mengidap penyakit yang mengerikan maka temen2nya akan menjauhinya dan mamanya tidak mau temen2nya menjauhi melati” tutur pak ardi,
rangga termangu tapi tidak berkata apa2,rangga hanya gak habis fikir kenapa bisa2nya mama melati berfikiran seperti itu memanganya dia orang seperti apa,,
“tapi om,,kenapa baru sekarang,,”
“kami juga baru mengetahiunya sebelum kami pindah kesini,,sebenarnya kami pindah dengan alasan untuk mencari ketenangan buat melati”
“tapi kan om masih ada harapan, melati masih bisa diopreasi,,dan,,dan setelah itu melati bisa sembuh”
“om juga berfikiran gitu,tapi,,,”pak ardi sekarang duduk tidak tenang, “kata dokter belum tentu melati bisa sembuh sepenuhnya, resikonya juga cukup besar mengingat kanker otaknya yang derita anak om sudah mencapai stadium akhir”
rangga yang duduk tegak terhenyak dikursinya gak bisa membayangkan jika melati meniggalkannya,”jadi,,”kata rangga setelah bisa mencerna apa yang dimaksud pak ardi “jadi kemungkinannya melati bisa saja mati dimeja operasi”
“apa yang bisa saya lakukan om,,apapun akan saya lakuin buat melati”
“tolong jangan jauhin dia,,saya tau putri om menyukai rangga jadi,,tetap lah disampingnya hiburlah dia,,”
***
Rangga membuka pintu kamar dimana melati dirawat, dia menemukan denis yang tengah ngobrol dengan melati,mereka tertawa dan berhenti ketika melihat rangga masuk,kalau dalam keadaan normal mungkin rangga akan menonjok denis tapi rangga sadar kalau melati dan denis sahabat dekat, mereka berteman sejak lama,walaupun rangga menyadari denis sepertinya memiliki rasa untuk melati,begitu melihat rangga senyum melati menyambutnya dan dengan jelas mata melati berbinar melihatnya,,
“ga,,”sapanya,,
“hai,,mel,,hai den” balasnya memnadang denis,yang entah kenapa untuk pertama kalinya juga tersenyum,kemudian denis berdiri cukup dekat dengan rangga dan berbisik tepat ditelinga rangga “gue pengen ngomong dengan lo berdua”,rangga memandanganya heran,melati melihat mereka berdua dengan curiga,
“kenapa kalian bisik2” tanyaya dengan suara parau,”kalian lagi membicarakan gue yah”, rangga dan denis memandangnya hampir bersamaan,
“ea,,kami ngebicarain kamu yang tetap cantik walaupun masih terbaring sakit selama beberapa hari”,denis menggodanya,,
“ih apaan sieh lo,kerjaan lo ngegombal mulu” melati melambaikan tanganya dengan wajah yang merona,tapi melati tidak percaya begitu saja apa yang diucapkan denis.
“temuin gue dikafe depan rumah sakit” gumam denis yang hanya bisa didengar oleh rangga,rangga tidak mengtakan ea ataupun tidak,,
“mel gue balik oke”
melati menggguk,
“gue akan dateng jengukin lo lagi besok”
setelah denis menghilang dari balik pintu rangga menghampiri melati yang sekarang mencoba untuk duduk,rangga membantunya,”makasih ga”,melati menjangkau gelas yang berada didekat tempat tidurnya tapi rangga lebih dulu menyambarnya dan langsung menyerahkannya,
“lo mau makan sesuatu” tawar rangga mengambil jeruk dan mengupasnya tapi perhatian melati beralih pada lembaran kertas yang ditaruh rangga dimeja,
“ga itu apa”tunjuk melati mengarahkan telunjuknya pada meja,rangga memecah jeruk itu dan menjulurkan tangannya untuk menyuapi melati,melati memandangnya karna rangga belum menjawab pertanyaannya dia membuka mulutnya,
“lo merasa udah baikan” tanyaaya dengan tidak yakin mengingat percakapannya dengan papa melati,mengingat hal itu membuat perutnya mual,,gimana bisa papa melati memintanya untuk jangan meningglkan melati,tanpa dimintapun dia gak akan meninggalkan melati sampai kapanpun, apapun yang terjadi,,
“ga,,ga” melati mencubit tangan rangga
“eh kenapa”,
“lo kok diem,”,
__ADS_1
“gak,,”rangga mengelak “gue Cuma,, ah gak usah dipikirin” kening juli mengerut
“mel”
“ea”
“lo kan dulu bilang sama gue”
“gue bilang apa”
“lo kan pengen baca cerita yang gue tulis”
“e”, melati terlihat semangat,”gue pengen banget,emang lo mau ngasih gue”,tanya melati penuh harap,rangga kemudian mengangkat kertas yang tadi dibawanya dan menyelipkannya ketangan melati,melati terlihat girang,kemudian mendekap kertas itu didadanya,rangga geli melihat ekspresi girang melati,
“akan gue baca dan elo” dia mengarahkan telunjuknya pada rangga “akan dapat komentarnya dari gue kalau gue udah selsai bacanya”
“gue gak sabar”,kemudian rangga tanpa peringatan mencium kening melati, seketika suasana menjadi membisu,melati salah tingkah,sedangkan rangga juga menjadi gugup karna dia tanpa sadar mencium kening melati dia hanya reflek saja,suasana menjadi canggung tapi untung saja kecanggungan yang tercipta dipecahkan oleh suara heboh dari luar membuat mereka melongok kearah pintu dan dengan cepat pintu terbuka,ternyata selusin temen2 sekelas mereka yang dateng, termasuk udin dan marko dan ada rani dan dio yang juga saling dorong dipintu,gak bisa dipungkiri semangat melati timbul melihat temen2nya,dia menekap mulutnya dengan dua tangannya,,rara temen sekelas mereka meletakkan bingkisan berneka ragam buah2an di meja dekat tempat tidur melati.
“halo mel,,” udin nyengir,, “lo tambah cakep aja”
melati tersenyum,”lo bisa aja,masa wajah gue pucet kayak gini dibilang cantik,emang dasar lo ya”
udin tertawa ngakak,
“ssshhtttt,,” rani menempelkan jari telunjuknya mengingatkan supaya tidak ribut,dan suasana kembali tenang,,
“wah,,, lo ga,,ternyata ngedekam disini terus”,,marko meninju bahu rangga pelan,”udah jadian lo sama melati”,,rani dan dio saling pandang,,
“kayaknya sebentar lagi” tangkis rangga santai,
melati hanya tercengang tapi kemudian melati menganggap kata2 rangga hanya bercanda,tapi dio diseberang mendelik. suasana menjadi rame kembali,beberapa kali perawat dateng memperingatkan mereka supaya tidak terlalu ribut, melati tidak berhenti tertawa dan tersenyum karna banyolan temen2nya menghiburnya.ketika mereka sudah setengah jam disana,akhirnya mereka pamit pulang sementara dio,,rani dan rangga tinggal untuk menemani melati,mungkin karna kebanyakan tertawa tadi membuat melati terlihat lelah dan lebih pucat dari sebalumnya,,
“tuhkan,,,lo sieh tadi ketawanya ngakak ”,,rani ngomel sambil menarik selimut melati untuk menutupi badan melati,,
“makasih yah”,melati memandang mereka satu persatu,,”lo semua dateng ngejuk gue,dan selalu nemenin gue”,rani memeluk melati yang terbaring,,
“itulah gunanya temen”
rangga kemudian teringat kalau dia harus menemui denis walaupun sebenarnya dia tidak mengatakan “ea” tapi dia penasaran juga ingin mengetahui apa yang ingin dibicarakan denis dan sepertinya denis ingin membicarakan sesuatu hal yang penting,setelah pamit pada dio dan rani sedangkan melati sekarang tertidur dia berbalik meningglakan ruangan itu.
dia tiba kafe tempat denis mengajaknya bertemu,dia menemukan denis tengah menikmati pesenannya,,egitu melihat rangga datang denis tersenyum menyeringai,
“dateng juga lo,, gue kira lo gak bakalan datang”
rangga mengambil tempat duduk berhadapan dengan denis,,”lo mau ngomongin apa” rangga tuju poin,,
“lo mau pesen apa” jawab denis mengabaikan pertanyaan rangga
“gue pesen minum aja”
denis melambai dan dengan cepat seorang pramusaji perempuan dateng dengan kertas dan polpen ditangannya “mau pesen apa mas”
“lo pesen apa ga”
“capucino”
“ada lagi” tanya pramusaji yang ramah itu sambil tetap tersenyum,,
“gak itu aja mbak”,
“jadi,,”rangga berkata,”lo mau ngomingin apa”
“soal melati” denis sekarang berhenti mengunyah,”gue minta lo”, bertepatan dengan itu seorang pelayan dateng membawa pesenan rangga,setalah pelayan itu berlalu denis kembali melanjutkan,”gue minta lo jangan sakitin melati”
semburan air berwarna coklat yang berasal dari mulut rangga menciprat wajah denis,denis sudah bersiap untuk meledak tapi dilihatnya rangga menahan tawa,dia jadi menahan amarahnya,dia mengambil tisu dan mengelap mukanya,setalah bisa menguasai dirinya,rangga kembali bertanya “maksud lo apaan sieh”
“gue sebenarnya cinta sama melati “ ungkap denis setelah membersihkan wajahnya,hal itu gak membuat rangga terkejut karna sebelumnya dia sudah menduganya,,
“trus,,,”
“gue nyerah buat dapetin cintanya karna,,,dia menyukai lo”,
rangga hanya terdiam dan denis melanjutkan,”jadi jagalah dia, jangan sakitin dia, kalau lo berani-rani nyakitin dia, lo” katanya dengan tatapan tajam “akan berhadapan dengan gue”
“kalian berkomplot ya”
denis mendelik,”maksud lo, gue berkompolot dengan siapa”
“lo,,dio dan om ardi semuanya menyuruh gue ngejaga melati dan meminta gue untuk tidak ninggalin melati”
“oh yah,, yang benar” denis seperti tidak percaya,,
rangga mengabaikan kata2 tidak percaya denis,”tanpa kalian suruhpun, gue akan tetap berada didekat melati dan gak akan pernah meningglkan dia apapun yang terjadi’ rangga melihat denis tersenyum samar tapi senyumnya terlihat tulus.
__ADS_1
***