Kasih Tak Sampai

Kasih Tak Sampai
MEMBENTAK MELATI


__ADS_3

"Gak mungkin Ga, Dio itu udah nganggap gue sebagai sahabat sekaligus saudara kandungnya sendiri, dan entah apa yang terjadi kalau dia tau gue menyukainya."


"Gak mungkin atau lo yang gengsinya selangit, lo masih menganut aturan kalau cowok harus nembak duluan begitu." tembak Rangga.


"Sebenarnya memang itu juga sieh Ga, masak iya gue yang nyatain perasaan duluan, ya malulah gue, guekan cewek."


"Gengsi tapi hati lo nyesek melihat Dio menyukai cewek lain, seenggaknya kalau Dio tau lo suka sama dia, dia akan lebih menjaga perasaan lo dan tidak sembarangan menceritakan tentang pacar-pacarnya kepada lo." sahut Rangga memberi nasehat bijak.


"Tapi gue gak mau Ga, gue takut, kalau Dio tau perasaan gue yang sebenarnya kepadanya, dia akan menjauh dari gue, dan gue gak mau itu terjadi."


Rangga mendesah, tidak tahu lagi harus berkata apa sama Rani karna Rani ngotot dengan pendiriannya yang tidak mau memberitahu tentang perasaanya sama Rangga, "Ya sudahlah kalau itu memang keputusan elo Ran, kalau kalian gak bisa menjadi sepasang kekasih seenggaknya kalian masih bisa bersahabatkan, itu yang lo inginkan, dengan begitu lo bisa dekat dengan Dio setiap saat."


Rani terdiam, meresapi kata-kata Rangga, dalam hati berkata, "Apakah gue bisa benar-benar ingin Dio hanya sekedar menjadi sahabat gue, apa gue rela melihatnya bersama dengan wanita lain tanpa gue memberitahu akan perasaan gue yang sebenarnya kepadanya." Rani melamun sebelum dia ingat kalau dia saat ini tengah bersama dengan Rangga.


"Ga makasih karna elo telah mendeng.." Rani terdiam karna sekarang Rangga sudah berjalan meninggalkannya.


"Dasar Rangga sialan." umpat Rani karna Rangga meninggalkannya tanpa pemberitahuan, "Benar-benar deh anak itu, orang belum selesai ngomong juga sudah main tinggal saja." rutuk Rani.


Tapi kemudian Rani tersenyum, dia tidak menyangka seorang Rangga yang terkenal dingin dan cuek terkadang bisa menjadi teman curhat yang baik, tanpa diminta lagi.


"Rangga Woeee, tungguin gue." Rani berusaha mengejar langkah Rangga.


****


Dio berdiri di depan kelas, dia berteriak untuk menarik perhatian dari temen-temannya, "Woiii, bisa diem gak sieh lo pada." teriak dio, suaranya bergaung diseantero kelas.


Otomatis suasana kelas yang tadinya ribut kayak pasar tanah abang itupun tenang kembali dan menanti apa yang akan disampaikan oleh Dio.


Namun sebelum Dio sempat mengatakan apa yang ingin dia sampaikan kepada teman-teman kelasnya, pak Radi guru kelas sebelah sampai datang untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dikelas XI IPA 1 sampai suaranya ribut-ributnya terdengar sampai kelas sebelah.


"Ada apa  ini, kenapa ribut sekali." tanya pak Radi memandang seisi kelas.


"Eh, anu pak." Dio berusaha untuk menjelaskan, "Sebenarnya gak ada apa-apa kok pak, saya cuma berusaha menenangkan temen-teman yang tengah ribut supaya kelas-kelas lain tidak terganggu." jelas Dio.


"Saya kirain ada apa, suaranya sampai kedengaran dikelas sebelah, ya sudah kalau begitu, kalian gak usah ribut lagi, duduk tenang atau membaca saja didalam kelas." ujar pak Radi sambil berlalu pergi.


Disaat teman-temannya pada ribut, Melati duduk dibangkunya dengan tenang, dia tidak terpengaruh sama sekali dengan temen-temannya yang lain.


Melati menoleh ke arah bangku sebelahnya yang kosong, "Rangga mana." batin Melati, "Astaga." Melati memukul kepalanya, "Ngapain juga gue mikirin anak itu, toh dia juga gak pernah mikirin gue."


Bertepatan dengan itu, pintu kelas kembali terbuka yang memampangkan tubuh Rani dan Rangga yang datang bersamaan.


Suara sorak sorai dari anak-anak XI IPA I kembali terdengar, dibarengi juga dengan suara siulan dan juga celutukan dari Udin yang iseng.


"Wah-wah ada yang baru jadian nieh rupanya, wajah-wajahnya pada berbunga-bunga gitu." ledek Udin.


"Jangan lupa donk traktirannya, bahagia juga kan harus dibagi-bagi." sambar Ajeng ikut meramaikan suasana.


"Wah, ada pasangan Romeo dan Juliet nieh di kelas." Marlo gak mau kalah menggoda Rangga dan Rani.


"Apaan sieh lo pada, jangan berlebihan deh, siapa juga yang jadian, masak iya hanya karna masuknya barengan lo pada ngangep kami jadian, sungguh tidak masuk diakal." sanggah Rani sebelum duduk dibangkunya.


"Dihh lagi sensi rupanya siek Rani, gak bisa diajak bercanda dia."


"Di lagi PMS kali."


Sedangkan Rangga tidak mau bersusah-susah menjelaskan seperti yang dilakukan oleh Rani.


Melati hanya menunduk, segala macam hal berkecamuk di fikirannya melihat kedatangan Rangga dan Rani yang bersamaan, sampai Rangga duduk disampingnya, Melati hanya memandang Rangga sekilas dan kebetulan Rangga juga tengah melakukan hal yang sama, mereka berdua buru-buru memalingkan pandangan mereka


Dio harus berusaha untuk kedua kalinya untuk menenangkan suasana kelas yang ribut kembali, setelah temen-temannya sudah sedikit tenang, Dio kembali berpidato.


"Oke temen-teman, gue tadi dapat kabar, bu Esti guru bahasa kita hari ini gak masuk, gak jelas sieh alasannya apa..."


Hampir disetiap sekolah dan 99 % murid-murid sekolah paling suka yang namanya jam pelajaran kosong, sehingga tidak heran, saat Dio belum menyelsaikan kata-katanya, terdengar sorakan bahagia dari hampir semua penghuni kelas.


"Hore."


"Yessss."

__ADS_1


"Syukur alhamdullilah."


Kata-kata itu mendominasi sorakan anak-anak tersebut yang membuat suasana kelas menjadi gaduh, memang jam kosong menjadi surga buat anak-anak sekolah diseantero negeriku tercinta Indonesia.


Dio hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kelakuan temen-temannya padahal dia belum menyelsaikan ucapannya.


"Temen-teman, mohon perhatiannya." kembali Dio buka suara, "Ibu Esti tidak membiarkan kita seneng sepenuhnya, karna ibu guru yang sangat kita cintai itu


menyuruh kita membuat esai 10 lembar tentang novel yang minggu kemarin yang ibu Esti suruh beli, dan tugas itu harus kita kumpulkan besok, titik tanpa koma tanpa debat."


"Yahhhh." pada melenguh dah tuh.


Suara yang tadi terdengar bahagia kini berubah menjadi keluhan.


"Jahat baget sieh tuh guru, gak masuk yah gak masuk, pakai ngasih tugas segala lagi, gak bisa lihat orang seneng apa." celutuk Marlo meninju mejanya yang keras, "Aduh-aduh, tangan gue." ringis Marlo karna kesakitan karna meninju mejanya yang super keras.


Serentak melihat hal itu beberapa anak cewek tertawa.


"Tugas lagi tugas lagi, mana banyak tugas lagi dari guru-guru lainnya, mentang-mentang guru, pada hoby banget deh ngasih tugas."


"Iya ampun, nieh guru pada kenapa sieh, semua kok kompakan ngasih tugas, mana tuh tugas hanya akan dijadikan sebagai arsip doank lagi, atau parahnya lagi bakalan digunain untuk membungkus kacang rebus." sahut Anis yang duduk paling belakang.


"Mampus deh gue, malah PR matematika yang seabrek itu juga belum gue kerjain satupun lagi." Dian cewek paling cantik itu menepuk keningnya.


dio puas melihat temen2nya yang kelihatn merana,,makanya lo2 pada tunjuk dio jangan pada kesenengen dulu donk,,dio tersenyum puas melihat temennya,tentu saja membuat seisi kelas kecuali rangga jengkel pada dio.


*******


Sepulang sekolah, Rangga mengayuh sepedanya, Rangga tidak berniat pulang, tujuannya kali ini adalah pantai asuhan tempat yang selalu dikunjunginya ketika dia merasa kesel dan galau, biasanya kalau sudah berada dipantai asuhan, rasa kesalnya akan menghilang setelah bermain dengan anak-anak panti.


Tadi sebenarnya Rangga tidak berniat membentak Melati, tapi entah kenapa melihat Dio menggandeng tangan Melati tadi pagi membuatnya tidak suka, entah kenapa melihat adegan itu membuatnya dadanya terasa panas dan sesak sehingga ketika Melati meyapanya dia hanya mengacuhkan gadis itu, karna kesal dengan sifatnya yang acuh sehingga membuat Melati jengkel dan menjerit, dan Rangga bukannya minta maaf atau merespon Melati dengan baik-baik, malah dia membentak Melati balik, masih terbayang dibenak Rangga raut wajah Melati yang hampir menangis ketika dia membentak Melati, pengen rasanya pada saat itu Rangga menarik Melati ke pelukannya dan meminta maaf.


Tadi pagi Melati mengirim pesan kepadanya dan mengatakan kalau hari ini Melati ingin bertemu dengan Rangga.


Sebenarnya Rangga juga gak bisa menyembunyikan rasa senengnya ketika pagi-pagi sekali melati mengirim pesan tersebut, dan sepanjang perjalanan menuju sekolah Rangga tidak lepas mengulum senyum dan tidak sabar untuk bertemu dengan Melati, tapi Melati dan Dio masuk kelas dengan bergandengan tangan membuat suasana hatinya memburuk.


"Arhggg." Rangga berteriak frustasi karna dia menyadari satu hal, kalau dia cemburu, dia cemuburu melihat Melati bersama dengan Dio.


"Awhhh." Rangga mengaduh.


Kondisnya tidak bisa dibilang parah, sikunya cuma lecet dan keningnya sedikit terbentur sehingga meninggalkan memar, Rangga berusaha berdiri dan berjalan walapun tertatih-tatih, badannya terasa sakit, Rangga mengambil sepedanya.


"Akhhh sialan." Rangga menendang sepedanya dengan kesel karna gara-gara tabrakan itu rantai sepedanya terputus, akhirnya terpaksa Rangga membatalkan niatnya ke pantai asuhan dan berbalik kembali ke rumah.


****


Rani : Mel


Sore itu Rani mengechat Melati.


Melati : Iya Ran, kenapa


Rani : Jalan yuk


Melati : Mau kemana emangnya


Rani : Toko buku mau gak


Melati : Oke


Melati : Sama Dio juga


Rani : Berdua saja, gak apa-apakan


Melati : Tentu saja gak apa-apa


Rani : Oke, lo siap-siap gieh, gue otw nieh jemput lo ke rumah


Melati : Oke

__ADS_1


Setengah jam kemudian, Melati kini sudah duduk dengan nyaman dikursi pengemudi depan disamping Rani.


Dan Rani mulai melajukan mobilnya ke luar pekarangan rumah Melati.


Sepanjang perjalanan menuju toko buku yang ingin mereka tuju, dua gadis remaja itu mengobrol.


"Mel, gue harap lo gak salah paham."


"Salah paham gimana maksud lo." tanya Melati bingung karna tidak mengerti maksud sahabatnya itu.


"Tentang yang tadi siang disekolah waktu anak-anak pada godain gue dan Rangga, gue harap lo jangan berfikir yang ngak-ngak tentang gue dan Rangga."


"Oh tentang yang itu, santai saja kali Ran, lo gak perlu ngejelasin juga ke gue, dan walaupun lo punya hubungan dengan Rangga, emang apa salahnya." ujar Melati dengan gamblangnya dilisan, padahalkan dalam hatinya dia tidak suka kalau seandainya Rani dan Rangga sampai memiliki hubungan.


Rani tertawa mendengar ucapan Melati.


"Lho, kok lo malah ketawa sieh Mel."


"Ya habisnya lucu saja, lo bilang gak apa-apa kalau gue memiliki hubungan dengan Rangga, apa gak panas tuh hati lo." kekeh Rani.


"Apa sieh maksud lo Ran, gue gak ngerti."


"Pura-pura gak ngerti lagi, jujur sama gue apa salahnya kali Mel, lo sukakan sama Rangga." tembak Rani.


"Ehhh itu....enggak kok, gue gak suka sama Rangga, lo jangan sembarangan nuduh deh." Melati berusah mengelak tuduhan yang dilemparkan oleh Rani.


"Pakai ngelak lagi, nanti kalau beneran Rangganya gue embat, nangis darah deh lo." canda Rani menggoda Melati.


"Ya gaklah, mau lo embat kek, nikahin sekalian gue gak peduli kali Ran."


"Jadi, lo gak suka nieh sama Rangga."


"Gak."


"Terus kenapa nangis kejer neng tadi pagi saat bermasalah dengan Rangga, dan kenapa lo heboh tuh nyariin Rangga pas malam acara ulang tahun sekolah, kalau gak suka, apa coba namanya." telak Rani.


Melati mendesah berat sebelum membenarkan apa yang dikatakan oleh Rani barusan, "Lo benar Ran, kayaknya gue suka deh sama Rangga."


"Bukan kayaknya lagi, tapi lo beneran suka Melati."


"Iya, gue beneran suka deh sama Rangga."


"Gak gue sangka ya, ternyata cowok dingin, cuek, datar kayak tembok itu ternyata disukai oleh gadis cantik seperti elo Mel, sik Rangga benar-benar beruntung disukai sama elo."


"Siapa yang beruntung sieh Ran, malahan Rangga pasti marah kali kalau dia tahu gue menyukainya." ralat Melati.


"Katanya siapa."


"Ya kata guelah."


"Tapi yang gue lihat ya, kok kayaknya Rangga itu suka gitu sama lo Mel."


"Hoaks banget sieh lo Ran, boro-boro suka, yang ada dia sering marah-marah terus sama gue." bantah Melati.


"Rangga itu suka Mel sama lo, percaya deh sama gue, itu kelihatan banget dari matanya."


"Jangan ngasih gue harapan yang membuat gue melambung ya Ran."


"Dibilangan gak percaya nieh anak."


"Jelas gue gak percayalah, kalau Rangga itu menyukai gue, gak mungkin dia sering marah-marah sama gue, ngebentak gue, jutek sama gue, seharusnya dia bersikap manis doank sama gue."


"Ya gak semua orang menujukkan rasa cintanya dengan bersikap manis donk Mel, orang seperti Rangga adalah tipe orang yang tidak bisa menujukkan perasaanya dengan bersikap manis karna memang pada dasarnya tuh anak cuek." Rani menjelaskan panjang lebar yang tidak tanggapi oleh Melati, karna menurutnya Rangga tidak mungkin menyukainya.


"Mel, kalau seandainya Rangga menyatakan perasaanya sama elo gimana."


"Ha ha ha." Melati tertawa garing menanggapi kata-kata Rani, "Itu tidak mungkin terjadi, kan gue sudah bilang kalau Rangga tidak mungkin menyukai Gue Rani."


"Terserah lo deh Mel, lo mau percaya atau gak kata-kata gue." desah Rani karna Melati tidak mempercayai kata-katanya.

__ADS_1


Sebenarnya, dalam hati, Melati sangat berharap kalau apa yang dikatakan oleh Rani itu benar adanya, dia berharap Rangga juga menyukainya seperti dia yang menyukai Rangga.


*****


__ADS_2