Kasih Tak Sampai

Kasih Tak Sampai
HADIAH ULANG TAHUN DARI RANGGA


__ADS_3

Setelah acara tiup lilin dan potong kue, dilanjutkan dengan pemberian santunan kepada anak-anak panti oleh orang tua Melati, acara dilanjutkan dengan sesi foto-foto untuk mengabadikan momen indah tersebut, hanya Rangga yang tidak ikutan sesi foto-foto meskipun tadi Melati memaksanya, tapi Rangga tetap tidak mau ikutan berfoto dengan yang lainnya, Rangga hanya terlihat sibuk berbincang-bincang dengan ibu panti, entah apa yang mereka obrolkan.


"Rangga." tegur Melati saat dia berada didekat Rangga yang kini duduk sendirian karna ibu panti pamit karna ada yang perlu dia kerjakan.


"Hmm." respon Rangga.


"Boleh gak gue foto sama lo, sebagai kenang-kenangan gitu, inikan hari ulang tahun gue." ujar Melati penuh harap.


Rangga diam tidak merespon.


"Ya udah kalau gak boleh."


Melati akan beranjak pergi saat Rangga berkata, "Sini hpnya."


"Ehh."


"Katanya mau foto bersama bareng gue, sini hp lo, gue yang pegang, tangan lokan pendek, jadi kalau lo pegang nanti guenya gak kelihatan lagi."


Melati tersenyum tipis karna Rangga ternyata mengiyakan ajakannya untuk foto bersama, "Oh iya, ini." Melati menyerahkan ponselnya sama Rangga.


Dengan hp ditangan Rangga, mereka bersiap untuk berpose dengan posisi agak berjarak.


Tanpa disangka-sangka, Rangga menarik pinggang Melati supaya lebih dekat dengannya.


"Jangan jauh-jauhan kali Mel kalau mau selvi, kayak orang musuhan saja lo." ujar Rangga santai seoalah-olah apa yang dilakukannya tidak bermakna.


Mungkin memang tidak bermakna untuk Rangga, tapi buat Melati, jelas apa yang dilakukan oleh Rangga barusan membuat dadanya berdebar hebat, apalagi sekarang posisi mereka begitu sangat dekat, Melati hanya menatap Rangga tidak berkedip, tidak menyangka Rangga akan menariknya supaya berdekatan begini.


"Orang kalau mau selvi itu lihatnya kamera Mel, bukan lihat gue." komen Rangga saat Melati menatapnya.


"Ehh iya." Melati jadi salting karna kpergok memperhatikan Rangga.


Setelah mengambil tiga gambar, Rangga menyerahkan ponsel itu kembali kepada pemiliknya.


"Lo suka dengan hasilnya." tanya Rangga saat Melati melihat hasil gambar yang dia ambil.


"Iya suka."


"Apa gue tampan banget ya sampai lo lihat tuh foto sampai melotot begitu sampai mau keluar tuh bola mata lo." goda Rangga yang membuat Melati mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya.


"Apan sieh Rangga, ya gaklah." jawab Melati karna merasa malu karna memandang fotonya dengan Rangga dengan sedemikian rupa, dia hanya kagum karna meskipun foto diambil dengan hp ternyata hasilnya bagus.


"Oh ya Mel, selamat ulang tahun ya." ucap Rangga baru mengucapkannya.


"Terimakasih ya Ga, dan terimakasih juga karna lo sudah mau bantu-bantu gue untuk mempersiapkan pesta ulang tahun gue bersama dengan anak-anak panti."


"Hmmm." dasar Rangga emang, dia seharusnya bilang 'Sama-sama Mel, gue senang kok bantuin elo, ini cuma hmm doank responnya.


Rangga terlihat merogoh kantong celananya, dari sana dia mengeluarkan sesuatu berbentuk kotak kecil berwarna merah marun.


"Nieh hadiah ulang tahun untuk lo, sorry ya gak dibungkus pakai kertas kado, gue gak bisa ngebungkus soalnya."


Melati terkekeh mendengar kata-kaya Rangga sembari mengambil hadiah pemberian Rangga.


"Semoga lo suka Mel."


"Gue pasti suka." jawab Melati pasti meskipun belum melihat isi dari hadiah yang diberikan oleh Rangga, "Apa boleh gue buka Ga."


"Buka saja."


Melati membuka kotak mungil tersebut yang ternyata isinya adalah sebuah kalung perak dengan inisial huruf M, inisial namanya, Melati mengambil kalung itu dan memandangnya takjub.


"Lo suka." Rangga bertanya.


Melati mengangguk, "Suka banget Ga, ini benar-benar cantik, terimakasih ya."


"Syukurlah kalau lo suka." ujarnya datar.


"Apa boleh gue mengenakannya Ga."


"Ngapain lo nanyain gue segala, itukan punya lo, lo mau pakai atau lo mau buang sekalian bebas, itu hak lo."


Melati tertawa mendengar clotehan Rangga, "Lo itu ada-ada saja, masak kalung seindah ini gue buang sieh."


"Ya kali gitu lo mau buang."


"Ya jelas gaklah."


Melati membuka pengait kalung tersebut dan memakaikannya dilehernya, dan dia mengalami kesulitan untuk mengaitkannya.


"Mau gue bantu gak." Rangga menawarkan.


"Boleh kalau lo gak keberatan."


Rangga mengambil alih kalung tersebut dari tangan Melati untuk membantu Melati mengenakannya, Melati menyikap rambutnya untuk memudahkan Rangga untuk membantunya memakaikan kalung tersebut dilehernya.


Bulu kuduk Melati merinding saat kulit tangan Rangga bersentuhan dengan kulit lehernya.


"Terimakasih Ga." ucapnya begitu kalung itu kini sudah terpasang dengan indah dilehernya.


"Hmmm."


"Mell."


"Kenapa Ga."


"Sejujurnya, gue lebih suka sikap lo yang kemarin-kemarin, bawel dan suka ceplas-ceplos daripada sungkan begini." jujur Rangga menyuarakan isi hatinya.


Dalam hati Melati tersenyum, menghangat perasaanya mendengar pengakuan Rangga tersebut.


"Gue fikir lo gak suka gue yang berisik, lo bilang gue mengganggu lo."


"Oke sorry kalau waktu di danau gue marah-marah sama lo dan mengatakan kalau lo mengganggu gue, gue hanya terbawa emosi saking paniknya melihat lo yang kcebur didanau, makanya kata-kata gue agak aneh."


Melati tertawa dengan penggunaan kata-kata Rangga yang menggunakan kata-kata aneh untuk menggambarkan setiap kata yang dia tumpahkan saat memarahi Melati saat Melati jatuh di danau.


"Kenapa lo malah ketawa."


"Habisnya lo lucu sieh, masak iya lo bilang kata-kata lo aneh sieh, yang ada tuh kata-kata lo itu nylekit dan bikin orang sakit hati."


"Hmmm, sorry kalau kata-kata gue membuat lo sakit hati Mell."


"Ya sudahlah Ga, mari kita lupakan masalah kemarin, dan mari berjalan menatap ke depan oke."


Rangga tersenyum tipis dan mengangguk menyetujui kata-kata Melati.


"Lo cakep lho Ga kalau tersenyum, coba kalau senyumnya tambah lebar dikit, makin cakep dah tuh." goda Melati.


"Apaan sieh lo Mel, gue itu cowok ya, gue gak bakalan tersipu saat lo goda begitu."


"Siapa juga sieh yang menggoda lo Rangga, orang gue mengatakan yang sebenarnya, lo ganteng kalau tersenyum, sayangnya senyum lo mahal banget, gue harus usaha keras dulu baru bisa lihat senyum lo itu."


Rangga mendengus mendengar ucapan Melati yang menurutnya berlebihan.


"Kalian disini rupanya, gue cari-cariin juga sejak tadi." ujar Rani yang datang menghampiri mereka.


"Lo ada perlu apa Ran nyari-nyariin kami, lo mau foto bareng juga." sahut Rangga asal.


"Idihhh, ya gaklah, emang lo artis apa."


"Ya siapa tahu gitu lo juga ingin foto sama gue seperti Melati."


"Geer lo."

__ADS_1


Gak lama kemudian, Dio dan juga Denis datang menghampiri ketiga orang tersebut dan ikut bergabung.


"Seru ya ternyata ngerayain ulang tahun sama anak-anak panti." ujar Rani, "Ntar kalau gue ulang tahun, gue juga akan merayakannya disini." janji Rani.


"Bagus itu Ran, lebih baik ngerayain dengan anak-anak panti sekalian berbagikan dengan anak-anak yang kurang beruntung."


"Iya Mell lo benar, hati gue bahagia gitu saat melihat senyum ceria anak-anak panti yang tidak memiliki orang tua, hal itu membuat gue bersyukur karna masih punya orang tua yang menyayangi gue."


Mata Rani kemudian tertancap pada leher Melati yang dilingkari oleh kalung perak cantik, dan itu mendorongnya untuk bertanya, "Mell, cantikk banget kalung lo, inisial nama lo lagi."


Reflek, Dio dan Denis menoleh ke arah leher Melati untuk melihat kalung yang dimaksud oleh Rani.


Melati meraih liontion kalung tersebut, "Ini." Melati menoleh sesaat pada Rangga sebelum melanjutkan kata-katanya, "Ini Rangga yang kasih tadi."


"Itu Rangga yang kasih Mel."


"Iya, bagus bangetkan." puji Melati tersenyum ke arah Rangga seolah-olah mengatakan kalau dia sangat suka dengan kalung hadiah dari Rangga tersebut.


Dan pandangan Melati kepada Rangga membuat Dio dan Denis juga cemburu, apalagi Melati terlihat begitu sangat menyukai kalung pemberian Rangga tersebut.


"Rangg pintar banget deh lo pilih hadiah untuk Melati." Rani memuji.


"Itu gue pesan secara khusus."


"Benarkah." gumam Melati tidak percaya, dia terharu karna Rangga memesan kalung yang saat ini menggantung dilehernya secara khusus.


"Hmmm."


"Ihhh Rangga, meskipun lo datar dan cuek, lo sweet banget, yakin gue, gak lama setelah ini Melati bakalan suka sama lo."


"Ihh Rani, apaan sieh lo, ya gaklah." tandas Melati malu-malu dengan kata-kata Rani.


Dio mendengus mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Rani.


Sedangkan Denis berharap dalam hati, "Jangan sampai Melati suka sama Rangga."


Setelah sore hari, barulah kelima remaja itu balik dari panti asuhan, sedangkan mama dan papa Melati sudah sejak tadi duluan pulang.


****


Melati sampai di sekolah dan seperti biasa dia diantar oleh mamanya.


Dio yang saat ini tengah nongkrong dengan teman-teman kelasnya diparkiran langsung nyamperin Melati saat melihat Melati berjalan dikoridor.


"Gue duluan." pamitnya sama teman-temannya.


"Lo pasti mau nyamperin Melati ya." tebak Udin.


"Yoi."


Dio dengan langkah lebar mengejar Melati.


"Hai Mel, sapa  Dio." yang kini sudah berada disamping Melati.


Melati sontak terkejut karna kedatangan Dio yang tiba-tiba, "Ihhh Dio, lo itu yah ngagetin gue saja deh."


Dio tertawa sendiri, "Mel Mel, lo lucu amet sieh, masa gitu aja lo kaget."


"Guekan kagetan orangnya Dio."


"Mel, kok lo kelihatan pucat gitu, lo sehat."


"Iya."


"Tapi wajah lo..."


"Gue gak pakai make up, makanya kelihatan pucat begini."


"Setahu gue, lo gak pernah pakai make up deh."


"Hmmm, ada ya yang kayak gitu."


"Tapi Mel, meskipun tanpa make up, lo tetap cakep banget deh." puji Dio.


Melati reflek tersenyum mendengar pujian Dio.


"Nah gitu donk senyum, kan lo tambah cantik." goda Dio.


"Ih, gombal lo yah." Melati mencubit pinggang Dio.


Dio yang bukannya kesakitan tapi merasa geli dengan cubitan tangan Melati berusaha menghindar dari cubitan tangan Melati.


Melati dan Dio tertawa tanpa peduli pandangan murid-murid di sekitar mereka yang tengah berlalu lalang.


"Ampun Mel." ampun Dio memohon sambil menahan geli.


Melati ngos-ngosan karna kebanyakan tertawa, entah kenapa akhir-akhir ini dia gampang sekali merasa capek, bahkan tertawapun bisa membuatnya sampai ngos-ngosan.


Melihat Melati ngos-ngosan begitu Dio merasa khawatir.


"Mel." Dio memegang bahu Melati, "Beneran nieh lo gak baik-baik saja."


Melati hanya memegang dadanya yang naik turun, Melati berusaha tersenyum untuk menghilangkan kekawatiran dimuka Dio sebelum dia mengacungkan jempolnya, "Lo tenang saja, gue.." nafas Melati tersengal-senggal "Baik-baik aja kok."


Namun tanpa memperdulikan kata-kata Melati, Dio yang masih khawatir dengan kondisi Melati berkata, "Apa lo mau gue bawa ke uks Mel."


Melati berusaha berdiri tegak untuk membuktikan kalau dia baik-baik saja, "Gak usah, gue beneran gak apa-apa kok."


Melihat Dio gak yakin dengan kata-katanya, melati buru-buru meyakinkan, "Beneran kok gue gak kenapa, jadi, gue gak perlu ke UKS."


"Beneran lo gak kenapa-napa." sekali lagi Dio bertanya untuk memastikan.


"Beneran." sahut Melati sambil mengangkat tangannya membentuk huruf V.


"Iya syukurlah kalau lo beneran gak kenapa-napan, mending kiya masuk yuk." Dio menggandeng tangan Melati menuju kelas.


Melati hanya nurut karna mengaggap hal itu sebagai tanda persahabatan antara dirinya dan Dio.


Dan saat sampai dikelas, Melati menemukan Rangga tengah menulis sesuatu dikertas, begitu mendengar suara langkah kaki memasuki kelas, Rangga reflek mendongak dan matanya terkunci pada tangan Melati dan Dio yang saling bertaut satu sama lain.


Melati buru-buru melepaskan tangannya dari tangan Dio saat melihat tatapan Rangga, Rangga kemudian kemudian kembali memusatkan perhatiannya sama buku yang ada ditangannya.


"Lho, kenapa Mel." tanya Dio saat Melati melepaskan tangannya.


"Gak kenapa-napa kok, gak enak aja dilihat sama temen-teman, ntar jadi bahan gosip lagi."


Dio percaya dengan ucapan Melati, tetapi sesungguhnya Melati hanya gak mau Rangga salah paham padanya karna melihat dirinya dan Dio berpegangan tangan.


Melati dan Dio masing-masing berjalan ke arah bangku masing-masing.


Rangga masih tidak mengalihkan perhatiannya walaupun saat Melati menyapanya.


"Hai Ga, sibuk amet, baca buku apa sieh."


Melati mengangkat sedikit tangan Rangga untuk membaca judul buku yang saat ini ada ditangan Rangga, namun Rangga tetap tidak bergeming.


"Wah, the da vinci kode ya, buku karangan Christy Agatha, gue juga pernah loh baca buku ini Ga, ceritanya seru, gue suka, ceritanya tentang detektif gitu, ceritanya bikin tegang, gue yakin, kalau lo udah selesai membaca nieh buku, lo pasti bilang ini buku yang sangat menakjubkan."


Melati nyerocos sendiri seperti kebiasaannya walapun dia dicuekin habis-habisa oleh Rangga, Rangga masih tidak bergeming, dia masih sibuk dengan buku ditangannya.


Karna tidak mendapat respon sama sekali atas ocehannya itu membuat Melati kesel.


"Rangga." jerit Melati, suaranya cukup kenceng membuat seisi kelas mengarahkan perhatian padanya termasuk Dio yang saat ini tengah ngobrol tentang basket dengan Marlo dan Bastian.

__ADS_1


Rani yang baru masuk kelas heran melihat sahabatnya menjerit histeris seperti itu pagi-pagi begini.


"Lo kenpa sieh Ga, kok lo ngacuhin gue kayak gini, salah gue apa." Melati menahan isakan.


Rangga menutup buku yang dipegangnya dan berdiri, "Lo kenapa sieh, usil banget, nanya ini, nanya itu, cerewet banget sieh lo, udah tau gue lagi sibuk, lo malah nyerocos gak jelas."


suara Rangga meninggi.


Wajah Melati terasa mau terbakar karna dia gak meyangka Rangga akan membentaknya, padahal kemarin Rangga bilang kalau dia suka Melati yang bawel dan ceplas-ceplos, dan kini dia malah protes, aneh deh, entah apa maunya sik Rangga ini.


Sementara itu, temen-teman satu kelas mereka juga gak kalah takjubnya karna untuk pertama kalinya dia melihat Rangga membentak seseorang, Rangga walaupun terkenal dingin dan cuek tapi dia orangnya baik apalagi sama perempuan, tidak pernah sekalipun Rangga membentak perempuan.


"Ga lo..." Melati tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Melati tidak mengerti kenapa sifat Rangga bisa berubah-ubah seperti ini, "Kemarin dia baik dan perhatian sama gue, dan bahkan dia memberikan gue hadiah yang indah, tapi sekarang dia kembali dingin dan cuek." batin Melati sedih.


Suasana kelas menjadi hening, tidak ada yang mencoba mencairkan suasana, suasana kelas mencekam karna pertengkaran Melati dan Rangga. Suara bel yang berbunyi panjang kemudian membuat beberapa siswa menarik nafas lega dan sebagian lagi merasa kecewa karna gak bisa menyaksikan perang yang seharusnya berlanjut kalau seandainya bell tidak berbunyi.


Selama pelajaran berlangsung, suasana meja yang ditempati oleh Rangga dan Melati seperti mencekam, mereka sibuk dengan diri masing-masing tanpa satupun dari mereka yang mau mencoba minta maaf terlebih dahulu. Dan begitu bel istirahat berbunyi, Rangga langsung melengos pergi, sedangkan Melati hanya memandang kepergian Raangga dengan  mata berkaca-kaca, Melati memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sangat sakit dan nyeri. Melati kelimpungan mengobrak abrik isi tasnya untuk mencari obatnya, setelah menemukannya, melati berdiri dan berlari meninggalkan kelas yang diikuti oleh mata-mata temen sekelasnya yang masih belum keluar.


Dio yang dari tadi sibuk menyelsaikan catatannya mengikuti langkah Melati dengan ekor matanya sampai Melati menghilang dibalik pintu.


"Dio." panggil Rani yang tiba-tiba sudah duduk di dekat Dio.


Tapi Dio gak dengar.


"Diooo." Rani mengoyang tangan Dio.


"Ehh lo Ran, ada apa."


"Melati kenapa tuh."


"Ya mana gue tau Ran."


Dio kemudian memasukkan semua alat tulisnya ditas dan berdiri.


"Dio, lo mau kemana ,kok lo seenaknya aja sieh ninggalin temen lo sendiri." ketus Rani karna ditinggalkan begitu saja tanpa permisi.


Dio menoleh.


"Lo mau ikut gak.


"Kemana emangnya."


"Nyusulin Melati." jawab Dio enteng tanpa melihat perubahan diraut wajah Rani yang masam.


"Dio pasti akan mengambil kesempatan untuk menghibur Melati yang lagi sedih karna bersitegang dengan Rangga." fikir Rani yang membuatnya berfikir untuk ikut dengan Dio, toh kalau dia disana seenggaknya dia bisa mengawasi mereka.


Rani dan Dio menemukan Melati tengah duduk dibangku semen didekat lapangan basket sendirian.


"Mel." Dio memegang bahu Melati dari belakang yang membuat Melati menoleh.


Dio dan Rani kemudian duduk mengapit Melati ditengah-tengah.


"Lo baik-baik saja Mel." Rani bertanya ragu.


Melati mengangguk, "Iya Ran, gue baik-baik saja." jawabnya dilisan, namun mana ada yang percaya dengan apa yang dikatakan oleh Melati disaat bibir dan wajah tidak sinkron karna saat ini mata Melati terlihat sembab dengan hidung memerah.


"Mel, lo bener-bener gak kenapa-napa." tanya Dio gak percaya.


Melati mengganguk.


Dio meletakkan tangannya dikedua sisi kepala Melati dan kemudian memutar wajah Melati supaya menghadap ke arahnya, Dio kemudian menangkup wajah Melati yang kecil, Dio menatap tepat ke manik mata Melati yang membuat Melati jadi salah tingkah.


Sedangkan Rani, dia sudah ketar ketir ditempatnya menyaksikan adegan yang membuatnya hatinya tiba-tiba panas.


Melati berusaha melepas tangan Dio dari wajahnya, namun Dio tidak membiarkan Melati melakukannya.


"Mel, tatap mata gue."


"Apa sie Dio."


"Mel, lo gak baik-baik sajakan, lo jangan pendam sendiri Mel, lo ceritain ke gue." desak Dio.


Seketika pertahanan yang telah dibangun ole Melati luluh lantah, dia menangis sejadi jadinya, hal itu membuat Dio menarik tubuh Melati kepelukannya, dia berusaha memberi rasa tenang buat Melati, "Sshhhh." Dio membiarkan Melati menagis dipelukannya.


Rani sudah tidak tahan lagi, dia bangkit dan sudah siap untuk pergi.


"Ran, lo mau kemana." tanya Dio.


"Gue, gue ke toilet dulu, lo tolong hibur Melati dulu oke, ntar gue balik kok." ujar Rani tanpa melihat ke arah Dio.


Rani kemudian berlari tanpa memperdulikan panggilan Dio, airr mata yang sejak tadi dibendungnya mengalir dengan deras seperti hujan.


Bukk


Rani gak sadar menabrak seseorang, karna jalan tidak lihat-lihat, "Maaf." lirih Rani, dia sudah akan pergi tapi sebuah tangan menahan pergelangan tangannya.


"Ran, lo kenapa nangis." tanya cowok yang ditabrak yang ternyata adalah Rangga.


Rani berbalik dan melihat Rangga yang tengah memegang pergelangan tangannya yang kini tengah memandangnya dengan keingintahuan.


"Rangga gue...gue hanya kelilipan doank kok." ujar Rani berbohong.


"Mau ikut gue." ujar Rangga tanpa mempedulikan kata-kata Rani, dan tanpa menunggu jawaban, Rangga menarik tangan Rani, entah kemana tujuan Rangga membawanya, namun Rani pasrah saja mengikuti Rangga.


Dan disinilah mereka berdua duduk dikantin, Rangga menmyodorkan teh hangat untuk Rani.


"Makasih Ga." Rani menyesap teh yang diberikan oleh Rangga.


"Lo bisa cerita sekarang, gue dengerin."


"Maksud lo." Rani masih gak mengerti.


Rangga melotot, "Ya udah kalau lo lagi gak butuh temen dan gak mau cerita, gue pergi dulu."


"Eh, Ga." Rani gak sadar menarik tangan Rangga yang sudah akan beranjak pergi.


Rangga kembali duduk dikursinya, "Ternyata gue dibutuhin juga." goda Rangga.


Rani hanya mengulum senyum, "Jadi, mata lo gak kelilipan kan."


Rani menggeleng, setelah terdiam beberapa menit akhirnya Rani buka suara, dan mengalirlah ceritanya begitu saja tanpa dia tambahkan dan kurangi.


Ragga hanya mengangguk mendengar cerita Rani tanpa menyela, dan barulah saat Rani mengakhiri ceritanya dia berkata, "Jadi, lo suka yah sama Dio." Rangga mencoba menarik kesimpulan.


"Menurut lo gitu ya." Rani balik nanya.


"Lo gak sadar yah."


"Apa."


"Kalau lo menyukai Dio.".


Rani menggeleng.


Rangga berusaha bersikap santai, padahal kalau mau jujur sebenarnya rangga merasa kupingnya panas juga  mendengar cerita Rani barusan, entah kenapa dia juga merasa Dio menyukai Melati, tapi Rangga tidak mau mengambil kesimpulan kalau Melati mungkin juga suka sama Dio, itulah hal yang membuatnya uring-uringan sampai-sampai dia membentak Melati tanpa sadar, padahal kalau difikir-fikir, bukan salahnya Melati kalau mau dekat dengan siapa saja yang dia sukai, Rangga  juga menyadari satu hal, wanita normal mana sieh yang bisa menolak pesona Dio yang sempurna.


"Ran." Rngga kembali bicara.


Rani memandang ke arah Rangga dan menanti kata-kata yang akan dikeluarkan oleh Rangga.


"Menurut gue, lo bilang aja sama Dio kalau lo suka sama dia." Rangga menyarankan.

__ADS_1


****


__ADS_2