
Baron duduk termenung di pos ronda yang biasa di gunakan oleh dirinya bertemu dengan Fitri. Baron tentu ingin menyampaikan sebuah kabar buruk akan dirinya yang telah di pecat dari tempatnya bekerja. Baron tahu mungkin Fitri akan kesal saat tahu dirinya di pecat. Namun hal ini harus di lakukan oleh Baron. Mengingat ini adalah cara terbaik dari Baron untuk membuat semuanya menjadi lebih baik lagi. Baron pun merasa Fitri harus tahu bagaimana dirinya yang sudah tidak lagi bekerja di pabrik.
Baron mulai menyusun kata-kata yang akan dia ucapkan pada Fitri. Kata-kata itu harus segera Baron pikirkan segera, sebab jika tidak di pikirkan. Bukan tidak mungkin Baron akan salah ucap ketika berbicara dengan Fitri. Baron khawatir akan menjadi hal yang buruk saat dirinya bertemu dengan Fitri. Apalagi Fitri adalah seorang perempuan matre. Tentu melihat kondisi dari Baron yang menganggur akan membuat dia merasa tidak nyaman. Tidak ada lagi sumber uang yang bisa Fitri hasilkan. Sebab segala kebutuhan dari Fitri selama ini di tanggung sepenuhnya oleh Baron.
Fitri yang di tunggu oleh Baron pun akhirnya datang. Seperti biasa, Fitri datang ke dengan ekspresi wajah cemberut. Kedua tangannya di lipat di atas perut. Mulutnya komat-kamit mengatakan banyak kata umpatan. Mengingat hari ini Baron yang tidak mengirimkan uang yang di minta oleh Fitri. Padahal Fitri sudah mengatakan jika dirinya butuh uang untuk membayar paket yang akan segera datang ke rumahnya.
"Ada apa kamu mengajak aku ketemu di sini?" tanya Fitri dengan judesnya.
Baron meraih tangan Fitri, dia meminta Fitri untuk duduk di samping kanannya. Tapi Fitri dengan segera menghalau tangan Baron yang sudah begitu lemas tersebut. Dia mengatakan tidak ingin duduk di samping Baron. Cukup berdiri saja, itu jauh sudah cukup untuk Fitri.
Baron yang menyadari amarah dari Fitri pada dirinya. Pada akhirnya tidak memaksa Fitri untuk duduk di samping dirinya. Baron pun meminta Fitri untuk mendengarkan apa yang ingin di sampaikan. Tapi Fitri jangan mengelak pembicaraan dari dirinya, sebelum Baron benar-benar menyelesaikan ucapannya tersebut.
__ADS_1
Fitri yang penasaran dengan apa yang ingin di sampaikan oleh Baron. Mengiyakan apa yang di ucapkan oleh Baron. Fitri penasaran sebenarnya apa yang ingin di sampaikan oleh Baron. Dia benar-benar tidak sabar untuk menunggu sebenarnya apa yang ingin Baron sampaikan pada Fitri. Dia berjanji tidak akan mengelak ucapan dari Baron. Apalagi saat Baron bercerita, Fitri berjanji akan diam.
Baron pun akhirnya mulai menceritakan bagaimana dirinya yang sudah mulai sering di tegur oleh atasannya. Di atas Baron sering terlambat datang ke pabrik. Baron kerap mendapat peringatan keras dari atasannya. Baron yang mengira teguran itu hanya akan menjadi teguran biasa. Pada akhirnya teguran itu justru berbuntut panjang. Baron pun akhirnya di pecat secara tidak hormat dari pabrik.
Mendengar kata di pecat, tentu Fitri terkejut bukan main. Ini seperti mimpi buruk dalam hidupnya. Bagaimana pun juga, ini akan jadi hal yang tidak bisa di terima oleh Fitri. Dia tidak ingin Baron di pecat dari pabrik tempatnya bekerja.
Baron menjelaskan pada Fitri, jika dirinya akan segera mendapatkan pekerjaan baru yang jauh lebih baik. Jika tidak, Baron siap membuka usahanya sendiri. Baron janji akan hal itu pada Fitri.
Fitri tidak yakin Baron akan segera mendapatkan pekerjaan baru yang akan menghasilkan uang yang banyak. Begitu juga dengan usaha yang akan Baron mulai. Sama sekali tidak akan menghasilkan profit yang besar. Fitri sama sekali tidak yakin dengan apa yang akan di janjikan oleh Baron. Sehingga jalan keluar yang di ambil oleh Fitri, tentu adalah sebuah perpisahan. Mungkin dengan berpisah dengan Baron, hidup Fitri akan jauh lebih baik lagi.
Baron memohon pada Fitri untuk tidak memutuskan dirinya. Masih ada cinta di hati Baron untuk Fitri. Sehingga dia tidak ingin Fitri berpisah dengan dirinya.
__ADS_1
Namun keputusan dari Fitri tentu sudah bulat. Tidak ada lagi hubungan antara dirinya dengan Baron. Semuanya telah berakhir, kini Baron dan Fitri secara resmi telah berpisah. Mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi. Apalagi Baron yang saat ini sudah di pecat dari pekerjaannya. Sudah tidak ada lagi hal yang bisa di harapkan oleh Fitri dari Baron. Sebab Fitri hanya mencintai uang Baron. Bukan cinta dan raga dari seorang Baron. Saat Baron sudah tidak memiliki pekerjaan. Itu artinya Baron sudah tidak bisa menghasilkan uang yang di butuhkan oleh Fitri. Dia pun memilih untuk mengakhiri hubungan dirinya dengan Baron.
Baron menyesal dengan apa yang telah di lakukan oleh dirinya. Pilihan yang salah telah di ambil oleh dirinya. Dia meninggalkan keluarga yang selama ini mendukung penuh dirinya. Memilih seseorang yang sama sekali tidak mencintai dirinya. Penyesalan bukan lagi besar, tapi begitu begitu. Baron benar-benar merasa separuh hidupnya sudah tidak ada lagi. Kini dia benar-benar merasakan kesedihan serta kesepian yang teramat. Sudah tidak ada lagi cinta dalam hati Baron. Kini hanya penyesalan serta keinginan dari Baron untuk memutar waktu saat masih bersama Emin.
Baron semakin merasa sedih saat mendengar kabar dari Emin yang akan segera menikah kembali. Mungkin ini adalah tamparan yang paling keras dari Baron. Dia sudah tidak memiliki siapa pun lagi. Emin sudah pergi dengan pria idamannya kini. Kartini pun entah pergi ke mana dengan pria yang jauh lebih menyayangi dirinya. Hanya ada Aldi yang mungkin masih tersisa yang bisa Baron jadikan teman hidup. Selain itu saat ini sudah tidak ada satu pun yang bisa Baron banggakan dalam hidup ini.
Baron pergi dari pos ronda dengan perjalanan yang begitu rapuh. Hidupnya setengah mati dengan realita yang ada. Mungkin ini adalah teguran paling tepat yang di berikan oleh Tuhan pada Baron yang tidak bisa menjaga amanah sebuah keluarga. Dia terlena dengan napsu, hingga melupakan semua yang seharusnya di pertahankan oleh Baron.
Perjalanan yang tidak jauh menuju rumahnya itu, terasa berat di lakukan oleh Baron. Mengingat saat ini Baron memiliki beban moril yang cukup besar. Sebuah beban yang harus di selesaikan oleh dirinya sendiri. Dia harus segera mencari solusi atas persoalan yang tengah membelit dirinya. Di mana dia harus mencari pekerjaan baru yang akan membuat dirinya bisa bertahan hidup. Tentu tidak mudah bagi Baron untuk memiliki pekerjaan baru. Sebab usia Baron saat ini sudah memasuki usia kurang produktif. Mungkin banyak perusahaan dan pabrik yang akan mempertimbangkan ketika mereka menerima Baron sebagai salah satu calon pegawai mereka.
Baron semakin terlihat tidak berdaya, saat sepucuk surat di temukan oleh dirinya di depan pintu rumah. Aldi pun pergi menyusul ibunya ke kota. Dia merasa kehidupan dia akan semakin suram saat bersama dengan Baron. Oleh sebab itu Aldi memilih untuk pergi menemui Emin di kota.
__ADS_1
Baron hanya bisa menangis dengan nasib pahit yang harus di jalani oleh dirinya. Semua ini benar-benar membuat Baron merasa hilang arah. Dia tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk saat ini. Hanya ada kepahitan yang di rasakan oleh Baron di hari ini. Tidak ada kehidupan manis yang seharusnya di miliki oleh dirinya. Pahitnya hidup benar-benar di rasakan oleh Baron. Di tinggal Emin dan kedua anaknya adalah hal yang paling sulit di terima oleh dirinya. Mungkin ini balasan yang paling setimpal yang harus di dapat oleh Baron. Dia harus menerima kenyataan yang ada. Sehingga di hari mendatang Baron bisa belajar lebih baik lagi. Tidak menyia-nyiakan orang yang berjuang bersama dengan dirinya.