Kasih Tak Sampai

Kasih Tak Sampai
Ian Menemui Baron


__ADS_3

Tentu Baron adalah orang yang tepat untuk Ian temui. Mungkin dengan bantuan dari Baron, Ian bisa membujuk seorang Kartini untuk mau tidur dengan Riko dan teman-temannya. Mengingat ada uang besar yang sudah di janjikan oleh Riko dan teman-temannya untuk Kartini seandainya dia mau tidur dengan Riko dan teman-temannya.


Ian pun sengaja tidak menemui Baron di rumahnya. Melainkan menunggu Baron di depan tempat dia bekerja. Ian tentu khawatir saat dia datang ke rumah Baron, sebuah petaka akan muncul pada dirinya. Mengingat istri Baron adalah seorang yang di kenal galak. Jadi ada rasa takut dari Ian untuk bertemu dengan Emin.


Beberapa batang rokok sudah hampir di hisap oleh Ian. Baron yang di tunggu oleh dirinya, tidak kunjung datang juga. Ian yang duduk di pinggiran pabrik, berjalan menuju gerbang pabrik tersebut. Mungkin Ia bisa menemukan sedikit informasi dari satpam yang berada di depan gerbang pabrik.


"Sore Pak. Karyawan di sini belum pulang semua?" tanya Ian dengan wajah penasaran.


"Sore, sebentar lagi juga pulang. Biasanya ada sedikit orderan yang belum mereka selesaikan. Jadi mereka masih harus menunggu untuk pulang." jawab satpam.


Tidak berselang lama kemudian, salah seorang pegawai pabrik mulai bermunculan dari pintu keluar. Mereka terlihat begitu bahagia bisa pulang di hari ini. Jika mereka lembur, bayaran yang tidak sesuai. Serta sistem rodi yang di terapkan, membuat beberapa karyawan kurang menyukai lemburan yang ada di pabrik. Mereka lebih memilih untuk tidak lembur.


Di antara beberapa karyawan yang pulang itu, Ian mencari sosok Baron yang sudah lama dia tunggu. Ian pun terus memperhatikan setiap karyawan yang keluar. Namun Ian tidak kunjung menemukan keberadaan dari Baron. Ian pun bingung, kemana perginya seorang Baron. Mungkin juga Baron memiliki pintu rahasia sendiri. Sehingga dia pulang dengan pintu lainnya.


Salah seorang karyawan di tarik oleh Ian untuk bertanya akan keberadaan dari Baron. Mungkin Karyawan itu tahu keberadaan dari Baron saat ini. Dia terlihat bingung saat Ia menarik tangan. Apalagi wajah Ian yang terlihat seperti seorang preman pasar, sedikit menciptakan ketakutan bagi karyawan pria yang di tarik oleh Ian.


"Ada apa?" tanya karyawan itu membanting tangan Ian.


Ian yang tidak terima dengan perlakuan dari karyawan itu. Seketika langsung mendorong kepala pria itu ke belakang. Dia merasa pria itu bersikap kurang sopan pada dirinya. Oleh sebab itu Ian begitu kesal pada pria tadi. Hingga Ian pun mendorong kepala karyawan pria tersebut.


Karyawan pria itu pun terdiam dengan perlakuan yang di berikan oleh Ian. Dia takut, semakin dia melawan pada Ian. Akan semakin bahaya bagi dirinya. Hingga diam menjadi solusi terbaik bagi karyawan itu.


"Saya cuman ingin tanya sama kamu Malih!" ucap Ian dengan kesalnya.


"Tanya apa?"


"Baron sudah pulang?"


"Baron siapa, saya tidak kenal karyawan yang namanya Baron. Jadi saya tidak tahu." ucap karyawan itu.


"Masa kamu tidak tahu Baron. Dia bukannya kerja di pabrik ini?"


"Yang kerja banyak, jadi saya tidak mungkin tahu satu persatu karyawan yang ada di sini. Jadi berhenti bertanya soal Baron dan sebagainya. Saya tidak tahu siapa Baron yang kamu maksud. Paham!" tutup karyawan itu meninggalkan Ian.

__ADS_1


Gaya yang melambai yang di tunjukkan oleh Karyawan itu. Sedikit membuat Ian kurang suka. Dia pun langsung mengumpat karyawan yang di anggap Ian sebagai sosok tulang lunak. Apalagi gayanya yang mirip dengan perempuan, tidak salah karyawan pria itu di umpat dengan kasar oleh Ian.


Ian yang masih penasaran, kembali memperhatikan satu persatu karyawan yang keluar dari dalam pabrik. Hingga saat Ian hampir akan menyerah, dia pun menemukan Baron yang sudah lama di tunggu oleh dirinya.


Tidak ingin hilang kesempatan, Ian langsung masuk ke dalam area pabrik. Dia sudah tidak sabar untuk bisa berbincang dengan Baron. Tentu perbincangan yang akan di bahas adalah perbincangan seputar dunia perlendiran. Dunia hitam yang sudah di jalani oleh banyak perempuan malam.


"Apa kabar Baron?" ucap Ian mengejutkan Baron.


"Ian, kenapa kamu ada di sini?" Baron terkejut.


"Kita ngopi dulu. Sudah lama kita tidak ngopi santai. Ini juga masih sore, istri kamu belum tentu mencari kamu." ajak Baron.


Baron dan Ian memang bukan teman. Mereka hanya saling mengenal saja. Tentu ada sedikit rasa aneh saat Ian mengajak Baron untuk sekedar minum kopi. Ada maksud tersendiri dari seorang Ian dengan tujuan dari dirinya mengajak Baron untuk minum kopi.


Baron yang masih penasaran dengan tujuan dari Ian. Masih bertanya-tanya dengan sikap manis yang di tunjukkan oleh Ian. Dia terlihat masih kurang percaya dengan apa yang di perlihatkan oleh Ian. Bagaimana Ian terlihat begitu manis dalam bersikap pada Ian kini. Baron sedikit curiga dengan apa yang di tunjukkan oleh Ian di hari ini.


"Apa aku tidak sedang bermimpi di hari ini. Mengapa tiba-tiba kamu mengajak aku minum kopi. Tidak ada racun yang kamu taruh di sanakan?" gurau Baron.


"Tentu tidak, ada suatu hal yang harus aku katakan pada kamu. Jadi aku harap kamu akan ikut bersama denganku hari ini. Tidak ada sianida yang aku masukan. Jadi tidak harus risau dengan semua itu." ucap Ian meyakinkan Baron.


Ian yang melihat keraguan dalam diri Baron. Pada akhirnya mengutarakan maksud dari dirinya mengajak Baron untuk nongkrong minum kopi. Ada perkara bisnis yang harus di selesaikan oleh Ian dengan Baron. Bisnis yang tentunya menguntungkan bagi Baron dan Ian.


Mendengar kata bisnis, tentu ini adalah sebuah kata yang di inginkan oleh Baron. Apalagi Baron adalah seorang pria mata duitan. Bisnis dan uang adalah dua hal yang saling berhubungan. Tidak mungkin bagi Baron akan melewatkan bisnis sebagai sebuah komoditas yang cukup besar bagi dirinya. Baron pun langsung tertarik dengan apa yang di sampaikan oleh Ian pada dirinya.


"Kenapa kamu tidak berbicara dari tadi. Mungkin aku tidak akan ragu saat kamu bilang bisnis. Semua yang berhubungan dengan uang, tentu aku akan cepat dalam menyikapinya. Jadi langsung pada intinya saja." ucap Baron dengan penuh antusias.


Baron dan Ian pun langsung pergi menuju salah satu kafe yang ada di kampung. Mereka sudah tidak sabar untuk membicarakan sebuah bisnis yang Ia maksud. Ian sebagai orang yang membuat bisnis, khawatir akan Baron yang akan menolak tawaran dari dirinya.


Sementara Baron sendiri terlihat begitu antusias untuk segera mengetahui bisnis yang di maksud oleh Ian. Baron sudah tidak sabar untuk tahu bisnis yang akan Ian berikan pada dirinya.


Begitu sampai di kafe, Baron langsung menarik tangan Ian. Dia menarik kursi untuk Ian duduk. Sementara dirinya duduk di hadapan Ian. Dengan sebuah meja kecil yang berada di hadapan keduanya.


"Bisnis apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Baron dengan menatap wajah Ian dengan begitu tajam.

__ADS_1


"Aku tidak pernah berpikir kamu akan terlihat antusias seperti ini. Mungkin ini di luar perkiraanku." ucap Ian sedikit tersenyum.


Baron pada akhirnya malu sendiri. Apalagi ucapan dari Ian terdengar sedikit satire. Baron mungkin tidak akan tertarik pada Ian saat dia tidak akan berbicara perihal bisnis. Mungkin saja Baron akan melupakan Ian begitu saja.


Baron kembali bersikap normal seperti biasanya. Tidak ada sikap aneh yang di tunjukkan olehnya. Bersikap normal seperti biasanya. Sehingga Ian tidak lagi curiga akan Baron yang seorang mata duitan.


"Bukan seperti itu, tentu bisnis adalah hal yang penting. Sebab jika kita berbisnis, ada keuntungan yang bisa kita dapatkan. Aku harus berpikir cepat akan bisnis." ucap Baron.


Ian sendiri sebenarnya tidak mempersoalkan akan Baron yang mata duitan. Bagi Ian itu adalah hal yang wajar, tidak berlebihan saat Baron terlihat begitu antusias akan uang. Tapi Ian hanya mengingatkan Baron akan uang. Tidak semua hal tentang uang itu manis, banyak juga yang akan Baron dapat dari uang berupa hal pahit. Jadi Ian meminta Baron untuk lebih bijak lagi dalam menyikapi masalah uang.


Baron yang tidak suka di gurui oleh siapa pun, merasa apa yang Ian ucapkan adalah hal yang sama sekali sia-sia. Bagi Baron uang adalah segalanya. Hidup Baron begitu bergantung dengan uang. Sehingga Baron harus memiliki banyak uang agar kehidupan dari dirinya bisa berjalan dengan baik. Baron harus bisa melakukan hal-hal yang tentunya memiliki dampak yang baik akan hidupnya.


"Sekarang kamu ngomong saja maksud kamu ngajak saya bertemu. Saya penasaran dengan semua itu." tegas Baron.


"Jadi ada seorang yang akan menyewa vila. Mereka meminta seorang perempuan untuk menemani mereka. Dan perempuan yang mereka inginkan untuk bersama mereka adalah puteri kami. Si Kartini, apakah kamu bersedia merayu dia untuk bersama para penyewa vila itu." ujar Ian dengan begitu jelas.


Baron sedikit terkejut dengan apa yang Ian sampaikan pada dirinya. Apakah ini kabar baik atau buruk, sama sekali Baron tidak ketahui. Tapi Baron merasa ini adalah sebuah pertanda jika dirinya harus lebih bijak dalam menentukan semuanya. Jika Baron tidak bijak dalam menentukan semuanya, maka dia akan rugi sendiri dengan apa yang dia lakukan.


"Apa yang akan mereka lakukan pada Kartini, saat ia bersama dengan penyewa vila itu?" tanya Baron.


"Entah, tapi mereka ingin di temani oleh anak kamu itu. Apakah kamu bersedia merayu dia. Ada hadiah yang akan saya berikan pada kamu, jika berhasil merayu Kartini." jawab Baron.


"Berapa yang bisa kamu berikan pada saya?"


"10 juta."


Baron langsung diam mendengar ucapan dari Ian. Nominal uang yang tentunya besar. Dia pun langsung tertarik untuk merayu Kartini agar mau ikut dalam pesta yang akan di gelar di vila. Padahal Baron sudah tahu resiko yang akan terjadi pada anaknya. Tapi Baron tetap tidak peduli dengan semua itu. Dia hanya butuh banyak uang untuk bisa membeli segala hal yang dia inginkan. Baron adalah seorang pria mata duitan yang tentunya menganggap uang adalah segalanya.


Baron menyetujui semua permintaan dari Ian. Dia siap membuat Kartini bersedia untuk bisa ikut dalam pesta yang akan di gelar di vila. Baron pun sudah tidak sabar untuk segera mendapatkan uang 10.juta yang akan Ian berikan. Apalagi Baron butuh uang banyak untuk pergi liburan bersama dengan Fitri. Tawaran dari Ian tentu menjadi tawaran yang cukup membuat Baron senang.


"Apa tidak bisa tambah lagi. Anak saya itu kembang desa di kampung. Masa cuman segitu doang." ucap Baron penuh harap.


"Segitu sudah cukup besar. Mana ada uang segitu di berikan cuman buat ikut pesta doang." tegas Ian.

__ADS_1


"Benar juga sih."


Akhirnya kesepakatan antara Baron dan Ian pun terjalin. Mereka pun akhirnya bersalaman pertanda keduanya telah sepakat untuk melakukan perundingan yang ada. Baron merasa ini adalah kesepakatan yang paling baik di antara keduanya. Baron senang dengan semua yang telah di jalani oleh dirinya.


__ADS_2