Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 11 Salah Faham


__ADS_3

"Dika, kamu gak seharusnya marah-marah sama temen kamu sayang," Ibu Uma menjelaskan kepada Dika.


"Mah, mamah itu hampir celaka gara-gara Ocha dan Ocha juga gak nolongin mamah kan kemarin," kata Dika.


Dika yang marah dan kesal terus menyalahkan Ocha karena kekhawatiran Dika kepada mamanya.


"Dika, kamu harusnya dengerin dulu penjelasannya Ocha dong sayang, Ocha itu gak bersalah dia gak sengaja. Lagi pula mamah kan gak apa-apa," kata mamahnya Dika menjelaskan.


"Sengaja atau gak sengaja Ocha tetap bersalah mah, udah ah mah Dika mau ke kampus dulu udah siang. Mamah kalo ada apa-apa telepon Dika ya!" Dika pun berangkat ke kampus.


Sesampainya di kampus, Dika dan Ocha saling bertatapan karena mereka sampai ke kampusnya barengan dan Dika pergi terlebih dahulu.


"Dika.. Dika tunggu!" Ocha mengejar Dika.


"Apa?" kata Dika singkat.


"Dika, tolong kamu jangan salah faham dulu dong. Dengerin dulu penjelasan aku, semalam itu aku gak..." jelas Ocha kepada Dika.


"Cukup Ocha aku gak mau dengar penjelasan kamu, aku gak nyangka kamu bisa setega itu. Sebenarnya apa masalah kamu sama mamah aku?" tanya Dika penuh marah.


"Kamu salah Dika, kamu gak bisa nilai aku sembarangan gitu dong Ka. Tolong dengerin dulu penjelasan aku baru kamu bisa nilai aku," Ocha memohon kepada Dika.


Dika pun tidak menghiraukan perkataan Ocha lalu pergi begitu saja dari hadapan Ocha. Elsa pun datang dan mengajak Ocha ke kelas sambil menenangkan Ocha.


"Hay Dika, oh ia ini aku bawain kamu sandwich kamu pasti belum sarapan kan?" kata Widia.


"Simpan aja disitu nanti aku makan!" kata Dika.


Ocha dan Elsa pun datang dan semuanya berubah dengan sekejap hanya karena kesalah fahaman. Dika menjadi benci kepada Ocha dan kini Widia menguasai Dika.


Rasa puas melanda Widia karena dia telah berhasil membuat Ocha dan Dika menjauh.


Ocha hanya bisa terdiam dan tidak ingin terlibat lebih jauh, biarlah waktu yang membuktikan bahwa dia tidak bersalah.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan.


3 tahun berlalu masih sama seperti biasa tidak ada kata yang terucap dan tidak ada alasan untuk menjelaskan. Semuanya berubah seakan tidak pernah mengenal satu sama lain.

__ADS_1


Sekarang Dika hanya fokus pada kuliahnya dan perjodohannya tanpa berfikir panjang dan langsung mengambil keputusan.


Salah faham yang membuat semua nya berubah apalagi sejak kejadian itu terjadi.


Di kampus, Elsa sudah berencana untuk berbicara dengan Dika. Apapun jawabannya Elsa akan mendengarkan alasannya Dika.


"Aku mau ngomong sama kamu Dika!" kata Elsa menarik tangan Dika ke belakang kampus.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Dika kepada Elsa.


"Aku harap kamu ngerti, ini udah 3 tahun berlalu Dika. Kita udah sama-sama dewasa bisa bedain mana yang baik dan juga buruk. Seumur hidup aku, aku gak pernah ikut campur urusan orang. Tapi kali ini aku harus ikut bicara," jelas Elsa kepada Dika.


"Kamu itu ngomong apa sih Elsa, aku beneran gak ngerti. Kamu langsung ke intinya aja deh mendingan," kata Dika.


Elsa yang sudah greget kepada Dika pun langsung menjelaskan kesalah fahaman diantara Ocha dengan Dika yang telah lama tidak ada ujungnya agar Dika tidak larut dalam kesalahan ini bertahun-tahun.


"Aku gak habis fikir sama kamu, sebenernya apa sih yang ada di fikiran kamu? Kenapa kamu bisa gak percaya sama ocha? Ini udah 3 tahun loh Ka," kata Elsa.


"Aku percaya sama Ocha? Hmm udahlah gak usah bahas Ocha lagi gak penting, buat aku ini udah berakhir El. 3 tahun udah berlalu dan aku udah lupain Ocha serta kesalahannya," kata Dika.


"Apa? Udah berakhir ? Tega yah kamu. Kamu itu salah Dika udah menilai Ocha kayak gitu, Dika tolong kamu harus dengerin dulu," kata Elsa.


"Tapi Dika kamu gak boleh egois dong, Ocha juga berhak jelasin semuanya dan kamu harus dengar penjelasan itu," kata Elsa.


"Udah yah aku harus pulang dan kayaknya ini gak usah dibahas lagi," kata Dika.


Lalu Dika pun pergi dan sama sekali tidak menghiraukan perkataan Elsa. Elsa semakin kesal kepada Dika karena Dika terlalu keras kepala dan tidak mau mendengarkan apa kata orang lain.


Elsa yang sahabatnya Ocha pun tidak terima dengan perlakuan Dika kepada Ocha.


Lalu Ocha pun datang dan menghampiri Elsa.


"Kamu lagi ngapain disini El?" tanya Ocha kepada Elsa.


"Oh gak papa kok, kamu ngapain disini?" tanya balik Elsa kepada Ocha.


"Aku mau pulang, oh ia kamu gak pulang? Barengan aja yuk!" ajak Ocha kepada Elsa.

__ADS_1


"Ia ini mau pulang kok Cha, ayo kita pulang!" kata Elsa sambil senyum.


Lalu mereka berdua pulang dari kampus dan mampir sebentar ke kedai kopi.


"Rencana kamu apa Cha setelah lulus?" tanya Elsa.


"Rencana, hmm aku gak tau," jawab Ocha singkat.


"Kok gak tau, kalo aku sih urusin butiknya mamah terus menikah dan punya anak deh. Emang kamu gak ada apa cita-cita buat nikah?" kata Elsa.


Ocha pun ketawa lalu menyeruput kopinya, Ocha tidak terlalu menanggapi pertanyaan dari Elsa karena menurut Ocha tidak terlalu penting untuk difikirkan saat ini.


"Udah yuk ah kita pulang, aku duluan ya El soalnya aku mau kerja daaah Elsa," kata Ocha sambil berjalan pergi.


"Hmm ia Ocha..." kata Elsa.


Lalu Elsa pun pulang dan seperti biasa setelah pulang Elsa ke butik mamahnya.


Dika pun sibuk mengajar musiknya kepada para siswa, setelah itu jalan bersama Widia sambil merencanakan acara tunangannya dengan widia.


Pak Tio juga sedang sibuk mempersiapkan semuanya. Acara tunangannya dika, catering dan masih banyak lagi persiapan yang harus dipersiapkan oleh Pak Tio.


"Pah, udah dong pah jangan kayak gini. Papah ini kenapa sih terlalu memaksakan anak kita?" tanya Ibu Uma.


"Apa mah? Mamah diam aja dan tinggal selesainya aja ya mah, mamah gak usah ikutan cape. Ini biar jadi urusannya papah, Dika juga udah menerima pertunangan ini kok," jelas Pak Tio kepada istrinya.


Ibu uma pun menghela nafas dan tidak berbicara apapun lagi dan berlalu meninggalkan Pak Tio.


Dika dan Widia pun makan bersama, tetapi Dika hanya diam dan tidak berkata apapun karena Dika masih diambang kesedihan serta pilihan yang membuat dia sendiri bingung. Serta Dika masih memikirkan perkataannya Elsa tadi.


Keterpaksaan Dika untuk menerima Widia membuat hati Dika terluka dan Dika hanya bisa merasakan apa yang Dika rasakan saja. Tidak ada yang bisa mengerti keinginanya dan semua sekaan memihak kepada Widia.


"Ayo dong dimakan, makanannya nanti dingin loh Dika, kan sayang." Kata Widia.


"Aku lagi gak mau makan, kamu makan aja. Kayaknya aku harus pulang. Kamu bisa kan pulang sendiri?" tanya Dika kepada Widia.


"Kamu kok gitu sih Dika, kamu jangan tinggalin aku sendiri dong Dika!" kata Widia.

__ADS_1


"Maaf aku harus pulang Wid, kamu sendiri aja ya aku minta maaf." Kata Dika lalu meninggalkan Widia sendiri.


__ADS_2