Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 75 Martabak dan Sate


__ADS_3

Setelah pekerjaan kantor selesai, Mutiara diantar pulang oleh Wira dan sebelum pulang, mereka mampir untuk membeli martabak.


Banyak pedagang kaki lima dan Mutiara melihat semua penjual disana dan tertarik untuk membeli sate juga.


Wira yang melihat Mutiara ke arah tukang sate bisa menebak bahwa Mutiara juga ingin membeli sate. Wira menggandeng tangannya Mutiara dan menghampiri tempat jualan sate.


"Mau dimakan disini atau dibungkus?" tanya Wira.


"Kamu tau aku mau sate? Emm dimakan disini kayaknya lebih enak deh," kata Mutiara.


"Oke kita makan disini ya..." Wira pun memesan dua porsi untuk dimakan disini dan nasinya sepiring berdua.


Terasa romantis saat makan sate berdua karena ini adalah pertama kalinya Mutiara dan Wira makan sate bersama dimalam hari yang kebetulan hari ini mereka sangat lelah seharian di kantor.


Pesanan mereka pun sampai, lalu Mutiara menyantap sate dengan nasi dengan lahap. Sedangkan Wira memakannya dengan santai.


Wira melihat Mutiara yang makan dengan lahap merasa senang karena melihat calon istrinya makan dengan lahap. Bahkan Mutiara seperti lupa bahwa disampingnya kini ada Wira.


Di rumah, Ocha dan orang tuanya menunggu Galang yang tidak ada kabar sejak tadi siang.


"Papah sih, Galang itu gak pernah kayak gini. Makanya jangan paksa Galang apapun masalahnya papah..." kata Ibu Lina marah-marah.


"Papah minta maaf mah..." kata Pak Fahri.


"Maaf terus, telepon Galangnya dong pah gimana sih," kata Ibu Lina kesal.


"Ocha udah telepon Galang mah, tapi gak dia angkat juga," kata Ocha.


Tak lama, Mutiara dan Wira sampai dan melihat pintu yang masih terbuka dan keluarganya yang sedang duduk di ruang tamu karena sedang menunggu Galang.


"Loh mah, pah, ada apa kok tumben jam segini pintu masih dibuka?" tanya Mutiara yang langsung masuk dan menyimpan tasnya di kursi.


Wira juga ikut masuk dan bersalaman dengan kedua orang tua Mutiara dan Wira melihat kepanikan diraut wajah orang tua Mutiara dan Ocha.


Ocha masih terus menelepon Galang yang masih belum diangkatnya juga, fikir Ocha Galang tidak akan semarah ini dan ternyata Galang malah belum pulang.


"Mah, pah, ini ada apa sebenarnya?" tanya Mutiara.

__ADS_1


"Adik kamu dia belum pulang dari tadi siang gara-gara tuh papah kamu membela Dokter Arvan..." kata Ibu Lina marah-marah.


"Jadi tadi Arvan kesini?" kata Mutiara.


"Om, tante biar Wira yang cari Galang ya. Ini udah malam juga sebaiknya om sama tante istirahat. Aku akan cari Galang," kata Wira.


"Tapi Nak Wira ini sudah malam, apa tidak sebaiknya Nak Wira pulang aja kan besok juga pasti berangkat kerja lagi pasti cape," kata Ibu Lina.


"Enggak tante gak apa-apa, kalo begitu saya pamit om, tante." Kata Wira setelah berpamitan lalu pergi untuk mencari Galang.


Dika yang baru sampai di Yogyakarta dan kebetulan lewat pantai, Dika melihat mobilnya Galang berada didekat pantai. Dika pun menghentikan mobilnya dan menuju ke mobilnya Galang.


Dika tidak salah lihat bahwa mobil yang dilihatnya adalah mobil Galang. Dengan cepat Dika mencari-cari keberadaan Galang.


Terlihat Galang yang sedang duduk dibawah pohon kelapa dan bersandar sambil memejamkan matanya.


"Galang..." panggil Dika yang sudah berada disamping Galang.


Galang membuka matanya dan mendengar panggilan dari Dika. "Kak Dika, kok kakak ada disini?" tanya Galang yang langsung berdiri.


"Kamu yang lagi ngapain disini malam-malam?" tanya Dika.


"Ya udah sekarang lebih baik kamu pulang ya, kakak antar kamu pulang dan kamu cerita di mobil oke..." kata Dika membantu memapah Galang menuju ke mobil Dika karena Galang terlihat lemas saat itu.


Wira masih mencari keberadaan Galang dan akhirnya Wira menemukan mobilnya Galang yang berada di dekat pantai. Dihampirinya mobilnya Galang dan Wira segera mencari keberadaan Galang.


Diperjalan menuju rumah Galang, Galang menceritakan semua yang terjadi dengan Dokter Arvan. Permasalahannya dan juga kenekatan Dokter Arvan kepada kedua kakaknya.


Dika tidak menyangka Arvan akan sebegitu nekatnya karena Arvan adalah orang yang sangat terhormat dan dia juga tidak mungkin senekat itu.


Tapi ternyata dugaannya salah tentang Dokter Arvan, dia benar-benar licik dan menurutnya kali ini adalah orang yang tidak bisa dipercaya.


Setelah lama diperjalanan, akhirnya Dika dan Galang sampai di rumah. Melihat kedatangan Galang, semuanya menyambut dengan bahagia.


"Anaknya mamah kamu kemana aja sayang?" tanya mamahnya sambil mengelus kepalanya Galang.


"Dika lihat Galang ada di pantai Mah, pah," kata Dika.

__ADS_1


Mulai sekarang walaupun Dika belum sah menjadi suaminya Ocha, tetapi Dika sudah memanggil orang tua Ocha dengan panggilan mamah dan papah.


Melihat Dika yang begitu peduli kepada Galang, orang tua Ocha semakin yakin bahwa Dika adalah calon suami yang baik untuk Ocha.


Setelah melihat Galang pulang, Mutiara langsung menelpon Wira dan menyuruhnya pulang karena Galang sudah kembali ke rumah dengan selamat.


Pagi hari yang sangat cerah. Hari ini sudah mulai persiapan untuk besok Ocha dan Dika menikah, walaupun sudah beres semua tetapi Dika selalu memantau gedung dan segala macam yang menyangkut pernikahannya.


Dika dan Ocha sekarang sedang video call dan Dika memperlihatkan dekorasi nya lewat ponselnya kepada Ocha dan ternyata sesuai dengan apa yang Ocha harapkan.


Semua yang menyiapkan adalah Dika beserta keluarganya dan juga keluarga Ocha, bukannya Ocha tidak ikut mempersiapkan tetapi Ocha membantu memilihkan dekorasi dan semua yang memilih Ocha.


Dika yang menguruskan semuanya bersama keluarganya dan keluarga Ocha.


"Gimana sesuai kan yang di desain sama kamu? Ini spesial untuk kamu dan ini juga aku persiapkan semuanya hanya untuk kamu," kata Dika yang berbicara dengan Ocha lewat video call.


"Sesuai banget, makasih ya..." kata Ocha.


"Sama-sama cinta..." kata Dika sambil tersenyum.


Dibalik senyumnya Dika, Dika merasakan kesedihan dan ketakutan akan kehilangan Ocha karena mendengar cerita dari Galang soal Dokter Arvan semalam.


Tetapi sebentar lagi Dika akan selalu berada disampingnya Ocha dan akan menjaganya agar tidak ada siapapun yang mendekatinya termasuk Arvan.


Setelah melihat Gedung pernikahan, Dika langsung pulang ke Apartementnya dan beristirahat karena harus mengumpulkan tenaga untuk esok hari.


"Besok kamu akan menikah, mamah minta sama kamu harus menjadi suami yang bertanggung jawab, sayangi istri kamu dan jaga dia Dika." Kata mamahnya yang sekarang sudah duduk disamping Dika.


"Ia mah, Dika akan selalu menjaga dan menyayangi istri Dika kelak sama seperti Dika menyayangi mamah," kata Dika sambil tersenyum dan memegang tangan mamahnya lalu mencium kedua punggung tangan mamahnya.


Ibu Uma pun mengelus kepalanya Dika dengan penuh kasih sayang, anak semata wayangnya ini akan resmi menjadi seorang suami besok dan bukan Dika yang hidup dengan kesendirian lagi.


"Satu hal Dika, kamu harus setia kepada istri kamu sama seperti papah yang selalu setia sama mamah kamu," sambar pak Tio yang datang dari arah dapur.


"Siap bos..." kata Dika.


Di rumah Ocha, Ibu Lina sedang menyiapkan baju kebaya untuk Ocha pakai besok dihari pernikahannya dengan Dika.

__ADS_1


Mutiara pun hari ini meliburkan diri karena ingin menemani Ocha sampai besok dan pihak kantor sudah memberikan izin libur kepada Mutiara. Wira juga sudah ada dirumah Mutiara karena Pak Fahri menyuruhnya untuk datang karena ada hal penting yang harus dibicarakan.


Tak lupa Ocha juga memberi kabar kepada Elsa sahabat terbaiknya satu bulan yang lalu. Hari ini sahabatnya sudah ada diperjalanan menuju ke rumah Ocha karena akan menginap di rumah Ocha untuk menemani Ocha.


__ADS_2