
"Ngeselin banget sih, Dasar gak ada akhlak!" cerocos Galang saat tiba di rumah sambil melempar kunci mobil.
Ocha yang saat itu sedang duduk kaget mendengar Galang marah-marah sambil melempar kunci mobil ke meja.
"Kamu kenapa sih? Siapa yang gak ada akhlak?" tanya Ocha.
"Emm lupain aja, fokus aja makan popcornnya yah kak Ocha yang cantik dan baik hati..." kata Galang lalu berlalu dari hadapan Ocha.
"Aneh!" kata Ocha.
Di kantor, Mutiara sudah merasa lebih baik dan tenang. Perasaan khawatirnya sudah menghilang sejak Wira berada di dekatnya.
Wira menjadi khawatir soal kejadian tadi yang dialami oleh Mutiara. Mulai sekarang Wira akan menjaga Mutiara dan antar jemput Mutiara kemanapun.
"Maafin aku ya Mutiara, aku udah salah faham sama kamu waktu itu dan kamu juga boleh tampar aku sesuka kamu" kata Wira.
"Udah aku maafin..." kata Mutiara.
"Beneran?" tanya Wira.
"Ia..." jawab Mutiara.
Tok... tok...tok.
Terdengar suara orang yang mengetuk pintu rumah Ocha, Ocha berniat untuk membuka pintu tetapi dengan cepat Galang datang dan menyuruh kakaknya diam dan Galang yang akan membukakan pintu.
Dengan cepat Galang membuka pintu dan melihat yang datang ke rumahnya. Setelah melihat siapa yang datang, Galang langsung keluar dan langsung menutup pintunya kembali karena takut orang rumah melihat siapa yang datang.
"Dokter Arvan, mau apalagi? Gak ada malu-malunya banget sih. Aku kira Dokter itu baik tapi ternyata aku salah!" kata Galang.
"Kamu gak tau perasaan aku gimana, dulu saat aku mencintai Ocha dia sudah memiliki Dika dan sekarang aku suka sama Mutiara, dia juga sudah memiliki Wira. Aku datang kesini untuk mencari Ocha dan juga Mutiara karena aku harus mendapatkan salah satu diantara mereka!" kata Arvan dengan tegas dan penuh amarah.
"Udah gila, sekarang juga kamu pergi dari sini dan jauhi kakak-kakak aku!" bentak Galang.
"Enggak, aku akan tetap disini dan menunggu Ocha atau Mutiara," kata Arvan.
Dibalik jendela ternyata Ocha melihat dan menguping pembicaraan Galang dengan Arvan, mendengar hal itu Ocha menjadi takut sendiri. Padahal Arvan adalah seorang Dokter, tetapi dia begitu pemaksa soal perasaan.
Arvan tidak menyadari kesalahannya dan dia tidak begitu memperhatikan kesehatannya sampai-sampai dia begitu tergila-gila cinta dan melupakan kewajibannya menjadi seorang Dokter.
Dengan cepat Ocha masuk ke kamarnya setelah mendengar pernyataannnya Arvan dan segera menghubungi Dika.
Tut...tut...tut.
Terhubung tetapi tidak Dika angkat, begitu kesalnya Ocha kepada Dika karena teleponnya dia abaikan.
__ADS_1
Berkali-kali menelpon Dika tetapi masih sama belum ada jawaban darinya. Ocha mondar-mandir di dalam kamarnya dan memikirkan perkataan Arvan kepada Galang tadi.
Ocha juga mencemaskan Mutiara, ternyata cinta bisa membuat orang lupa dan bisa bertindak sesuka hati. Tetapi cinta adalah sebuah anugerah dan tidak ada yang bisa menolak akan hadirnya cinta, bagaimana kita mengatur hati kita agar tidak terjatuh di jalan yang salah.
Seperti Arvan yang sekarang dia tergila-gila cinta dan sewaktu-waktu bisa berbuat sesuka hatinya karena cinta yang dia inginkan tidak bisa dia dapatkan.
"Mau sampai kapan disini? Pergi sekarang juga!" usir Galang kepada Arvan.
"Kamu tenang dong, aku hanya ingin bertemu dengan Mutiara dan Ocha mana mereka??" kata Arvan.
"Beraninya...." kata Galang.
Buuukk.
Satu pukulan mendarat dipipinya Arvan tetapi tidak membuat Arvan jera, ia semakin keukeuh ingin bertemu dengan Mutiara atau Ocha.
Mendengar keributan diluar, papahnya Galang segera keluar dan melihat puteranya itu yang habis memukul Arvan.
"Galang, apa-apaan kamu? Papah tidak pernah mengajarkan kamu untuk berlaku kasar, minta maaf sama Arvan!" kata Pak Fahri.
Galang menunjuk muka Arvan dengan jari telunjukknya saking emosinya "Minta maaf sama dia, suruh dia nyebur dulu ke laut baru aku minta maaf. Dia ini bukan orang baik-baik pah, jangan papah kasih hati nanti dia minta jantung..." kata Galang yang penuh dengan emosi.
"Oke kalau kamu tidak mau minta maaf, papah yang akan minta maaf sama Arvan." Kata Pak Fahri.
"Pah..." sahut Galang.
Arvan pun senyum-senyum karena merasa menang "tidak apa-apa om, saya mengerti saya sudah maafkan Galang." Kata Arvan.
Galang masuk kedalam dan membawa kunci mobil, lalu pergi dengan membawa kekesalan.
"Galang mau kemana kamu?" teriak Pak Fahri.
Mendengar teriakan Pak Fahri, Ibu Lina menghampiri Pak Fahri dengan berjalan tergesa-gesa karena takut terjadi apa-apa.
"Pah ada apa sih kok ribut?" tanya Ibu Lina. "Eh ada Nak Arvan, ayo masuk..." kata Ibu Lina.
"Makasih tante, lain kali saja saya pamit ya om tante," kata Arvan.
"Ia hati-hati ya Arvan," kata Pak Fahri.
Arvan segera pergi karena sekarang Arvan tidak bertemu dengan siapa-siapa dan niatnya bertemu dengan Mutiara atau Ocha tetapi rencananya gagal dan membuat Arvan tidak bisa menerima semua ini.
"Heran sama Galang , selama ini dia tidak pernah berlaku kasar mah. Tapi sekarang Galang memukul Dokter Arvan," kata Pak Fahri setelah memasuki rumahnya.
"Pah, papah seharusnya tanyakan dulu apa permasalahannya kepada Galang. Bagaimanapun Galang melakukan itu pasti ada alasannya," kata Ibu Lina.
__ADS_1
"Tetap aja mah, harusnya Galang bersikap lebih sopan," jelas Pak Fahri.
Ocha yang masih terus menelepon Dika, akhirnya Dika mengangkat telepon dari Ocha.
"Hallo yangku, kamu telepon banyak banget. Maaf ya aku gak sempat angkat telepon kamu karena aku lagi ada masalah kantor," kata Dika.
"Masalah kantor? Kamu di Jakarta sekarang?" tanya Ocha.
"Ia, maaf ya aku gak bilang dulu sama kamu karena aku juga dapat kabar mendadak," kata Dika.
"Ya udah nanti aja aku ceritanya. Kamu hati-hati disana," kata Ocha.
"Ada apa Cha? Dari suara kamu kedengerannya kamu habis nangis ya?" tanya Dika.
Dengan cepat dan karena khawatir, Dika mengalihkan teleponnya menjadi video call.
Ocha kalang kabut saat Dika video call, Ocha buru-buru menghapus air matanya lalu mengangkat video call dari Dika.
Dika melihat Ocha yang matanya sembab tetapi Dika tidak bilang kepada Ocha dan berpura-pura tidak tahu. Dika penasaran apa yang terjadi tidak biasanya Ocha seperti ini.
"Kenapa Cha ada apa?" tanya Dika.
"Enggak, aku cuma ingin telepon aja. Maaf ganggu ya, aku gak tau kalo kamu lagi di Jakarta," kata Ocha.
"Hari ini aku pulang, mau dibawain oleh-oleh apa?" Kata Dika sambil tersenyum.
Melihat senyumannya Dika, Ocha merasa lebih baik dan tidak terlalu takut dengan masalahnya saat ini. Tetapi yang dikhawatirkan oleh Ocha saat ini adalah Mutiara dan Galang.
Ocha tidak habis fikir dan tidak menyangka akhirnya akan seperti ini Arvan benar-benar nekat.
"Ocha..." panggil Dika.
"Ia..." kata Ocha.
"Mau dibawain oleh-oleh apa?" tanya Dika lagi.
"Enggak mau, aku mau kamu datang kesini dengan selamat dan sehat," kata Ocha.
"Oke Ibu Negara, baiklah permintaanmu dikabulkan. Tinggal dua permintaan lagi ya..." Dika terkekeh karena perkatannya yang membuat Ocha cemberut.
"Emangnya kayak Aladin dikasih tiga permintaan," kata Ocha terkekeh.
"Baiklah-baiklah khusus untuk Ibu Negara boleh deh sebanyak-banyaknya," kata Dika.
Setelah pembicaraan mereka selesai, Dika mengakhiri pembicarannya dengan Ocha karena masih harus bekerja dan mengurus kantor.
__ADS_1
Dika ingin segera pulang ke Apartement-nya dan segera bertemu dengan Ocha karena ingin menanyakan apa yang terjadi, tetapi Dika akan menanyakannya nanti setelah ia sampai di Yogyakarta.