
Ocha melamun sambil mamandang langit-langit kamar, beberapa hari di Surabaya membuatnya lelah dan ingin sekali beristirahat di rumah.
Urusannya di Resto pun kini telah di pegang oleh kedua adiknya dan giliran Ocha untuk istirahat.
"Cha, mamah masuk ya," kata Ibu Lina.
"Ia mah," sahut Ocha.
Ibu Lina pun masuk dan duduk di kursi samping ranjangnya Ocha sambil membawakan segelas susu untuk Ocha.
"Makasih mah," kata Ocha sambil mengambil susu nya dan meminumnya.
"Cha beberapa hari yang lalu, Dika hubungi mamah dan nanyain kamu. Kamu emang gak hubungin Dika ya?" tanya mamahnya.
"Enggak mah, nomor Dika sudah aku blokir," kata Ocha.
"Cha... kamu kok blokir nomornya Dika?" tanya Mamahnya.
"Mah aku sudah ikhlas, aku udah lepasin Dika karena aku sayang sama dia. Ocha gak mau sampe Dika di penjara itu aja," jelas Ocha.
"Ya sudah mamah ikutin apa kata kamu aja, tapi mamah ingatkan sama kamu bahwa cinta itu harus di perjuangkan tetapi bila satu sama lain memperjuangkan dan bukan hanya sepihak!" kata mamahnya.
Hari ini Dika mengantar Heln untuk terapi yang terakhir kalinya, karena permintaan Heln kepada Dika yang tidak ingin terus ditemani olehnya. Heln terus memikirkan Ocha dan tidak bisa tidur nyenyak gara-gara kesalahan yang telah ia perbuat.
Dika harus mengejar Ocha dan mengembalikan keutuhan hubungan diantara mereka. Heln pun meminta Dika agar menyampaikan permintaan maafnya kepada Ocha jika nanti Dika bertemu dengan Ocha.
Berbagai penyesalan dan merasa bersalah Heln kepada Ocha telah membuat Heln tidak bisa fokus pada apa yang sedang Heln lakukan. Tidak fokus untuk terapi dan hatinya dipenuhi rasa bersalah.
"Kamu yakin gak mau aku bantu lagi?" tanya Dika kepada Heln yang sekarang berdiri di hadapan Heln.
"Aku yakin, biar ibu yang menemani aku untuk terapi. Kamu fokus aja sama Ocha!" kata Heln.
__ADS_1
"Tapi gara-gara aku kamu jadi seperti ini Hel," kata Dika.
"Ini bukan kesalahan kamu, kamu juga korban. Udah kamu fokus aja sama hidup kamu dan masa depan kamu, aku minta maaf sama kamu karena aku sudah membuat hubungan kamu sama Ocha berantakan. Padahal kalian mau menikah," kata Heln.
"Ya sudah kalo itu mau kamu, aku akan transfer semua biaya untuk kamu terapi. Tolong diterima ya, aku mau kamu terapi dengan baik dan rutin! Kasih tau aku jika sudah ada kemajuan," kata Dika sambil tersenyum.
"Ia, terima kasih Dika. Udah sana kamu kejar Ocha jangan sampai kehilangan lagi," kata Heln.
"Ia," kata Dika.
Setelah bertemu dengan Heln, Dika pun pulang dan merencanakan untuk pergi ke Yogyakarta untuk menemui Ocha. Tetapi sebelum pergi, Dika harus ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda karena koma.
Ibu Uma pun akan ikut ke Yogyakarta untuk menemui Ocha karena sudah ingin bertemu dengan Ocha dan memeluknya.
Dika sudah tidak sabar untuk menemui Ocha dan memberikan kabar gembira kepadanya bahwa sekarang tidak akan ada lagi yang memisahkan mereka.
Dengan gigih, Dika terus bekerja di kantor untuk segera menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
"Loh Dika kamu sudah pulang, Gimana urusan kantor?" tanya Ibu Uma yang melihat Dika sudah pulang dari kantor.
"Syukurlah mamah senang mendengarnya. Kamu tanya mamah mau ikut ke Yogya, ya tentu dong sayang mamah sama papah harus ikut. Kapan dong kita kesana Dika?" tanya Mamahnya.
"Nanti ya mah setelah urusan di kantor selesai, kita berangkat kesana!" kata Dika tersenyum dan memeluk mamahnya karena bahagia.
"Tunggu!" kata mamahnya lalu melepaskan pelukannya. "Tapi kamu gak coba hubungi Ocha atau kamu hubungi Ibu Lina?" sambung Mamahnya.
"Oh ia, nanti aku coba telpon tante Lina," kata Dika dan berlalu ke kamarnya.
Hari ini Dika akan menghubungi Ibu Lina untuk meminta izin kepadanya untuk datang kerumahnya.
Ponsel Ibu Lina berdering dan Ibu Lina tidak mengangkatnya karena sedang keluar dan tidak membawa ponsel.
__ADS_1
Dilihatnya oleh Ocha yang kebetulan sedang berada di rumah, ternyata panggilan masuk itu dari Dika. Ocha pun mengangkat teleponnya dan diam tanpa kata, hanya bisa menangis dan mendengarkan sura Dika.
"Halo tante, tante apa kabar? Aku minta maaf tante baru bisa kasih kabar tante, soalnya Dika harus antar Heln terapi dan alhamdulillah sekarang Heln sudah membaik dan aku bisa tenang," kata Dika.
Mendengar perkataan Dika membuat Ocha tidak bisa menahan air matanya dan menangis dalam diam.
"Tante.. halo, tante dengar aku kan?" tanya Dika.
Ditutupnya telepon tersebut oleh Ocha secara tiba-tiba lalu Ocha pun langsung pergi ke kamar sambil menangis dan mengunci pintu kamarnya.
"Halo tante... kok di tutup," kata Dika.
Ibu Lina pun pulang dan langsung mengecek ponsel nya, ternyata ada panggilan masuk dari Dika dan kaget karena telah ada yang menjawab teleponnya. Ibu Uma jadi berfikir bahwa telepon tersebut di angkat oleh Ocha.
Dengan segera Ibu Lina berlari ke kamar Ocha tetapi pintunya terkunci.
"Cha.. tolong buka pintunya Cha," kata Ibu Lina.
Tak lama Ocha pun membuka pintunya dan membiarkan mamahnya masuk ke dalam.
"Ocha, mamah minta maaf karena mamah masih simpan nomornya Dika, karena mamah yakin bahwa Dika itu yang terbaik buat kamu!" kata mamahnya.
"Mah, mamah kan tau sekarang Dika bukan sama aku lagi, Dika sekarang sudah bersama Heln mah," kata Ocha.
"Mamah minta maaf sayang..." mamahnya menyesal.
Lagit yang penuh bintang, Dika memandang bintang-bintang yang gemerlap menampakan cahaya yang indah membuat Dika kagum. Teringat pada kebersamaannya bersama Ocha tidak bisa membuatnya lepas dari Ocha.
"Seandainya kamu tau, aku selalu ingin bersama kamu dalam keadaan susah ataupun senang dan menjadikanmu bidadari di hatiku. Satu yang aku mau! Hidup bersama kamu sampai maut memisahkan kita. Hanya kamu dan hanya kamu Ocha," batin Dika sambil memejamkan matanya.
Dika selalu mengharapkan kebersamaannya bersama Ocha walaupun jarak kini memisahkan mereka, karena hanya Ocha yang memenuhi fikiran Dika.
__ADS_1
Tidak menyerah sampai waktu memisahkan, Dika akan terus berusaha memiliki Ocha dan hanya Ocha, tidak ada wanita lain yang masuk kedalam hatinya kecuali Ocha. Berusaha dan terus berusaha yang dilakukan oleh Dika agar Ocha kembali padanya.
"Aku akan datang dan memenuhi janjiku kepadamu, Untuk menjemputmu dan menjadikanmu satu-satunya wanita dalam hidupku. Tunggu aku sebantar lagi, hanya beberapa saat." Batin Dika.