Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 12 Kecewa dan Amarah


__ADS_3

Aaarrgghhh...


Dika berteriak di dalam kamarnya karena kesal dan marah kepada dirinya sendiri. Hampir saja Dika menonjok tembok kamarnya jika saja mamahnya tidak langsung datang dan masuk ke kamarnya Dika.


"Dika ya ampun, kamu kenapa nak?" kata mamahnya panik.


Ibu Uma pun memeluk Dika dengan penuh kasih sayang dan menenangkan Dika.


"Aku gak sanggup mah, aku gak sanggup bertahun-tahun menahan ini semua," keluh Dika kepada mamahnya.


"Cerita sama mamah ada apa sayang, kamu jangan seperti ini dong Dika mamah gak mau kamu kenapa-kenapa. Kamu masih mengingat kejadian 3 tahun yang lalu?" tanya mamahnya Dika.


Dika hanya bisa menangis di pelukan mamahnya karena memang mamahnya yang bisa mengerti perasaannya.


"Seharusnya dulu itu kamu mendengarkan penjelasannya Ocha. Mungkin kejadiannya gak akan seperti ini Dika," mamahnya Dika menjelaskan.


Mamahnya Dika tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain menemani dika dan memberi semangat kepada Dika.


Ditempat yang berbeda, Ocha melamun memikirkan Dika dan memikirkan kejadian 3 tahun lalu. Kesalah fahaman yang belum tuntas diselesaikan.


"Sayang kamu kenapa?" tanya mamahnya kepada Ocha.


"Mamah, enggak ko mah Ocha gak papa," jawab ocha kepada mamahnya sambil tersenyum.


"Ehm kuliah kamu lulus kapan Cha?" tanya mamahnya.


"Sebentar lagi kok mah," kata Ocha.


"Semoga kamu bisa lulus dengan mendapatkan nilai terbaik yah sayang..." kata mamahnya sambil mengusap kepala Ocha.


"Ia mah, makasih ya mah," kata mamahnya.


"Ia sayang," kata Mamah.


Hari minggu yang cerah, Ocha pergi ke pasar untuk berbelanja. Hari ini Ocha akan membantu mamahnya memasak, beres-beres rumah dan jalan-jalan bersama kedua adiknya.


Kebersamaan Ocha dengan keluarganya membuat Ocha melupakan kesedihannya dan Ocha bahagia serta tidak bersedih lagi. Walaupun masalahnya sedang melanda hidupnya, tetapi Ocha menutupi kesedihannya di depan mamahnya.

__ADS_1


Hari berlalu, Ocha dan Elsa seperti biasa berangkat ke kampus. Karena sekarang sedang ada ujian dan mereka berangkat lebih awal agar tidak terlambat mengikuti ujian.


Ujian pun dimulai.


Setelah ujian selesai, Ocha dan Elsa berada di kantin kampus, Mereka makan bersama sehabis selesai mengerjakan ujian.


Widia dan dika pun datang ke kampus dan makan bersama.


Ocha hanya bisa melihat Dika dari jauh begitupun dengan Dika.


Sebenarnya Ocha masih kecewa kepada Dika, tetapi Ocha begitu baik hati. Dia memaafkan Dika walaupun Dika sudah menuduhnya yang tidak benar soal kejadian hari itu tepat 3 tahun yang lalu.


"Kamu liatin apa sih Dika?" tanya Widia kepada Dika, lalu Widia pun melihat ke arah Dika yang melihat Ocha.


Widia kesal karena Dika melihat ke arah Ocha dan tidak memperdulikan dirinya. Widia pun pergi dengan marah kepada Dika.


Dika pun tersadar akan kepergian Widia dari hadapannya lalu Dika pun menyusul Widia dan memberhentikan langkah Widia.


"Kamu kenapa sih Wid?" tanya Dika.


"Tapi gak seharusnya kamu pergi gitu aja kan!" jelas Dika.


"Aku itu kesel sama kamu, kamu gak seharusnya liatin Ocha. Kamu masih suka sama Ocha ya? Aku tau kok kamu harusnya bilang dari awal bukannya kayak gini tau Ka," kata Widia mengeraskan suaranya.


"Aku itu bingung sama jalan fikiran kamu Wid, sebenarnya masalah kamu itu apa sih sedikit-sedikit marah, terus kesel aku gak habis fikir sama kamu!" kata Dika.


Dika pun pergi meninggalkan Widia setelah perdebatan itu terjadi dan tidak memperdulikan Widia, bahkan Dika berniat untuk pulang dan tidak mengantarkan Widia pulang.


Di parkiran ada Ocha yang sedang bersiap-siap untuk pulang. Dika pun datang dan bersiap-siap untuk pulang juga. Dika hanya melihat Ocha dengan tatapan ingin menyapanya tetapi ada keraguan di hatinya untuk menyapa Ocha.


Kring...kring...kring.


Telepon Ocha berdering ada panggilan masuk dari papahnya, bahwa Ocha harus segera pulang karena ada sesuatu yang harus dibicarakan. Ocha pun bergegas untuk pulang.


"Ocha tunggu, aku mau bicara sama kamu!" cegah Dika kepada Ocha.


Ocha pun tidak menghiraukan Dika sedikitpun, lalu Dika menghampiri Ocha.

__ADS_1


"Maaf aku gak ada waktu, aku harus pulang. Lebih baik kamu juga pulang dan satu lagi jangan pernah ganggu aku lagi!" kata Ocha.


Dika hanya diam melihat kepergian Ocha. Ocha sedikitpun tidak melihat Dika karena Ocha terlalu kecewa kepadanya.


Dika pun akhirnya pulang dengan membawa kesedihan yang amat dalam dan tidak bisa berbuat apa-apa setelah apa yang dilakukannya kepada Ocha. Entah siapa yang salah, Dika pun tidak tahu karena kebenaran belum terungkap.


Dirumah Ocha, keluarga Ocha telah berkumpul dan menungu kedatangan Ocha dari kampus, Ocha pun akhirnya datang.


"Akhirnya kamu pulang juga. Sudah dari tadi papah nunggu kamu loh Cha," kata papahnya.


"Maaf pah tadi jalanan macet, jadi agak terlambat," kata Ocha.


Lalu Ocha pun duduk bersama keluarganya.


"Papah ada apa menyuruh Ocha cepat pulang? Tumben banget loh pah." tanya Ocha penasaran.


"Ini loh, papah dipindahkan tugas ke Yogjakarta, rencananya setelah kamu lulus kita akan pindah kesana. Bagaimana kamu setuju tidak?" tanya papahnya Ocha.


"Oh gitu ya pah, kalo Ocha sih setuju -setuju aja, soalnya Ocha juga mau cari pengalaman baru," kata Ocha.


"Ia, kalo mamah sih ikut papah kemana pun papah pergi," kata Ibu Lina kepada Pak Fahri sambil tersenyum malu.


"Ya sudah kalau semuanya setuju berarti kita akan pindah kesana setelah kamu lulus yah Cha!" jelas Pak Fahri.


"Ia pah." Kata Ocha.


Ocha sangat senang karena papahnya mengajak dia pindah setelah lulus. Karena Ocha akan mudah melupakan semua kenangan yang telah dia lalui bersama Dika, walaupun kenangan itu hanya sedikit tetapi masih membekas di hati Ocha.


Amarah tidak akan bisa menyelesaikan berbagai permasalahan, yang ada akan membuat hati terluka. Seperti yang dilakukan dika sehari-harinya, marah, sedih, tidak teratur bahkan malas melakukan sesuatu hal apapun.


Dika hanya bisa pasrah dengan keadaannya saat ini, begitupun dengan Ocha dia hanya akan melupakan Dika untuk selamanya terkecuali jodoh mempersatukan mereka.


Dengan melihat Dika dan Widia akan bertunangan pun, telah menyakiti hati seorang Ocha tetapi Ocha tetap kuat dan tegar menghadapi semuanya.


Kelulusan akan diumumkan setelah masa ujian selesai dan saat ini Ocha sangat fokus dengan ujiannya yang hanya tinggal beberapa langkah lagi. Ocha dan Elsa tidak putus asa untuk meraih nilai terbaik di masa ujiannya.


Untuk saat ini, Ocha dan Elsa tidak banyak mengobrol dan berjalan-jalan karena sedang fokus kepada ujiannya.

__ADS_1


__ADS_2