
Bruugghhh.
"Dikaaa..." teriak Ibu Uma yang melihat Dika pingsan dihadapannya.
Seketika itu, Ibu Uma panik dan menghampiri Dika sambil menangis. Ibu Uma memanggil Pak Tio untuk membawa Dika ke dalam kamar.
Pak Tio pun yang berada di dapur sedang memperbaiki selang gas berlari terbirit-birit sembari panik karena mendengar teriakkan Ibu Uma.
Pak Tio dan Ibu Uma pun membawa Dika ke kamarnya, Ibu Uma memegang dahinya Dika didapati sangat panas karena Dika demam.
"Panas sekali pah badannya Dika, bagaimana ini?" tanya Ibu Uma panik.
Pak Tio pun ikutan panik lalu menelepon Dokter untuk datang dan memeriksa keadaan Dika.
"Bagaimana keadaan anak saya Dokter baik-baik saja kan?" tanya Pak Tio.
"Anak bapak baik-baik saja, hanya dia kecapean dan harus banyak istirahat. Saya akan kasih resep obat penurun panas," kata Dokter sambil menuliskan resep obat untuk Dika.
Dokter pun memberikan resep obat tersebut untuk di tebus, Pak Tio pun mengantar Dokter itu keluar sekalian membeli obat di Apotek untuk Dika.
Ibu Uma mengusap dahinya Dika sambil menangis, takut akan kehilangan Dika dan Ibu Uma pun mengompres Dika agar demamnya turun sembari menunggu Pak Tio membawa obat.
Malam harinya, Ibu Uma dan Pak Tio pun menemani Dika di kamarnya berjaga-jaga takut terjadi apa-apa.
"Ocha... Ocha... aku minta maaf Ocha... aku minta maaf, Ocha... Ocha." Dika mengigau mengingat Ocha dan menyebut nama Ocha.
Pak Tio dan Ibu Uma pun terbangun dari tidurnya dan panik karena mendengar Dika terus mengigau menyebut nama Ocha.
"Dikaaaa...." Ocha terbangun dan mendapati mimpi buruk yang membuat Ocha khawatir.
Ibu Lina langsung masuk ke dalam kamarnya Ocha dengan panik.
"Ocha kamu kenapa sayang? Kamu mimpi?" tanya Ibu Lina.
"Aku mimpi mah, aku mimpiin Dika," kata Ocha.
"Kamu tenang dulu sayang, mimpi itu hanya bunga tidur," kata mamahnya.
"Mimpi ini seperti nyata mah, Ocha jadi takut!" kata Ocha.
__ADS_1
"Sayang, gak akan terjadi apa-apa. Itu hanya bunga tidur. Gak akan terjadi sesuatu sama Dika," kata mamahnya menenangkan Ocha.
Dika terus saja mengigau menyebut nama Ocha sepanjang malam membuat kepanikan Ibu Lina dan Pak Tio.
"Pah bagaimana ini, hubungi Ocha dong pah lakukan apapun untuk Dika. Mamah takut Dika kenapa-kenapa," kata Ibu Uma.
"Bagaimana? Papah tidak tau nomornya Ocha mah, papah juga tidak tau Ocha pindah kemana," jelas papahnya.
Ibu Uma terus saja menangis karena khawatir kepada Dika sampai tidak tidur karena menjaga Dika.
Keesokan harinya, Dika pun bangun tetapi badannya masih panas. Didapati Ibu Uma yang telah duduk di sampingnya.
"Mamah..." kata dika
"Mamah senang kamu udah bangun, mamah khawatir sama kamu. Mamah takut kamu kenapa-kenapa!" kata mamahnya.
"Maafin Dika ya mah, membuat mamah khawatir sama Dika," kata Dika.
"Sekarang kamu sarapan yah, terus minum obat," kata mamahnya sambil menyuapi Dika.
Di tempat lain, Ocha masih memikirkan mimpinya semalam tentang Dika. Ingin hati menanyakan kabarnya tetapi Ocha tidak ingin Dika tau keberadaannya.
"Kakak gak papa kok," kata Ocha.
"Kata mamah kakak semalam mimpi yah, mimpi kak Dika kan?" kata Mutiara blak-blakan.
"Kamu itu apa sih Tiara," kata Ocha sambil senyum.
"Gak usah bohong kak, lagi pula apa yang salah kalo kakak mimpiin kak Dika? Kak Ocha, walaupun kakak udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama kak Dika kalo kakak penasaran kenapa kakak gak coba telepon aja kak Dika," kata Mutiara.
"Kamu tuh ngawur deh, kakak gak mau ganggu Dika lagi, lagian kakak udah di benci sama Dika. Jadi udah gak ada harapan lagi buat kakak," kata Ocha menjelaskan.
"Ya udah kak ocha, mending sekarang gak usah lagi mikirin mimpi itu biarin aja jadi bunga tidur," kata Mutiara.
Mutiara pun menghibur Ocha yang sedang bersedih karena mimpinya semalam. Ocha berharap tidak terjadi apa-apa kepada Dika saat ini.
Kondisi Dika saat ini sudah lebih baik, Pak Tio dan Ibu Uma merasa lega atas kesembuhan Dika walaupun belum sembuh sepenuhnya. Tetapi melihatnya baik saat ini membuat Ibu Uma dan Pak Tio senang.
"Semalam kamu mengigau menyebut nama Ocha, kamu selalu memikirkan Ocha ya?" tanya Ibu Uma.
__ADS_1
"Dika akan terus memikirkan Ocha mah sampai Dika bertemu dengan Ocha dan meminta maaf sama dia, bahkan Dika akan mencintai Ocha sampai kapanpun," kata Dika menjelaskan.
"Tapi sayang, Ocha juga tidak ada kabar sampai saat ini apa kamu tidak lelah selalu menunggu dia? Kamu juga kan harus merencanakan masa depan kamu!" kata Ibu Uma.
"Masa depan aku ada di Ocha mah. Dika gak akan pernah lelah mah untuk menunggu Ocha, Dika yakin suatu saat nanti Dika pasti bertemu dengan Ocha dan Ocha akan menjadi milik Dika," kata Dika.
"Mamah serahkan semua nya sama kamu jika memang kalian berjodoh mamah senang, tapi jika tidak berjodoh maka kamu harus ikhlas!" kata mamahnya.
Ibu Uma tidak pernah lelah untuk selalu memberi nasehat kepada Dika dan memberikan yang terbaik untuknya.
Diam-diam Pak Tio mencari keberadaan Ocha tanpa sepengetahuan Dika dengan meminta bantuan orang suruhannya. Karena Pak Tio sendiri tidak tega melihat keadaan Dika sekarang yang terus saja memikirkan Ocha tanpa henti.
Bagi Pak Tio sekarang adalah kebahagiaan Dika yang paling utama dibandingkan apapun yang ada di dunia ini.
Sampai ke ujung dunia pun Pak Tio akan membantu mencarikan Ocha untuk Dika anak yang paling ia sayangi.
Keesokan harinya, orang suruhan Pak Tio kembali dan memberikan informasi bahwa dia belum menemukan dimana keberadaan Ocha.
Dika datang dengan membawa segelas air dan menghampiri Pak Tio.
"Loh pah dia siapa?" tanya Dika kepada papahnya tentang orang suruhan papahnya.
"Ehm ini, dia ini teman papah, dia membantu papah untuk mencari Ocha," kata papahnya.
"Papah nyari ocha?" tanya Dika.
"Ia, papah juga ingin melihat kamu bahagia makanya papah minta bantuan dia untuk mencari tahu Ocha dimana, oh ia kamu kok udah keluar kamar, harusnya kamu istirahat," kata Pak Tio.
"Dika udah gak papa kok pah," kata Dika sembari duduk di kursi.
"Maafin papah ya Dika, gara-gara papah kamu jadi berpisah sama Ocha. Papah akan tebus semua kesalahan papah," kata Pak Tio.
"Udah pah gak papa, lagian Dika juga gak papa kok. Satu lagi papah gak usah cari Ocha pah, sama aku aja. Papah diem aja ya, ini udah jadi tugas nya Dika cari Ocha!" kata Dika.
"Tapi Dika..." kata papahnya.
"Udah pah, Dika gak papa kok nanti aku yang cari Ocha dan aku yakin pasti aku sama Ocha bisa ketemu lagi." Kata Ocha yakin.
Dika bahagia karena melihat Pak Tio sudah berubah menjadi lebih baik dan tidak egois lagi seperti dulu.
__ADS_1