
Keesokan harinya setelah jalan bersama, keluarga Dika pun berniat untuk pulang ke Jakarta tetapi saat akan berpamitan dengan keluarga Ocha, tiba-tiba Ocha keluar dari kamar sambil berbicara di telepon dan hanya berpamitan sebentar kepada keluarga Dika untuk pergi ke Restaurant. Karena saat ini di Restaurant nya Ocha sedang ramai pengunjung dan banyak pesanan.
"Ia, ia saya akan kesana sekarang, oke tunggu ya. Tante, Om, Mamah Pah, aku pergi dulu yah" kata Ocha berlalu dari hadapan keluarga Dika yang hendak pulang ke Jakarta.
"Ocha, kamu mau ke...." Kata Mamahnya yang berniat memberhentikan langkah Ocha, tetapi Ocha terus saja berlalu dan tidak menoleh sedikitpun.
Di Restaurant, kini sedang banjir pesanan. Mulai dari hajatan, acara kantor, acara sekolah, sampai ibu-ibu arisan pun pesan ke Restaurant nya Ocha. Selain enak, juga memang Restaurant Ocha yang terfavorit.
Keluarga Dika yang melihat Ocha sangat sibuk pun mengurungkan niatnya untuk pulang ke Jakarta dan meminta izin kepada Mamahnya Ocha untuk membantu Ocha beberapa hari.
"Aduh jadi merepotkan, padahal Ocha sudah terbiasa kok Bu Uma, kan ada Galang juga Mutiara yang bantu kakaknya," kata Ibu Lina kepada Ibu Uma.
"Tidak apa-apa Bu Lina, Dika juga akan membantu Ocha. Bagaimana kalo sekarang kita ke Restaurant nya Ocha Bu?" kata Ibu Uma.
"Oh ya, boleh-boleh ayo..." kata Ibu Lina.
Mereka pun pergi ke Restaurantnya Ocha yang jaraknya lumayan jauh dari rumah.
Didapati Widia yang kesal ingin segera pulang pun menurut apa kata Ibu Uma untuk ikut membantu Ocha.
Ocha pun sibuk membungkus untuk pesanan hajatan dan juga acara kantor bersama para karyawannya, dikagetkan oleh kedatangan keluarga Dika yang hendak membantu Ocha.
"Ocha, boleh kan tante bantu kamu disini sama Dika, Elsa dan juga Dekta? " kata Ibu Uma.
"Ia Cha keliatannya kamu sibuk banget,boleh ya kita bantu?" kata Elsa.
"Aduh maaf sebelumnya, Ocha gak mau merepotkan tante dan kalian semua. Ini sudah jadi tanggung jawab Ocha di Resto tante gak usah repot-repot, istirahat aja yah!" kata Ocha yang tidak enak karena permintaan Ibu Uma.
"Gak papa, rencananya tadi kita mau pulang tapi lihat kamu sibuk begini, tante pengen bantu kamu boleh ya sayang yah?" bujuk Ibu Uma.
"Ya sudah boleh tante," kata Ocha mengizinkan untuk membantunya.
Ibu Uma pun membantu membungkus masakan yang dipesan pelanggan dari Restaurant.
__ADS_1
Ocha mengajak Dika untuk keluar sebentar karena ada yang perlu dibicarakan oleh Ocha kepada Dika.
"Ka, aku jadi gak enak deh sama Mamah kamu, tadi kan bilang mau pulang tapi malah jadi bantu disini. Kasian Ka aku gak mau Mamah kamu kecapean," Kata Ocha.
"Gak papa Cha, itu kemauan Mamah kok, kamu tenang aja gak usah khawatir. Malah aku yang gak enak sama kamu gara-gara keluarga aku kamu jadi kerepotan." Kata Dika.
"Enggak, sama sekali enggak kok Dika jangan berfikiran seperti itu gak baik," Kata Ocha senyum.
"Oh ia boleh aku bilang sesuatu sama kamu?" tanya Dika.
"Boleh, mau bilang apa Ka?" kata Ocha.
Widia yang dari tadi memperhatikan mereka kesal karena Dika dan Ocha telah dekat kembali dan membuat Widia tidak ada celah untuk mendekati Dika. Tetapi Widia tidak pernah menyerah untuk terus memisahkan mereka.
"Jadi gini Cha, aku minta maaf sama kamu sebelumnya kalo aku sering buat kamu kecewa, jujur Cha seumur hidup aku, aku gak akan pernah lupain kamu. Aku mau tanya sama kamu apakah kamu mau menikah sama aku?" tanya Dika to the point.
"Ochaaaa..." teriak Elsa dari dalam Resto.
Teriakan Elsa membuayarkan semuanya, tidak sempat Ocha menjawab pertanyaan dari Dika, Ocha pun langsung masuk ke dalam dan menghampiri Elsa.
"Ini loh aku mau bantuin tapi Disa gak mau turun, kamu bisa kan bantu aku jagain Disa? Pokoknya kamu diem aja gak usah kerja yah!" kata Elsa.
"Kamu tuh aneh tau gak, yang ada kamu jagain Disa dan aku yang kerja, ini malah kebalik. Gak salah?" kata Ocha.
"Enggak Ocha!" memberikan Disa kepada Ocha.
"Kamu harus nurut sama aku, mumpung ada disini jadi kita semua mau bantuin kamu sama karyawan kamu," kata Elsa kepada Ocha.
"Terserah deh," kata Ocha sambil membawa Disa keluar.
"Kok Disa sama kamu?" tanya Dika.
"Ia nih, ada-ada aja Elsa dia suruh aku jagain Disa dan dia yang bantuin bungkusin makanan," kata Ocha sambil memegang mainannya Disa.
__ADS_1
"Sini biar aku yang gendong Disa!" kata Dika.
Ocha pun memberikan Disa kepada Dika dan Ocha mengeluarkan ponsel dari sakunya karena mengecek kalau-kalau ada pesanan.
"Disa udah makan belum sih sayang?" Tanya Dika kepada Disa.
Disa pun diam dan anteng memainkan mainannya sambil memeluk Dika.
"Dia anteng banget sama kamu Ka," kata Ocha.
"Ia dong, kamu aja nyaman sama aku!" kata Dika sambil menahan tawa.
"Enggak, kata siapa?" kata Ocha.
"Semua yang ada di dekat aku, akan merasa nyaman Cha," kata Dika.
"Udah ah, kamu jagain Disa dulu yah sebentar! Aku mau masuk dan siapin semuanya buat di kirim ke pelanggan," kata Ocha berjalan masuk ke dalam dan menyiapkan semua pesanan pelanggan untuk di antar oleh kurir.
Hari mulai gelap, semuanya kembali pulang ke rumah dan bersantai bersama. Ocha duduk di ayunan belakang rumahnya bersama Mutiara.
"Kak, besok aku gak ke Resto yah, soalnya Mutiara mau ke rumah temen gak papa ya," kata Mutiara.
"Boleh, kakak gak akan larang kamu kok. Lagian besok juga Restaurant udah normal kembali hanya ada beberapa pelanggan yang pesan," kata Ocha.
Disela pembicaraan mereka, Dika datang menghampiri Ocha yang tengah duduk bersama Mutiara.
"Eh kak Dika..." sapa Mutiara.
Dika pun hanya senyum kepada Mutiara yang telah menyapanya, Mutiara pun masuk ke dalam dan memberikan waktu untuk Dika bersama kakaknya. Dika pun duduk di ayunan samping Ocha.
"Makasih yah buat semuanya Cha, aku bahagia saat ini dan kebahagiaan yang sama tidak bisa di ulang. Terima kasih udah buat hidup aku bangkit kembali," kata Dika.
"Aku gak tau harus bicara apa Ka, aku juga bingung sama diri aku sendiri gak seharusnya aku berharap terlalu jauh sampai saat ini!" kata Ocha.
__ADS_1
"Aku mau kamu jawab pertanyaan tadi siang pas aku mau pulang ke Jakarta, aku akan terima jawaban apapun dari kamu!" kata Dika.
Ocha pun mengiayakan perkataan Dika dan menuruti keinginannya untuk menjawab pertanyaannya saat ia hendak pulang ke Jakarta.