
"Apa? jadi kamu udah putus sama Wira, bukannya Wira mau serius sama kamu?” tanya mamahnya kesal.
“Gak tau lah mah udah biarin aja, itu masa lalu mah. Yang jelas mantan itu dibuang gak usah bahas itu lagi ya mah,” kata Mutiara yang sedang membereskan peralatan kue nya.
Mamahnya meremas serbet yang sedang dipegangya karena kesal “Kalo papah kamu tau, udah papah kamu tonjok tuh muka mantan,” kata mamahnya.
Mutiara hanya tertawa melihat mamahnya yang sudah kesal seperti itu. Memang benar, mantan itu harus di buang dan jangan di kasih hati.
Terlihat Pak Fahri berjalan menghampiri Ibu Lina dan Mutiara “Ini lagi ngomongin apa sih kalian? senang banget kelihatannya,” tanya papahnya.
“Ini loh pah lagi ngomongin mantan,” kata
mamahnya.
“Hmm mantan itu masa lalu, kenapa? Kamu putus sama Wira Mut?” tanya papahnya dadakan yang membuat Mutiara membelalakan matanya kaget.
Mutiara hanya menggaruk lehernya yang tidak gatal lalu pegi meninggalkan mamah dan papahnya ke kamar. Sedangkan papanya hanya menggelengkan kepalanya dan menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan.
Papahnya sudah tahu bahwa Mutiara sudah putus dengan Wira karena Galang yang memberitahukan semuanya kepada papahnya dan papahnya sangat kesal dan marah tetapi Galang berhasil menenangkan papahnya.
Keesokan harinya, Mutiara pergi ke rumah temannya yang bernama Dina. Dia teman SMA-nya yang sudah lama menganggur dan hari ini Mutiara ingin mengajaknya kerja sama dengannya dan membuka toko kue bersama.
Di Jakarta, Dika melihat tingkah Ocha setiap harinya yang sudah banyak berubah. Mulai dari tubuh Ocha yang mulai menjadi sedikit berisi dan pipinya yang bertambah chubby membuat Dika gemas melihatnya. Tetapi sikapnya yang berubah menjadi pencemburu itu yang sangat Dika anehkan.
Padahal sebelumnya tidak seperti ini, pagi ini Dika berpamitan pergi ke kantor tetapi Ocha merengek ingin ikut ke kantor dan entah apa alasannya yang pada intinya bukan karena Widia tetapi karena alasan lain.
Dika pun mengiyakan kemauannya Ocha dan mengikuti semua apa yang Ocha mau. Karena penasaran, sesampainya di kantor diam-diam Dika menelpon Elsa dan bertanya tetang perubahan Ocha mungkin Elsa akan tahu karena Elsa sahabat istrinya.
“Kenapa Ka ada apa kamu kok tumben telpon aku, kan disana ada Dekta,” tanya Elsa lewat telepon.
“Tunggu dulu, aku telepon kamu karena sekarang Ocha banyak berubahnya tau, dia semakin cemburuan. Kamu tau gak sih sebabnya apa?” tanya Dika yang seperti anak kecil.
“Lah, kamu kan suaminya masa ia kamu tanya aku. Kalau cemburu itu wajar namanya juga istri, dia itu takut kehilangan kamu,” kata Elsa.
__ADS_1
“Masalahnya Ocha itu berubah banget biasanya juga di cuek,” kata Dika.
“Oh jadi kalau Ocha cuek kamu bisa bebas gitu diluar sana? Gila kamu..." kata Elsa.
“Enak aja tuh mulut, enggak gitu maksudnya. Udah ah ngomong sama kamu udah kayak emak-emak,” kata Dika mematikan ponselnya dan masuk ke ruangannya.
Di dalam ruangannya Dika, Ocha tidak ada dan sekarang Dika mencari keberadaan Ocha yang tidak ada di ruangannya. Dika menanyakan Ocha kepada karyawannya dan salah satu karyawan melihat Ocha sedang berada diluar melihat anak kecil yang sedang membeli balon.
Dika pun langsung menghampiri Ocha setelah ia mengetahui keberadaan istrinya. Semakin aneh melihatnya.
“Istrinya aku lagi ngapain disini?” tanya Dika.
“Balon itu bagus banget ya, beliin dong hubby,” kata Ocha.
Di dalam ruangan, Widia memperhatikan Ocha dan Dika. Dia juga melihat perubahan Ocha dan dia menebak bahwa Ocha saat ini sedang hamil. Tak terasa bulir bening membasahi pipinya lalu dia menghampiri Dika dan Ocha.
“Sebaiknya aku berubah dan berhenti mengejar laki-laki yang sudah menjadi milik orang lain,” batin Widia.
Widia menyapa mereka dengan senyuman yang manis “Hai Ocha,” sapa Widia “Kamu gemukan ya sekarang,” sambung Widia.
“Masa ia sih aku gemukan, biarin aja lah ciri-cirinya bahagia,” kata Ocha sambil memegang balon yang tadi dibelikan oleh Dika.
“Aku minta maaf ya sama kalian, maaf karena aku sudah mengganggu hubungan kalian dan maaf aku sempat ingin memiliki Dika. Cha kamu mau kan maafin aku?" tanya Widia
“Udah aku maafin kamu sebelum kamu minta maaf, tapi kok kamu tiba-tiba berubah gini sih?” tanya Ocha heran.
“Karena aku mau ikut tante aku ke luar negeri dan menjalani hidup aku dengan baik disana. Mungkin ini terakhir kita ketemu Cha, Dika,” kata Widia.
Ocha pun tiba-tiba memeluk Widia dan tidak ada rasa marah ataupun kesal kepada Widia saat ini. Widia pun membalas pelukannya Ocha dan terus berkata maaf kepada Ocha. Sedangkan Ocha hanya mengelus punggungnya Widia dan memberikan ketenangan.
Setelah itu, Ocha ingin membelikan boneka kepada Widia sebagai kenang-kenangan karena mungkin nanti Ocha tidak bisa bertemu lagi dengan Widia. Widia pun menurut dan mengikuti Ocha sambil tersenyum bahagia. Sedangkan Dika dia mengikuti mereka berdua dari belakang.
“Ada apa sama mereka, tiba-tiba baikan seperti sekarang,” gumam Dika.
__ADS_1
Ocha membeli boneka kecil untuk Widia dan juga Ocha memberikan balon yang dipegangnya kepada Widia sambil tersenyum. Widia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ocha yang sekarang benar-benar seperti anak kecil.
“Kalian ini emang pasangan aneh. Ka kamu peka sedikit dong, dari dulu kamu gak pernah peka tau gak,” kata Widia.
“Peka apaan?” tanya Dika.
“Cha coba deh kamu periksa ke Dokter dan cek seluruh tubuh kamu,” kata Widia “Kamu itu lagi ngidam kan makanya kamu beli balon gini,” kata Widia.
“Ngidam, enggak kok, aku itu emang kebetulan aja pengen balon ini tadi sekarang udah enggak," jawab Ocha santai.
Widia pun tidak ingin debat lagi dan diapun berterima kasih kepada Ocha atas pemberiannya dan segera pergi dari hadapannya Ocha dan Dika sekalian pamitan juga.
Dika terus mencerna apa yang dikatakan oleh Widia baru saja. Jika memang benar apa yang dikatakan oleh Widia bahwa Ocha sedang hamil, mengapa Ocha tidak bilang. Dika pun mengajak Ocha pulang dan melupakan tugas kantornya.
Di mobil, Dika cengengesan sendiri jika memang Ocha hamil berarti sebentar lagi dia akan menjadi seorang papah dan itu sangat diinginkan oleh Dika selama ini. Mempunyai keluarga kecil yang bahagia disertai dengan adanya buah hati di tengah-tengah keluarga mereka.
Setelah sampai di rumah, Dika langsung menemui mamahnya dan Ocha pun aneh melihat tingkah suaminya itu, ingin rasanya sekarang Ocha melempar tas yang dipegangnya ke arah Dika. Tapi Ocha tidak setega itu.
“Kamu itu kenapa tiba-tiba datang terus peluk mamah kayak gini,” kata mamahnya heran.
“Tau tuh mah, dari tadi di mobil juga cengegesan sendiri dan parah nya lagi belum juga kerja udah pulang lagi berasa kantor gak ada karyawannya yang harus di gaji,” celetuk Ocha dan berlalu ke dapur.
“Mamah gak usah dengerin Ocha, dengerin aku aja ya mah. Mah, mamah merasa gak sih kalau sikap Ocha berubah?” tanya Dika.
“Ia mamah tau kok, terus?” kata mamahnya.
“Mungkin sekarang istri aku itu lagi hamil mah,” kata Dika.
“Ia mamah udah tau kok,” jawab mamahnya singkat.
“Mamah jadi, Ocha itu...” kata Dika.
Mamahnya hanya mengangguk dan tersenyum lalu mengusap kepalanya Dika. Dika langsung senang dan loncat-loncat seperti anak kecil karena merasa bahagia atas kehamilan istrinya.
__ADS_1