
Sesampainya di rumah, Ocha langsung masuk dan duduk di kursi. Sekarang Ocha cemberut karena tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa sekarang dirinya merasa cemburu.
“Eh eh eh anak mamah kenapa kok cemberut gitu?” tanya Ibu Uma saat melihat Ocha pulang dengan wajah yang cemberut.
Dika pun masuk setelah memasukan mobilnya kedalam garasi “Ocha marah sama aku mah gara-gara Widia masuk kerja di kantor aku."
“Siapa yang gak marah coba mah, Widia masuk ke dalam ruangannya dan dia rayu-rayu Dika,” kata Ocha kesal.
“Ya ampun sayang, gak gitu ceritanya, kalo misalkan kamu tau Widia masuk ke ruangan aku, kenapa kamu gak masuk?” tanya Dika.
“Sekarang kamu marah sama aku? Harusnya aku yang marah sama kamu tau gak!” kata Ocha.
“Sudah-sudah, kalian kok jadi ribut kayak anak kecil,” kata Ibu Uma.
“Aku mau pulang ke Yogya hari ini juga!” kata Ocha lalu langsung masuk ke kamar dan membereskan pakaian.
“Kamu sih," kata Ibu Uma kepada Dika.
Dika pun menyusul Ocha ke kamar dan melihat Ocha sambil bersandar di pintu dan memperhatikan istrinya yang sekarang sudah banyak berubah. Sekarang Ocha jadi mudah marah, kesal bahkan cemburu yang berlebihan. Membuat Dika selaku suaminya serba salah.
Percuma saja jika sekarang Dika membujuk Ocha, karena saat ini Ocha tidak akan terpengaruh oleh bujukan apapun jika sedang marah seperti ini. Dika harus mengikuti kemauan Ocha dan tidak mungkin untuk menolak keinginannya untuk pulang ke Yogyakarta.
“Kamu serius mau pulang?” tanya Dika yang sekarang telah duduk di belakangnya Ocha.
“Ia, mamah sama papah udah di Yogya dan sekarang aku mau ketemu sama mamah. Habis kamu sih bikin masalah terus sama aku,” kata Ocha.
“Ya ampun sayang, aku bikin masalah apa sama kamu? Aku minta maaf karena aku, kamu jadi marah. Soal Widia nanti aku urus deh ya,” kata Dika
“Mau anterin aku pulang gak?” tanya Ocha.
“Ia ia aku anterin kamu pulang tapi setelah itu aku harus balik lagi kesini karena urusan kantor aku belum selesai sayang,” kata Dika yang langsung memeluk Ocha dari belakang.
Ocha sebenarnya ingin pulang sekarang tetapi jika Dika balik lagi ke Jakarta sendiri, itu akan membuat Ocha kefikiran.
__ADS_1
Dika mengelus rambutnya Ocha dan kini Ocha bersandar di bahunya Dika. Dika menjadi serba salah sekarang, apa salahnya Dika dan akhir-akhir ini Ocha selalu marah-marah. Pasti ini semua ada sebabnya yang pastinya Dika tidak mengetahuinya.
Mulai dari hal kecil sampai hal besar, Dika harus menuruti semua kemauan istrinya itu. Seperti sekarang Ocha yang berubah tingkahnya kadang seperti anak kecil, pencemburu dan apapun harus dituruti kalau tidak, pasti marah dan kesal.
“Istri aku ini kenapa akhir-akhir ini marah-marah, cemburuan, dan manja banget gini sih?” tanya Dika sambil memegang tangan istrinya dan masih memeluknya dari belakang.
“Ya habis kamu nya sih selalu buat aku marah. Awalnya itu aku gak marah tapi akhirnya marah juga,” kata Ocha.
“Kalau soal Widia aku benar-benar gak tau dia bekerja di kantor aku beneran,” kata Dika.
“Aku itu khawatir tau sama kamu, aku itu benar-benar sayang sama kamu dan aku gak mau yang lain cuma mau kamu,” kata Ocha.
“Ia sayang ia, aku juga sayang sama kamu ya udah gimana sekarang jadi pulang?” tanya Dika.
Ocha berfikir sejenak kalau tanpa Dika disana juga percuma “Nanti aja deh, aku gak jadi pulang. Maafin aku ya,” kata Ocha lalu sekarang menghadap ke arah Dika dan mencium tangannya Dika.
Dika pun hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Dika penasaran apa yang sebenarnya terjadi kepada istrinya. Tak lama, Dika keluar dari kamarnya karena hendak menghampiri mamahnya di belakang rumahnya.
Dika pun menghampiri papahnya yang datang dari arah luar “Kenapa pah?” tanya Dika.
“Antar papah yuk, papah mau beli kucing katanya ada kucing persia yang bagus banget dan papah mau beli kucing itu buat Ocha istri kamu,” kata papahnya.
“Loh papah kok tumben mau beli kucing untuk Ocha, emang Ocha minta?” tanya Dika penasaran.
“Enggak, istri kamu itu gak pernah minta apa-apa sama papah atau pun mamah. Jadi gini, kemarin itu ada kucing tetangga yang masuk ke rumah ini terus Ocha lihat dan dia suka sama kucingnya karena saat kucing itu ke rumah, Ocha langsung aja gendong kucingnya dan menurut papah istri kamu itu suka kucing makanya sekarang papah minta antar kamu beli kucing,” kata papahnya menjelaskan.
Dika semakin penasaran dan aneh kepada Ocha, setahu dia, istrinya itu tidak pernah memelihara hewan bahkan jarang sekali pegang hewan tapi sekarang berbeda.
Pak Tio melihat Dika bengong langsung menyadarkannya. "Kamu itu kenapa kok bengong?”
“Enggak papa kok pah,” jawab Dika.
Sebelum mengantar papahnya untuk beli kucing di temannya, Dika menemui mamahnya terlebih dahulu untuk menanyakan perubahan istrinya. Tetapi pertanyaan yang diajukan oleh Dika soal Ocha tidak dijawab oleh mamahnya.
__ADS_1
Di rumah Ibu Lina.
“Mah...” teriak Mutiara.
“Kenapa Mutiara kok kamu teriak-teriak sih?” tanya mamahnya yang langsung menghampirinya.
“Antar aku yuk mah ke toko alat dan bahan kue,” kata Mutiara.
Mamahnya bingung dengan Mutiara mengapa tiba-tiba sekarang dia minta diantar ke toko alat dan bahan kue. “Loh kok tumben kamu mau beli alat dan bahan kue emang kamu gak kerja?” tanya mamahnya.
“Enggak mah, sekarang aku mau berhenti bekerja di kantor dan aku putuskan untuk membuka toko kue. Lumayan kan mah aku bisa buat kue kenapa enggak aku manfaatin aja buat kue,” kata Mutiara sambil memasukan dompet dan ponselnya ke dalam tasnya.
Mamahnya pun setuju dengan keputusan yang diambil oleh Mutiara tetapi mamahnya belum tahu apa alasan yang sebenarnya Mutiara ingin keluar dari kantor.
Ibu Lina pun bersiap-siap untuk pergi mengantar Mutiara ke toko alat dan bahan kue sekalian Ibu Lina mau membeli kebutuhan sehari-hari di dapur dan sabun untuk mencuci pakaian.
Mutiara dan mamahnya pun segera berangkat dan Mutiara yang menyetir mobilnya. Biasanya Galang, tetapi dia sedang kuliah jadi tidak bisa mengantar mereka.
“Mamah jadi kangen deh sama kakak kamu, pengen banget ketemu sama Ocha," kata mamahnya.
“Kemarin baru aja telepon dan kabarin kak Ocha bahwa mamah sama papah udah pulang dari Bandung. Terus katanya nanti kalau Kak Dika libur mau pulang ke Yogya,” Kata Mutiara yang masih fokus
"Oh gitu ya, ya udah deh nanti tunggu aja kabar dari kakak kamu gak usah mengganggunya," kata mamahnya.
Mereka pun sampai di toko alat dan bahan kue, Mutiara membeli semua peralatan kue mulai dari cetakan, oven, mixer dan banyak lagi peralatan kue serta bahan kue yang dibelinya.
Mutiara akan mencoba move on dari Wira dan berhenti bekerja di kantor karena jika masih bekerja di kantor, apalagi bersama Wira maka Mutiara akan lebih kecewa lagi.
Setelah mereka selesai berbelanja, Ibu Lina dan Mutiara pulang ke rumah. Diperjalanan, mamahnya terus memikirkan Mutiara yang mendadak ingin buka usaha sendiri apalagi ini masih pemula.
“Ra, mamah mau tanya sama kamu. Kamu kenapa tiba-tiba mau buka usaha sendiri?” tanya mamahnya.
“Mamah, Mutiara keluar dari kantor karena Mutiara mau buka usaha sendiri seperti Kak Ocha dan Mutiara yang menjadi bosnya. Dan alasan aku keluar dari kantor karena aku putus sama Wira dan aku mau mencoba melupakan Wira mah,” kata Mutiara menjelaskan kepada mamahnya.
__ADS_1