
Kriing... kriing... kring.
Telepon Dika berdering, Dika pun langsung mengangkat telepon tersebut dengan buru-buru
"Halo pah, apa?" kata Dika yang langsung berdiri dari duduknya dan kaget saat mendapat telepon dari papahnya.
***
Setelah mendapat telepon dari Pak Tio, Dika segera pergi dari Resto dan diikuti oleh Ocha.
Dika mendapat kabar dari papahnya bahwa Ibu Uma terjatuh dari tangga yang menyebabkan Ibu Uma tidak sadarkan diri dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit.
Dika pun panik dan sekarang ia sedang diperjalanan menuju ke Rumah Sakit. Dengan hati tidak tenang, Dika pun melajukan mobilnya dengan cepat agar segera sampai ke Rumah Sakit.
Tak berapa lama, akhirnya Dika sampai di Rumah Sakit dan langsung menghampiri Pak Tio yang sekarang sedang menunggu kabar dari Dokter.
"Pah, mamah gimana pah? Mamah baik-baik aja kan?" tanya Dika saat sampai di Rumah Sakit.
"Kamu tenang dulu, mamah masih di dalam," kata Pak Tio.
Ocha pun sekarang memegang tangan Dika dan mengusap punggung tangan Dika agar membuat Dika tenang.
Semua yang sedang menunggu Ibu Uma pun panik karena Dokter belum keluar dari ruangan UGD.
"Mamah aku pasti baik-baik aja kan Cha?" kata Dika yang saat ini telah menangis karena khawatir terjadi apa-apa terhadap mamahnya.
"Tante Uma pasti baik-baik aja Dika, aku yakin!" kata Ocha.
"Aku gak mau kehilangan mamah Cha," kata Dika.
"Ssyuut kamu gak akan kehilangan mamah kamu Ka, kamu harus optimis gak akan terjadi apa-apa sama Tante Uma," kata Ocha.
Setelah selesai memeriksa keadaan Ibu Uma, Dokter pun keluar untuk memberitahukan keadaan Ibu Uma. Pak Tio pun langsung menghampiri Dokter dan menanyakan keadaan Ibu Uma, begitupun Dika dan Ocha.
"Bagaimana Dokter keadaan istri saya?" tanya Pak Tio.
"Tenang dulu ya pak, istri bapak baik-baik saja hanya saja istri bapak terkena cedera kepala ringan dan cedera di bagian kaki akibat terjatuh dan terjadi benturan," kata Dokter.
"Astagfirullah... lalu bagaimana istri saya Dokter?" kata Pak Tio.
"Jadi begini pak, selama masa penyembuhan cedera kepala ringan ini, istri bapak sebaiknya istirahat yang cukup, tidak melakukan aktivitas yang cukup berat yang menuntut kekuatan fisiknya pak, agar dapat memberikan waktu pemulihan pada otak. Untuk saat ini istri bapak harus di rawat," kata Dokter.
"Baik Dokter, terima kasih Dok. Apa saya bisa masuk Dokter?" kata Pak Tio.
"Silahkan pak, kalau begitu saya permisi," kata Dokter itu lalu pergi.
Pak Tio, Dika dan Ocha pun segera masuk ke dalam setelah mendapat izin dari Dokter untuk melihat keadaan Ibu Uma.
"Ya Allah mah, papah khawatir sama mamah," kata Pak Tio panik.
"Hmm.. mamah udah gak apa-apa kok pah," kata Ibu Uma yang sudah sadarkan diri.
__ADS_1
"Mamah, mamah kok bisa jatuh dari tangga sih mah gimana ceritanya mah?" tanya Dika yang saat ini duduk di pinggir ranjang mamahnya sambil memegang tangan mamahnya.
"Mamah itu tadi mau masak, untuk kamu dan juga papah. Tadinya mamah juga mau undang Ocha untuk makan malam, ehh waktu mamah mau turun dari tangga, tiba-tiba aja jatuh dan seingat mamah baju mamah keinjek sama mamah makanya mamah jatuh," kata Ibu Uma.
"Tante, lain kali tante harus lebih hati-hati, Ocha gak mau tante kenapa-kenapa," kata Ocha kepada Ibu Uma yang langsung duduk di kursi samping ranjangnya.
"Ia Ocha makasih ya sayang, makanya cepetan nikah biar tante ada yang jagain," kata Ibu Uma sambil tertawa.
"Mamah ini malah bahas nikah, mamah harus sembuh dulu baru bahas soal nikah. Ia kan Cha?" kata Dika.
"Ia tante, tante harus sembuh," kata Ocha.
Sesuai dengan apa yang telah direncakan tadi oleh Wira dan Mutiara, kini pekerjaan mereka telah selesai dan hendak pergi untuk menemui Ocha di Resto.
Wira dan Mutiara pun segera pergi ke Resto untuk menemui Ocha dan memperkenalkan Wira kepada Ocha.
Setelah sampai di Resto, Mutiara mencari Ocha tetapi Ocha tidak ada di Resto. Mutiara pun menanyakan kakaknya kepada karyawan di Resto.
Karyawan di Resto pun memberitahukan bahwa Ocha pergi bersama Dika dengan terburu-buru. Karyawannya pun tidak tahu Ocha pergi kemana.
Mutiara pun langsung menelpon kakaknya dan menanyakan keberadaannya sekarang. Setelah Mutiara mendapat kabar dari Ocha bahwa Ibu Uma dirawat di Rumah Sakit, Mutiara dan Wira segera pergi ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, Mutiara langsung masuk ke ruang rawat Ibu Uma karena sebelumnya Ocha sudah memberitahukan nomor kamar rawat ibu Uma.
"Tante Uma," kata Mutiara yang sudah berada di dalam ruang rawat Ibu Uma.
"Mutiara... sini sayang," kata Ibu Uma.
"Tante kenapa? Kok bisa kayak gini," kata Mutiara yang langsung menghampiri Ibu Uma dan langsung salaman kepada Ibu Uma dan juga Pak Tio.
"Ia tante," kata Mutiara.
Ocha pun keluar sebentar untuk memberitahukan Galang bahwa dia tidak perlu untuk menjemputnya ke Resto karena hari ini Ocha akan pulang bersama dengan Mutiara atau di antar oleh Dika.
Galang pun yang mendengar Ocha dan melarangnya untuk menjemputnya pun mengiayakan perkataan Ocha.
Setelah selesai memberitahukan Galang, Ocha pun kembali masuk ke dalam ruangan dan berkumpul kembali.
"Dia siapa? Pacar kamu ya," kata Ibu Uma saat melihat Wira.
Sontak mereka semua yang ada di ruangan melihat ke arah Wira.
Wira pun langsung bersalaman dengan Pak Tio dan Ibu Uma dan memperkenalkan diri bahwa Wira ini adalah Kekasihnya Mutiara.
"Ganteng banget, cocok sama kamu Mut," kata Ibu Uma.
"Tante bisa aja," kata Mutiara tersipu malu.
Karena hari sudah mulai malam, Dika pun mengajak Ocha pulang dan hendak mengantarnya pulang. Karena Ocha sudah terlihat sangat lelah dan dika tidak tega melihat Ocha kelelahan.
"Pulang yuk, aku antar kamu pulang. Kamu juga harus istirahat," kata Dika.
__ADS_1
"Ia Cha, kamu juga harus istirahat," kata Ibu Uma.
"Ya udah Ocha pamit pulang ya tante, Om. Tapi aku pulang bareng sama Mutiara aja kamu gak usah antar aku ya," kata Ocha kepada Dika.
"Loh kenapa?" tanya Dika.
"Gak papa, kamu juga sekalian istirahat." Kata Ocha.
"Ia Kak Dika , biar Kak Ocha pulang bareng aku sama Wira," kata Mutiara.
"Ya udah, kalian hati-hati. Aku antar kalian sampai depan," kata Dika.
Dika pun mengantar Ocha, Mutiara dan Wira sampai ke depan. Tetapi ada yang aneh dengan Dika karena tidak seperti biasanya dan tingkah Dika pun sangat aneh.
Mungkin karena masih kesal dan cemburu kepada Ocha karena Dokter Arvan yang datang ke rumahnya itu.
"Aku pulang ya," kata Ocha.
"Ia, hati-hati..." kata Dika.
Ocha dan yang lainnya pun segera pulang karena hari sudah larut.
Di perjalanan, Ocha terus saja memperhatikan Wira yang sedang fokus menyetir.
"Jadi kamu itu pacarnya Mutiara?" kata Ocha.
"Ia kak, aku pacarnya Muti," kata Wira.
"Oh, sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Ocha.
"Belum lama ini kak," kata Wira.
Perbincangan mereka pun terus berlanjut sampai mereka sampai ke rumahnya Ocha. Dan Wira sangat senang bisa bertemu dengan Ocha karena harapan Wira bisa bertemu dengan keluarga Mutiara.
Wira pun pamit pulang setelah mengantar Mutiara dan Ocha.
"Cieee... yang punya pacar," ledek Ocha yang sedang membuka gerbang.
"Apaan sih kak, jangan mulai deh." kata Mutiara yang kini pipinya memerah.
"Cieee..." kata Ocha.
Ocha pun tersadar ketika melihat mobilnya Arvan masih ada di rumahnya, perkiraan Ocha tadi sudah di ambil karena Galang sudah ada di rumah.
"Loh kok mobilnya Arvan masih disini," batin Ocha.
"Kenapa kak?" kata Mutiara saat melihat Ocha berhenti membuka gerbangnya.
"Itu Ra, mobilnya Arvan kok masih disini ya," kata Ocha.
"Ia ya, lupa kali kak. Udah yuk ah masuk," kata Mutiara yang langsung masuk ketika gerbangnya sudah dibuka.
__ADS_1
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sudah ada yang mengetuk pintu rumahnya Ocha dan dengan segera Galang yang mendengar langsung membukakan pintu.
"Dokter Arvan..." kata Galang.