
Pagi ini tidak seperti biasanya, hari ini sangat mendung dan cuaca tidak mendukung untuk melalukan pekerjaan sesuai aktivitasnya masing-masing.
Seperti yang kita tahu bahwa disaat mendung dan turun hujan paling enak bersantai dan diam di rumah, ngopi santai, nonton tv dan berkumpul bersama keluarga.
Tepat sekali, hari ini Dika pun diam di rumah dan tidak pergi kemana-mana. Tidak ke kantor ataupun keluar, paling setelah hujan reda Dika akan ke kantor untuk mengecek data dan file penting.
Bagaimana tidak betah di rumah, Ibu Uma sangat rajin membuat makanan untuk cemilan di rumah agar tidak membeli makanan di luar. Sedangkan Pak Tio sudah lama berhenti menjadi seorang guru sejak Dika memiliki sebuah perusahaan.
Ibu Uma yang sedang sibuk di dapur ditemani oleh Dika. Tetapi bukannya membantu, Dika malah cengengesan menatap layar ponselnya sambil duduk di kursi dekat dapur.
Benar sekali, hari ini Dika sedang bertukar pesan dengan Ocha. Karena mereka berdua sama-sama memiliki usaha jadi mereka masih bisa santai dan hanya memantau dari rumah, lewat orang kepercayaan dan juga CCTV yang terpasang di tempat kerja mereka.
Sebenarnya, bulan depan adalah hari dimana Ocha dan Dika akan melangsungkan pernikahan. Tetapi karena proyek Dika belum selesai dan masih harus di pantau oleh Dika, maka dengan terpaksa pernikahannya di tunda selama beberapa bulan ke depan.
Berharap Dika akan datang dengan cepat tetapi semalam dia menghubungi Ocha dan menunda semuanya.
Ocha pun mengerti akan keadaan Dika karena Ocha pun merasakan bahwa pekerjaan yang penting harus di utamakan karena jika tidak akan berakibat fatal.
✉ " Kamu tahu? Hari ini turun hujan, dan hujan itu membuatku dekat," pesan yang ditulis oleh Dika kepada Ocha.
✉ "Dekat? Aku merasa jauh," balasan pesan dari Ocha.
✉ "Aku merasa dekat, kamu tahu? Setiap ingatanku dan hatiku selalu ada kamu. Makanya terasa dekat," pesan dari Dika.
✉ "Dan aku merasa jauh, karena setiap langkahku tidak ada kamu," balasan pesan dari Ocha.
Ocha dan Dika pun tertawa sendiri karena pesan yang mereka kirimkan masing-masing.
Ibu Uma yang melihat tingkah Dika cengengesan sendiri pun heran, ada apa dengannya apakah jatuh cinta harus senyum-senyum sendiri. Padahal waktu Ibu Uma muda tidak sampai seperti itu.
Ibu Uma pun menggelengkan kepalanya melihat Dika yang seperti anak kecil dan baru kali ini Ibu Uma melihat senyum Dika lagi yang benar-benar telah hilang sejak lama.
Tiba-tiba Mutiara duduk di samping Ocha dan meraih remote tv. Karena seperti biasa hari ini ada acara tv yang selalu dinantikan oleh Mutiara yaitu Drakor.
Padahal semua sudah canggih, tetapi Mutiara masih menonton Drakor di tv karena kalau di Youtube atau di Aplikasi katanya boros kuota. Maklum lah Mutiara ini terlalu hemat.
"Kalian berdua harus menghancurkan Perusahaan Dika secepatnya agar dia mengalami kebangkrutan dan memohon kepadaku untuk meminta bantuanku. Tapi aku lebih menginginkan kehancurannya dari pada kebangkrutannya!" kata salah satu pria kepada dua orang kepercayannya.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus kami lakukan untuk membuat Perusahaan Dika bangkrut Bos dan bagaimana agar Dika hancur?" tanya salah satu pria kepercayaan Bos besar nya itu.
Dua orang laki-laki tidak dikenal dan satu Bos yang sangat licik telah lama menginginkan kehancuran Dika karena suatu dendam dan ingin membuat Dika benar-benar hancur.
Kali ini Bos besar akan melakukan sesuatu untuk membuat kehancuran Dika bahkan kekasihnya yaitu Ocha.
Sesuatu yang sangat rahasia dan benar-benar mengejutkan. Ternyata dibalik ketenangan situasi ini ada yang memanfaatkan keadaan, disaat mereka lengah maka Bos besar mereka akan melakukan apa yang ia inginkan.
"Lakukan sesuai rencana jangan sampai gagal!" kata Bos mereka.
"Baik Bos," kata para dua pria tersebut bersamaan.
Di rumah Dika, sekarang dia sedang menikmati kue buatan mamahnya yang sangat enak dan tidak ada duanya. Bahkan kue di toko kue pun kalah rasa dengan kue buatan mamahnya.
"Gimana, enak?" tanya Mamahnya sambil tersenyum.
"Heem," kata Dika.
Ibu Uma pun kini ikut memakan kue bersama Dika yang sedang menikmati kue buatannya.
Di suatu tempat, ada yang mengintai Perusahaan milik Dika tersebut dan ingin menghancurkan seluruh isi perusahaan. Tapi sebelum menghancurkan perusahaannya, mereka akan mencelakai Dika terlebih dahulu. Kini mereka sedang berusaha masuk ke dalam Perusahaan.
"Akhirnya aku akan melihat kehancuran Dika seluruhnya, semua kejayaannya dan usahanya akan hancur. Bahkan Dika akan dibuat menderita Dan selanjutnya hubungannya dengan Ocha pun akan lenyap dan mereka berdua harus merasakan apa yang aku rasakan," batin seseorang yang kini sedang menunggu kehancuran Dika.
Setelah hujan reda, Dika menuju ke kantor karena ada hal penting yang harus di tanda tangani untuk Proyek barunya tersebut.
Dika berangkat menaiki mobil Avanza miliknya, dia melajukan mobilnya pelan-pelan dan sangat hati-hati.
Sesampainya di kantor, Dekta menemui Dika di ruangannya dan memberikan data orang yang akan ikut mengawasi pembangunan Proyek tersebut dari Perusahannya. Dika menerima data nama Karyawan tersebut dan menyetujuinya.
"Sorry ya Ka, aku ambil dua orang Karyawan dari Perusahaanku untuk ikut mengawasi Proyek kita dan sisanya terserah kamu!" kata Dekta.
"Gak masalah, yang ada aku berterima kasih karena kamu sudah membantu banyak di Perusahaan ini," kata Dika.
Mereka berdua pun lembur bersama beberapa orang Karyawan dan Satpam yang menjaga dari luar. Sedangkan Dika dan Dekta masih dalam pekerjaannya masing-masing.
Benar sekali, Dika meminta Dekta untuk membantu di Perusahannya karena Perencanaan Proyek yang akan di bangun sangat membutuhkan Dekta.
__ADS_1
Tepat pukul 22:00 WIB semua yang ada di kantor bersiap untuk pulang. Tetapi, tiba-tiba semua lampu padam seketika.
Sontak semua orang di kantor menyalakan lampu senter yang ada di ponselnya masing-masing untuk menerangi kegelapan tersebut dan mencari jalan menuju tangga darurat untuk keluar.
Sedangkan, Satpam sedang berusaha menyalakan lampu yang padam tersebut dan mencari sumber padamnya lampu.
"Aduh kok tiba-tiba mati sih ini lampu, apa belum bayar listrik kali ya," kata Dika sambil mencari ponsel nya.
"Sudah cukup terang bukan?" tanya Dekta kepada Dika yang sudah menerangi Dika dengan ponselnya.
Dika pun mengambil ponsel yang tergeletak di meja dan langsung menyalakan ponselnya.
Dika dan Dekta segera keluar ruangan. Setelah keluar ruangan, Dika melihat bayangan yang baru saja masuk ke dalam kantornya. Semakin penasaran, Dika mengikuti siapa yang masuk dan meninggalkan Dekta seorang Diri dan mencari bayangan orang tersebut.
"Pak Dika," kata Satpam mengagetkan Dika.
"Ya ampun pak, bikin kaget aja..." kata Dika.
"Maaf pak, tadi saya sudah cek ternyata ada kabel putus jadinya lampunya padam semua," kata satpam tersebut.
Ternyata ada dua orang suruhan Bos besar telah menyelinap masuk ke dalam kantor Dika dan berniat untuk mencelakai Dika.
Dua orang misterius tersebut membawa tongkat besi untuk memukul Dika dan.
Daaagg!
Satu pukulan mendarat di kepala bagian belakang seorang laki-laki yang dikira itu adalah Dika, padahal mereka salah sasaran dan yang mereka pukul adalah Dekta.
Dua orang pria tersebut pun melarikan diri karena mereka sudah salah sasaran karena gelap.
"Aaaa...." Teriak Dekta yang memegang kepalanya dan langsung tumbang seketika.
Mendengar teriakan itu, Dika dan Satpam langsung berlari ke arah suara. Dalam keadaan gelap, Dika mencoba menerangi dan dilihatnya Dekta sudah tergeletak tidak berdaya di lantai dan berlumur darah.
"Dektaaa..." teriak Dika lalu langsung membantu Dekta.
"Ya ampun pak Dekta," kata Pak Satpam lalu langsung menelpon Ambulance.
__ADS_1
Tangan Dika bergetar, Dika langsung membantu Dekta yang penuh dengan darah. Segera Dika melepaskan jas nya dan diletakan di kepala Dekta agar darah tidak terus mengalir.
Pak Satpam dan Dika membawa Dekta keluar dari kantor dan menunggu ambulance datang.