
Permasalahan diantara Elsa dan Ocha pun berakhir, semua kembali seperti dulu lagi.
Sebelum pulang ke Yogyakarta, Ocha pun mampir ke rumah Ibu Uma terlebih dahulu untuk berpamitan pulang dan Dika meminta izin untuk mengantar Ocha juga Galang serta meminta izin menginap di rumah orang tua Ocha malam ini karena tidak mungkin Dika pulang lagi.
Setelah selesai dari rumah Ibu Uma, Dika mengantar Ocha dan Galang pulang.
Diperjalanan, Ocha sangat senang karena persahabatan Elsa kini telah kembali membaik dan tidak ada lagi perseteruan diantara mereka.
"Kamu bahagia banget Cha, aku jadi seneng liatnya," kata Dika yang melihat wajah Ocha dari samping.
"Ia, aku seneng banget! Karena Elsa dan aku udah gak ada masalah lagi, sebenernya sih Widia itu..." kata-kata Ocha terputus.
"Udah, Widia emang pantes dapat itu semua. Karena Widia juga bersalah dalam hal ini," kata Dika.
"Ia juga sih, tapi aku gak tega Ka," kata Ocha.
"Kita emang gak tega, tapi dia udah tega sama kita semua dan mungkin ini adalah balasan buat dia. Sebenernya aku juga kasian sama Widia tapi gimana lagi," kata Dika.
"Jadi kefikiran deh," kata Ocha.
"Udah jangan terlalu difikirin nanti kamu sakit." Kata Dika.
Malam pun tiba, Dika masih fokus menyetir karena masih agak jauh untuk sampai ke rumah Ocha.
"Gantian aja Kak aku yang nyetir," kata Galang kepada Dika.
"Gak usah, kamu istirahat aja Galang. Biar kakak aja yang nyetir, liat tuh Kak Ocha aja udah tidur," kata Dika.
"Ya udah deh aku temenin aja sambil main game, padahal kakak juga pasti cape," kata Galang.
Akhirnya setelah perjalanan yang sangat melelahkan mereka pun sampai di rumah. Dika membangunkan Ocha dan langsung memarkirkan mobilnya di garasi.
Mereka pun masuk dan didapati orang tua Ocha yang tengah menunggu kedatangan mereka.
Ocha pun langsung pergi ke kamarnya tanpa kata sedikitpun, karena Ocha sudah benar-benar lelah seharian ini. Mamahnya Ocha pun mengantar Dika ke salah satu kamar kosong untuk Dika beristirahat.
__ADS_1
Pagi harinya Semua sudah bangun dan sudah rapi, kecuali Ocha yang masih tidur di kamarnya karena lupa untuk memasang alarm.
"Ocha pasti belum bangun, biasanya dia paling awal kalau bangun. Anak itu!" kata mamahnya berlalu ke kamarnya Ocha. Ibu Lina pun masuk dan membangunkan Ocha.
"Tunggu mamah, 5 menit lagi aja ya!" kata Ocha sambil menutupi seluruh badannya dengan selimut.
"Gak gak ada 5 menit ayo bangun! Kamu gak ke Resto hari ini?" tanya Mamahnya sambil membuka selimut yang dipakai oleh Ocha.
Ocha pun bangun sambil menguncir rambutnya dan melihat ke arah mamahnya yang sudah rapi dan wangi.
"Mamah udah rapi aja mau kemana mah?" tanya Ocha.
"Apa kamu nih, biasanya juga seperti ini. Kamu tuh yah, ayo bangun cepet! Masa kalah sama calon mantu mamah sih," kata Mamahnya sambil merapikan tempat tidur Ocha.
"Mamah nih mulai deh calon mantu apa sih mah," kata Ocha beranjak dari tempat tidur dan berlalu ke kamar mandi.
"Maaf yah aduh, Ocha tuh emang kayak gitu. Kamu udah siap aja Ka, mau pulang?" tanya Ibu Lina yang sudah turun dari kamar Ocha.
"Ia tante, soalnya Dika harus kerja," kata Dika.
"Terima kasih ya Dika, kamu udah anterin Ocha dan maafkan kami karena merepotkan kamu," kata Pak Fahri.
"Enggak om, om tenang aja karena itu udah tugas Dika mengantar Ocha!" kata Dika.
Sarapan pun selesai dan setelah selesai, Ocha keluar dari kamar dan tidak ikut sarapan bersama.
Dika pun meminta restu kepada orang tua Ocha untuk meminang Ocha dan berencana untuk bertunangan dengan Ocha. Mendengar hal itu, keluarga Ocha sempat kaget dan tidak percaya akan secepat itu Dika melamar Ocha.
Orang tua Ocha pun menyerahkan semua keputusan kepada Ocha karena yang akan menjalani kehidupan selanjutnya adalah Ocha. Maka tidak ada hak bagi orang tuanya jika melarang ataupun mendorong Ocha untuk menerima pinangan Dika.
"Bagaimana Ocha? Apakah kamu mau menerima aku dan menjadi bagian hidup aku?" tanya Dika kepada Ocha.
"Mah, pah izinkan Ocha untuk menerima Dika menjadi bagian hidup aku ya," kata Ocha meminta Izin.
"Mamah sama papah izinkan kamu Ocha untuk menerima Dika!" kata Pak Fahri.
__ADS_1
"Terima kasih mah, pah..." kata Ocha.
"Terima kasih om, tante..." kata Dika.
"Tapi ingat, jangan pernah kamu sakiti hati anak om yang baik ini. Kamu mengerti?" kata Pak Fahri.
"Ia pasti om." Kata Dika.
Dika pun senang mendengar persetujuan Ocha dan kedua orang tuanya Ocha untuk menerima Dika dan sekarang tinggal membicarakan semuanya kepada orang tuanya Dika di Jakarta.
"Kamu hati-hati ya!" kata Ocha kepada Dika yang hendak pulang.
"Iya Ocha pasti. Makasih yah kamu udah menerima aku!" kata Dika.
"Sama-sama!" kata Ocha.
"Aku akan kembali untuk kamu, aku akan membawa kamu dalam kehidupan aku jangan pernah tinggalin aku ya, tunggu aku dan aku akan datang!" kata Dika.
Ocha pun mengangguk mengerti, Dika pun memberikan cincin kepada Ocha di hadapan Orang tua Ocha. Niat baik Dika pun diterima oleh keluarga Ocha.
Dika pun berpamitan pulang kepada orang tuanya Ocha dan juga semua keluarga. Semuanya pun mengantar Dika ke depan pintu dan melihat kepergian Dika setelah berpamitan.
Di jakarta, ada yang sedang menunggu kabar berita yang akan disampaikan oleh Dika sepulang dari Yogyakarta nanti. Kedua orang tua Dika pun tidak sabar menunggu Dika pulang untuk memberitahukan semuanya.
"Cieee yang udah dilamar dan dikasih cincin. Traktir dong kak," kata Mutiara kepada Ocha sambil bergelayutan di tangan Ocha.
"Cieee yang mau di traktir, gak ada! Makan aja di Restaurant kita sana!" kata Ocha jutek dan bercanda kepada Mutiara sambil berlalu ke kamarnya.
"Kak Ochaaa ih kesel deh bosen tau kak makan di Restauran kakak terus!" kata Mutiara cemberut lalu duduk di kursi sambil main ponsel.
Melihat tingkah Ocha dan Mutiara, kedua orang tua nya pun geleng-geleng kepala dan berlalu meninggalkan Mutiara sendiri.
Sesampainya di Jakarta, Dika menceritakan semuanya kepada mamah dan papahnya. Mendengar apa yang diceritakan oleh Dika, mereka pun senang karena pada akhirnya apa yang diimpikan oleh Dika selama bertahun-tahun bisa tercapai.
Dengan gembira, mereka mempersiapkan segala sesuatunya untuk Dika dan juga Ocha beberapa hari ke depan. Belanja barang yang akan dibawa ke Yogya dan perlengkapan lain untuk Ocha.
__ADS_1
Acara menentukan tanggal pernikahan pun akan segera di tentukan oleh kedua orang tua Dika dan tidak lupa, orang tua Ocha pun diam-diam telah merencakannya dengan kedua orang tua Dika tanpa sepengetahuan anak-anaknya.