Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 71 Tamparanmu Itu Loh


__ADS_3

"Bagaimana dengan rencana kamu untuk membebaskan kakak dari penjara pengap ini?" tanya Pak Setyo kepada Gista yang sekarang sudah berada di kantor polisi.


"Kakak tenang aja aku udah sewa pengacara untuk bebasin kakak sama Widia dari sini. Dan tentunya setelah kalian bebas kalian harus berjanji untuk tidak berbuat jahat lagi!" kata Gista.


"Yah kita lihat aja nanti, aku belum puas melihat mereka menderita dan aku harus membuat mereka merasakan apa yang sudah aku rasakan," bentak Pak Setyo.


"Kakak ini benar-benar gila! Mereka udah menderita karena kakak. Aku juga mendengar dari orang-orang bahwa Ocha calon istrinya Dika kecelakaan gara-gara ulah kakak sama anak buah kakak," kata Gista.


Gista benar-benar tidak habis fikir memiliki kakak yang begitu angkuh dan jahat, jahat untuk mencelakai orang lain. Itu sungguh membuat Gista frustasi.


Janji Gista untuk membebaskan Pak Setyo dan Widia bukan untuk membuat Pak Setyo dan Widia kembali jahat, tetapi untuk membuat mereka berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.


Janji adalah janji tetapi jika Pak Setyo dan Widia bebas maka akan terjadi hal yang pastinya tidak diinginkan. Gista akan mencoba membebaskan Pak Setyo dan Widia tetapi Gista akan membuat mereka menjadi orang baik terlebih dahulu dan menyesali perbuatannya.


Setelah Gists selesai berbincang dengan kakaknya, ia langsung pergi dan akan kembali setelah urusan pekerjaannya selesai.


Sore ini, Ocha masih berada di Resto. Dia sedang memikirkan dan melihat keadaan sekitar, memikirkan bagaimana caranya memberitahukan semua ini kepada orang tuanya tentang keadaan Resto yang luar biasa berantakan.


Arvan pun menghampiri Ocha dan membawakan makanan untuk Ocha.


"Ini Cha untuk kamu, dari tadi pagi kamu belum sarapan." Kata Arvan menyodorkan makanan.


"Aku gak laper, kamu makan aja sendiri!" kata Ocha.


"Cha jangan gitu dong, kamu harus makan nanti kamu sakit. Aku gak mau kamu sakit," kata Arvan. "Oh ia Dika gak ikut kamu kesini?" tanya Arvan.


"Dika ada urusan kerjaan jadi gak bisa kesini," kata Ocha.


Arvan pun menyimpan makanannya di kursi samping Ocha duduk dan meninggalkan Ocha sendiri karena Arvan tidak ingin terjadi salah paham dan tidak ingin merusak hubungan Ocha dengan Dika.


Kini Arvan benar-benar akan menyerah karena orang yang dicintai Arvan tidak akan mungkin bisa membalas perasaannya.


Arvan memutuskan untuk pulang ke Jakarta malam ini dan hanya membawa kenangan yang tidak akan pernah terlupakan. Sebelum pergi, Arvan berniat untuk menyampaikan perasaannya terlebih dahulu kepada Mutiara.


"Mutiara, aku bisa bicara sama kamu sebentar?" kata Arvan.


"Kenapa Kak Arvan?" tanya Mutiara.

__ADS_1


"Aku mau bilang sesuatu sama kamu tapi aku mohon kamu jangan marah ya," kata Arvan.


"Ada apa kak?" tanya Mutiara lagi.


Wira pun berjalan ke arah Mutiara dan Arvan dan berhenti melangkah saat mendengar percakapan Arvan dengan Mutiara.


"Aku suka sama kamu Mutiara," kata Arvan.


Deg!


Wira seketika lemas bercampur dengan amarah kepada Arvan yang telah berani menyatakan perasaannya kepada Mutiara.


Dengan cepat Wira menghampiri Arvan lalu meninju wajah bersih Arvan sampai mengeluarkan darah dari sudut bibirnya Arvan dan Arvan seketika terjatuh saat mendapat pukulan dari Wira.


"Aaaa..." teriak Mutiara menutup matanya dengan kedua tangannya karena saking takutnya.


"Beraninya kamu bilang suka sama Mutiara jelas-jelas Mutiara punya calon suami," kata Wira lalu mencengkram baju Arvan dan menariknya hingga Arvan berdiri.


"Aku emang suka sama Mutiara dan aku gak akan pernah diam dan tahan perasaan aku ini." Jawab Arvan.


Buuuggh.


"Wira stop, cukup Wira kamu jangan pukul Dokter Arvan lagi Wira," kata Mutiara yang sekarang sedang menangis.


"Gak, dia harus diberi pelajaran Ra." Kata Wira yang hendak memukulnya lagi.


"Stooop," teriak Ocha yang tidak sengaja melihat perkelahian antara Wira dan Arvan. Dihampirinya mereka oleh Ocha dan Ocha membantu Arvan berdiri.


Tak lama, Galang pun datang dan kaget melihat Arvan yang penuh dengan darah diwajahnya karena pukulan dari Wira.


"Emang yah, dari dulu gak pernah berubah selalu seperti ini. Kak Wira maunya apa sih kak? Kenapa kakak pukul Dokter Arvan?" tanya Galang lalu membantu Arvan.


"Aku mohon hentikan, Wira kamu ikut aku sekarang," kata Mutiara lalu pergi dari hadapan Ocha dan Galang.


Wira pun mengikuti Mutiara di belakang dan hanya diam tidak berkata.


Galang pun membantu mengobati lukanya Arvan dan Ocha yang terus saja mengomel karena kesal melihat Arvan dan Wira.

__ADS_1


"Kamu itu harusnya lebih dewasa Van, kamu gak seharunya seperti ini lagi. Aku mohon sama kamu kamu buka mata kamu! Berhenti menyukai Mutiara!" kata Ocha yang sekarang memegang kepalanya yang sedang pusing karena masalah satu belum selesai sekarang sudah ditambah lagi.


"Kamu gak tau betapa hancur hati aku saat melihat Mutiara dengan Wira. Aku memberanikan diri aku untuk bilang sama Mutiara bahwa aku suka sama dia," kata Arvan.


Kini Ocha pun hanya menghela nafas kasar dan tidak mampu berbicara lagi dan susah untuk Ocha mencegah semua ini agar tidak terjadi.


"Udahlah Kak Ocha kakak gak usah fikirkan ini, Kak Arvan juga sebaiknya kakak pulang ke Jakarta dan jangan temui Mutiara lagi. Dia udah punya Kak Wira, Kak Arvan," jelas Galang kepada Arvan.


"Lang, kamu juga benci kan sama Wira? Lalu kenapa kamu membela dia? Aku tau dari tatapan kamu, kamu benci sama Wira." Oceh Arvan.


"Udahlah kak gak usah mengalihkan pembicaraan, aku gak mau Kak Mutiara terluka hanya karena sekarang kakak suka sama dia," kata Galang berlalu pergi meninggalkan Arvan dan Ocha.


Di suatu tempat, Mutiara sedang berusaha untuk menenangkan Wira yang sekarang sedang marah dan penuh dengan emosi.


Wira kesal karena mendengar ungkapan cinta dari Arvan kepada Mutiara. Dalam fikiran Wira saat ini hanya ingin memukul dan meninju Arvan lagi sampai babak belur dan menyadari kesalahannya telah suka kepada calon istri orang.


"Wira cukup, kamu jangan marah-marah terus!" kata Mutiara.


"Gimana gak marah, aku dengar dengan telinga aku sendiri kalo Arvan itu suka sama kamu. Jelas aku marah, oh atau kamu suka ya Arvan nyatain perasaannya sama kamu ia?" kata Wira menebak.


Plak!


Satu tamparan berhasil mendarat dipipinya Wira, dengan cepat Mutiara pergi meninggalkan Wira karena malas mendengar ocehannya dan juga tuduhannya.


Wira pun tidak diam, dia mengejar Mutiara yang sekarang sedang menuju ke mobilnya. Tangan Mutiara diraihnya oleh Wira agar Mutiara tidak pergi.


"Lepasin aku!" kata Mutiara dan berhasil melepaskan genggaman tangannya Wira. "Asal kamu tau yah, tuduhan kamu itu terlalu tau gak. Terlalu nyakitin perasaan aku!"


"Aku minta maaf..." kata Wira.


"Ia, emang itu yang seharusnya kamu ucapkan, aku kesel sama kamu jangan temui aku sampai marah dan kesel aku hilang!" kata Mutiara dan Mutiara pergi dari hadapan Wira.


Ditempat lain ada yang sedang memperhatikan Wira dan juga Mutiara yang sekarang sedang berkacak pinggang dan tersenyum karena melihat tingkah mereka berdua.


Wira pun hanya diam dan tidak berbuat apa-apa lagi karena Wira sudah tahu bagaimana tingkah laku Mutiara.


Saat sedang marah Mutiara tidak ingin ditemui dan tidak ingin dihubungi. Dan jika amarahnya sudah hilang, maka baru bisa menghubungi Mutiara lagi.

__ADS_1


Begitulah Mutiara memiliki sifat yang aneh tetapi banyak yang menyayanginya bahkan Wira pun takut kehilangan Mutiara. Maka dari itu, Wira akan menuruti semua keinginan Mutiara.


"Belum juga jadi suami udah takut aja kehilangan, apalagi nanti kalo udah jadi suami. Oke Kak Wira aku maafin kakak karena Kak Mutiara," gumam Galang saat melihat Wira dari jarak jauh.


__ADS_2