Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 9 Berharap


__ADS_3

Dika terus saja menghubungi Ocha tanpa lelah, meskipun tidak di angkat oleh Ocha. Dika selalu berusaha agar dia bisa menghubungi Ocha.


Tak lama, Dika pun pergi ke butik Ibu Opi untuk bertemu dengan Elsa dan menanyakan keberadaan Ocha.


"Dika, kamu disini?" kata mamahnya Elsa kepada Dika yang melihat Dika masuk kedalam butiknya.


"Tante, maaf tan Elsa ada disini gak?" tanya Dika kepada Ibu Opi.


"Elsa yah, tadi itu Elsa ke warung tapi sekarang belum balik lagi," kata Ibu Opi.


"Oh gitu ya tante," kata dika.


Lalu Elsa pun datang.


"Itu Elsa!" kata Ibu Opi.


Elsa pun menghampiri Dika dan mamahnya.


"Kamu kok disini ngapain?" tanya Elsa kepada Dika.


"Aku mau bicara sesuatu sama kamu, ikut aku!" kata Dika.


Lalu mereka keluar sebentar dan berbincang.


"Kamu mau ngapain nemuin aku?" tanya Elsa.


"Aku mau tanya, kenapa Ocha susah dihubungi dan beberapa hari ini dia gak masuk kampus. Dia juga gak ada di rumahnya?" kata Dika.


"Kamu mau ngapain nanyain Ocha? Bukannya kamu mau tunangan sama Widia!" kata Elsa.


"Aku mohon kasih tau aku dimana Ocha!" kata Dika.


"Ocha itu lagi kerja, dia selalu ada di rumahnya kok. Mungkin saat kamu ke rumahnya kebetulan Ocha lagi keluar," jelas Elsa kepada Dika.


Beberapa saat kemudian Dika pun pergi.


Keesokan harinya semua kembali seperti biasa Ocha kembali kuliah bersama Elsa dan seperti biasa juga Dika selalu menunggu Ocha di parkiran.


"Liat deh Dika nungguin kamu tuh Cha," kata Elsa yang melihat ke arah Dika.


Lalu mereka pun turun dari mobil dan hendak masuk ke kelas, tetapi Dika menghampiri mereka dan Dika menarik tangan Ocha lalu pergi meninggalkan Elsa. Ocha pun yang tidak nyaman langsung melepaskan tangannya Dika.

__ADS_1


"Kamu ngapain sih Dika?" Ocha marah kepada Dika karena sikapnya yang aneh.


"Kamu sadarkan kamu itu siapa dan aku siapa?" kata Ocha.


"Aku tau, aku minta maaf Cha. Seenggaknya aku mau minta bantuan sama kamu!" kata Dika.


"Minta bantuan? Bantuan apa?" tanya Ocha kepada Dika.


"Aku mohon sama kamu tolong bantu aku supaya aku tidak jadi tunangan sama Widia, kamu tau kan kalo aku suka sama kamu!" tegas Dika.


"Kamu tau Dika, aku juga suka sama kamu. Tapi aku gak bisa berbuat apa apa," batin Ocha yang saat ini sedang bersedih.


"Seenggaknya aku punya harapan, aku mau kamu jujur sama aku, apa kamu juga suka sama aku sama seperti aku suka sama kamu?" tanya Dika kepada Ocha yang memang Dika membutuhkan jawaban itu.


"Cukup Dika! Aku gak suka sama kamu," Ocha pun berlalu dari hadapan Dika sambil jalan pelan ke arah kelas.


"Kamu suka sama aku Ocha!" teriak Dika yang langsung menghentikan langkah Ocha.


"Kamu gak bisa bohong sama aku Cha, aku tau kamu punya perasaan yang sama, sama aku!" jelas Dika kepada Ocha.


Seketika itu Ocha pun menangis tanpa berbalik badan ke arah Dika dan Ocha hanya berdiri mematung.


Lalu Dika pun menghampiri Ocha dan berdiri di hadapan Ocha. Lalu Dika pun mengusap air matanya Ocha.


"Mereka tega sama aku, aku yang calon tunangannya Dika pun gak pernah Dika perhatiin, ini yang bukan siapa-siapa Dika perhatiin," kelutus Widia.


Lalu Widia pun pergi sambil menangis.


Ocha pun mengusap air matanya.


"Udah gak ada harapan lagi Dika, sebentar lagi kamu akan bertunangan dengan Widia," kata Ocha.


"Masih ada harapan Cha, kita masih bisa bersatu Cha aku yakin itu!" kata Dika.


"Aku harap kamu ngerti, aku gak mau rusak hubungan kamu sama Widia, dan aku juga gak mau rusak harapan orang tua kamu buat kamu. Aku mohon sama kamu tolong kamu jauhin aku dan lupain aku ya!" kata Ocha kepada Dika lalu pergi dari hadapan Dika.


Dika diam tanpa kata. Ocha benar-benar suka padanya tetapi semua sudah tidak ada lagi harapan baginya selain memang harus menerima pertunangannya dengan Widia.


Dika pun kembali ke kelas dan pindah duduk di bangku belakang.


"Bener-bener yah Dika," kesal Widia.

__ADS_1


"Sabar wid, kan kamu tau Dika itu akan tetap jadi calon tunangan kamu, udahlah gak usah terlalu difikirkan," kata Ruri menenangkan Widia.


Kuliah pun selesai, semuanya bergegas pulang.


"Ocha tunggu kayaknya ponsel aku ketinggalan deh, aku bawa dulu yah bentar," kata Elsa.


"Oh ya udah ambil dulu aja," kata Ocha.


Lalu Elsa pun kembali ke kelas untuk mengambil ponsel nya yang ketinggalan. Lalu tiba-tiba Dika datang dan menghampiri Ocha.


"Dika, kamu ngapain disini?" tanya Ocha.


"Aku mau bawa kamu ke rumah, aku mau kenalin kamu sama papah aku Cha. Seenggaknya kita masih punya harapan kan buat batalin tunangan aku sama Widia," kata Dika.


"Kamu udah gila, Nggak aku gak mau," tolak Ocha kepada Dika.


"Aku gak bisa bertunangan sama Widia Cha, aku gak cinta sama Widia!" keluh Dika.


Dika terus memaksa dan memohon kepada Ocha agar mau ke rumahnya. Tetapi usahanya di tolak oleh Ocha karena Ocha pun tau dia tidak mau terlibat dengan ini semua.


Tak lama, Elsa pun datang dan mengajak Ocha pulang serta membiarkan Dika seorang diri.


"Dika bilang apa sama kamu Cha?" kata Elsa.


"Dia ngajak aku ke rumahnya dan dia bilang dia pengen batalin tunangannya sama Widia," kata Ocha menjelaskan.


"Jadi dia emang benar-benar suka sama kamu Cha, kamu juga suka sama dika kan Cha?" tanya Elsa penasaran.


"Kamu itu apaan sih El, enggak kok," Ocha mengelak kepada Elsa.


Sebenarnya Elsa tau kalau temannya itu suka kepada Dika, tetapi Elsa memilih diam dan tidak bertanya lagi kepada Ocha. Lalu Elsa mengantar Ocha ke tempat kerja nya.


"Aku duluan yah Ocha, kamu hati-hati daaahh," Elsa pun berlalu dari hadapan Ocha.


Ingin sekali Ocha menghapus ingatannya hanya untuk sekejap, karena ucapannya Dika selalu terngiang di telinganya bahwa dia menyukainya membuat hati Ocha terluka untuk mengingatnya.


Dirumah Dika, Dika selalu melamun memikirkan Ocha dan tidak sedikitpun Dika memikirkan pertunangannya bersama Widia.


"Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa meyakinkan papah bahwa aku tidak suka kepada Widia dan tidak mau dijodohkan dengannya," Dika berbicara sendiri tanpa ada yang mengetahuinya.


Malam harinya, Dika bertemu dengan papahnya di ruang keluarga dan berniat untuk membicarakan masalahnya kepada papahnya berharap papahnya akan mengerti keadaan dan keinginnannnya.

__ADS_1


Tetapi nihil, papahnya sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dika dan papahnya tetap keukeuh ingin menjodohkan Dika dengan anak sahabatnya itu.


Kandas sudah harapan Dika untuk membujuk papahnya. Malah berujung dengan kemarahan papahnya kepada dika.


__ADS_2