
Hari ini, Galang dan Mutiara menjemput Ocha karena hari ini Ocha sudah diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit. Seharusnya Ocha harus di rawat lebih lama, tetapi Ocha menolak karena tidak betah di Rumah Sakit.
"Kakak itu harusnya lebih lama dirawat di Rumah Sakit, karena kakak perlu perawatan intensif," kata Galang.
"Kakak udah gak papa, kamu itu lebay. Ayo kita pulang," ajak Ocha kepada Galang dan Mutiara.
Mutiara membantu mendorong kursi roda yang dipakai oleh Ocha, karena untuk sementara kaki Ocha masih belum bisa untuk berjalan karena cidera yang dialami oleh Ocha waktu kecelakaan.
Di tempat lain, Dika berkunjung ke rumah Dekta untuk menjenguknya dan melihat keadaan Dekta, bagaimana pun Dekta masih tanggung jawabnya.
"Gak usah repot-repot padahal Ka, tapi makasih ya kamu udah jengukin aku," kata Dekta.
"Sama-sama, aku senang karena kamu udah sehat sekarang. Aku minta maaf ya karena aku kamu jadi seperti ini," kata Dika yang sudah duduk di pinggir Dekta, sambil memberikan bingkisan untuk Dekta sekeluarga.
Dekta pun mengambil bingkisan dari Dika dan menyimpannya di meja.
"Gak usah minta maaf lah, bukan salah kamu juga kok. Oh ia aku denger Ocha juga jadi korban, sekarang gimana keadaannya?" tanya Dekta.
Elsa pun datang dengan membawa minuman untuk Dekta dan Dika. Mereka berbincang membahas masalah yang menimpa keluarga Dekta dan kepada Ocha sabahat Elsa dan Dekta.
Dika pun memberitahukan keadaan Ocha yang sudah membaik karena Elsa juga sudah tau keadaannya Ocha.
Ingin rasanya Elsa mengunjungi Ocha karena sudah lama mereka tidak bertemu satu sama lain.
Drrtt... drrttt... drrtt.
Ponsel Dika bergetar ada panggilan masuk dari Galang yang langsung diangkat oleh Dika.
"Ia Galang? Ada apa?" tanya Dika.
"Hari ini Kak Ocha udah boleh pulang, dan sekarang sudah ada di rumah. Kakak disana baik-baik aja kan?" tanya Galang yang menelpon didalam mobil karena tidak ingin ketahuan oleh kakaknya.
"Kakak baik kok Galang, kakak senang karena Ocha udah boleh pulang. Kamu kok bicaranya aneh, kenapa?" tanya Dika.
"Ia kak, karena aku telpon kakak sembunyi-sembunyi takut ketahuan Kak Ocha. Kak Dika masih sayang kan sama Kak Ocha?" tanya Galang.
Dika pun terdiam mendengar pertanyaan dari Galang, karena dari dalam lubuk hati Dika sangat menyayangi Ocha. Dan sekarang Dika sengaja menjauh dari Ocha karena Dika tidak ingin menambah kemarahan Ocha kepadanya.
__ADS_1
Sebenarnya serba salah bagaimana caranya agar Dika bisa mengembalikan keaadan agar bisa membaik.
Sekarang Dika akan meminta bantuan kepada Galang untuk membantu membujuk Ocha agar bisa memaafkan Dika.
"Kak Dika, kok kakak diam?" tanya Galang.
Dika pun permisi keluar sebentar kepada Elsa dan Dekta karena ini pembicaraan pribadi.
"Galang kakak minta maaf ya, tadi kakak lagi ngobrol sama Dekta. Kamu kenapa bertanya seperti itu Lang?" tanya Dika.
"Kak, kalo emang kakak serius sama Kak Ocha kejar lah. Kalo enggak nanti bisa di rebut sama kak Arvan loh Kak," kata Galang.
"Kamu itu, harus banget bawa nama Arvan?" kata Dika.
"Ia harus lah karena aku dengar tadi pas jemput Kak Ocha di Rumah Sakit, Kak Arvan yang akan menjadi Dokternya kak Ocha," kata Galang menakut-nakuti Dika.
Dika pun berfikir keras, bagaimana pun Ocha tidak boleh dekat dengan Arvan. Jika Arvan nekat mendekati Ocha maka ada kemungkinan Ocha akan berpaling dan itu tidak akan pernah terjadi.
Apapun keadaannya dan bagaimanapun caranya Dika akan terus mengejar Ocha bahkan jika harus sampai ke ujung dunia.
Selesai berbicara dengan Galang , Dika pun pamit pulang karena masih ada urusan kantor yang harus di selesaikan.
Sesampainya di rumah, Dika memikirkan Ocha dan ingin mencoba menghubungi Ocha lewat ponsel nya.
"Aduh telpon gak ya, kalo aku telpon aku yakin banget gak bakalan Ocha angkat, kalo enggak aku telpon Ocha akan semakin marah. Serba salah banget sih," batin Dika.
"Ih gak gentle banget sih jadi cowok, masa ia harus aku yang telpon duluan, seenggaknya dia berusaha minta maaf lagi gak cuma sekali. Gak peka.banget deh," gerutu Ocha sambil melihat layar teleponnya.
"Telpon aja lagi gak usah di tungguin," kata Galang yang nyelonong masuk ke kamarnya Ocha lalu tiduran di kasurnya.
Setelah Galang dewasa, dia semakin suka membuat Ocha naik darah dan selalu usil kepada Ocha. Tetapi Ocha sangat menyayangi Galang.
Galang selalu membuat Ocha semangat walaupun usil tetapi tetap perhatian kepada kakaknya itu.
Saat melihat Ocha kecelakaan rasanya Galang sudah tidak mampu lagi untuk hidup karena panutan Galang adalah Ocha, jika seandainya Ocha tidak ada, maka entah apa yang harus dilakukan Galang dan juga Mutiara.
Ibu Lina dan Pak Fahri pun sangat bangga kepada putera dan puterinya karena mereka mempunyai kepribadian yang baik, apik, dan tidak pernah membuat kedua orang tuanya kecewa.
__ADS_1
"Kak Ocha, tunggu apa lagi kakak lebih baik telpon Kak Dika kasian tau kak dia nungguin kabar kakak," kata Galang.
"Kamu hubungi Dika? Ngapain?" kata Ocha.
"Bukan urusan kakak lah," kata Galang sambil membaca novel milik Ocha.
Buugghh!
Lemparan bantal tepat mengenai wajahnya Galang, seketika Galang terperanjat dari tidurannya.
"Ya ampun kak galak banget sih, sini aku yang telponin kak Dika buat kakak," kata Galang yang mau mencoba mengambil ponsel milik kakaknya.
Dengan sigap Ocha mengambil ponselnya dan menjauhkannya dari Galang agar Galang tidak bisa menghubungi Dika lewat ponsel Ocha.
Tak mau kalah, Galang mencoba merebut ponsel milik kakaknya agar bisa menelpon Dika.
Tanpa mereka sadar, Mutiara memperhatikan mereka dari depan pintu kamar Ocha seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kakaknya dan adiknya itu.
Lalu Mutiara pun menelpon Dika dengan sengaja agar permasalahan rebutan ponsel selesai. Setelah telponnya diangkat oleh Dika, segera Mutiara menghampiri Ocha dan Galang lalu memberikan ponselnya.
"Nih Kak Dika," kata Mutiara dengan santai.
"Mutiara..." kata Ocha langsung merebut ponselnya lalu mematikan ponselnya.
"Kok dimatiin sih kak, ya ampun aku sengaja loh teleponin kak Dika buat kakak," keluh Mutiara lalu mengambil ponselnya kembali.
"Suruh siapa? Kalo mau juga udah kakak telepon dari tadi," kata Ocha.
"Udah deh kak gak usah malu, nanti nyesel loh!" kata Galang.
"Diam kamu!" kata Ocha sambil terus menatap layar ponselnya.
Drrrt... drrrtt... drrrt.
Ponsel Ocha pun bergetar, tetapi bukan dari Dika melainkan dari karyawannya di Resto, menanyakan kabar Ocha karena bos kesayangannya mendapat musibah, dan karyawannya merencanakan untuk menjenguknya. Tetapi Ocha melarangnya karena besok Ocha akan ke Resto.
Karyawan Resto pun mengerti dan menuruti apa perkataan dari Ocha untuk tidak menjenguknya.
__ADS_1
Resah dan gelisah yang kini Ocha rasakan. Tetapi tidak jauh berbeda, ternyata Dika juga merasakan hal yang sama. Pasangan yang penuh dengan lika-liku kehidupan cinta ini telah mengubah kehidupan cinta begitu menakjubkan.
Sebagian orang pasti tidak ingin bersatu dengan pasangan yang seperti Ocha dan Dika, tetapi berbeda dengan mereka berdua. Ocha dan Dika semakin dipisahkan maka akan semakin kuat cinta mereka.