
"Tidak ada yang boleh pergi dari sini!" kata Dika lalu mengambil cincin di tangan mamahnya lalu di pakaikan lagi ke jari Ocha.
"Dika tapi..." kata Ocha berusaha melepaskan genggaman tangan Dika.
"Siapa anda? Beraninya mengancam Ocha," kata Dika.
"Kamu tidak lihat siapa yang ada di kursi roda ini? Ini Heln anak saya yang kamu tabrak, dia lumpuh gara-gara kamu. Jadi wajarlah kalo saya ibunya meminta kamu untuk bertanggung jawab," kata Ibu Nita
"Tapi gak mengorbankan orang lain yang punya hubungan dengan saya!" kata Dika.
"Dika cukup!" kata Ocha.
"Kamu diam!" kata Dika menunjuk Ocha.
"Dika calon istri kamu bener loh, cukup kamu banyak bicara, karena kalo kamu tidak mau menuruti apa kata saya untuk menikahi Heln, maka saya akan tuntut kamu dan memenjarakan kamu!" kata Ibu Nita.
Dika mendengarnya sangat tidak menyangka, Ibu Nita memanfaatkan keadaan yang sedang kacau ini, membuat Dika marah dan kesal. Dika pun memegang erat tangan Ocha dan tidak melepasnya.
Ibu Nita yang melihat semuanya pun tidak terima dengan perlakuan Dika kepadanya dan juga kepada Heln karena baginya ini adalah penghinaan.
Heln pun menangis karena tidak bisa merebut Dika dari Ocha dan Heln harus menjalani hari-harinya di kursi roda tanpa pasangan.
"Baiklah, saya akan telepon polisi dan kamu akan dipenjara!" kata Ibu Nita.
"Tante cukup!" kata Ocha kepada Ibu Nita dan melepas genggamannya Dika secara paksa.
"Kenapa Cha?" tanya Dika.
"Kamu yang diam sekarang! Dika kamu harus memilih dan kamu harus pilih Heln. Kamu tau akibatnya kalo kamu gak turuti mereka? kamu akan masuk penjara Ka," kata Ocha.
__ADS_1
"Biarin aja aku masuk penjara dari pada aku harus bersama dia!" kata Dika melihat ke arah Heln.
"Aku mohon sama kamu, kamu harus memilih. Aku mau kamu ikutin aku kali ini demi aku ya!" kata Ocha memohon.
"Ocha kita ini mau menikah, kamu jangan egois Cha, kamu sadar apa yang udah kamu ucapkan itu salah Ocha!" kata Dika.
"Kali ini aku mohon turuti keinginan aku ya, aku harap kamu bisa mengerti. Aku akan pergi jangan ikutin aku! Kalau kamu nekat, aku akan benci kamu untuk selamanya!" kata Ocha seraya melepas cincinnya kembali dan diberikan kepada Dika.
"Ocha... " kata Ibu Uma.
"Maafkan Ocha tante, om..." kata Ocha lalu pergi dari hadapan mereka.
Dika diam mematung melihat kepergian Ocha dan tidak bisa menahannya karena permintaan dari Ocha kepada Dika, jika nekat maka Ocha akan membencinya dan Dika tidak mau itu terjadi. Dika tidak akan merelakan calon istrinya pergi dari kehidupannya lagi karena kesalahannya.
Dika tidak akan pernah diam dengan apa yang telah terjadi sekarang. Dika pun mengikuti permintaan Ocha untuk kali ini tetapi Dika memiliki rencana lain untuk kembali kepada Ocha.
Di ruang rawat Dika, orang tua Dika berkumpul untuk membicarakan masalah ini bersama-sama karena tidak ingin terjadi kehilangan untuk kedua kalinya.
"Mah kalo Dika cegah Ocha, dia bakalan benci sama aku buat selamanya mah dan Dika gak mau itu terjadi. Mamah tau kan Ocha seperti apa? Ocha selalu nekat mah dan aku gak mau kehilangan Ocha," kata Dika sambil memegang cincin Ocha.
"Tapi.. ah sudahlah yang jelas mamah gak mau kamu sampai menikah dengan Heln!" kata Mamahnya lalu pergi keluar.
"Papah serahkan semuanya sama kamu yang terbaik buat kamu ada pada pilihan kamu dan yang terbaik buat kamu ada pada fikiran kamu. Jadi bijak dalam memilih sesuatu jangan sampai kamu menyesal!" kata Pak Tio dan menyusul Ibu Uma keluar.
Dika berusaha menelepon Ocha berkali-kali tetapi tidak di angkat oleh Ocha.
Ocha pun melihat layar ponselnya bertuliskan nama Dika. Ocha hanya bisa menangis dengan apa yang telah ia putuskan, Ocha sengaja tidak mengangkat telepon dari Dika karena tidak ingin terus mengingatnya.
Sore harinya masih dalam perjalanan pulang ke Yogya dan Ocha pun terjebak macet yang panjang membuat dia lelah dan tidak dapat menahan air mata yang terus mengalir dari mata indahnya mengingat Dika.
__ADS_1
Melupakan memang tidak semudah apa yang di ucapkan, tapi Ocha berusaha untuk melupakan semuanya. Ocha pun menghapus semua kenangan di ponsel miliknya.
Dika kesal pada diri sendiri karena tidak bisa menjaga Ocha terutama hatinya Ocha. Mengapa terus membuat luka di hati Ocha padahal hanya satu langkah lagi mereka akan mendapat kebahagiaan.
Aaarrggghhh...
Teriak Dika dari kamar rawatnya membuat pasien lain komplain karena suara Dika yang mengagetkan dan tak hanya mendapat omelan dari pasien lain, tetapi Dika juga mendapat lemparan bantal dari pasien lansia yang kaget karena ulahnya.
Ibu Nita pun masuk bersama Heln untuk menemui Dika karena ada hal yang ingin dibicarakan olehnya.
"Saya sudah tentukan tanggal pernikahan untuk kamu dan Heln, jadi saya harap kamu mematuhi perintah saya!" kata Ibu Nita.
Dika malas menjawab perkataan Ibu Nita, Dika pun mencabut selang infusnya lalu pergi begitu saja tanpa melihat wajah Ibu Nita.
Ibu Nita pun kesal dibuatnya, karena Dika tidak menghiraukan perkataannya.
"Bu sudahlah gak usah aku nikah sama dia, ibu lihat sendiri! Mana bisa aku nikah sama orang yang gak cinta sama aku," kata Heln.
"Lalu mau kamu apa? Setelah calon istrinya pergi kamu bilang seperti itu, bukannnya kamu juga suka sama dia saat pertama kali kamu melihat nya?" kata Ibu Nita.
"Aku emang suka bu, tapi pernikahan harus ada cinta, dan itu tidak ada pada dia bu. Mending sekarang ibu minta aja uang ganti rugi untuk pengobatan aku sampai aku sembuh, karena kita gak punya banyak uang untuk biaya terapi aku." Kata Heln memberi saran.
"Kamu yakin gak mau nikah sama dia?" tanya Ibu Nita.
"Aku mau, tapi aku juga gak bisa bu, jadi ikuti apa kata aku ya. Hmm aku mau dia nemenin aku terapi aja sampai aku sembuh, dan biayain aku. Udah itu aja," kata Heln.
"Ya sudah ibu nurut saja apa kata kamu, tapi kamu harus sembuh dan jangan seperti ini lagi. Nanti ibu bicarain semuanya sama keluarganya." Kata Ibu Nita.
"Aku jadi merasa bersalah, andai aku gak minta menikah sama Dika pasti calon istrinya gak mungkin ninggalin dia," batin Heln.
__ADS_1
Ibu Nita pun setuju dengan usul putrinya itu dengan tidak memaksa Dika untuk menikahi Heln.