Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 35 Terbongkar


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa, Dika meraih ponselnya yang tergeletak dikasurnya untuk menelpon seseorang yang dia kenal yaitu menelpon Ocha, karena khawatir pelaku penculik yang belum ditemukan itu takut mencelakai Ocha sama seperti yang ia alami beberapa hari kebelakang.


"Kenapa gak di angkat, apakah sibuk?" gumam Dika yang melihat teleponnya berkali-kali tidak diangkat oleh Ocha.


"Kak Ochaa..." teriakan Mutiara dari bawah yang melihat ponsel Ocha terus berdering.


Ocha pun segera turun dan menghampiri adiknya yang berteriak.


"Kamu kok teriak gitu ada apa Mutiara?" tanya Ocha.


"Tadi aku lagi di dapur, denger ponsel kakak berkali-kali berdering. Angkat itu kak kayaknya penting deh!" suruh Mutiara kepada Ocha.


Ocha pun menurut apa yang dikatakan oleh Mutiara untuk mengangkat teleponnya dan berlalu lagi ke kamarnya.


"Aduh Cha aku telepon kamu berkali-kali tapi kamu gak angkat, aku tuh khawatir tau!" kata Dika nyerocos.


"Hp aku tadi di bawah, aku lagi beres-beres mau ke Bandung soalnya," kata Ocha.


"Ke Bandung?" tanya Dika.


"Heem, aku harus kesana soalnya cek tiap bulan, waktu itu sih udah ke Bandung cuma kan sekarang awal bulan jadi setelah ke Bandung aku ke Surabaya lagi," Ocha menjelaskan sambil membereskan pakaiannya.


"Oh gitu, aku mau tanya Cha kamu sama Elsa gimana?" tanya Dika.


"Elsa kayaknya masih marah sama aku, aku berniat buat cari pelakunya yang waktu itu. Besok aku akan cari dia, aku yakin banget dia pasti ada disekitar sini dan gak mungkin banget buat dia kabur jauh," kata Ocha.


"Ia sih kamu bener, tapi aku khawatir sama kamu Ocha. Aku takut kamu kenapa-kenapa!" kata Dika.


"Ciee ada yang khawatir," ledek Ocha kepada Dika.


"Ocha kebiasaan deh..." senyum Dika mengembang.


"Tapi aku aneh deh, gak masuk di akal Ka. Waktu itu, waktu Elsa mau bawa aku ke kantor polisi tiba-tiba Widia dateng bawa Disa. Menurut kamu masuk akal gak sih?" tanya Ocha.


"Hmm bener juga ya, kenapa gak kefikiran sampe situ," kata Dika membenarkan perkataannya Ocha.


Semakin penasaran, Ocha pun berniat untuk mencari siapa pelaku di balik penculikan Disa, Dika pun di Jakarta terus mencari kebenaran tentang kejadian yang menimpa Elsa waktu itu, tidak mungkin jika tidak ada dalangnya di balik ini semua.


"Aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu, libatkan polisi dalam hal ini Cha jangan bergerak sendiri terlalu berbahaya," saran Dika kepada Ocha.

__ADS_1


"Ya aku mengerti, aku akan bongkar siapa pelaku sebenarnya dan apa motifnya!" kata Ocha.


"Aku akan temuin Elsa dan jelasin sama dia agar permasalahannya selesai," kata Dika.


Ocha pun mengiakan perkataan Dika yang memang ada benarnya. Permasalahan antara Ocha dengan Elsa harus segera selesai. Ocha pun mengakhiri pembicaraannya dengan Dika dan menutup teleponnya.


Telepon Widia berdering ada panggilan masuk dari nomor yang dikenal membuatnya mengangngkat teleponnya. Suara yang ia kenal dan tidak asing baginya membuat Widia kaget.


"Mau ngapain lagi kamu telepon aku?" tanya Widia penuh marah.


"Aku mau kamu kirim uang buatku, yah itung-itung untuk tutup mulut!" dari asal suara itu yang tak lain adalah Jono.


"Kamu udah gila apa? Emang uang waktu itu gak cukup, aku kasih uang kamu banyak tau!" kata Widia memelankan suaranya dan pergi ke kamar agar papahnya tidak mendengar apa yang dikatakan Widia.


"Ayolah, itu gak akan cukup Widia aku mau lebih banyak lagi dan posisi kamu akan aman jangan khawatir," kata Jono.


"Enggak, aku gak mau kirim kamu uang. Udah habis uang aku buat bayar kamu. Kamu juga kan udah berjanji gak akan pernah ganggu aku lagi," Widia menutup telpon dengan tiba-tiba dan melempar ponselnya ke kasurnya.


Keesokan harinya, jadwal Ocha berangkat ke Bandung diundur karena Ocha ingin mencari tahu siapa penculik Disa yang membuat persahabatannya dengan Elsa bubar.


"Kamu ko gak siap-siap Cha? Lihat mamah udah siap nih ke Bandung, ayo cepetan siap-siap dong!" kata mamahnya Ocha sambil menjinjing tas.


"Yaaahh Ocha gimana sih, mamah kan udah rapi, baju juga udah dimasukin koper malah gak jadi," kata mamahnya dengan nada kecewanya.


"Mamah ini, makanya mah jangan sibuk dulu, gak jadi kan akhirnya..." kata Pak Fahri sambil senyum-senyum.


"Iya nih Ocha tega banget, emang ada apa sih kamu kok tiba-tiba gak jadi ke Bandung, maen cancel-cancel aja ada apa?" tanya Ibu Lina.


"Jadi gini mah, Ocha ini mau cari tau soal siapa yang udah culik Disa, karena Ocha gak mau Elsa terus marah sama aku," kata Ocha menjelaskan.


Ibu Lina dan Pak Fahri pun mengerti apa yang di jelaskan oleh Ocha. Maka dari itu, orang tua Ocha pun setuju bila Ocha mencari tau siapa dalang dari semua kejahatan ini. Karena memang benar dibalik penculikan ini pasti ada dalangnya.


Ocha pun berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi mencari tahu pelaku yang sebenarnya, sebelum pergi mencari tahu keberadaan penculiknya, Ocha menelepon polisi agar bisa membantu pencariannya.


Ocha bekerja sama dengan pihak kepolisian karena memang sejak pelaporan kejadian penculikan Disa, penculik itu sudah menjadi buronan dan sampai saat ini belum diketahui dimana keberadaannya.


Terlihat Elsa yang sedang menyuapi Disa didepan rumahnya dengan senangnya, Dika yang melihat Elsa dan sengaja datang pun langsung menghampiri Elsa karena ada hal penting yang harus dibicarakan dengannya.


"Loh Dika kamu kok ada disini ngapain?" tanya Elsa.

__ADS_1


"Aku mau bantu Ocha sama kamu, aku mau kamu sama Ocha baikan lagi!" kata Dika.


"Maksud kamu apa sih Dika? Udah deh gak ada yang perlu dibahas soal Ocha!" kata Elsa.


Mendengar suara berisik dari luar, Dekta pun menghampiri Elsa dan keheranan melihat Dika ada di depan rumahnya membuat Dekta emosi. Tetapi Elsa menjelaskan niatan Dika datang menghampirinya.


Memang tidak ada yang perlu dibahas lagi tetapi Dika hanya ingin membantu menyelesaikan permasalahan antara Ocha dan juga Elsa.


"Saya tau ciri-ciri orang yang udah culik Disa pak!" kata Ocha kepada polisi yang kini sedang bersama Ocha untuk mencari pelaku.


Ocha pun menyebutkan ciri cirinya kepada polisi tersebut dan terus mencari keberadaan penculik tersebut.


Tak berapa lama, Ocha melihat orang yang sudah menculik Disa berada di tempat biasa iya kunjungi tepat di warung kopi. Ocha pun menunjuk penculik itu dan membuat polisi mengejar dan mengepung penculiknya.


"Jangan bergerak! Anda di tangkap atas laporan penculikan seorang anak," kata polisi sambil menodongkan pistol di hadapan penculiknya yang bernama Jono.


Jono pun mengangkat kedua tangannya dan hanya bisa pasrah serta tidak berkutik. Karena dia sudah di kepung dan hanya bisa menyerah dengan keadaan ini.


Polisi pun memborgol kedua tangan Jono agar tidak melarikan diri serta untuk bukti dan mencari siapa dalang dari kejahatan yang telah ia lakukan. Polisi pun membawa Jono ke kantor polisi dan mengintrogasi pelaku, selain itu Ocha juga ikut ke kantor polisi.


"Bener-bener yah jahat banget tau gak, sekarang juga bilang siapa yang udah nyuruh kamu buat culik Disa?" tanya Ocha marah kepada Jono.


"Saya...saya tidak di suruh siapa-siapa," kata Jono.


"Jangan bohong kamu yah!" kata Ocha.


"Mba harap tenang yah, biar kami pihak kepolisian yang mengintrogasi!" kata polisi tersebut.


Ocha pun duduk dan menuruti apa yang dikatakan oleh polisi, akhirnya polisi pun mengintrogasi Jono dan Jono pun mengaku serta memberitahukan siapa dalang semua ini.


Ocha pun kaget dan langsung menutup mulutnya dengan tangannya mendengar apa yang telah di ucapkan oleh Jono membuat Ocha kesal dan marah. Ocha pun meminta polisi untuk membuat video pengakuan Jono .


Sungguh tidah bisa di percaya, Jono mengakui kesalahannya dan menyebutkan dalangnya dan ternyata itu adalah Widia.


"Pak terima kasih atas bantuannya, saya permisi..." kata Ocha.


"Ya silahkan," kata polisi tersebut.


Ocha pun pergi dari kantor polisi tersebut dan pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2