Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 49 Berusaha


__ADS_3

Setelah Ocha pulih, Ocha pun kembali dengan aktivitasnya seperti biasanya bekerja dengan penuh semangat.


Dika juga ikut membantu, karena Dika menyewa apartemen di Yogyakarta dan menemani Ocha selama Ocha sakit dan sekarang Ocha telah sembuh. Dika masih tetap berada di sampingnya Ocha untuk membantu di Resto.


"Kamu ke pasar dulu hari ini?" tanya Dika yang siap menyetir dan menjadi supir pribadi Ocha.


"Ia," kata Ocha sambil memasang sabuk pengaman.


"Aku mau bicara sama kamu, boleh?" kata Dika.


"Hmm.. ya," kata Ocha.


"Sebelum terlambat, kamu masih bisa memilih akan dengan siapa kamu bersanding," kata Dika.


Mendengar ucapan Dika, Ocha semakin bingung. Dika berbicara seperti itu tanpa adanya alasan yang tepat. Setelah apa yang Dika pertahankan apakah akan melepas begitu saja.


"Kamu kenapa bicara seperti itu?" tanya Ocha.


"Aku cuma bilang aja sama kamu," kata Dika lalu melajukan mobilnya.


Ocha pun diam setelah mendengar Dika berbicara seperti itu, dan wajah Ocha berubah menjadi kesal kepada Dika.


Sesampainya di pasar, Ocha pun berbelanja dan meninggalkan Dika yang berada dibelakang Ocha. Dika berfikir keras soal perkataan Dokter Arvan yang menyukai Ocha, harus bagaimana sekarang.


Ocha pun melihat Dika yang tertinggal jauh dari Ocha. Lalu Ocha pun balik lagi untuk menghampiri Dika dan mengajaknya pergi.


"Kamu itu kenapa?" tanya Ocha.


"Gak papa," kata Dika.


Mereka berdua pun masuk ke mobil dan pergi ke Resto.


Siang harinya, Ocha menjaga Resto bersama beberapa orang karyawannya. Sedangkan Dika duduk di kursi Resto sambil menundukkan kepalanya dan menutupi kepalanya dengan kupluk jaketnya.


Ocha pun hanya melihat Dika dari dalam Resto, karena Dika duduk di luar. Tak berapa lama, Dokter Arvan datang ke Restonya Ocha. Ocha pun kaget melihat kedatangan Dokter Arvan.


"Hai..." sapa Dokter Arvan kepada Ocha sambil tersenyum.

__ADS_1


Ocha pun diam dan terus melihat ke arah Dika karena Ocha tidak mau Dika marah karena melihat kedatangan Arvan.


Sebenarnya Dika tahu bahwa Dokter Arvan datang menemui Ocha, tetapi Dika hanya diam dan membiarkan Ocha bersama Dokter Arvan. Dika menyadari bahwa dirinya sering membuat kesalahan kepada Ocha Dan kini Dika menginginkan yang terbaik untuk Ocha. Mungkin datangnya Arvan adalah yang terbaik untuk Ocha.


"Dokter Arvan, Dokter kok bisa ada disini? Oh mau pesan makanan ya?" kata Ocha menebak.


"Enggak, gimana kamu udah baikan? Aku lihat di IG bahwa Resto ini terkenal banget dan aku baru tahu, makanya aku datang kesini dan ternyata Resto ini milik kamu," kata Arvan.


"Ia," kata Ocha.


"Dika kamu sebenarnya tahu kan bahwa Arvan ada disini, kenapa kamu diam aja? Apa kamu udah gak perduli sama aku? Bantu aku dong Dika!" batin Ocha.


Seperti ada sinyal yang memberitahukan Dika bahwa dia harus segera menghampiri Ocha, lalu Dika pun menghampiri Ocha dan berdiri di hadapan Dokter Arvan sambil memegang erat tangan Ocha.


Ocha pun melihat ke arah Dika, terkadang Dika acuh tapi dia juga peduli dan memperhatikan di setiap keadaan.


"Dokter Arvan yang terhormat, sepertinya anda sudah tahu bahwa Ocha sudah memiliki calon suami, dan itu saya. Saya harap Dokter Arvan mengerti ucapan saya," kata Dika.


"Hmm... saya tahu bahwa Ocha sudah memiliki calon suami, tetapi saya juga tahu bahwa janur kuning masih belum melengkung dan saya masih bisa mendekati Ocha. Saya minta maaf sebelumnya karena saya sudah lancang tapi saya tidak akan menyerah untuk memiliki Ocha," kata Dokter Arvan.


Ocha dan Dika pun tercengang kaget mendengar Arvan berbicara seperti itu, padahal apa yang dia bicarakan mempengaruhi hubungan orang lain.


"Saya juga tahu bahwa saya baru bertemu dengan Ocha, tapi saat pertama kali betemu dengan dia, saya tertarik kepada Ocha," kata Arvan sambil melihat ke arah tangan Dika yang memegang tangan Ocha.


Mendengar ucapan Dokter Arvan lama-lama Dika menjadi kesal lalu mengajak Ocha keluar Resto dan meninggalkan Arvan di dalam. Dika pun melepas genggaman tangannya kepada Ocha dan langsung masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Ocha masih mematung berdiri melihat tingkah Dika yang sepertinya sekarang sudah mulai kesal dan marah tetapi Dika tetap diam. Ocha pun ikut masuk ke dalam mobil.


Di perjalanan, Dika masih tetap diam dan tidak berbicara satu patah kata kepada Ocha, yang kini sedang dilakukan Dika hanya berfikir. Ternyata kediamannya membuat banyak orang ingin merusak hubungannya dengan Ocha. Dipukulnya setir mobil oleh Dika membuat Ocha kaget.


"Aku gak akan mengulangi kata-kata aku lagi, sekarang kamu pilih lanjutkan hubungan ini atau kamu pergi bersama Arvan?" kata Dika.


"Memilih? Aku sudah memilih kamu dari awal kita bertemu, sekarang kamu suruh aku memilih lagi. Mungkin sekarang kamu yang harus memilih melanjutkan hubungan ini atau kamu pergi ke masa lalu kamu?" tanya Ocha membalikan perkataannya Dika.


"Aku tanya baik-baik sama kamu, disana kamu hanya diam Cha mendengarkan Arvan bicara," kata Dika.


"Terserahlah!" kata Ocha.

__ADS_1


Dika pun sampai di rumah Ocha dan mengantar Ocha pulang, Ocha pun turun dari mobil tanpa kata lalu langsung masuk ke dalam.


Sedangkan Dika hanya melihat Ocha masuk ke dalam, lalu Dika kembali ke apartementnya membawa kekesalan.


"Loh loh loh anak mamah kenapa?" tanya mamahnya Ocha.


"Dika mah ngeseselin, masa aku harus pilih antara dia sama Arvan, orang baru kenal juga sama Arvan. Eh dia sewot mah sama aku," kata Ocha menceritakan kekesalannya kepada mamahnya.


"Kalo itu namanya cemburu Cha, tandanya Dika itu sayang sama kamu. Tuh buktinya cincinnya udah balik lagi sama kamu kan, udah kamu pakai lagi!" kata mamahnya sambil berlalu ke dapur.


Ocha pun melihat cincin yang melingkar di jarinya. Karena setelah pulang dari Rumah Sakit, Dika memberikan cincinnya kembali kepada Ocha.


Ocha pun melihat papahnya di halaman belakang, lalu menghampirinya dan duduk di sebelah papahnya sambil membawakan air teh hangat untuk papahnya.


"anak kesayangan papah sudah besar, sebentar lagi kamu menikah," kata Pak Fahri setelah melihat Ocha.


"Tapi pah sekarang Ocha bingung, orang yang Ocha cintai sekarang dia ragu," kata Ocha.


"Ragu?" tanya papahnya kaget.


"Heem..." kata Ocha.


"Dika kamu kenapa kok kamu sedih gitu?" tanya mamahnya Dika sesampainya Dika ke apartement


"Gak papa mah," kata Dika.


"Mamah gak yakin kamu gak apa-apa," kata mamahnya sambil memakan kue yang sedang dipegangnya.


"Dika itu kesal mah, ternyata ada yang menyukai Ocha selain Dika. Aku harus gimana mah? Aku berusaha sekerasnya tapi saingan aku terlalu berat mah," kata Dika.


"Sebentar lagi kalian mau menikah, ujian menjelang pernikahan itu bermacam-macam Dika, hati terkadang berbalik, hati terkadang merasa tidak nyaman, bahkan ada yang memutuskan hubungan. Tapi cinta akan kuat jika kita yakin dan percaya pada pasangan kita," kata mamahnya menjelaskan.


"Tapi mah aku ragu, aku takut jika aku tidak bisa menjadi yang terbaik untuk Ocha," kata Dika.


"Terbaik untuk Ocha adalah bagaimana kamu bisa mempertahankan cinta kamu walaupun rintangan diluar sana sangat banyak," kata mamahnya.


Dika pun memikirkan apa yang diucapkan oleh mamahnya, memang benar cinta itu untuk dipertahankan bukan untuk dilepaskan.

__ADS_1


Dan hari ini adalah hari dimana Dika harus benar-benar untuk mempertahankan cintanya setelah ia tahu bahwa diluar sana ada yang mengincar kekasih hatinya sekaligus calon istrinya.


__ADS_2