
"Aku serius Cha, aku ngomong ini sama kamu. Tolong percaya sama aku. Aku suka sama kamu Cha!" jelas Dika kepada Ocha.
Ocha sedikit tidak menyangka, Ocha pun hanya tersenyum sedih dan tidak berkata apapun kepada Dika.
"Enggak Dika, gak seharusnya kamu bilang gitu sama aku," jelas Ocha.
"Tapi Cha kamu harus tau, aku sama sekali gak mau di jodohin. Aku mau sama kamu cuma kamu Cha," kata Dika.
"Ini udah terlambat Dika, aku mohon jauhin aku dan jangan deketin aku lagi!" kata Ocha.
"Cha, emang ini udah terlambat tapi bagi aku enggak!" kata Dika.
"Cukup Ka, ini gak berpengaruh sama sekali buat aku, kamu dijodohin sama siapapun juga aku gak perduli. Lagian kita ini baru aja kenal," tegas Ocha kepada Dika.
"Aku gak tau perasaan kamu sama aku kayak gimana, tapi aku gak bisa diem dan memendam ini semua," kata Dika.
Ocha hanya bisa diam dan matanya pun berkaca-kaca mendengar ucapan dari Dika.
"Aku minta maaf Dika, tapi aku gak bisa balas perasaan kamu. Kamu juga harus hargai aku dan pilihan papah kamu," kata Dika.
Ocha pun pergi dari hadapan Dika dan segera bergegas pergi ke kelas sambil berlari.
Dika pun mematung seorang diri sambil memikirkan ucapannya Ocha, tak lama Dika pun pergi ke kelas.
Di kelas sedang ramai membicarakan Widia dan juga Dika. Ternyata dugaan Elsa tentang Widia benar memang Widia yang ia kenal yang akan bertunangan dengan Dika.
"Ocha kamu kenapa? Habis nangis?" tanya Elsa kepada Ocha.
"Enggak kok El gak nangis," kata Ocha.
"Kamu jangan bohong dong Cha, tadi Dika ngomong apa sama kamu?" tanya Elsa.
"Nanti aku ceritain ya sepulang dari kampus!" kata Ocha.
"Ehmm, ia deh Cha," kata Elsa.
Lalu Widia pun datang menghampiri meja Ocha dan Elsa.
"Hai Ocha, kamu tau gak sih kalau sebentar lagi aku sama Dika akan tunangan? Aku harap sih kamu tau yah, karena berita udah nyebar diseluruh kampus ini," kata Widia memanas.
__ADS_1
"Ohh ya? Selamat ya," kata Ocha kepada Widia.
"Ternyata benar apa yang di ucapkan Elsa tentang Dika dan Widia yang akan bertunangan. Ternyata Widia yang dimaksud Elsa adalah Widia yang aku kenal, dan perjodohan itu juga benar," batin Ocha.
Dika pun hanya diam dan hanya menatap Ocha tanpa ada yang mengetahuinya.
"Oh ya, tenang aja deh kalian juga pasti akan aku undang buat datang ke acara tunangannya aku sama Dika!" kata Widia.
"Widia udah dong sini..." panggil Ruri kepada Widia.
"Udah yah gak penting juga sih aku ngomong sama kalian, toh kalian juga bukan siapa-siapa aku," lalu Widia pun pergi dan menghampiri Ruri.
"Kamu seneng banget yah mau tunangan sama aku?" tanya Dika kepada Widia sambil kesal.
"Ya ia dong Dika, aku itu seneng banget karena aku bisa tunangan dengan orang yang terpopuler, jago musik, pinter, ganteng lagi," puji Widia kepada Dika.
"Udah deh Wid jangan berlebihan kayak gitu aku gak suka!" tegas Dika kepada Widia yang terus saja memujinya tanpa henti.
"Dika, kamu itu calon tunangan aku, jadi wajar dong kalo aku itu muji kamu." Kata Widia.
Karena tidak suka mendengar omongannya Widia, Dika pun akhirnya memutuskan untuk pergi.
Dika pun pergi tanpa menghiraukan Widia.
Bruugghhh.
Dika melempar tasnya tepat di kasurnya dan kesal atas apa yang menimpanya. Dika sangat tidak percaya bahwa Dika dijodohkan dengan Widia yang sama sekali tidak dia cintai, tetapi tidak ada yang mendukungnya.
Ibunya Dika pun datang dan duduk disamping Dika sambil mengelus punggungnya Dika. karena Ibunya tau bahwa putranya itu sedang bersedih.
"Kamu pulang marah marah, pasti gara gara perjodohan itu ya?" tanya Ibu Uma kepada Dika.
"Mah Dika gak suka sama keadaan ini mah, Dika mau tentuin hidup Dika sendiri gak kayak gini," kata Dika.
"Ia sayang mamah tau kamu gak suka, tapi kamu harus bersabar," kata mamahnya.
Mamahnya Dika hanya bisa menenangkan Dika tanpa bisa berbuat apa-apa. Melihat Dika yang murung, mamahnya sungguh sangat tidak tega melihat keadaan ini.
Lalu mamahnya Dika pun keluar dari kamar Dika dan langsung menemui papahnya Dika.
__ADS_1
"Pah apa ini gak berlebihan yah, kasian Dika pah," kata mamahnya Dika yang memelas kepada suaminya.
"Papah harus apa mah, papah sudah terlanjur janji sama temen papah. Papah gak bisa batalin gitu aja mah," kata Papahnya.
"Mamah tau, tapi papah juga harus fikirin dong masa depan anak kita pah," tegas Ibu Uma kepada Pak Tio.
"Ya sudahlah mah yang sudah terjadi biarlah terjadi jangan mamah bahas itu lagi, yang penting sekarang bagaimana supaya Dika bisa menerima Widia menjadi pasangan hidupnya." Kata Pak Tio.
Lalu Pak Tio pun pergi meninggalkan Ibu Uma sendiri.
Diperjalanan, Ocha memberitahukan apa yang terjadi tadi di parkiran antara Dika dengan dirinya. Elsa yang mendengar cerita Ocha sungguh tidak percaya bahwa Dika menyukai temannya. Wajar sih Dika menyukai Ocha, karena laki-laki mana yang tidak menyukai gadis yang cantik dan pintar serta baik hati.
Setelah pulang, Ocha berangkat bekerja dan di tempat kerja nya pun Ocha melamun memikirkan perkataan Dika tadi pagi di parkiran. Bagaimana dia bisa jatuh hati pada seseorang yang akan bertunangan dengan orang lain.
"Kamu kenapa kok ngelamun gitu Ocha?" Tanya salah satu karyawan.
"Enggak apa-apa kok, ayo kita lanjut kerja lagi!" kata Ocha.
Lalu mereka pun melanjutkan pekerjaannya kembali, selesai bekerja Ocha pun pulang dengan lemas.
"Ocha kamu kenapa lemes gitu?" tanya mamahnya sambil merapikan ruangan tengah.
Lalu Ocha pun duduk dan bersandar.
"Ocha gak papa kok mah," kata Ocha bohong.
"Mamah tau kalo kamu kayak gini, kamu pasti lagi ada masalah," tebak mamahnya kepada Ocha.
"Gak ada mah, Ocha ke kamar dulu yah mah udah malem mau istirahat," kata Ocha.
" ia sayang," kata mamahnya.
Hari berganti hari, Ocha tidak masuk kuliah untuk sementara karena sedang fokus pada pekerjaannya, dan memang sedang ada kenaikan jabatan di Restaurant tempat ia bekerja. Sedangkan Elsa kuliah dan bolak-balik ke butik serta membantu papahnya di perusahaan.
Beberapa hari kemudian, Dika datang ke rumah Ocha dan berniat menemui Ocha di rumahnya tetapi Ocha sedang tidak ada di rumahnya. Rumahnya pun sepi karena memang tidak ada siapapun di rumah nya.
"Kok sepi yah, ehm bu kok rumah ini sepi ya pada kemana ya?" tanya Dika kepada ibu-ibu yang kebetulan lewat di depan rumahnya Ocha.
"Aduh saya kurang tau mas, mungkin sedang keluar," jawab ibu tadi lalu langsung berlalu.
__ADS_1
Dika pun menelpon Ocha tetapi tidak di angkat olehnya. Akhirnya dika pun pergi dan pulang ke rumahnya.