
"Kak... kak Ocha, kakak dengar aku kan kak?" kata Galang yang terus menangis.
"Ga...lang kakak se...nang kam...u baik-ba...ik aja," kata Ocha terbata.
"Kak aku mohon bertahan kak, aku mohon," kata Galang.
Di rumah, Ibu Lina dan Pak Fahri merasakan firasat tidak baik dan merasakan ada sesuatu yang aneh, tetapi mereka tidak tahu bahwa Ocha, Mutiara dan Galang sedang dalam masalah.
Tidak lama kemudian, Ambulance datang lalu langsung membawa Ocha dan Mutiara. Diperjalanan, Galang terus memegang tangannya Ocha yang masih setengah sadar. Sedangkan Mutiara berada di Ambulance yang lainnya dan Galang bersama Ocha.
"Kak Ocha, kakak aku mohon bertahan. Jangan tutup mata kakak ya," kata Galang.
Sedangkan sekarang, Ocha sudah lemas dan bahkan sudah hilang kesadarannya.
"Kak bangun. Kak Ocha," teriak Galang yang terus menangis.
Sesampainya di Rumah Sakit, ternyata ada Dokter Arvan yang sedang bertugas. Setelah Ocha dikeluarkan dari Ambulance, Dokter Arvan tercengang melihat Ocha yang bersimbah darah lalu langsung menghampiri Ocha.
"Tolong selamatkan kakak saya Dokter," pinta Galang kepada Dokter selain Dokter Arvan yang berada disana.
Dokter dan yang lainnya langsung membawa Ocha ke ruang UGD. Sedangkan Mutiara, di ditangani oleh Dokter Arvan.
Galang benar-benar frustasi bagaimana dia bisa mengabari orang tuanya dan memberi tahukan keadaan kakak-kakaknya itu.
Dika masih di perjalanan menuju ke Yogyakarta, perasaan Dika tidak enak saat ini dan terus memikirkan Ocha takut terjadi apa-apa kepada Ocha.
Dengan perasaan takut, Galang memberitahukan keadaan Ocha dan Mutiara kepada mamah, papahnya.
Ibu Lina dan Pak Fahri yang mendengar itu pun langsung pergi ke Rumah Sakit dan menghampiri Galang.
"Ya Allah Galang..." teriak Ibu Lina yang melihat Galang penuh dengan darah langsung lemas.
"Mah, mamah," kata Pak Fahri yang membantu Ibu Lina.
"Maafin Galang pah," kata Galang lalu membantu mamahnya untuk duduk dikursi tunggu.
"Kenapa bisa seperti ini Galang?" bentak Pak Fahri.
"Tadi kak Muti telpon Galang katanya Kak Ocha sama Kak Muti di kejar preman akhirnya Galang dateng buat bantuin, tapi preman itu dorong aku dan Kak Ocha tolongin aku. Sekarang kak Ocha ada di dalam mah, pah," kata Galang yang tidak berhenti menangis.
"Kamu kenapa gak kabarin kami Galang?" kata mamahnya yang kini terus menangis. "Mutiara gimana sekarang?" sambung mamahnya.
"Kak Muti masih di tangani Dokter mah," kata Galang.
Pak Fahri dan Ibu Lina sungguh tidak tenang karena mereka tidak bisa berkata lagi.
Kini kondisi Ocha semakin melemah dan kehilangan banyak darah, Dokter berusaha untuk menyelamatkan Ocha sebisa mungkin.
Sedangkan Dokter Arvan menyelamatkan Mutiara yang kini juga sedang terluka. Dokter Arvan berusaha menyelamatkan Mutiara, ada rasa sesak dalam hatinya jika Mutiara sampai tidak selamat.
Ibu Lina dan Pak Fahri pun menunggu Mutiara sedangkan Ocha di tunggu oleh Galang.
Selang beberapa jam, Dokter yang menangani Ocha pun keluar dan memberitahukan keadaan Ocha.
__ADS_1
"Dokter, kakak saya bagaimana? Dia baik-baik aja kan?" tanya Galang.
"Tenang dulu ya, kami akan berusaha untuk menyelamatkan pasien. Sekarang pasien sangat membutuhkan donor darah," kata Dokter.
"Ambil darah saya aja Dok, golongan darah saya sama kakak saya sama," kata Galang.
"Ya sudah kamu ikut Suster untuk diambil darahnya ya," kata Dokter.
Galang pun mengikuti Suster untuk diambil darahnya karena saat ini Ocha sangat membutuhkan donor darah.
Dokter Arvan pun keluar dari ruangan dan memberitahukan keadaan Mutiara kepada Ibu Lina dan Pak Fahri.
Keadaan Mutiara saat ini sudah membaik dan tidak ada yang perlu di khawatirkan, karena Dokter Arvan sudah menangani Mutiara.
"Terima kasih Dokter, bisa kami masuk untuk melihat kondisi Mutiara?" tanya Ibu Lina.
"Boleh bu silahkan," kata Dokter Arvan.
"Ada apa sama mereka? Kenapa bisa seperti ini, apa yang aku lihat dulu sekarang aku lihat kembali. Meisya, dia juga kecelakaan dan Ocha, Ocha sekarang kecelakaan juga. Ocha harus selamat! Bagaimana pun caranya, Ocha harus selamat. Aku tau aku gak mungkin bisa untuk memiliki Ocha tapi seenggaknya, Dika kekasihnya jangan sampai merasa kehilangan seperti aku," batin Arvan.
Dokter Arvan pun segera membantu untuk menangani Ocha, melihat Ocha seperti ini Arvan menjadi syok karena teringat kepada Meisya dulu karena dia tidak bisa menyelamatkan Meisya.
Setelah selesai mendonorkan darah untuk Ocha, Galang segera menelepon Dika dan memberitahukan kabar tentang Ocha dan menyuruh Dika segera datang ke Rumah Sakit.
Deg!
Lagi-lagi Dika harus dihadapkan dalam situasi seperti ini, lagi-lagi kekasihnya sekaligus calon istrinya yang menjadi korban.
"Aaaarrgggg....." teriak Dika didalam mobil sambil memukul-mukul setir mobil dengan keras.
Tidak bisa berfikir saat ini, yang ada difikiran Dika hanya Ocha dan Ocha.
Sesampainya di Rumah Sakit, Dika langsung ke UGD karena Galang telah memberitahu bahwa Ocha ada di UGD.
"Haaaaa..." Dika kaget melihat Galang yang penuh dengan darah, seketika tubuhnya lemas.
"Kak Dika," kata Galang yang langsung membantu Dika.
"Apa? Apa ini darahnya Ocha?" tanya Dika.
"I... ia kak, ini darahnya kak Ocha," kata Galang lalu menangis.
Dika mengusap wajahnya kasar, dia menjambak rambutnya sendiri dan berteriak keras karena kesal kepada dirinya sendiri dan juga orang yang sudah membuat Ocha seperti ini.
"Kak Dika tenang kak, kakak jangan kayak gini kak," kata Galang.
Lalu tiba-tiba orang yang tidak sengaja menabrak Ocha pun datang dan meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat dan atas keteledorannya.
Dika yang mendengar ucapan pria itu pun langsung meninju wajah orang itu dengan keras sampai dia tersungkur ke lantai.
Buuuukkk!
Dika sangat emosi dengan keadaan ini terutama kepada orang yang sudah menabrak ocha. Galang pun menghentikan aksi Dika yang terus memukul pria tersebut.
__ADS_1
Tak lama, Ibu Lina dan Pak Fahri menghampiri Galang dan Dika karena mereka mendengar keributan.
"Dika," kata Ibu Lina yang kini berlinang air mata.
"Tante," kata Dika yang langsung memeluk mamahnya Ocha. "Tante Ocha pasti akan baik-baik aja kan tante?" sambung Dika.
"Ocha pasti baik-baik aja Dika, kamu harus sabar ya!" kata Ibu Lina sambil menepuk-nepuk punggungnya Dika.
Dokter yang menangani Ocha pun keluar dan Dokter Arvan juga ikut keluar.
"Bagaimana keadaan Ocha Dokter?" tanya Pak Fahri.
Dika dan yang lainnya langsung menghampiri Dokter dan ingin tahu bagaimana keadaan Ocha.
"Tenang pak, bu, untung saja Ocha langsung dibawa kesini. Saat ini kondisinya masih lemah, tetapi Ocha baik-baik aja," kata Dokter.
"Terima kasih Dokter, kalo gitu kami mau melihat kondisinya Ocha bolehkan Dokter?" kata Ibu Lina.
"Boleh bu silahkan," kata Dokter.
Ibu Lina dan yang lainnya pun masuk, kecuali Dika. Karena Dika melihat Dokter Arvan.
"Kali ini aku berterima kasih sama kamu karena kamu sudah menyelamatkan Ocha," kata Dika.
"Ia sama-sama Dika. Kamu tidak perlu khawatir, Ocha selamat." Kata Dokter Arvan.
"Aww... kak Ocha, aku harus temui kak Ocha sekarang, kak Ocha dimana? Aku kan pingsan," kata Mutiara berusaha untuk bangun.
"Kamu harus tetap berbaring disitu," kata Dokter Arvan yang tiba-tiba masuk.
"Dokter Arvan, jadi Dokter yang udah tangani saya. Oh ia pasti Galang yang udah bawa aku kesini kan? Aku mau ketemu sama dia," kata Mutiara.
"Aku akan antar kamu menemui Galang," kata Dokter Arvan.
"Ah... Kak Ocha juga yang bawa aku kesini kan? Kak Ocha juga pasti lagi sama Galang," kata Mutiara.
Dokter Arvan pun langsung membantu Mutiara dan membawa Mutiara ke ruang UGD dimana Ocha berada.
"Loh kok malah kesini sih Dok? Galang sama Kak Ocha nya mana?" tanya Mutiara.
Lalu Dokter Arvan dan Mutiara pun masuk ke ruang UGD dan melihat Ocha yang terbaring tidak berdaya disana.
"Kak Ocha," kata Mutiara yang langsung menangis saat melihat kakaknya seperti itu dan Mutiara pun langsung menghampiri Ocha.
"Mutiara, kamu harusnya istirahat sayang," kata mamahnya.
"Mah, ini salah Tiara mah, Kak Ocha jadi kayak gini. Mutiara yang menyuruh Kak Ocha untuk terus lari. Kak Ocha kakak bangun kak, kakak dengar aku kan?" kata Mutiara.
"Sayang ini bukan salah kamu," kata mamahnya yang langsung memeluknya.
"Mah kak Ocha mah," kata Mutiara.
"Mutiara juga terluka, Tuhan aku gak sanggup melihat semua ini," batin Dika.
__ADS_1