
Setelah melihat keadaan Dekta, Dika pamit pulang karena ingin segera menangkap pelakunya. Melihat keadaan Dekta sekarang, Dika tidak terima karena dirinya Dekta menjadi seperti ini.
"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Elsa.
"Ia El, aku harus pulang dan aku juga harus menyelesaikan semua masalah ini!" kata Dika.
"Aku harap kamu juga tetap hati-hati, karena aku gak mau kekasih sahabat aku ikut terluka. Cukup suami aku aja yang terluka jangan ada korban lagi!" kata Elsa.
"Terima kasih Elsa, maafin aku gara-gara aku Dekta seperti ini," kata Dika.
"Aku udah maafin kamu," kata Elsa.
Setelah selesai menjenguk, akhirnya Dika pun pulang. Dalam perjalanan pulang, Dika mendapat telepon dari seseorang. Dika tidak mengangangkatnya karena nomor tersebut adalah nomor tidak di kenal.
Sesampainya Dika di rumah, Widia sudah ada bersama kedua orang tuanya Dika dan mereka sedang mengobrol bersama.
"Kok kamu ada disini sih?" tanya Dika lalu menghampiri kedua orang tuanya.
"Dika, kamu datang kok marah-marah," kata Widia.
Orang tua Dika pun tidak bergeming dan tetap diam melihat keadaan ini, membuat Dika semakin frustasi. Sebenarnya apa yang telah dibicarakan oleh Widia kepada orang tuanya.
"Kamu gak mau apa ucapin selamat gitu atas kebebasan aku?" kata Widia.
"Kamu itu apaan sih Wid? Sekarang juga kamu pergi dari sini!" usir Dika kepada Widia.
"Kamu gak mau dengerin aku bicara? Dan kamu juga gak mau dengerin apa yang udah aku bicarakan dengan orang tua kamu? Ya udah kalo gak mau, aku pulang," kata Widia melangkahkan kaki menuju keluar.
Dika pun hanya melihat langkah Widia pergi dan tidak mencegah kepergiannya. Sedangkan Dika menanyakan apa yang di bahas oleh Widia kepada orang tuanya.
"Widia bilang apa mah sama mamah dan papah?" tanya Dika.
"Papah minta kamu berpisah ya dengan Ocha!" kata papahnya.
Deegg!
Perasaan Dika seperti di cambuk dan mendapat beberapa sayatan luka di sekujur tubuhnya, seketika Dika lemas mendengar papahnya bilang seperti itu. Amarah menguasai dirinya tetapi Dika tetap menahannya.
Tiba-tiba Ibu Uma menangis dan menghampiri Dika.
"Dika, kamu dengarkan mamah sama papah ya!" kata Ibu Uma.
"Dengar apa mah? Dengar bahwa Dika harus berpisan dengan Ocha lagi? Lagi mah?" tanya Dika.
__ADS_1
"Demi keselamatan kamu dan Ocha sayang," kata mamahnya.
"Maksud mamah apa?" tanya Dika.
"Sayang, dengerin mamah dulu! Tadi Widia datang kesini untuk mengancam kamu sama Ocha dan sebenarnya... sebenarnya yang sudah mencelakai Dekta itu orang suruhan papahnya Widia dan juga Widia," kata mamahnya menjelaskan.
Mendengar pernyataan mamahnya, Dika terasa ada yang menghantam tubuhnya dengan keras. Karena ternyata orang yang membuat Dekta celaka adalah Widia. Baru saja bebas dari penjara sudah bikin masalah yang baru.
Dika pun langsung menelpon Pak Minto untuk berhenti mencari siapa pelakunya, karena Dika sudah tahu siapa pelaku sebenarnya. Dika juga tidak mau terlalu merepotkan Pak Minto karena kasihan juga Pak Minto memiliki tanggung jawab yang lain.
"Sekarang lebih baik kamu pilih! Meninggalkan Ocha atau tetap bersama Ocha dan Ocha akan terluka?" kata mamahnya.
"Enggak mah, Dika gak mau," kata Dika.
"Kamu juga harus fikirkan keselamatan Ocha Ka," kata papahnya.
"Ya sudah kalo gitu, Dika mau susulin Ocha dan berada di sampingnya. Proyek Dika yang sedang Dika jalankan, Dika rela jika harus kehilangan semuanya. Tapi jika Dika harus kehilangan Ocha maaf banget pah Dika gak bisa," kata Dika menegaskan kepada papahnya.
Dika pun langsung masuk ke kamarnya dan berfikir sejernih mungkin harus melakukan apa sekarang. Dika harus bersama dengan Ocha tapi dia juga tidak ingin meninggalkan orang tuanya, Dika juga tidak ingin Ocha terluka.
Keadaan menjadi semakin rumit, dan Dika semakin tidak menyangka. Widia sejahat itu bahkan Pak Setyo pun ikut turun tangan.
Ocha yang sedang berbaring di tempat tidur di kagetkan dengan ponselnya yang berdering, dilihat layar ponselnya lalu Ocha pun mengangkat telponnya.
"Kamu kenapa?" tanya Ocha.
"Aku gak kenapa-kenapa," kata Dika.
"Oh ia bukannya kamu bilang, selama beberapa hari ke depan kita jangan berkomunikasi kan?" kata Ocha.
"Justru itu Cha, aku menelpon kamu karena aku mau bilang bahwa kita harus berhenti melanjutkan hubungan ini! Demi keselamatan kamu, dan aku gak mau kamu terluka," batin Dika.
"Ada apa Ka?" tanya Ocha penasaran.
Tidak seperti biasanya Dika seperti ini, Dika biasanya ceria, bahkan dia sering membuat Ocha bahagia. Tetapi kali ini benar-benar ada yang berbeda.
"Cha aku minta maaf sama kamu, mulai hari ini dan seterusnya kita harus sudahi hubungan kita!" kata Dika.
Ocha mendengar Dika meminta hubungannya putus langsung kaget, tiba-tiba Dika bicara seperti itu membuat Ocha bingung. Masalah apa lagi yang harus dia hadapi, berkali-kali sampai mengancam hubungannya seperti ini.
Ocha pun tidak sengaja menjatuhkan ponselnya di atas kasur dan tidak menghiraukan Dika. Hanya air mata yang terus mengalir dari mata indahnya Ocha.
"Hallo Ocha... Cha," panggil Dika kepada Ocha yang tidak ada jawaban dari Ocha padahal panggilannya masih terhubung.
__ADS_1
***
Setelah pembicaraan Ocha tadi malam dengan Dika, pagi ini Ocha tidak keluar dari kamarnya. Mamahnya pun menghampiri Ocha yang masih ada di dalam kamarnya.
Mamahnya Ocha melihat Ocha yang berdiri di depan jendela kamarnya, selain mamahnya melihat Ocha, mamahnya pun melihat cincin yang tergeletak di lantai membuat mamahnya bertanya-tanya.
"Ocha..." kata mamahnya.
Ocha hanya diam dan tidak menghiraukan panggilan mamahnya, membuat mamahnya panik.
Dengan cepat, Dika melajukan mobilnya ke rumah Widia, dengan membawa kekesalan yang teramat dalam.
Sesampainya di rumah Widia, Dika pun menggedor pintu rumahnya Widia dengan keras agar penghuni rumah keluar semua.
Dor... dor... dor.
Dibukalah pintu rumah oleh Widia dan melihat Dika datang, Widia melihat Dika sinis dengan senyum bencinya.
"Kamu itu keterlaluan Widia, kamu punya masalah apa? Kira aku kamu udah berubah tapi ternyata kamu malah semakin jahat," bentak Dika.
"Kamu itu kenapa? Tenang dong Ka," kata Widia dengan santai.
"Tenang kamu bilang? Kamu... kamu sudah mencelakai Dekta Widia," bentak Dika
"Celakai apa sih? Bukan aku... tapi," Widia pun menghentikan kata-katanya.
"Tapi saya yang sudah mencelakai teman kamu itu. Sebenarnya saya tidak berniat mencelakai dia, tapi anak buah saya salah sasaran," kata Pak Setyo yang tiba-tiba datang dari dalam rumah.
Dengan bodohnya keluarga Pak Setyo membuka kejahatannya sendiri tanpa curiga sedikitpun kepada Dika. Padahal Dika tidak sebodoh yang mereka fikirkan.
Permainan dimulai, kini Dika harus mengikuti alur yang telah dibuat oleh Pak Setyo dan juga Widia dan mengikuti semua rencana jahatnya demi membongkar kejahatannya.
"Mau kalian apa? Kalian seharusnya bertanggung jawab atas apa yang kalian lakukan!" kata Dika.
"Kamu tenang dulu, oh ia saya sudah mengirimkan anak buah saya untuk datang ke tempat kekasih kamu," kata Pak Setyo puas.
Benar sekali, Bos besar yang misterius itu adalah Pak Setyo. Papahnya Widia dan juga yang telah membebaskan Widia dari penjara. Sedangkan mamahnya Widia telah pergi meninggalkan Pak Setyo saat Widia di dalam penjara karena tidak tahan dengan sikap Pak Setyo.
"Jangan pernah bapak sentuh Ocha, apalagi sakitin dia!" kata Dika marah kepada Pak Setyo.
"Owww... asalkan kamu mau kembali sama aku! Aku masih menaruh harapan sama kamu Dika," kata Widia.
"Kalian udah gila!" kata Dika dan berlalu karena hendak pergi menemui Ocha.
__ADS_1
"Kalian udah masuk dalam jebakan aku Widia, Pak Setyo. Tunggu permainan dimulai dan sekarang aku akan selamatkan Ocha, baru aku bongkar semua kejahatan kalian!" batin Dika.