Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 44 Gagal Lagi


__ADS_3

"Ocha..." kata Ibu Lina yang membuka pintu untuk Ocha sesampainya di rumah.


Ocha pun masuk ke dalam dan langsung duduk di sofa.


Ibu Lina membawakan air minum untuk Ocha yang baru saja pulang dari Jakarta dan menyiapkan air hangat untuk Ocha bersih-bersih.


Tak lama, Ocha pun langsung membersihkan diri. Setelah selesai bersih-bersih, Ocha langsung beristirahat di kamarnya karena hari mulai gelap.


"Kak Ocha..." kata Galang yang berdiri di depan pintu kamar Ocha yang terbuka.


"Galang, kamu bawa apaan itu?" tanya Ocha.


"Ini lihat deh, aku beli kue kesukaan kakak Napoleons Mille-feuille Pastry tadi di toko sebelah, tadi aku beli dua buat kakak semua. Kakak kan udah lama gak makan kue ini, ayo kak di makan dan jangan lupa dihabiskan," kata Galang sambil memberikan kue nya dan duduk di samping Ocha.


"Kamu baik banget beliin kakak kue, oh ia papah masih di Resto?" tanya Ocha.


"Ia sama Mutiara, ayo kak dimakan kue nya nanti aku beliin lagi buat kakak," kata Galang lalu tiduran di kasurnya Ocha sambil mainan Hp.


Ocha pun memakan kue yang dibelikan oleh Galang dan menghabiskan kue nya, sedangkan Galang hanya senyum melihat Ocha yang lahap memakan kue nya.


Setelah habis memakan kuenya, Galang pun turun dan mengambilkan air minum untuk Ocha.


"Ini kak diminum dulu," kata Galang.


"Terima Kasih adikku sayang," kata Ocha lalu meminum air yang dibawakan oleh Galang.


"Antar kakak ke Resto yuk!" kata Ocha sambil mengambil tasnya dan turun ke bawah.


Galang yang baru duduk dan melihat kakaknya pun menggelengkan kepalanya lalu langsung menyusul ke bawah.


"Mau kemana?" tanya Ibu Lina.


"Ke Resto mah," kata Galang yang menyusul Ocha ke dalam mobil.


"Cepetan dong Galang!" kata Ocha sambil memainkan ponselnya di dalam mobil.


"Ia bawel!" kata Galang lalu masuk ke mobil dan berangkat ke Resto.


Drrtt... Drrrt... Drrttt.

__ADS_1


Ponsel Ocha bergetar ada panggilan masuk dari Dika membuat Ocha memikirkan masalahnya kembali.


Ocha pun tidak mengangkat panggilan telepon itu dan langsung merejectnya dan nomor Dika pun langsung Ocha blokir.


"Kenapa gak di angkat? Angkat aja kak!" kata Galang.


"Gak penting, nomor gak dikenal," Kata Ocha.


"Masa sih, oh ia kak, kak Dika udah siuman?" tanya Galang.


"Udah makanya kakak pulang," kata Ocha.


"Hmm biasa aja dong kak jangan jutek gitu, Galang juga tau masalah kakak sama kak Dika jadi aku sebagai adikmu yang tercinta, gak akan mungkin bisa lihat kakak nya sedih. Jadi mulai sekarang bahagialah jalani harimu seperti biasanya oke!" kata Galang.


"Ia bawel!" kata Ocha membalikan omongannya Galang.


"Huuu Gak inisiatif banget!" kata Galang.


"Biarin!" kata Ocha.


Mereka pun sampai di Resto dan melihat sangat ramai disana, mereka berdua pun membantu untuk melayani pelanggan.


Teriak Dika dari dalam ruang rawatnya yang tahu bahwa nomornya telah di blokir oleh Ocha membuat hatinya hancur lagi, lagi dan lagi. Bagaimana dia akan menjalani harinya setelah tahu bahwa calon istrinya telah benar-benar meninggalkannya.


Heln pun masuk ke dalam ruangan rawat Dika karena mendengar teriakannya dari luar membuatnya ingin mengetahui apa yang terjadi kepada Dika.


"Ngapain kamu masuk kesini?" bentak Dika kepada Heln.


"Kamu marah?" kata Heln.


"Menurut kamu? Gara-gara kamu Ocha benar-benar marah dan putuskan hubungan ini Heln," kata Dika menahan amarah.


"Aku minta maaf, aku tahu aku salah dan aku sudah egois. Aku akan membantu agar Ocha kembali sama kamu!" kata Heln.


"Terlambat, nomor aku aja udah di blokir sama dia," kata Dika.


Heln pun merasa bersalah atas apa yang telah ia perbuat dan telah merusak hubungan orang lain yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.


"Sudahlah, dua hari lagi kamu harus terapi. Ini udah malam mending sekarang kamu ke ruangan kamu dan tinggalkan aku!" kata Dika.

__ADS_1


Heln pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Dika dan pergi dari ruangan Dika.


Ibu Uma menghampiri Heln yang baru saja keluar dari ruang rawat puteranya dan berdiri di hadapan Heln menghadang jalan Heln.


"Tante, tante kok..." kata Heln terputus.


"Puas kamu? Puas karena sudah merusak kebahagiaan anak saya dan Ocha? Wanita macam apa kamu yang tega membuat wanita lain tersakiti?" kata Ibu Uma.


"Tante, aku benar-benar minta maaf. Aku salah karena aku emosi tante dan maafin mamah juga karena telah berbuat jahat sama tante dan juga Ocha," kata Heln.


"Ocha udah pergi, dan itu semua gara-gara kamu!" Bentak Ibu Uma.


Tangis Heln pun pecah dan tidak terbendung lagi mendengar bentakan dari Ibu Uma yang membuatnya merasa bersalah.


Heln pun hanya diam dan tidak berkata lagi setelah apa yang di ucapkan oleh Ibu Uma, karena memang Heln telah bersalah dan egois dalam hal ini.


Dika yang mendengar keributan diluar pun keluar karena mendengar teriakan mamahnya dan membuatnya menghampiri mamahnya dan juga Heln.


"Mamah ada apa mah?" tanya Dika yang datang menghampiri mamahnya.


"Enggak ada, mamah cuma bilang sama dia bahwa dia yang udah buat semuanya seperti ini, Ocha pergi gara-gara dia," kata Ibu Uma.


"Aku benar-benar minta maaf tante, Dika..." kata Heln.


"Udah mah udah, jangan diperpanjang lagi ya, nanti kita bicarakan lagi. Ini udah malem mending mamah istirahat ayo mah!" ajak Dika masuk.


Ibu Uma pun menuruti ajakan Dika dan pergi beristirahat karena sudah larut.


Keesokan paginya, Dika membereskan semuanya dan berkemas karena hari ini Dika sudah diizinkan untuk pulang dan melakukan rawat jalan untuk pemulihan.


Dika dan orang tuanya pun pulang ke rumah dan beristirahat, sedangkan Heln dan mamahnya masih di rumah sakit karena Dokter meminta Heln untuk di rawat beberapa hari lagi karena menunggu hasil lab untuk ditindak lanjuti proses pengobatan Heln.


Sesampainya di rumah, Dika membaringkan tubuhnya di kasur yang sangat ia rindukan sambil melihat layar ponselnya.


Dika mencoba menghubungi Ibu Lina tetapi tidak ada jawaban, berharap akan ada jawaban tetapi teleponnya tidak di angkat. Akhirnya Dika pun menelpon Galang dan menanyakan kabar Ocha.


Galang pun mengangkat telepon dari Dika dan memberitahukan bahwa kabar kakaknya baik.


Mendengar kabar Ocha yang baik-baik saja, Dika merasa bahagia dan tenang walaupun tidak bisa berbicara dengan Ocha tetapi rasa penasarannya telah terobati.

__ADS_1


Harapannya untuk bisa menikah dengan Ocha kini kandas lagi karena permasalahan yang dihadapi saat ini membuatnya terpisah kembali bersama Ocha. Padahal hanya beberapa langkah lagi mereka akan menuju ke pelaminan.


__ADS_2