
"Ocha... " kata Dika yang melihat Ocha datang dan langsung berdiri.
Ocha dan Dika kini telah duduk bersama di kursi ruang tamu, tetapi Ocha tidak memulai pembicaraan melainkan hanya diam tanpa kata.
Kini Dika panik dibuatnya karena Dika sendiri pun tidak siap untuk bertemu Ocha saat ini kalau bukan karena orang tuanya yang pertama datang menemui Ocha.
Bukannya tidak gentle, tetapi Dika sedang mempersiapkan hatinya jika Ocha masih marah dan tidak mau memaafkannya.
"Cha, aku minta maaf," kata Dika.
"Terus..." kata Ocha.
"Terus aku mendapatkan maaf kamu dan kita baikan," kata Dika melanjutkan kata-kata nya.
"Terus..." kata Ocha.
Hanya 'terus' yang keluar dari mulut Ocha membuat Dika bingung harus bicara apa lagi kepada Ocha, bagaimana jika Ocha tidak memaafkannya.
Ocha pun diam kembali dan tidak bicara selain kata 'terus' yang terucap dari bibirnya. Pandangan Ocha juga terus melihat ke depan tanpa menatap Dika.
"Eh... ada Dika, kapan datang?" tanya Ibu Lina yang datang dari arah luar dan membawa belanjaan.
"Baru aja tante," jawab Dika.
"Ya ampun gak disiapin minum, sebentar ya tante ambilin dulu minum ya," kata Ibu Lina yang berjalan menuju dapur.
Dika dan Ocha kini hanya diam dan tidak ada yang bicara lagi. Keberanian Dika kini benar-benar di uji oleh Ocha.
Dika sedang memikirkan hal yang membuat Ocha tidak marah lagi kepadanya, tetap diam adalah pilihan terbaik menurut Dika asalkan tetap berada di samping Ocha.
"Ocha, kamu benaran gak akan maafin aku?" tanya Dika.
"Aku gak bilang itu, kamu terusin aja bicaranya sampai kenyang!" kata Ocha datar.
"Ini Ocha benar-benar ya, emangnya makan bikin kenyang. Ini kan minta maaf Cha," batin Dika.
Ibu Lina pun datang membawa minuman lalu duduk di hadapan Ocha dan Dika. Ibu Lina memperhatikan tingkah mereka berdua dan hanya menggelengkan kepalanya karena melihat mereka.
"Ocha, Dika, kalian lagi ngapain? Kok pada diam," kata Ibu Lina.
"Tante, bujukkin Ocha supaya Ocha gak marah lagi sama Dika tante," kata Dika memohon kepada Ibu Lina.
"Gak usah mah, aku gak bakalan maafin dia," kata Ocha kepada mamahnya.
"Tante aku janji kalo Ocha maafin aku, aku akan turuti semua keinginannya Ocha. Janji tante, tolong bilangin ya tante sama Ocha," kata Dika.
"Mah bilangin sama Dika aku gak perlu rayuan gombalnya dia! Mamah suruh aja Dika pulang," kata Ocha.
Ibu Lina bingung dibuatnya yang dijadikan perantara oleh Dika dan Ocha. Ibu Lina pun hanya diam melihat tingkah mereka berdua.
Tak lama Galang pun datang lalu melihat kakaknya dan Dika yang saling diam. Galang pun mengacak rambutnya karena melihat tingkah kakak dan calon kakak iparnya itu.
__ADS_1
Galang pun berlalu ke kamar mandi menyimpan peralatan untuk mencuci mobil.
"Sudah... sudah kalian ini, bicaralah sendiri-sendiri mamah pusing," kata Ibu Lina lalu pergi dari hadapan mereka berdua.
"Cha ayolah Cha kamu maafin aku ya," kata Dika.
"Kalo aku gak mau maafin gimana?" tanya Ocha.
"Apapun, apapun akan aku turuti semua keinginan kamu asalkan kamu maafin aku! Aku juga janji gak akan marah sama kamu apapun yang kamu lakukan," kata Dika.
"Oke aku maafin kamu, nanti jam 15:00 sore antar aku ke Cafe untuk menemui Dokter Arvan," kata Ocha lalu pergi dan masuk ke kamar.
Dika tercengang dibuatnya, dimaafkan tapi nanti sore Ocha akan bertemu dengan Dokter Arvan, perjanjian macam apa ini. tetapi Dika sudah berjanji tidak akan marah apapun yang Ocha lakukan.
Dika frustasi dibuatnya, benar-benar diluar dugaan. Kini Dika pamit pulang kepada Ibu Lina dan akan datang jam 15:00 sore untuk mengantar Ocha.
Kini Ocha sedang tertawa sendiri didalam kamarnya saat melihat reaksi Dika dimintai mengantarnya menemui Arvan. Lemas, kesal, semuanya ada di wajah Dika.
"Maaf ya Dika, aku juga sebenarnya tidak ingin menemui Dokter Arvan tapi ada hal penting yang ingin dia bicarakan. Dan aku harus menghargainya karena Arvan juga tidak akan membahas perasaannya lagi sama aku, maka aku akan temui dia." Batin Ocha.
Bruukk.
Dika membaringkan diri di sofa sesampainya di Apartementnya. Terlihat sedih dan kecewa dari raut wajahnya Dika sepulang dari rumah Ocha. Tetapi ada sedikit senyum bahagia yang terlihat dari bibirnya Dika. Pak Tio yang melihat Dika pun menghampiri puteranya itu.
"Lagi bahagia atau sedih nih anak papah?" tanya Pak Tio.
"Papah," kata Dika yang langsung duduk.
"Ada apa?" tanya papahnya.
"Sedihnya?" tanya papahnya.
"Sedihnya karena hari ini Ocha akan bertemu dengan Dokter Arvan dan parahnya lagi pah aku gak bisa marah sama dia. Karena udah janji gak akan marah," kata Dika.
"Bahagianya?" tanya papahnya lagi.
"Bahagia karena Ocha udah maafin Dika dan cemburunya karena Ocha akan bertemu Arvan," kata Dika kesal.
Pak Tio hanya tertawa mendengar cerita Dika. Setianya benar-benar tidak ada duanya.
Dika pun hari ini tidak marah karena Ocha akan bertemu dengan Arvan bahkan Dika sendiri yang akan mengantarkan Ocha menemui Arvan.
Tadinya akan pergi bersama Galang, tetapi Ocha sengaja mengajak Dika untuk bertemu Arvan.
Sebelum berangkat ke rumah Ocha untuk mengantarnya, Dika makan terlebih dahulu. Fikirnya karena agar tidak pesan makanan saat di cafe nanti.
Selesai makan, Dika langsung pergi ke rumah Ocha padahal waktu masih menunjukkan pukul 14:15 WIB. Dika melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dari Apartement Dika menuju rumah Ocha hanya memakan waktu 10 menit karena waktu Dika mengambil Apartement sengaja memilih yang dekat dengan rumah Ocha. Jadi bisa berjalan kaki ataupun naik mobil.
Sekarang Dika telah sampai di rumah Ocha dan menunggu Ocha keluar, tetapi yang keluar adalah papahnya Ocha.
__ADS_1
"Eh Dika, ayo masuk. Nyari Ocha ya?" tanya Pak Fahri
"Ia om, apa kabar om?" kata Dika lalu bersalaman.
"Baik. Ayo masuk Ka," suruh Pak Fahri.
Mereka berdua pun masuk bersama dan Dika disuruh menunggu sedangkan Pak Fahri akan memanggilkan Ocha.
Ocha pun segera keluar dari kamar atas menuju dapur dan mengambilkan minum untuk Dika.
Dika pun hanya diam dan menundukkan kepala saat Ocha datang. Ocha pun menyuguhkan minuman itu kepada Dika, dan hanya di respon oleh anggukan. Sedangkan Ocha hanya acuh melihat tingkah Dika dan hanya senyum sedikit.
"Ocha cantik banget hari ini, tapi setiap hari juga cantik. Tapi kan gak wajib tampil cantik juga di hadapan Arvan," batin Dika saat melihat Ocha sekilas lalu menundukkan kepalanya lagi.
"Diminum dong!" perintah Ocha.
"Ia," kata Dika lalu meminum minuman yang disuguhkan Ocha dan langsung dihabiskan.
"Haus?" kata Ocha.
"Tadi kan disuruh minum sama kamu, ya udah aku habiskan," kata Dika yang masih menunduk.
"Ya udah yuk berangkat sekarang supaya gak telat," kata Ocha.
Dika pun menurut lalu langsung keluar dan masuk ke mobil, disusul Ocha. Setelah di mobil, Ocha memasang sabuk pengaman.
Dika pun melajukan mobilnya menuju Cafe yang ditunjukkan oleh Ocha. Dika pun hanya diam dan tidak banyak bicara. Ocha juga hanya diam dan tidak ada yang memulai pembicaraan.
"Kayaknya bahagia banget mau ketemu Arvan, Ocha kamu tuh gak ngerti banget perasaan aku," batin Dika.
Di Cafe, Arvan sudah menunggu kedatangan Ocha dan selalu melihat jam tangan yang dipakainya.
Waktu menunjukkan pukul 15:15 WIB Ocha dan Dika sudah sampai di Cafe dan langsung mencari Arvan.
Arvan pun melambaikan tangannya setelah melihat Ocha dan Dika datang, mereka berdua pun langsung menghampiri Arvan.
"Udah lama nunggu?" tanya Ocha yang langsung duduk.
"Enggak baru 15 menit," kata Arvan.
"Gak mau duduk?" tanya Ocha kepada Dika.
"Mau kok, mau..." kata Dika yang langsung duduk.
Mereka pun memesan makanan kecuali Dika karena tadi sudah makan di runah sebelum berangkat.
Tetapi dari tadi Ocha tidak melihat Dika memesan makanan, akhirnya Ocha yang memesankan makanan untuk Dika dan menu-nya disamakan dengan Ocha.
Dika pun tercengang saat Ocha memesankan makanan untuknya.
"Cha gak usah!" kata Dika saat melihat makanan yang sudah tersedia untuknya.
__ADS_1
"Makan aja sih masa mau bengong," kata Ocha.
"Ocha, aku itu udah makan masih kenyang Cha. Tau gini aku gak akan makan dulu tadi," batin Dika.