
Malam harinya, Dika bersandar di kasurnya dan Ocha bersandar di tubuhnya Dika dan Dika memeluknya sambil mengelus kepalanya Ocha “Kamu kenapa gak bilang kalau kamu itu sekarang lagi hamil sayang?” tanya Dika.
“Aku minta maaf ya karena aku gak kasih tau kamu, aku cuma mau kamu peka aja dan ternyata kamu emang gak peka. Kamu tau dari Widia dan mamah kan. Padahal aku gak penah cerita sama Widia tapi dia tau perubahan aku,” kata Ocha.
“Ceritanya kamu udah baikan nih sama Widia?” tanya Dika.
Ocha pun mengiyakan karena percuma marahan dan itu tidak akan ada ujungnya apalagi ada aksi balas dendam, itu akan sangat merugikan dan Ocha tidak mau itu terjadi apalagi sekarang dia sedang hamil.
Dika pun mengajak Ocha pulang ke Yogyakarta untuk memberikan kabar bahagia ini kepada keluarganya disana.
Besok pagi, Dika dan Ocha akan pulang ke Yogyakarta dan urusan kantor akan Dika titipkan kepada Dekta untuk sementara waktu selama Dika masih ada di Yogyakarta. Ocha memberikan kabar kepada mamahnya bahwa besok dia akan pulang.
Mendengar hal itu, mamahnya sangat senang dan sangat menunggu kedatangan Ocha ke rumah.
Untuk menyambut kedatangan Ocha dan Dika, Mutiara yang akan membuatkan kue untuk kedatangan kakaknya dan kakak iparnya.
Keesokan harinya, Ocha sudah siap untuk pulang ke Yogyakarta bersama dengan Dika. Ocha berpamitan kepada mamah dan papah mertuanya dan tak lupa berterima kasih juga kepada mamahnya yang sudah bersedia bekerja sama untuk membuat kejutan untuk Dika atas kehamilannya.
Pak Tio juga sebenarnya ikut-ikutan merencanakan kejutan ini untuk Dika. Dan Dika tidak menyangka bahwa istri dan kedua orang tuanya sengaja sekongkol untuk merencanakan semuanya. Sebelum pergi ke Yogya, Pak Tio tidak lupa untuk memberikan kucing yang sudah dibelinya waktu itu untuk Ocha.
Ocha menerima kucing yang dibelikan papah mertuanya itu dan kucing itu pun dibawa oleh Ocha ke Yogya dan akan Ocha rawat dengan baik. Dika dan Ocha pun setelah berpamitan mereka langsung pergi.
Sebelum ke Yogya, Ocha ke rumah Elsa terlebih dahulu karena Ocha ingin bertemu dengan Elsa. Elsa sedih karena mereka akan berjauhan lagi dan tidak bisa bersama kembali. Tetapi Elsa akan menyempatkan diri untuk main ke Yogyakarta dikala Dekta mendapat cuti libur.
Setelah dari rumah Elsa, Dika dan Ocha pun segera pergi ke Yogyakarta.
“Mutiara ayo dong anterin mamah ke pasar, mamah harus masak untuk kakak kamu dan juga menantu mamah,” kata mamahnya yang sekarang sedang sibuk mondar mandir sambil mencari dompetnya yang lupa menyimpannya.
“Mamah ini gak bisa santai apa, coba tenang dulu lagi pula mereka juga sampainya pasti malam mamah,” kata Pak Fahri.
“Papah ini komentar aja, lebih baik ayo antar mamah ke pasar!” kata Ibu Lina.
“Mamah gak lihat apa papah kotor sama oli semua, udah sama Mutiara aja. Tuh dompet mamah ada di atas TV,” kata Pak Fahri yang langsung ke garasi karena sedang membenarkan mobilnya.
Ibu Lina pun mengajak Mutiara yang sedang membuat kue dan terpaksa Mutiara berhenti dulu membuat kue karena harus mengantar mamahnya ke pasar. Di pasar, Ibu Lina membeli bahan masakan semua kesukaan Ocha dan mamahnya akan memasak spesial untuk Ocha.
Setelah selesai berbelanja, Ibu Lina segera memasak makanan untuk Ocha dan Dika. Ibu Lina akan membuat hidangan spesial untuk mereka berdua.
__ADS_1
Di perjalanan menuju ke Yogyakarta, tiba-tiba mobil yang dikendarai oleh Dika dan Ocha mogok di jalan. Ternyata Dika lupa isi bensin tadi pagi dan sekarang Pom Bensin jaraknya lumayan jauh dari posisi yang sekarang Dika dan Ocha berada.
“Kenapa, lupa isi bensin?” tanya Ocha.
“Maaf sayang, tadi aku lupa isi bensin habisnya tadi buru-buru keburu hujan,” kata Dika.
“Sayang... sayang aja terus. Kamu tuh emang dasar ya emang ini naik motor bakalan ke hujanan? Kan hujan juga gak akan kehujanan,” kata Ocha.
Sekarang Dika dan Ocha berada di luar mobil dan memikirkan cara agar bisa beli bensin, sedangkan jalan disini tidak terlalu ramai untuk meminta tolong karena jarang ada pengendara.
Tiba-tiba ada pengendara mobil lain yang melihat mobil Dika mogok lalu ia pun berhenti dan keluar dari mobilnya dan langsung menghampiri Dika dan Ocha.
“Kak Dika,” sapa orang itu yang tak lain adalah Abyaz.
“Kamu...” kata Dika.
“Kok kalian disini kenapa? Ini mobilnya kenapa?” tanya Abyaz.
“Mogok habis bensin Yaz,” jawab Dika.
Ocha pun menunggu di dalam mobil sedangkan Dika berjaga diluar dan Dika mampir ke warung untuk membeli minuman dingin karena Dika ingin meminum minuman dingin.
“Sayang kamu mau?” kata Dika kepada Ocha.
"Enggak..." jawab Ocha.
Tak lama Abyaz pun datang dan dia keluar dari mobil membawa jerigen berisi bensin untuk mobil Dika. Lalu Abyaz membantu mengisikan bensin itu ke mobilnya Dika.
“Maaf banget ya kita merepotkan kamu, dan kamu harus balik lagi kesini bawain bensin. Berapa semuanya Yaz?” tanya Dika.
“Kakak ini, gak usah kak aku ikhlas kok,” kata Abyaz
“Aduh jadi malu, ya udah makasih banyak ya Abyaz, oh ya kamu mau kemana?” tanya Dika.
“Aku mau ke Yogya kak kebetulan ada pemotretan disana,” jawab Abyaz.
“Kebetulan banget ya, kita juga mau kesana,” kata Dika.
__ADS_1
Setelah lama mereka berbincang, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan mereka masing-masing dan soal mobil mogok sudah mereka selesaikan berkat bantuan Abyaz.
Di rumah, Ibu Lina menunggu kedatangan Ocha dan terus melihat ke arah jendela dan tidak sabar untuk bertemu dengan Ocha.
“Sabar kenapa mah, nanti juga anak kita datang,” kata Pak Fahri.
“Papah ini emang papah gak kangen apa sama anak kita?” tanya Ibu Lina.
“Ya kangen lah papah, apalagi sekarang kan Ocha jarang banget ada di rumah,” kata Pak Fahri.
Galang pun menghampiri mamah dan papahnya yang sedang menunggu kedatangan Ocha sambil memakan kue yang sudah dibuat oleh Mutiara. Dan sepertinya Galang yang akan paling kenyang memakan kue buatan kakaknya itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 akhirnya yang ditunggu-tunggu pun sampai. Ocha dan Dika disambut oleh kedua orang tuanya. Dika menyalami tangan mamah mertua dan papah mertuanya dengan penuh hormat disusul oleh Ocha.
“Mamah kangen banget sama kamu sayang,” kata mamahnya lalu memeluk putrinya yang baru datang itu.
“Ocha juga kangeen banget sama mamah,” kata Ocha.
“Ya sudah kalian bersih-bersih dulu setelah itu makan ya,” kata pak fahri.
Setelah Ocha dan Dika membersihkan diri, mereka pun langsung turun dan mereka bedua makan bersama. Mamahnya sangat senang karena melihat Ocha yang sekarang sudah banyak perubahan.
Begitu pun pak Fahri yang melihat anaknya dan betapa bahagianya karena Dika selalu menyayangi putrinya itu dengan tulus dan tidak pernah mengecewakan Ocha.
“Kamu jangan ambil cumi punya aku dong, kamu ambil sendiri masih banyak itu,” kata Ocha.
“Aku maunya punya kamu, boleh ya pengen banget minta sama kamu,” kata Dika memelas.
“Ya udah makan aja nih punya aku,” kata Ocha memberikan semua cumi yang ada dipiringnya untuk Dika.
Dika pun memakannya dengan lahap dan entah kenapa Ocha tidak merasakan mual ataupun mengidam apapun dan melihat Dika saja sudah cukuk rasanya.
“Kamu lahap banget makannya, kayak orang ngidam tau gak pengen cumi yang ada di piring istri kamu,” kata mamah mertuanya blak-blakan.
Uhuk... uhuk... uhuk
Dika pun tersedak saat mendengar mamah mertuanya bilang sepeti itu, lalu mamah mertuanya dan Ocha membantu membawakan minum untuk Dika yang sedang tersedak itu. Diminumnya air yang sudah diambilkan oleh mamah mertuanya.
__ADS_1