
Masih didalam kamar, Ibu Lina mengambil cincin Ocha yang tergeletak di lantai dan berdiri di samping Ocha sambil melihat ke arahnya.
"Masalah apa lagi Cha?" tanya mamahnya.
"Gak ada mah," jawab Ocha singkat.
"Kenapa cincinnya di buang?" tanya mamahnya.
"Aku gak buang cincinnya," kata Ocha.
Mamahnya curiga, pasti ada sesuatu hal yang membuatnya seperti ini dan Ocha sembunyikan dari mamahnya.
Ibu Lina pun tidak mau mengganggu Ocha, Ibu Lina segera turun ke bawah untuk bersiap-siap pergi bersama Galang untuk membeli kebutuhan Galang kuliah.
Sedangkan Ocha, dia segera berangkat ke Resto dan pergi dengan terburu-buru. Sebelum ke Resto, Ocha berpamitan terlebih dahulu kepada Pak Fahri dan juga Mutiara yang masih ada di rumah. Setelah berpamitan, Ocha langsung pergi ke Resto dan hanya duduk saja di Resto.
"Untuk ketiga kalinya aku harus merasakan perpisahan lagi, dan mungkin ini akan menjadi perpisahan yang sebenarnya dengan Dika. Gak ada hujan gak ada angin tiba-tiba putuskan hubungan," batin Ocha.
Sedangkan telah ada orang yang sedang memperhatikan Ocha dari jauh yaitu orang suruhannya Pak Setyo.
Dika yang sudah sampai di rumah, langsung menemui kedua orang tuanya dan menitipkan rekaman suara yang telah ia rekam tadi di rumah Pak Setyo, sedangkan Dika berpamitan untuk pergi ke Yogyakarta untuk menemui Ocha.
Ibu Uma dan Pak Tio pun heran, ada apa dengan puteranya itu. Orang tuanya Dika pun mengizinkan Dika untuk pergi menemui Ocha dan mungkin untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang Dika hadapi.
Segera setelah mendapat izin, Dika langsung pergi ke Yogyakarta menggunakan mobilnya agar cepat sampai dan tidak harus menunggu lama.
Setelah berada di Resto sampai sore, Ocha mencari ponsel di dalam tasnya untuk menghubungi orang rumah bahwa dia akan pulang terlambat karena Resto sedang ramai, tetapi ternyata ponselnya Ocha tidak ada.
"Loh ini kan ponselnya Kak Ocha, kakak kok teledor banget sih," kata Mutiara yang melihat ponsel kakaknya tergeletak di kamarnya Ocha yang kebetulan pintu kamarnya terbuka.
Lalu Mutiara pun pergi menyusul Ocha ke Resto untuk mengantarkan ponselnya sekalian membantu di Resto. Kebetulan Mutiara tidak pergi bekerja karena meliburkan diri.
Sesampainya di Resto, Mutiara langsung membantu kakaknya dan para karyawan lain yang sedang kerepotan melayani pelanggan.
"Kamu kesini gak ngabarin dulu," kata Ocha.
"Gimana mau ngabarin, ini Hp kakak ketinggalan," kata Mutiara memberikan ponsel Ocha.
"Ia, kakak juga lupa gak bawa Hp tadi." Kata Ocha yang langsung membawa ponselnya.
Malam pun tiba, Ocha telah selesai dan yang lainnya juga. Setelah selesai, Resto pun tutup. Ocha dan Mutiara hendak pulang, Mutiara pulang bersama Ocha menaiki mobilnya Ocha.
Dua orang yang mengintai Ocha pun mengikuti Ocha diam-diam. Di perjalanan, dua orang tersebut menghadang jalannya Ocha dan juga Mutiara.
Ocha langsung mengerem mendadak karena mobil dua orang tersebut telah menghadang jalannya.
"Kak mereka siapa kak?" kata Mutiara panik.
"Kakak juga gak tau," kata Ocha yang sama-sama panik.
__ADS_1
Dua orang suruhan pun keluar dari mobilnya dan menggedor-gedor kaca mobilnya Ocha dengan sangat keras.
"Keluar, cepat! Atau kami hancurkan mobil ini," kata salah satu orang tersebut.
Mereka bernama Guno dan Ega. Mereka adalah orang suruhan Pak Setyo untuk mencelakai Ocha karena Widia ingin melihat Ocha celaka dan berpisah dengan Dika.
Guno dan Ega pun kesal karena Ocha dan Mutiara tidak keluar dari mobilnya.
Sedangkan Ocha mencoba untuk menelpon Polisi. Belum sempat menelpon Polisi, Guno dan Ega pun memecahkan kaca mobilnya Ocha dengan batu.
"Aaa..." teriak Ocha dan Mutiara bersamaan.
"Keluar kamu!" kata Guno sambil menjambak rambutnya Ocha.
"Aaaa... sakit," kata Ocha.
Dengan keberanian yang penuh, Ocha pun menyemprot Guno dengan semprotan berisi air cabe. Ocha selalu berjaga-jaga dan ternyata berhasil. Ramuan yang ia buat berhasil membuat kedua mata Guno perih.
Ocha dan Mutiara pun keluar dari mobil, mereka berdua pun lari bersama. Ocha berusaha menghubungi Polisi dan Polisi akan segera datang ke TKP.
Mutiara dan Ocha terus berlari untuk menghindari kejaran Guno dan juga Ega.
"Aduh kak, kita salah jalan. Sebenernya mereka siapa sih kak?" tanya Mutiara.
"Jangan-jangan mereka adalah orang yang sama yang mencelakai Dekta," batin Ocha.
"Kakak..." kata Mutiara menyadarkan Ocha dari lamunanya.
Ocha dan Mutiara pun bergandengan tangan dan lari bersama. Di belakang, Ega dan Guno terus mengejar Ocha.
"Mereka mau apa sih, rasanya sakit banget lagi ini kepala. Rambutku mereka jambak, awas aja kalo nanti mereka ke tangkep Polisi aku akan balas mereka," batin Ocha yang kini masih berlari bersama Mutiara.
"Aduh kakak cape Ra, berhenti aja ya!" kata Ocha yang menghentikan langkahnya.
"Kakak gimana sih masa dalam keadaan gini kita istirahat," bentak Mutiara karena ketakutan.
"Kakak cape Ra," kata Ocha yang sekarang jongkok.
Mutiara pun menelpon Galang dan memberitahukan keadaannya dan Ocha.
Galang langsung panik dan segera menyusul Mutiara dan Ocha ke TKP, sedangkan Galang tidak memberitahukan keadaan kakak-kakaknya yang sedang dikejar preman kepada orang tuanya.
"Kak kita lari lagi ya, sebentar lagi Galang dateng buat selamatkan kita. Polisi juga," kata Ocha yang membantu Ocha berdiri.
Akhirnya Ocha dan Mutiara kembali berlari dan menghindari Ega dan Guno.
"Kita harus cari mereka sampai dapat! Beraninya mereka kabur," kata Guno.
Ega dan Guno terus mengejar Ocha dan Mutiara. Tak berapa lama, Ega dan Guno menemukan Ocha dan Mutiara yang sedang berdiam diri di pinggir jalan raya.
__ADS_1
Ega dan Guno pun berlari dan menghampiri apa yang mereka kejar.
"Akhirnya kalian kena juga," kata Ega.
Ocha dan Mutiara pun semakin panik, mereka sama sekali tidak punya kemampuan untuk bela diri, hanya wanita biasa yang bukan jago karate.
Ega pun menarik tangan Ocha dengan kasar karena perintah Bos besar harus membuat Ocha celaka, sedangkan Mutiara mereka dorong sampai kepalanya terbentur ke aspal dan membuat Mutiara pingsan.
"Mutiaraaa..." teriak Ocha. "Tolong... tolong jangan sakiti aku! Aku mohon," kata Ocha sambil menangis karena takut.
Tak lama, Galang datang dan melawan Ega yang menarik tangan kakaknya. Dengan sigap, Galang membuat Ega babak belur.
Desiigghh.
Buukkk.
Tendangan Galang mendarat di dadanya Ega yang membuat Ega terpental. Sedangkan Guno dia menendang punggungnya Galang yang membuat Galang tersungkur.
Ocha hanya bisa menangis dan melihat perkelahian dua orang penjahat itu dan adiknya, di tambah Ocha yang sudah lemas dan tidak berdaya.
Guno pun memanfaatkan keadaan ini untuk membawa Ocha pergi dan menarik tangan Ocha kembali.
"Galang tolong..." teriak Ocha.
Galang tidak bisa membiarkan kakaknya dibawa pergi, Galang pun bangun kembali dan menolong Ocha. Galang membuat Guno dan Ega tidak bisa apa-apa lagi karena Galang menghajar mereka habis-habisan.
"Kak, kakak aman sekarang," kata Galang sambil memegang pundaknya Ocha.
Lalu Ocha dan Galang pun menghampiri Mutiara yang pingsan di pinggir jalan. Ocha menangis melihat keadaan Mutiara yang terluka karenanya.
Tidak berhenti sampai disini, ternyata Ega belum lumpuh sepenuhnya hingga akhirnya Ega berjalan ke arah Ocha dan Galang, tiba-tiba Ega mendorong Galang ke tengah jalan.
Ocha yang tersadar melihat Galang di dorong oleh Ega pun berteriak dan segera menolong Galang.
"Awas galang...." teriak Ocha kepada Galang yang langsung menarik tangan Galang.
Tetapi sangat disayangkan, kecelakaan di jalan raya tersebut pun terjadi.
Bruuukk.
Ocha yang menyelamatkan Galang, Ocha juga yang menjadi korban kecelakaan. Sedangkan Galang tersungkur ke pinggir jalan.
Galang pun langsung berlari ke arah Ocha yang bersimbah darah karena di tabrak oleh pengendara mobil.
"Kak Ocha.. kakak," tangis Galang pun pecah.
Galang tidak terima, akhirnya Galang menghampiri Ega lalu memukul Ega sampai tidak sadarkan diri. Galang pun menghampiri Ocha kembali.
"Kak, kakak harus bertahan ya, Kak Ocha jawab aku kak," teriak Galang.
__ADS_1
Polisi pun datang dan langsung menangkap Ega dan Guno, segera Polisi menelpon Ambulance untuk membawa korban ke Rumah Sakit dan mengamankan pengendara mobil yang sudah menabrak Ocha.