Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 47 Ocha Sakit


__ADS_3

Hari ini, Ocha akan berangkat ke Resto dan seperti biasa sebelum berangkat ke Resto, Ocha belanja terlebih dahulu untuk stok. Memilih bahan yang berkualitas adalah hal yang harus diutamakan. Ocha pun memilih bahan makanan yang segar di pasar.


Hari ini sangat cerah, membuat semua orang bersemangat untuk beraktivitas terutama bagi orang yang mempunyai aktivitas di luar rumah.


Setelah selesai berbelanja, Ocha pun pergi ke Resto untuk mengantarkan stok belanjaannya.


"Sini kak biar aku yang rapihkan stoknya," kata Mutiara yang sudah berada di Resto.


"Mba, biar saya aja yang rapihkan ya," kata salah satu karyawan.


"Gak papa, aku bantuin kamu aja ya," kata Mutiara sambil ngambil stok dan merapikannya.


Drrttt... drrtt... drrttt.


Ponsel Ocha bergetar ada panggilan masuk dari salah satu pelanggan Resto. Ocha pun mengangkat telepon tersebut.


Ocha senang karena mendapat pesanan untuk acara pernikahan seseorang dan memesan catering di Resto miliknya. Dengan cepat, Ocha pun mengiyakan dan menerima pesanan tersebut.


Ocha pun mengumumkan kepada para karyawan untuk segera mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya.


Berhubung ada pesanan banyak, Ocha dan Mutiara pun pergi berbelanja lagi.


"Kak, kayaknya kita butuh tambahan saus nya deh soalnya tinggal sedikit, terus kita juga butuh bahan untuk puding kan!" kata Mutiara.


"Ia beli aja!" kata Ocha.


Sesampainya di pasar ,Mutiara dan Ocha pun belanja bersama.


Tiba-tiba wajahnya Ocha pucat dan lemas tetapi Ocha tidak memperdulikannya dan Ocha pun merasa bahwa dirinya terlalu kecapean sehingga Ocha pun tidak terlalu fokus pada apa yang dirasakannya.


Sampai siang hari, Mutiara dan Ocha berbelanja karena mencari bahan yang kurang.


Mutiara pun menyadari setelah melihat wajah pucat Ocha.


"Kak, kakak kok pucat, kakak sakit ya?" kata Mutiara.


"Enggak, kakak gak papa kok!" kata Ocha.


"Kakak tuh sakit," kata Mutiara lalu menyimpan belanjaannya di bawah dan memegang dahinya Ocha.


Mutiara pun merasakan panas di tangannya setelah memegang dahinya Ocha. Merasa panik akhirnya Mutiara pun memapah Ocha menuju ke mobil.


Bruuukk.


Belum sampai ke mobil, tiba-tiba Ocha pingsan membuat Mutiara semakin panik. Mutiara pun berteriak meminta tolong.


"Tolong... kak kakak," kata Mutiara panik sambil meletakan kepala Ocha di pangkuannya Mutiara.


"Kak.. tolong dong siapapun!" kata Mutiara dan terus menangis.


Mendengar teriakan minta tolong, seorang laki-laki datang lalu meminta izin kepada Mutiara untuk menolong Ocha yang pingsan.


Mutiara pun mengiayakan. Laki-laki itu pun langsung membawa Ocha ke mobilnya Mutiara yang di parkirkan di parkiran.

__ADS_1


"Udah kamu jagain dia aja, biar aku yang nyetir ya, kebetulan aku Dokter," kata laki-laki itu berniat menolong Ocha.


Mutiara pun menurut dan duduk di jok belakang sambil menyandarkan kepalanya Ocha di bahunya.


Namanya adalah Arvan. Dokter Umum yang telah resmi menjadi seorang Dokter yang kini di tugaskan di Rumah Sakit Umum.


Arvan pun menyetir mobil dengan cepat dan membawa Ocha ke rumah sakit.


Di perjalanan, Mutiara menghubungi mamahnya untuk menyusul ke Rumah sakit.


Ibu Lina, Pak Fahri dan Galang pun menuju Rumah Sakit setelah mendapat kabar dari Mutiara. Sesampainya di Rumah Sakit, Mutiara menunggu Ocha yang di periksa oleh Dokter.


Arvan yang membawa Ocha ke Rumah Sakit langsung membawanya ke ruang UGD dan memeriksa keadaan Ocha. Beberapa saat di periksa, Dokter Arvan pun keluar dan memberikan informasi tentang Ocha.


Sebelum keluar dari ruang UGD, Dokter Arvan memperhatikan wajah Ocha lama dan Dokter Arvan teringat sesuatu tentang dirinya yang dulu.


Dokter arvan pun keluar dan memberitahukan keadaan Ocha.


Orang tua Ocha pun sampai di Rumah Sakit dan langsung menanyakan keadaan Ocha kepada Mutiara yang kebetulan sedang berbicara dengan Dokter.


"Dokter bagaimana keadaan Ocha?" tanya Ibu Lina dengan panik.


"Apa akhir-akhir ini pasien sering kelelahan dan mungkin banyak fikiran?" tanya Dokter Arvan.


"Sebenarnya ia Dokter, tapi apakah keadaannya baik-baik aja?" tanya Ibu Lina.


"Pasien terkena anemia dan maag. saya meminta agar ibu dan bapak memperhatikan pasien lebih intens karena jika tidak, maag nya bisa kronis dan itu akan berbahaya.


Ibu Lina pun menangis mendengar apa yang dikatakan oleh Dokter.


"Terima kasih Dokter," kata Pak Fahri.


Keluarga Ocha pun masuk ke dalam dan melihat keadaan Ocha.


"Ocha sayang maafin mamah, mamah gak perhatikan kamu," kata Ibu Lina sambil mengelus kepala Ocha.


Pak Fahri pun mengelus kepalanya Ocha, lalu Pak Fahri menyuruh Galang untuk menghubungi Dika tentang kabar Ocha.


Galang pun keluar ruangan dan menelpon Dika, diangkatnya telepon oleh Dika dan Galang pun memberitahukan keadaan Ocha yang kini sedang di rawat di Rumah Sakit.


Dika mendengar kabar Ocha di rawat langsung kaget lalu Dika memberitahukan keadaan Ocha kepada orang tuanya. Orang tuanya Dika pun khawatir dan menyuruh Dika untuk pergi menjenguk Ocha.


Dengan cepat, Dika pun bersiap-siap untuk pergi ke Yogyakarta dan orang tuanya Dika pun akan menyusul.


Dika berpamitan lalu berangkat ke Yogyakarta.


Dokter Arvan duduk di ruangannya dengan lamunannya, melamunkan kekasihnya yang telah meninggal karena kecelakaan. Melihat Ocha, Dokter arvan pun menjadi teringat kepada almarhumah kekasihnya.


Lalu Dokter Arvan pergi untuk melihat keadaan Ocha, tetapi Dokter Arvan hanya melihat Ocha diluar dan melihat Ocha dari jendela.


"Seandainya saja kamu masih hidup. Mungkin aku sudah bersama kamu, kenapa aku gak bisa melupakan kamu dan melihat gadis itu aku jadi teringat kamu. Kamu pernah bilang sama aku bahwa aku harus melupakan kamu dan mencari pengganti kamu, Tuhan apa ini? Kau kirimkan aku gadis ini untuk menggantikan meisya? Kenapa setelah melihat Ocha hatiku merasa tenang," batin Dokter Arvan.


Setelah melihat Ocha dari jauh, Dokter Arvan pun langsung pergi dan kembali ke ruangannya.

__ADS_1


Di perjalanan, Dika menanyakan kembali keadaan Ocha kepada Galang, dan Galang pun memberitahukan bahwa Ocha masih belum sadarkan diri.


Dika pun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar segera sampai di Rumah Sakit tempat Ocha di rawat.


"Aku akan dateng buat kamu Cha, aku minta maaf mungkin kamu sakit gara-gara aku, aku minta maaf," batin Dika.


Dokter Arvan pun masuk ke kamar rawat Ocha dan memeriksa keadaan Ocha.


"Gimana Dokter, Ocha baik-baik aja kan?" Tanya Ibu Lina.


"Keadaannya sudah membaik, tidak ada yang perlu di khawatirkan," kata Dokter Arvan.


Tak lama kemudian, Ocha pun tersadar dan melihat ada Dokter juga keluarganya.


"Ocha anak mamah, kamu udah siuman sayang," kata mamahnya sambil memegang tangannya Ocha.


"Mamah, maafin Ocha yah." Kata Ocha.


"Enggak sayang, justru mamah yang harus minta maaf sama kamu karena mamah tidak memperhatikan kamu," kata Ibu Lina.


Dokter Avan pun keluar lalu disusul oleh Mutiara karena Mutiara ingin berbicara dengan Dokter Arvan.


"Dokter tunggu!" kata Mutiara.


"Ya!" kata Dokter Arvan.


"Terima kasih ya Dokter, tadi Dokter sudah bantu kakak saya dan mengobati kakak saya," kata Mutiara.


"Ia sama-sama itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang Dokter!" kata Dokter Arvan seraya senyum kepada Mutiara.


Malam harinya, keluarga Ocha masih menunggu Ocha di ruang rawat. Sedangkan Galang pergi keluar untuk membeli mie ayam untuk Mutiara dan mamah papahnya.


Dika pun sampai di Rumah Sakit dan langsung menanyakan ruang rawat Ocha kepada suster. Setelah tahu ruang rawat Ocha, Dika pun berlari lalu langsung masuk ke ruang rawat Ocha.


Semuanya pun kaget dengan kedatangan Dika yang masuk secara tiba-tiba tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Dika pun tersenyum malu setelah melihat kedua orang tuanya Ocha, Dika pun masuk perlahan lalu bersalaman dengan orang tua Ocha.


"Maaf om, tante, Dika bikin kaget semuanya," kata Dika.


"Gak papa, kamu dateng kok gak ngabarin, tadi Galang telepon kamu ya?" tanya Ibu Lina


"Ia tante," kata Dika.


Ocha pun pura-pura memejamkan matanya setelah tahu Dika datang. Ocha sengaja berpura-pura karena Ocha tidak ingin berbicara dulu dengan Dika.


"Tante keadaan Ocha bagaimana?" tanya Dika.


"Seperti yang kamu lihat, Ocha baik-baik aja, tante sengaja menyuruh Galang kabarin kamu soalnya tante kefikiran kamu dan tante juga pengen kabarin kamu bahwa Ocha sakit," kata Ibu Lina.


"Ia tante terima kasih karena udah kasih tahu Dika soal Ocha," kata Dika.


"Mamah nih selalu buat keputusan tanpa aku tahu, mamah malah sengaja kasih tahu Dika soal aku, Dika kan udah sama Heln mah," batin ocha yang mendengar semua ucapan mamahnya.

__ADS_1


Dika pun menghampiri Ocha dan duduk di kursi sebelah ranjang Ocha sambil melihat kondisi Ocha dan wajah Ocha, ternyata Dika menitikan air matanya. Berkali-kali Dika menyakiti hatinya Ocha, berkali-kali pula membuat Ocha sakit hati.


"Gak usah liatin aku gitu," kata Ocha berkata sambil memejamkan matanya karena Ocha tahu bahwa Dika sedang memperhatikannya.


__ADS_2