Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 73 Diabaikan Bukan Berarti Tak Sayang


__ADS_3

Mamahnya Ocha menyusul Ocha kedalam kamarnya dan didapati Ocha yang sekarang sudah membaringkan tubuh di kasurnya.


"Ocha... Cha," panggil mamahnya yang sekarang sedang duduk di ranjangnya Ocha.


"Ia mamah..." kata Ocha dengan mata yang sudah sangat mengantuk.


"Di bawah ada Dika, kamu langsung masuk aja. Kamu tau gak dia udah siapin sesuatu untuk kamu dan mamah sama papah sudah menyetujuinya," kata Mamahnya bahagia.


Mendengar perkataan mamahnya, tak membuat Ocha bangun dari kasurnya. Yang ada Ocha malah terus membaringkan tubuhnya.


Melihat Ocha yang seperti ini, mamahnya sangat ingin menyiram Ocha memakai air satu ember agar dia bangun.


"Cha nanti kalo kamu udah nikah sama Dika mau kayak gini aja? Kalo cape langsung rebahan dan gak peduli sama sekitar?" tanya Mamahnya.


"Mah jangan bahas itu, Ocha lagi beneran cape mah..." kata Ocha yang sekarang malah memejamkan matanya tetapi tidak tertidur.


"Terus sekarang gak mau makan juga? Tadi calon suami kamu yang masak loh..." kata Mamahnya. "Dan jangan kaget kalo persiapan pernikahan kamu juga udah selesai. Kamu akan menikah dengan Dika 3 hari lagi!" kata Mamahnya.


Ocha mendengar mamahnya bilang seperti itu langsung terperanjat kaget dibuatnya. Bukan main dan memang bukan permainan.


Bukan dadakan dan bukan langsung jadi kayak tahu bulat di goreng dadakan. Karena memang sejak awal, orang tua Ocha pulang dari Bandung Dika dan Ocha akan melangsungkan pernikahan.


Dan kali ini Ocha benar-benar lupa padahal sudah dipersiapkan semuanya mulai dari perencanaan WO, tanggal pernikahan dan banyak lagi.


Ocha pun pergi untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, Ocha langsung turun ke bawah.


"Dika udah pulang ya pah?" tanya Ocha kepada papahnya.


"Ia, Dika udah pulang karena kamu cuekin dia," kata papahnya.


"Bukan cuekin pah, tapi Ocha lupa," kata Ocha lalu duduk di meja makan dan menikmati makanan yang sudah disiapkan.


Di Apartement Dika, Dika melihat fotonya Ocha yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Tinggal menghitung hari dan mereka akan resmi menjadi suami istri.


"Ka, kamu lagi ngapain? Kenapa fotonya dipandang terus? Kangen ya sama Ocha?" tanya mamahnya.


"Yang dikangeninnya cuekin Dika mah, tadi itu Ocha pulang dari Surabaya tapi gak ngeh deh kayaknya kalo ada Dika disana," kata Dika sambil tersenyum mengingat tingkah lucu Ocha tadi.


"Kamunya dong yang harus ngerti, kan Ocha baru pulang mungkin lelah dan kamu maunya diperhatikan terus," kata mamahnya


"Mamah nih, ledekin terus Dika." Kata Dika.


Tak lama, setelah Ocha selesai makan datanglah Wira ke rumah orang tuanya Ocha.


Pak Fahri pun membukakan pintunya dan mempersilahkan Wira masuk. Setelah masuk kedalam, Wira memperkenalkan diri dan berjabat tangan kepada papahnya dan memberitahukan bahwa Wira adalah pacarnya Mutiara dan ingin melamar Mutiara.


Mendengar hal itu, Pak Fahri tidak percaya lalu langsung memanggil Mutiara dengan suara kerasnya.


Mutiara yang mendengar teriakan papahnya langsung menghampirinya dan kaget saat Wira sudah ada di rumahnya.

__ADS_1


"Apa benar Wira ini adalah pacarnya kamu?" tanya Pak Fahri.


"Emmm... i... ia pah Wira pacarnya Mutiara," kata Mutiara.


Ibu Lina pun datang dan melihat keributan ini lalu duduk disamping Pak Fahri.


"Tante..." kata Wira lalu bersalaman dengan Ibu Lina.


"Siapanya Mutiara?" tanya Ibu Lina.


"Pa...pacarnya Mutiara tante, maaf sebelumnya belum sempat kasih tau karena kebetulan saya baru pulang dari luar kota." Jelas Wira.


Pak Fahri tidak langsung memberikan restu kepada Wira karena jika Wira memang benar mencintai Mutiara maka Wira harus menerima tantangan dari papahnya Mutiara.


Wira pun menyanggupi dan akan menerima tantangan yang diberikan oleh Pak Fahri. Tetapi untuk sekarang Pak Fahri belum memberikan tantangan tersebut.


Setelah mendapat lampu hijau dari Orang tuanya Mutiara walaupun masih ada tantangan, Wira merasa bahagia dan akan melakukan apapun demi Mutiara. Walaupun saat ini Mutiara masih marah kepadanya.


Karena sudah malam, Wira pun pamit pulang.


Keesokan harinya, keluarga Pak Fahri sarapan bersama. Hari ini dan besok Ocha tidak bisa pergi kemana-mana karena Ocha sudah dipingit oleh kedua orang tuanya.


"Mutiara..." panggil papahnya.


"Ia pah..." kata Mutiara.


"Kamu benar suka sama Wira? Kalo misalkan ia, papah akan kasih tantangan ke dia papah ingin lihat apakah benar dia mencintai dan menyayangi kamu," kata papahnya.


"Ia..." kata Galang.


Mereka berdua pergi dan Galang mengantar Mutiara ke kantor.


Diperjalanan, mobil Wira sudah berada didepan mobilnya Galang karena Dokter Arvan sengaja mengikuti mobilnya Galang.


Galang pun mengenali mobil yang berada di depannya bahwa mobil itu mobil Arvan. Dengan tenang, Galang menyalip mobil Arvan.


Tidak mau kalah, Arvan menyalip mobil Galang dan berhenti di depan mobil Galang dan membuat Galang berhenti mengemudikan mobilnya.


"Apa-apaan sih, loh itu kan mobilnya Arvan kok dia cegat kita sih," kata Mutiara yang melihat didepan ada mobilnya Arvan.


"Aku juga gak tau... kakak tunggu sini deh," kata Galang lalu keluar dari mobil.


Dengan cepat Arvan turun dari mobilnya dan menghampiri Galang.


"Dokter Arvan ada apa dok? Kok halangin mobil kita?" tanya Galang.


"Jujur aku gak bisa ikhlas untuk melepas Mutiara dan aku gagal move on. Mutiara ada sama kamu kan? Izinkan aku untuk bertemu dia sekarang!" kata Arvan.


"Enggak, aku gak izinkan kakak ketemu sama Kak Mutiara. Kak tolong dong kakak jangan kayak gini." Kata Galang.

__ADS_1


Arvan tidak bisa tinggal diam, Arvan pun mendorong Galang sampai Galang terjatuh.


"Galaang..." teriak Mutiara dari dalam mobil saat melihat adiknya di dorong oleh dokter Arvan.


Setelah Galang terjatuh, Arvan membuka pintu mobil Galang secara paksa dan menarik tangannya Mutiara.


Mutiara pun memberontak karena tidak ingin pergi bersama Arvan.


Galang lalu bangun dan menghampiri Arvan kemudian Galang menarik baju belakangnya Arvan dan Arvan pun melepaskan genggaman tangannya kepada Mutiara.


Buuuk.


Buuuk.


Dua kali tonjokan mendarat di mukanya Arvan oleh Galang. Dengan kesal Galang meninju Wajah Arvan kembali.


Buuuk.


"Gak nyangka seorang Dokter yang terhormat memiliki kepribadian yang tidak baik." Kata Galang.


Mutiara pun keluar dan menghentikan Galang dan menarik tangan Galang agar menjauh dari Arvan.


"Lepasin kak! Orang ini udah gak bisa dibiarin," kata Galang lalu hendak memukul Arvan lagi tetapi Mutiara mengentikannya.


"Galang ayo pergi sekarang!" teriak Mutiara.


"Kalo Kak Mutiara gak hentikan ini, aku udah buat kamu lebih dari ini..." kata Galang lalu segera pergi bersama Mutiara.


Di dalam mobil, Mutiara menangis sejadi-jadinya karena tidak menyangka akan seperti ini akhirnya, Arvan benar-benar nekat.


Riasan make up di wajah cantiknya Mutiara pun seketika luntur dan sudah tidak terlihat lagi. Tetapi Mutiara masih terlihat cantik walaupun tanpa riasan.


"Udah sampai kak, hapus dulu air matanya. Masa mau ngantor nangis gitu," kata Galang.


Mutiara menghapus air matanya, tetapi tidak bisa menutupi mata yang kini sudah sembab akibat menangis.


Mutiara langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam kantor. Galang pun langsung pulang lagi.


"Mutiara... Mutiara," panggil Wira saat melihat Mutiara masuk ke dalam kantor lalu Wira meraih tangannya Mutiara. "Kamu kenapa? Kamu habis nangis?" tanya Wira.


Air mata yang sudah ditahan agar tidak keluar, akhirnya Mutiara menangis lagi.


Wira yang melihat Kekasihnya menangis penasaran dan membawa Mutiara ke belakang lalu Wira membuatkan air teh untuk Mutiara.


"Ini diminum dulu..." kata Wira yang memberikan teh hangat kepada Mutiara.


Mutiara langsung meminum air teh hangat yang sudah dibuatkan oleh Wira.


"Coba kamu cerita sama aku kamu kenapa?" tanya Wira.

__ADS_1


"Arvan, tadi dia cegat aku dijalan dan dia tarik-tarik tangan aku. Aku takut Wira..." kata Mutiara yang masih terisak.


"Arvan...beraninya kamu ganggu Mutiara lagi," batin Wira sambil mengepalkan tangannya karena kesal.


__ADS_2