
Satu hari berlalu, Dika dan Ocha tidak saling menghubungi karena masih dalam egonya masing-masing dan tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.
Hari ini Dika di telepon oleh pihak kantor untuk segera pulang dan bekerja kembali karena Dika sudah cuti beberapa kali dan jarang masuk kantor. Sedangkan perusahaan sangat membutuhkan Dika karena akan membangun proyek baru.
Dika pun bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta dan hari ini Dika akan menemui Ocha terlebih dahulu untuk berpamitan padanya.
Orang tua Dika pun ikut Dika pulang ke Jakarta, sebelum pulang orang tua Dika memberikan hadiah kecil kepada Ocha berupa gaun yang sudah dipesan sejak lama oleh mamahnya Dika.
Siang harinya, keluarga Ocha pun sedang berkumpul di rumahnya dan keluarga Dika pun datang ke rumah Ocha untuk menemui Ocha dan keluarga besar Ocha.
"Aku minta maaf sama kamu, karena aku terlalu egois dan cepat membuat keputusan," kata Dika kepada Ocha setelah sampai di rumah Ocha.
"Aku maafin, aku berharap kamu gak seperti ini lagi. Dokter Arvan itu baru aja kehilangan calon istrinya dan mungkin dia sedang teringat Almarhumah calon istrinya. Kamu gak boleh nilai orang dulu Dika," kata Ocha.
"Aku itu sayang sama kamu Cha, aku gak mau kehilangan kamu untuk kesekian kalinya. Kamu tahu kan untuk dapatkan cinta kamu itu butuh perjuangan yang benar-benar hebat," kata Dika sambil memegang kedua tangannya Ocha.
"Kamu gak akan pernah kehilangan aku jika bukan tuhan yang memisahkan kita," kata Ocha sambil tersenyum.
"Gak ada waktu lagi untuk menunggu lebih lama. Setelah pulang ke Jakarta aku akan persiapkan segala sesuatunya dan segera melamar kamu kita akan segera menikah," kata Dika.
Ocha pun tersenyum mendengar perkataan Dika yang akan segera menikahinya setelah sekian lama menunggu, walaupun harus menunggu lagi untuk terakhir kalinya Ocha akan tetap setia menunggu Dika.
Dika pun berpamitan kepada keluarga Ocha untuk pulang ke Jakarta karena ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan.
Setelah Dika dan keluarganya pulang, Ocha pun bersiap pergi ke Resto.
Di Resto, karyawan Ocha melihat Arvan yang menunggu kedatangan Ocha sedari tadi.
Kemudian Ocha pun datang dan keget mendapati Arvan yang duduk sendiri di kursi pelanggan.
"Bu, maaf itu orang yang kemarin datang kesini kan?" tanya salah satu karyawan yang sengaja menunggu kedatangan Ocha.
"Ia betul," kata Ocha.
"Tadi saya mencoba hubungi ibu, tapi tidak di angkat, dari tadi laki-laki itu tidak mau pergi bu," kata karyawan tersebut.
Ocha pun menghampiri Arvan dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Arvan.
Arvan pun menyadari bahwa Ocha telah datang.
__ADS_1
"Ocha..." kata Arvan.
"Aku gak tahu apa yang kamu fikirkan sekarang, aku juga gak tau apa yang kamu inginkan. Tolong sadar Dokter Arvan kamu gak seharusnya seperti ini bukan?" kata Ocha.
"Saya tau saya salah, tapi saya ingin kamu memberi saya satu kali kesempatan untuk membuka hati kamu untuk saya," kata Arvan
"Bagaimana ini..." batin Ocha.
"Walaupun kita baru saling kenal, tolong berikan saya satu kesempatan untuk masuk ke dalam kehidupan kamu dan menjadi pendamping kamu. Pertama kali saya melihat kamu, saya langsung jatuh cinta sama kamu," kata Arvan.
"Tolong mengerti, kamu seorang Dokter kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, aku udah punya Dika, dan aku sayang sama Dika. Tolong menjauhlah!" kata Ocha.
"Enggak, aku gak mau kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua kalinya. Dulu aku hampir menikah dengan Meisya, tapi kecelakaan itu telah merenggut dia untuk selamanya," kata Arvan.
Ocha pun tidak sanggup untuk mendengar Dokter Arvan yang berkata jujur soal perasaannya, Ocha pun langsung pergi dari hadapan Dokter Arvan dan meninggalkannya.
Melihat Ocha pergi, Arvan pun mengejar Ocha dan menghadang jalan Ocha.
"Apalagi?" tanya Ocha.
"Izinkan saya untuk terus mencintaimu, walaupun saya tidak bisa memiliki kamu," kata Arvan.
"Izinkan saya untuk memberikan kebahagiaan sama kamu," kata Arvan.
Ocha tidak bisa menjawab Arvan, melihat Arvan yang memohon membuat Ocha semakin takut.
Dokter Arvan terus berdiri di hadapan Ocha dan tidak pergi dari hadapannya, karena berharap mendapatkan jawaban "iya" dari Ocha.
"Maaf aku gak bisa, untuk terakhir kalinya tolong jauhi aku," kata Ocha memohon.
"Baiklah, saya juga tidak bisa memaksa kamu... tapi tolong terima hadiah kecil ini dari saya," kata Arvan sambil memberikan kotak hadiah kepada Ocha.
"Enggak, aku gak mau!" kata Ocha dan berlalu.
Arvan pun mengejar Ocha dan mengharapkan agar hadiah kecilnya di terima oleh Ocha. Arvan pun menghentikan langkah Ocha lagi.
"Tolong terima!" kata Arvan.
"Aku gak bisa terima. Tolong mengerti," kata Ocha.
__ADS_1
"Aku mohon untuk terakhir kalinya! Demi Meisya," kata Arvan.
"Baiklah aku terima, tapi ini adalah pertemuan kita yang terakhir jangan pernah temui aku lagi apapun masalahnya!" kata Ocha lalu menerima kotak dari Arvan, kemudian Ocha membuka kotak tersebut dihadapan Arvan. Melihat isi kotak tersebut Ocha bertanya-tanya apa maksud dari ini semua.
"Kalung itu milik Almarhumah Meisya, dia pernah bilang. Jika saya menemukan gadis yang membuat saya nyaman, maka saya harus memberikan kalung itu. Dan itu jatuh kepada kamu," kata Arvan.
Kalung yang diberikan Arvan kepada Ocha adalah kalung milik Meisya dulu setelah kecelakaan terjadi dan kondisi Meisya saat itu sedang kritis. Arvan pun menjelaskan semuanya kepada Ocha.
"Demi Meisya tolong kamu terima ya, walaupun aku gak bisa miliki kamu tapi dengan ini aku akan tenang," kata Arvan.
Arvan pun menceritakan semuanya kepada Ocha tentang Meisya.
"Tapi gak seharusnya kamu mengejar aku, kamu sudah lihat kan bahwa aku sudah punya calon suami," kata Ocha.
"Saya tahu!" kata Arvan.
"Jika kamu memberikan kalung ini buat aku karena alasan yang kamu berikan, aku akan terima demi Meisya, tapi jika ada alasan lain kamu harus ambil kembali kalung ini," kata Ocha.
"Saya senang kamu menerima pemberianku, saya ingin kamu menyimpan kalung itu baik-baik. Aku janji tidak akan mengganggu kamu lagi. Terima kasih karena kamu sudah mau menerima hadiah kecil dari saya," kata Arvan.
"Terima kasih," kata Ocha.
Setelah selesai mengobrol, Arvan pun pergi dan pamitan karena hari ini dia akan pergi ke tempat dimana Arvan dan Meisya bertemu untuk mengenang hubungan mereka. Walaupun kini Meisya sudah tidak ada, perasaan Arvan tidak pernah berubah kepadanya, dan mengingat Ocha akan menambah rasa sakit hatinya karena tidak bisa memiliki Ocha.
Mungkin perasaan Arvan suka kepada Ocha karena Arvan masih merasakan kepedihan ditinggalkan oleh Meisya dan melihat Ocha, jadi mengingat Meisya kembali.
Ocha melihat kalung pemberian dari Dokter Arvan, tidak pernah ia mendapatkan hadiah dari seorang laki-laki manapun kecuali Dika.
Ocha pun menyimpan kalung itu di dalam tas nya dan melupakan kejadian yang telah terjadi dan melupakan Dokter Arvan yang sudah menyatakan perasaannya.
Malam harinya, sesampainya Dika sampai di Jakarta, dia langsung membaringkan diri di kamar nya sambil menatap layar ponsel nya. Tidak ada panggilan masuk ataupun pesan masuk dari siapapun hanya email dari perusahaan yang menyuruhnya agar menyelesaikan file yang belum selesai.
Dika pun menyimpan ponselnya di meja lalu pergi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Selesai membersihkan diri, Dika segera membuka laptopnya dan membereskan pekerjaannya yang tertinggal untuk presentasi besok di kantor.
Malam hari yang sangat gelap tidak ada cahaya yang menyinari gelapnya malam. Kini Ocha pun duduk di kursi dekat jendela melihat gelapnya malam. Sambil melihat kalung pemberian dari Dokter Arvan.
"Gak sepantasnya aku menerima kalung ini dari Dokter Arvan, tapi dia bilang ini demi Meisya. Aku harus hubungi Dika dan bicara tentang Dokter Arvan yang memberikan kalung ini buat aku," batin Ocha.
__ADS_1