Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 68 Masa Lalu Itu


__ADS_3

"Dokter Arvan..." kata Galang.


"Hai Lang," kata Arvan.


"Oh ia, Dokter pasti mau ambil mobil kan?" kata Galang.


"Betul sekali, kemarin saya kesini balik lagi tapi semuanya sepi ya sudah akhirnya saya kesini sekarang," kata Arvan.


"Ya udah kak, silahkan kalau mau ambil mobil," kata Galang.


"Terima kasih ya Galang, saya langsung pamit," kata Arvan


"Ia... ia kak sama-sama," kata Galang.


Arvan pun dengan cepat pergi dari hadapan Galang dengan mengendarai mobilnya.


Sebenarnya Arvan sengaja meninggalkan mobilnya hanya untuk bertemu dengan Mutiara dan Ocha tetapi karena tadi Galang yang membukakan pintu, Arvan tidak jadi untuk bertemu dengan Ocha dan Mutiara.


Hari ini Arvan sangat kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Mutiara wanita yang dicintainya. Arvan pun melajukan mobilnya dengan sangat pelan karena sedang memikirkan Mutiara.


"Gimana bisa aku suka sama Mutiara, dan dulu sama Ocha. Tapi sekarang aku mencintai Mutiara aku akan berusaha untuk mendekati Mutiara," oceh Arvan.


Hari ini Ocha sedang memasak. Karena pagi ini Ocha akan membawakan makanan untuk Ibu Uma dan juga Pak Tio dan Dika.


Sebelum pergi ke Rumah Sakit, Ocha sudah siapkan sarapan untuk Mutiara dan juga Galang.


Sudah selesai siap-siap, Mutiara langsung turun dan duduk di meja makan bersama dengan Galang. Mereka bertiga pun sarapan bersama.


"Itu di depan, mobilnya Dokter Arvan udah dia ambil ya?" kata Mutiara membuka pembicaraan.


"Heem, tadi dia ambil pagi-pagi banget. Kak Mutiara katanya kemarin Wira dateng ya dan anterin pulang sampai ke rumah," kata Galang.


"Ia, kenapa?" Kata Mutiara.


"Gak papa. Galang udah selesai sarapan, Galang berangkat duluan ya Kak Ocha, Kak mut." Kata Galang.


"Hati-hati ya Galang," kata Ocha.


Galang pun langsung berangkat ke kampus. Di perjalanan, Galang memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak ia fikirkan karena sudah lama juga dan itu tidak akan mengembalikan apa yang sudah hilang.


Flasback On.


Wira adalah senior di sekolahnya Galang saat Galang masih duduk di bangku SMA. Hubungan mereka baik-baik saja tidak ada perselisihan antara mereka.


Galang dan Wira sebenarnya tidak pernah kenal satu sama lain, tetapi karena satu hal mereka menjadi saling mengenal dan sampai saat ini Galang tidak menyukai Wira karena alasan tertentu.


"Hai galang, selamat ya kamu masuk anggota OSIS kamu adalah siswa berprestasi dan aku bangga sama kamu, aku gak pernah henti dukung kamu." Kata perempuan yang bernama Sinta.


"Makasih kak, kakak adalah satu-satunya orang yang dukung aku sampai aku masuk ke anggota OSIS," kata Galang.

__ADS_1


"Sama-sama. Oh ia lain kali kita makan bareng ya di kantin sekolah, aku mau cerita banyak sama kamu karena kamu udah jadi anggota OSIS," kata Sinta.


"Siap kak," kata Galang.


Saat mereka ngobrol bersama, ada seseorang yang datang dan marah-marah kepada mereka berdua.


"Kamu ngapain sama dia?" kata seseorang itu kepada Sinta yaitu Wira.


"Aku cuma ucapin selamat aja sama Galang, kamu kok marah," kata Sinta.


"Aku jelas marah karena aku cemburu, kamu deket sama dia," kata Wira.


"Maaf kak, tapi kak Sinta cuma memberi selamat aja kok gak lebih," kata Galang.


"Diam kamu! Kamu itu sebenarnya suka kan sama Sinta makanya kamu sengaja masuk anggota OSIS untuk terus dekat sama Sinta pacar aku," kata Wira marah.


"Kakak jangan tuduh aku gitu dong, aku masuk anggota OSIS karena sejak SMP aku sudah menjadi anggota OSIS dan sekarang juga," kata Galang.


Perdebatan diantara Wira dan Galang pun berhenti saat Sinta melerai mereka berdua dan menghentikan pertengkaran mereka.


Sinta adalah pacarnya Wira saat di SMA, tetapi hubungan mereka sudah lama tidak baik, dan gara-gara Sinta dekat dengan Galang, Galang dituduh merebut Sinta dari Wira. Padahal Galang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Sinta hanya sebatas kakak kelas dan adik kelas.


Sampai saat ini, hubungan Wira dengan Galang tidak baik.


Flashback Off.


Tiit... tiiit... tiit.


Klakson mobil seseorang dari arah yang berlawanan mengagetkan Galang dan menghentikan Galang yang sedang menyetir karena Galang menyetir kurang fokus dan hampir menabrak mobil orang lain. Galang pun langsung berhenti dan keluar dari mobil.


"Wooy nyetir tuh fokus! Gimana sih," kata pengendara mobil yang kini tetap berada di hadapan Galang.


"Maaf pak, maaf..." kata Galang.


"Saya bisa tuntut kamu tau gak, gak bener banget nyetir, kalo gak bisa nyetir jangan nyetir!" bentak pengendara mobil.


"Sekali lagi saya minta maaf pak," kata Galang.


"Awas kamu ya, untung mobil saya gak lecet," kata pengendara mobil yang langsung pergi.


"Fokus galang fokus, hampir aja nabrak mobil orang," kata Galang yang langsung masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan.


Setelah selesai di rumah, Ocha segera pergi ke Rumah Sakit untuk menjenguk Ibu Uma.


Dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit, Ocha membeli dulu buah-buahan untuk Ibu Uma.


"Selamat pagi tante," kata Ocha yang sudah sampai di Rumah Sakit dan kini sudah berada di ruang rawat Ibu Uma.


"Pagi mantunya tante," kata Ibu Uma menyambut Ocha.

__ADS_1


"Tante sama om udah sarapan belum? Nih aku bawain tante sama om sarapan," kata Ocha sambil membuka rantang yang berisi makanan tersebut.


"Tante belum sarapan," kata Ibu Uma.


"Ia, om juga belum sarapan," kata Pak Tio.


"Ya udah sekarang tante sama om sarapan dulu ya, tante biar aku yang suapin ya," kata Ocha.


Akhirnya Ibu Uma dan Pak Tio pun sarapan tanpa menghiraukan Dika yang masih tertidur di kursi tunggu di dalam ruang rawat mamahnya.


Ocha fokus menyuapi Ibu Uma, sedangkan Pak Tio selesai makan langsung menemui Dokter untuk menanyakan keadaan istrinya.


Dokter memberitahukan bahwa Ibu Uma besok sudah bisa pulang dan istirahat di rumah. Untuk sementara hari ini masih harus di rawat.


"Cha, kamu sama Dika lagi ada masalah ya?" tanya Ibu Uma.


"Enggak kok tante, aku sama Dika baik-baik aja," kata Ocha.


"Oh ia, orang tua kamu masih di Bandung ya?" tanya Ibu Uma.


"Ia tante, mereka belum kasih kabar akan pulang kapan. Sekarang waktunya tante minum obat," kata Ocha yang mrngambilkan obat untuk Ibu Uma.


Setelah memberikan obat kepada Ibu Uma, Ocha memperhatikan Dika yang masih tertidur di kursi Rumah Sakit, karena semalam begadang menunggu Ibu Uma.


Ocha hanya memperhatikan Dika sebentar setelah itu pamit untuk pergi ke Resto karena ada kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.


Sesaat setelah Ocha pergi, Dika langsung bangun dari tidurnya dan lirik kanan-lirik kiri karena mendapati Ibu Uma yang hanya menggelengkan kepala karena melihat puteranya yang baru bangun.


"Ya ampun mah ini udah siang banget, mamah udah sarapan?" tanya Dika yang langsung menghampiri mamahnya.


"Udah dong, kan Ocha yang anterin makanan buat mamah kesini," kata mamahnya dengan sedikit tawa.


"Apa mah? Ocha tadi kesini?" kata Dika.


"Ia, kamunya sih belum bangun jadi Ocha pergi lagi deh," kata mamahnya.


"Mamah kenapa gak bangunin Dika?" tanya Dika.


"Mamah gak mau ganggu kamu tidur, kamu kenapa Ka?" tanya mamahnya.


"Malu mah sama Ocha," kata Dika.


"Ya makanya bangun pagi dong," kata mamahnya tertawa.


Dengan segera Dika pamit pulang ke Apartement karena harus membersihkan diri dan akan kembali lagi ke Rumah Sakit jika sudah selesai membersihkan diri, Dika akan segera ke Rumah Sakit lagi.


Kring... kring...kring.


"Hallo..... Apa? Ia aku segera kesana ya. Dan satu lagi jangan panik aku kesana sekarang," kata Ocha saat mendapat telepon dari Surabaya Ocha langsung bergegas pergi kesana.

__ADS_1


__ADS_2