
Ibu Lina, Ocha serta Mutiara pun sampai di Jakarta dan langsung pergi ke Rumah sakit. Mereka berlari menghampiri Ibu Uma dan Pak Tio.
"Ocha..." kata Ibu Uma yang menangis langsung memeluk Ocha.
"Bagaimana keadaan Dika tante?" tanya Ocha.
Ibu Uma pun melepas pelukannya dan menjelaskan keadaan Dika yang saat ini masih ditangani oleh Dokter.
Semua keluarga pun menunggu kabar dari Dokter, karena sudah berjam-jam Dokter belum memberitahu keadaan Dika.
Ibu Lina pun mengusap-usap punggung Ocha memberikan ketenangan kepada Ocha agar Ocha tenang.
"Ini kak minum dulu!" kata Mutiara yang menyodorkan air mineral kepada Ocha.
Ocha pun mengambil air mineral tersebut dan meminumnya. Ocha terus menangis dan khawatir dengan keadaan Dika.
Setelah beberapa jam, Dokter pun keluar dan memberitahukan keadaan Dika.
"Bagaimana keadaan Dika anak saya Dokter?" tanya Ibu Uma.
"Tenang dulu ya bu. Kondisi Dika saat ini sangat kritis saya sudah berusaha keras memberikan yang terbaik, tetapi saat ini Dika mengalami koma," kata Dokter menjelaskan.
Tangis kedua orang tua Dika dan keluarga Ocha pun pecah karena mendengar pernyataan dari Dokter yang menangani Dika.
Keluarga Dika pun diperbolehkan untuk masuk dan melihat kondisi Dika saat ini.
"Dika, ini mamah sayang kamu bangun nak!" kata Ibu Uma yang memegang tangan Dika sambil menangis.
Ocha yang melihat kondisi Dika pun sedih dan tidak bisa berbuat apa-apa selain berdo'a untuk kesembuhan Dika.
Ocha pun lari keluar karena tidak tahan melihat kondisi Dika yang terluka parah dan banyak selang yang dipasangkan di tubuh Dika.
"Ibu, saya keluar dulu ya menyusul Ocha!" kata Ibu Lina dan menyusul Ocha keluar.
Ibu Lina tidak tega melihat Ocha dan hanya bisa menenangkannya tanpa kata, dipeluknya Ocha dengan penuh kasih sayang.
Mutiara pun keluar dan ikut menangis melihat keadaan Dika saat ini, dan sedih melihat kakaknya bersedih seperti ini.
"Kak Ocha," kata Mutiara.
"Mutiara," kata Ocha lalu memeluk Mutiara.
"Kakak yang kuat ya, aku yakin kak Dika pasti sembuh dan bangun dari Koma nya," kata Mutiara.
Ocha pun melepas pelukannya dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan tidak berhenti menangis.
Ibu Lina pun menghubungi Pak Fahri dan mengabari bahwa dirinya sedang ada di Jakarta dan menjenguk Dika yang sedang koma di Rumah Sakit.
__ADS_1
Pak Fahri pun menelpon Galang agar segera pulang dan menyusul Ibu Lina ke Jakarta.
"Papah, ini gimana Dika pah?" kata Ibu Uma yang terus saja menangis.
"Mamah sabar mah, Ini udah jadi takdir dan kita tidak bisa melawan takdir mah!" Kata Pak Tio.
"Tapi pah..." kata Ibu Uma.
"Papah ngerti mah!" kata Pak Tio sedih.
Ocha dan keluarganya pun masuk kembali ke Ruang ICU untuk melihat Dika.
Ocha hanya bisa menatap Dika yang terbaring di ranjang Rumah Sakit tanpa kata dan hanya mengeluarkan air matanya.
"Ibu Uma yang sabar ya bu, saya yakin Dika akan baik-baik saja dan akan segera siuman," kata Ibu Lina kepada Ibu Uma.
"Terima kasih Ibu Lina," kata Ibu Uma sambil mengelus tangan Dika.
Tidak disangka Ocha pun tiba-tiba pingsan karena tidak tahan melihat kondisi Dika yang parah dan terbaring tidak berdaya seperti itu.
"Ocha..." teriak mamahnya yang langsung menahan tubuh Ocha yang terkulai tidak sadarkan diri.
"Ocha Ya Allah..." kata Ibu Uma yang langsung menolong Ocha menahan tubuh Ocha.
"Ocha," kata Pak Tio yang langsung menghampiri.
"Mutiara panggil Dokter dong!" teriak mamahnya yang sedang panik.
Tak lama, Ocha pun dibawa ke ruang rawat dan langsung mendapat perawatan yang baik oleh Dokter yang menangani Ocha.
Ibu Lina pun menunggu di dalam ruang rawat Ocha setelah Dokter keluar dari ruang rawatnya Ocha karena Ocha mengalami syok berat yang membuatnya jatuh pingsan.
Malam harinya, Pak Fahri dan Galang datang lalu langsung mencari keberadaan Ibu Lina dan Ocha.
"Ocha kamu yang sabar ya sayang!" kata mamahnya menenangkan Ocha yang terus menangis setelah siuman dari pingsannya.
"Mah," kata Pak Fahri yang langsung masuk ke ruang rawat Ocha karena mendapat telepon dari Ibu Lina bahwa Ocha di rawat.
"Kak Ocha kakak gak papa?" tanya Galang yang grusak-grusuk langsung masuk.
"Udah deh Galang, jangan banyak nanya dulu!" kata mamahnya.
"Papah mau lihat kondisi Dika dulu ya mah, Ocha papah kesana dulu ya!" kata Pak Fahri.
Setelah Ibu Lina mengiakan, Pak Fahri pun segera menemui keluarga Dika dan melihat keadaan Dika.
"Pak Fahri..." kata Pak Tio.
__ADS_1
"Dika, astaga. Apa yang terjadi Pak Tio?" tanya Pak Fahri.
"Dari cerita saksi mata yang melihat kejadian pastinya, mobil Dika di tabrak oleh Truk dan Dika menabrak sebuah toko sehingga menyebabkan kerusakan pada toko tersebut dan membuat salah satu karyawan terluka. Dika pun sama sampai koma seperti ini Pak Fahri," kata Pak Tio.
Pak Fahri pun menepuk-nepuk pundak Pak Tio merasakan bahwa dia pun sedang bersedih.
Pagi harinya, Ocha pun berdiri di depan pintu Ruang ICU. Dari mulut ruangan ICU terdengar suara monitor, berbagai bunyi dari berbagai alat di ruangan ICU yang tak lain adalah ruangan dimana Dika di rawat secara Insentive dan Khusus.
Ocha melihat Dika dengan terpasang alat-alat yang menempel di tubuhnya membuatnya semakin tidak bisa membendung tangisnya lagi.
Ocha pun masuk ke dalam ruang ICU untuk melihat kondisi Dika lebih dekat lagi. Tidak tega melihatnya, Ocha hanya mematung melihat Dika.
Ibu Uma pun masuk ke dalam Ruang ICU lalu mengelus punggung Ocha yang melihat Ocha menangis. Ibu Uma pun ikut menangis melihat kondisi Dika.
"Tante..." kata Ocha sambil menangis yang langsung memeluk Ibu Uma.
Ibu Uma pun membalas pelukan Ocha.
"Sabar ya sayang, kuatkan hati kamu Ocha!" kata Ibu Uma.
Ocha pun terduduk lemas dan terus menangis.
"Ocha sayang..." kata Ibu Uma yang ikut jongkok.
"Aku gak kuat liat Dika kayak gini tante, Ocha takut Dika..." kata Ocha.
"Enggak sayang, kamu jangan berfikiran seperti itu. Kamu harus yakin Dika pasti akan baik-baik aja," Kata Ibu Uma.
Ibu Lina pun masuk ke ruang ICU untuk menenangkan Ocha.
"Ocha sayang, ayo bangun!" kata Ibu Lina sambil membantu Ocha untuk bangun.
"Dika mah..." kata Ocha.
"Ia mamah tau, kamu harus sabar kamu harus kuat Ocha. Percaya bahwa Dika akan baik-baik saja," kata Ibu Lina.
"Mamah kamu benar sayang, Dika pasti akan sembuh. Tidak ada yang tidak mungkin sayang!" kata Ibu Uma.
Perlahan Ocha pun mendekat ke samping ranjang Dika dan duduk di kursi sambil memegang tangan Dika.
Ibu Uma dan Ibu Lina pun pergi meninggalkan Ocha.
"Kamu harus bangun Dika, kamu gak lupa kan bahwa kamu akan jemput aku? Kalo kamu kayak gini siapa yang akan jemput aku?" kata Ocha bicara sendiri di samping Dika.
"Kamu denger aku kan Dika?" kata Ocha.
Tangis Ocha semakin tidak bisa berhenti dan semakin sedih.
__ADS_1
Krreet!!
Suara pintu yang di buka mengagetkan Ocha.