Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 66 Cemburu


__ADS_3

"Tunggu deh, itu kan mobil Arvan!" batin Dika sambil menunjuk mobilnya Arvan.


***


Setelah sampai di Resto, hari ini Ocha mengecek catatan di setiap akhir bulan dan mencocokan catatannya dengan catatan di Resto. Hitung dan hitung yang kini sedang dilakukan Ocha.


Kini Dika berdiri tepat di depan meja kasir dan memperhatikan Ocha yang sedang menghitung keuangan untuk akhir bulan ini tanpa bersuara dan tanpa mengganggunya.


Ocha benar-benar serius dan tidak menyadari bahwa kini Dika sedang ada dihadapannya.


"Serius banget," kata Dika.


"Ahh... " kata Ocha yang langsung mendongak melihat Dika. "Kamu ngagetin banget, sejak kapan kamu disitu?" kata Ocha.


"Dari tadi," kata Dika jutek lalu langsung mengambil kursi dan duduk.


"Udah sarapan belum?" tanya Ocha tanpa melihat Dika dan masih fokus menghitung.


"Udah," jawab Dika singkat.


"Mau minum?" tanya Ocha lagi.


"Enggak," kata Dika masih jutek.


Ocha pun meninggalkan Dika dan masuk ke ruangannya tanpa menghiraukan Dika, karena sekarang Ocha sedang sibuk.


Dengan sabar Dika menunggu Ocha walaupun ada beberapa pertanyaan yang mengganjal di hati Dika, tetapi Dika akan tetap menunggu Ocha.


"Itu kan pak Dika ya," kata salah satu karyawan Resto saat melihat Dika.


"Ia, itu pak Dika. Ganteng yah cocok banget sama Bu Ocha," kata Karyawan lain.


Setelah urusan Ocha selesai dengan para karyawannya dan dengan kesibukkannya, Ocha segera menghampiri Dika dan duduk bersama.


Ocha pun diam melihat Dika yang sedang menundukkan kepalanya ke meja.


Tok... tok... tok.


Ocha mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja membuat Dika melihat ke arahnya dan membiarkan Ocha tanpa bicara.


"Kamu kenapa?" tanya Ocha. "Kamu marah?" tanya Ocha lagi.


"Kamu gak bawa mobil kesini?" tanya Dika.


"Enggak, tadi aku di antar sama Galang. Kamu kesini gak ngabarin dulu kenapa?" tanya Ocha.


"Tadi aku ke rumah kamu, aku sengaja gak kabarin kamu tadinya aku mau antar kamu kesini!" kata Dika.


Sekarang Ocha faham, saat ini Dika sedang kesal karena dia mungkin melihat mobil Arvan yang ada di rumahnya Ocha. Ocha pun tidak menanyakannya kepada Dika karena tidak ingin ada salah faham antara mereka berdua.


"Mobil Arvan kenapa ada di rumah kamu?" tanya Dika penasaran.

__ADS_1


"Emmm... tadi Arvan ke rumah, dia nemuin Mutiara," kata Ocha.


"Sengaja banget, Cha aku itu curiga tau sama dia. Arvan deketin Mutiara karena dia ingin deketin kamu juga," kata Dika curiga.


"Nge-gas aja terus... kamu itu jangan su'udzon kenapa sih," kata Ocha.


"Bukan su'udzon, aku cuma nebak saja," kata Dika.


"Sama aja. Udah ah gak usah bahas Arvan disini!" kata Ocha.


Di kantor Mutiara, Mutiara sedang fokus mengetik dan tiba-tiba Wira datang dengan membawa bingkisan oleh-oleh untuk Mutiara.


Mutiara pun melihat kedatangan Wira dan hanya memberikan senyuman serta sapaan kepada Wira.


"Pacarnya aku lagi sibuk banget ya," kata Wira yang langsung berdiri tepat di depan meja Mutiara.


"Ia nih, kamu pulang kenapa gak ngabarin?" kata Mutiara masih fokus mengetik.


"Ia dadakan soalnya, udah makan belum?" kata Wira.


"Udah, maaf ya aku lagi sibuk banget," kata Mutiara.


"Ia gak apa-apa, kamu fokus aja sama kerjaan kamu aku tungguin kamu disini," kata Wira yang langsung duduk di kursi.


Wira pun setia menunggu Mutiara bekerja sambil bermain ponsel serta mengecek pekerjaan.


Wira adalah putera dari Pak Handy dan Ibu Asni, Wira bekerja diperusahaan bersama dengan Mutiara. Wira bekerja sebagai wakil menajer dan baru pulang karena ditugaskan keluar kota.


Sebenarnya Wira sudah melarang orang tuanya untuk berjualan, tetapi orang tua Wira menolaknya karena tidak ingin menyusahkan Wira. Pak Handy dan Ibu Asni juga tidak ingin kehilangan pelanggan setianya.


Wira memiliki kepribadian yang baik, lemah lembut, perhatian dan sangat sayang kepada orang tuanya. Wira juga sangat menyayangi Mutiara dan Mutiara pun sebaliknya.


Mutiara senang memiliki kekasih seperti Wira karena kebaikan hatinya kepada Mutiara. Malam ini rencananya, Wira akan berkunjung untuk menemui keluarga Mutiara tetapi Mutiara tolak karena kedua orang tuanya sedang berada di Bandung.


Mutiara menyuruh Wira untuk menemui Ocha saja dulu dan setelah kepulangan orang tuanya dari Bandung baru menemui Orang tuanya.


Wira pun menyetujuinya untuk bertemu dengan Ocha kakaknya Mutiara dengan senang hati.


"Kamu udah kabarin kakak kamu?" tanya Wira.


"Belum Wir, nanti aku telepon deh ya," kata Mutiara.


"Aku aja yang telepon ya, mana nomor nya," kata Wira.


Mutiara pun memberikan nomor telepon Ocha kepada Wira.


Tuuutt... tuuutt... tuutt.


Masih belum diangkat oleh Ocha dan Wira pun menelponnya sampai tiga kali akhirnya Ocha pun mengangkat teleponnya.


"Halo, maaf dengan siapa ya?" tanya Ocha.

__ADS_1


"Halo Kak, ini aku... Wira," kata Wira.


"Wira," gumam Ocha.


"Aku Wira kak, pacarnya Mutiara," kata Wira.


"Oh ia, maaf ada apa ya kamu telepon saya?" kata Ocha.


"Begini kak, saya habis pulang dari luar kota. Rencananya saya ingin bertemu dengan keluarga Mutiara tetapi kata Mutiara Orang tua kakak sama Mutiara sedang di Bandung. Jadi saya ingin bertemu dengan kakak, bagaimana kak?" kata Wira.


"Oh gitu, boleh kalo mau ketemu. Datang aja ke Resto saya ya bersama Mutiara nanti sore, bisa kan?" kata Ocha.


"Baik kak, terima kasih kak." Kata Wira.


Ocha pun memutuskan telepon dari Wira dan sengaja mengiyakan untuk pertemuan nanti. Karena Ocha pun penasaran dengan pacarnya Mutiara ini.


Dari kursi yang berbeda, Ocha memperhatikan Dika yang sedang asik meminum minumannya.


Ocha sengaja tidak duduk bersama Dika karena Ocha tau kini Dika sedang marah karena Dokter Arvan datang ke rumahnya padahal bukan untuk menemuinya.


Ocha tidak tahan lagi melihat Dika yang masih diam tanpa suara, membuat Ocha kesal.


"Kamu marah sama aku?" tanya Ocha yang kini sudah duduk bersama Dika.


"Enggak," kata Dika.


"Terus kamu kenapa?" tanya Ocha.


"Aku gak apa-apa Ocha," kata Dika.


"Gak yakin deh aku," kata Ocha.


"Aku gak marah, aku cuma pengen diam aja gini," kata Dika.


"Ya udah aku juga akan diam," kata Ocha diam juga.


Dika pun mengusap wajahnya kasar yang melihat Ocha mengikuti Dika untuk Diam. Dika lagi-lagi kalah dengan Ocha dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali membuat Ocha kembali tersenyum.


Ocha pun tetap diam dan sekarang Ocha hendak pergi ke ruangannya dan meninggalkan Dika, tetapi dengan cepat Dika memegang tangannya Ocha agar Ocha tidak jadi pergi.


Ocha pun diam tanpa kata dan hanya melepaskan genggaman tangannya Dika.


"Jujur aku cemburu Cha, Dokter Arvan datang ke rumah kamu walaupun tujuannya hanya bertemu dengan Mutiara," kata Dika.


"Cemburu aja terus, aku juga pernah cemburu tapi aku gak ngambek kayak kamu," kata Ocha.


"Oh jadi kamu juga pernah cemburu ya," ledek Dika kepada Ocha sambil tersenyum.


Kriing... kriing... kring.


Telepon Dika berdering, Dika pun langsung mengangkat telepon tersebut dengan buru-buru

__ADS_1


"Halo pah, apa?" kata Dika yang langsung berdiri dari duduknya dan kaget saat mendapat telepon dari papahnya.


__ADS_2