Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 72 Akibat Terlalu Lelah


__ADS_3

Malam ini, Dokter Arvan akan pulang ke Jakarta dan Arvan pergi tanpa pamit kepada Ocha dan yang lainnya.


Sebenarnya Arvan sedih karena tidak bisa memiliki Mutiara tetapi Arvan harus bisa ikhlas untuk menerima kenyataan ini.


Dua hari kemudian, Ocha masih asik dengan kegiatannya di Surabaya selain memantau dia juga berbelanja dan membeli oleh-oleh untuk nanti dibawa ke rumah.


Selama dua hari ini, Ocha kurang istirahat karena harus terus mengawasi Resto selain harus membeli peralatan yang rusak Ocha pun ikut turun lapangan untuk berbelanja peralatan yang harus ia ganti.


Tak hanya itu, sesekali Ocha menengok Susan ke Rumah Sakit dan hari ini Susan sudah diizinkan untuk pulang dan beristirahat di rumah.


Setelah pulih dan Resto sudah selesai dalam proses pembangunan, Resto akan beroperasi kembali dan para karyawan yang diliburkan dibolehkan masuk kembali.


Walaupun Ocha harus mengganti rugi kerusakan di Resto, Ocha tetap bisa menghandle semuanya dan mengurus semuanya sampai dengan tuntas.


Kecerdasan Ocha dalam bidang bisnis ini telah menciptakan pergerakan yang sangat pesat bahkan Ocha bisa menutupi kerugian akibat yang ditimbulkan oleh kebaran tersebut.


Malam ini, sebelum Ocha dan kedua adiknya pulang ke Yogyakarta besok pagi, kini mereka sedang makan bersama di warung angkringan. Betapa lahapnya mereka menyantap makanan yang telah mereka pesan.


"Besok pagi kita pulang ya, tadi mamah sama papah telepon dan katanya mereka udah pulang dari Bandung," kata Ocha.


"Kak Ocha udah kasih tau mamah sama papah soal kebakaran yang terjadi?" tanya Galang.


"Belum, nanti aja. Oh ia Tiara, kamu gak ajak Wira makan bersama?" tanya Ocha.


"Gak usah bahas Wira nanti mood makan aku hilang gara-gara dia kak," kata Mutiara yang masih fokus menikmati makanannya.


"Yeee giliran lagi sayang-sayangnya kamu selalu bersama dia, giliran sekarang lagi marahan kamu bilangnya jangan bahas dia," ledek Ocha.


"Ih Kak Ocha, diem deh aku tuh lagi sebel sama Wira kak. Kakak tau gak sih..." kata Mutiara yang belum sempat melanjutkan percakapannya.


"Enggak tau kita Kak, udah lebih baik Kak Mut makan yang kenyang sekarang biar ada tenaga buat hadepin Kak Wira," kata Galang.


Mutiara seketika diam dan melanjutkan makannya dengan nikmat. Sedangkan Ocha sudah selesai makan langsung melihat ponselnya.


Tidak ada pesan masuk ataupun panggilan masuk dari Dika, fikirannya sudah kemana-mana karena Dika tak kunjung memberi kabar.


Keesokan harinya, Ocha menyerahkan urusan Resto kepada manajer Resto dan akan mengeceknya setelah selesai perbaikan. Dan perencanaan, pengawasan sudah Ocha rancang sebaik mungkin agar tahap selanjutnya pembangunan akan berjalan dengan lancar.


Pagi ini Ocha dan kedua adiknya sudah siap pulang ke Yogyakarta. Ocha membawa mobil sendiri begitupun dengan Galang, sedangkan Mutiara ingin ikut bersama dengan Galang karena sampai pagi ini Mutiara dan Wira belum juga akur.


Wira terus meminta maaf kepada Mutiara tetapi Mutiara tidak menghiraukannya karena masih marah dan kesal kepada Wira.


"Muti tunggu dong, kamu pulangnya bareng aku ya. Jangan marah terus nanti aku jadi galau tau Mut," kata Wira memohon.


"Emang aku fikirin," kata Mutiara lalu masuk ke dalam mobilnya Galang.


"Ra... " kata Wira.


Galang pun melajukan mobilnya dan meninggalkan Wira. Tak diam, Wira pun menyusulnya dan mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Mutiara duduk di kursi belakang dan terus cemberut karena menahan kekesalan kepada Wira.


"Ya ampun kak, tuh muka kenapa di jelek-jelekin sih? Pindah depan dong duduknya! Dikira supir..." kata Galang.


"Ia kamu itu supir, dan berhenti ngoceh!" kata Mutiara.


"Jahat bener, aduh kak katanya cinta sama Kak Wira tapi kenapa marah? Maafin aja kak kan dia udah minta maaf," kata Galang.


" kamu itu gak ngerti..." kata Mutiara.


"Justru itu aku gak ngerti, udah minta maaf kenapa gak dimaafin?" kata Galang berdebat dengan Mutiara.


"Tunggu deh, bukannya kamu benci sama Wira? Terus kenapa suruh aku buat maafin dia?" tanya Mutiara.


"Yah kenapa ya..." kata Galang.


Di perjalanan kali ini sangat macet entah apa yang menyebabkan kemacetan sampai kendaraan pun diam tidak bergerak.


Siang hari ini, hujan turun membasahi jalanan yang sedang macet. Beruntunglah hujan turun karena jika tidak, maka hari ini akan panas.


Kring... kring... kring.


Telepon Ocha berdering ada panggilan masuk dari Dika. Dengan segera Ocha mengangkat teleponnya.


"Hallo Yangku... cintanya aku sekarang lagi dimana? Maaf ya aku gak sempat kabarin kamu karena aku lagi sibuk-sibuknya," kata Dika.


"Apaan tuh yangku?" tanya Ocha tanpa reaksi sedikitpun.


"Enggak, ada apa telepon?" tanya Ocha.


"Aku mau kabarin kamu kalo aku udah di Yogyakarta lagi nungguin kamu nih pulang dari sana. Aku lagi sama mamah papah kamu di rumah, kamu masih di Surabaya?" tanya Dika.


"Hari ini aku pulang tapi sekarang lagi kejebak macet hujan deras lagi," kata Ocha.


"Kamu hati-hati ya di perjalanan, oh ia mau dimasakin apa?" tanya Dika.


"Emangnya bisa masak kamu?" tanya Ocha yang dengan sedikit tawa.


"Jangan meremehkan Dika... udah kamu tinggal sebutin aja mau dimasakin apa, nanti aku minta bantuan mamah Lina untuk masaknya..." kata Dika terkekeh.


"Huuu sama aja kalo itu mamah aku yang masak, bukan kamu... hmm baiklah, aku mau cumi asam manis pedas." Kata Ocha yang sekarang jadi merasa lapar karena menyebutkan makanan yang satu ini.


"Oke baiklah ibu negara, kalo begitu kita sudahi telponnya dan sekarang aku akan belanja untuk membeli bahan masakan untuk membuat hidangan Untuk ibu negara," kata Dika.


"Oke... daah," kata Ocha lalu langsung mematikan telponnya.


Dengan cepat, Dika mengajak calon mamah mertuanya ke pasar karena Dika tidak bisa berbelanja sendiri karena tidak tahu bahan apa saja yang harus dibeli untuk membuat Cumi asam manis pedas pesanan Ocha.


Dengan senang hati, Ibu Lina mengantar Dika berbelanja ke pasar untuk membeli bahan masakan yang dipesan oleh Ocha.

__ADS_1


Diperjalanan menuju ke pasar, Ibu Lina menanyakan Ocha yang tiba-tiba pergi ke Surabaya karena sebelumnya Ocha tidak bilang kepada Ibu Lina soal keberangkatannya ke Surabaya.


"Ocha bilang sama kamu gak kalo dia pergi ke Surabaya mau ngapain Ka?" tanya Ibu Lina kepada Dika karena penasaran.


"Dika sih gak tau pasti tante, tapi Ocha bilang sih kalo cabang disana sebagian restonya kebakaran." kata Dika sembari takut menyampaikannya kepada Ibu Lina.


"Ya ampun, kebakaran? Ocha gak bilang sama tante kalo Resto disana kebakaran. Ocha, Ocha kamu selalu seperti itu." Kata Ibu Lina.


"Tante belum tau kalo Resto disana kebakaran?" tanya Dika.


"Belum.. ya gitu deh Ocha, dia gak mau buat mamah sama papahnya khawatir. Dia selalu sembunyikan masalahnya," kata Ibu Lina.


Dika pun hanya mengangguk-angguk mendengarkan perkataannya Ibu Lina.


Kini Ibu Lina dan Dika sudah sampai di pasar dan sekarang mereka belanja bersama. Mulai dari membeli Cumi, sampai dengan bumbunya.


Ibu Lina membeli Cumi segar di pasar sebanyak 1kg dan bumbunya Dika yang beli karena Ibu Lina sudah memberi catatan jadi Dika tinggal melihat catatan untuk membeli bumbu masakannya.


Mulai dari bawang putih, bawang merah, cabe merah, cabe rawit dan bumbu yang lainnya Dika yang membeli.


Setelah selesai membeli bahan masakan, Ibu Lina dan Dika kembali ke mobil dan segera pulang karena setelah sampai di rumah akan langsung masak.


"Bumbunya udah lengkap kan Ka?" tanya Ibu Lina.


"Udah deh kayaknya tante," kata Dika.


"Makasih ya udah bantu tante buat belanja." Kata Ibu Lina.


"Sama-sama tante," kata Dika.


Ocha masih terjebak macet tetapi sekarang sudah sedikit lancar karena sudah tidak terlalu macet.


Ting.


✉ "Kak Ocha mampir beli makan dulu yuk, aku laper nih kak." Pesan dari Mutiara.


✉ "Enggak ah, nanti aja makan di rumah. Bentar lagi juga sampai," balas Ocha.


✉ "Beli minum gimana?" balas Mutiara.


✉ "Kakak ada Aqua... kamu beli aja sendiri sana sama pacar kamu atau sama Galang." Balas Ocha.


Ocha pun sudah terlalu lelah, jadi teleponnya Ocha sengaja matikan agar tenang diperjalanan.


Setelah jalanan kembali normal, Ocha langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Sampai kapan Mutiara marah sama aku. Pokoknya setelah sampai di rumah Mutiara aku harus langsung bertemu dengan orang tuanya Mutiara dan aku akan segera melamar Mutiara," batin Wira.


Sore harinya Ocha dan yang lainnya sampai di rumah. Setelah sampai, Ocha masuk kedalam lalu langsung naik ke atas tanpa melihat kanan-kiri dan lupa rasa laparnya karena saking capenya.

__ADS_1


Sedangkan di ruang keluarga, orang tua Ocha dan Dika hanya melihat Ocha yang buru-buru masuk kamarnya tanpa melihat ke arah mereka.


"Tuh anak langsung lari-lari aja ke kamar, gak lihat apa kita ada disini." Kata Pak Fahri sambil menggelengkan kepala.


__ADS_2