
Setelah selesai menangangi kasus kejahatan, Dika langsung pergi ke Rumah Sakit untuk Menemui Dekta dan juga Elsa. Di Rumah Sakit masih ada Pak Minto yang menemani Elsa dan juga Dekta.
Sesampainya di Rumah Sakit, Dika menyuruh Pak Minto untuk pulang dan beristirahat karena sudah menjaga Dekta dan Elsa semalaman.
Pak Minto pun pamit pulang kepada Dika, dan segera pulang untuk istirahat.
Dika yang telah sampai ke Rumah Sakit langsung masuk ke ruang rawat Dekta dan melihat kondisi Dekta.
"Aku minta maaf gara-gara aku, Dekta menjadi korban. Itu semua salah aku!" kata Dika.
"Kenapa kamu yang minta maaf? Harusnya yang minta maaf itu pelakunya, bukan kamu!" kata Elsa.
Dika pun berdiri tepat di pinggir ranjang Dekta dan melihat kondisinya lebih dekat. Sesuatu terjadi tanpa di duga dan ini sangat disengaja.
Ada sebab dan akibat, sebabnya masih belum diketahui sedangkan akibatnya telah ada di depan mata. Hari ini Dekta, mungkin besok atau kapanpun bisa menimpa Dika seketika.
"Kamu harus janji sama aku sebagai sahabat, kamu harus temukan pelaku yang udah celakai suami aku," kata Elsa.
"Aku janji," kata Dika.
Dika pun keluar dari ruang rawat Dekta dan balik lagi ke kantor. Disana sudah ada orang yang sedang memperbaiki listrik yang telah di putus, dan ada orang yang sedang mengecek tiap sudut yang terlihat oleh CCTV.
"Aah, lihat! Aku menemukan sesuatu," kata salah satu orang yang mengecek CCTV.
Dengan segera Dika menghampiri dan melihat semua rekaman CCTV itu.
"Lihat! Ada dua orang berbaju hitam dan dia sepertinya sedang mengintai sekitar Perusahaan ini, dan hanya CCTV yang di luar saja yang bisa kami cek pak, soalnya di dalam tidak dapat kami cek karena gelap dan mati!" ucap laki-laki itu dan menunjuk layar komputer berisikan rekaman CCTV.
"Bagaimana dengan wajahnya? Apa kelihatan?" tanya Dika.
"Sebentar," kata salah satu orang yang mengecek CCTV
Dika pun mengalihkan penglihatannya dan menghampiri orang yang sedang memperbaiki listrik yang terputus.
Sedangkan polisi masih ada di TKP dan sedang melihat rekaman CCTV itu juga.
"Sepertinya orang ini sengaja merusak, bahkan sampai terputus seperti ini. Memang kurang kerjaan," kata orang yang memperbaiki kabel listrik.
"Lakukan yang terbaik pak," kata Dika dan menepuk pundak seseorang itu.
Dika pun menelpon Ocha dan memberitahukan agar tetap waspada karena ini sangat mencurigakan dan pelakunya pasti tahu tentang Dika dan juga Ocha.
Ocha pun menjadi khawatir sendiri mendengarnya, karena takut terjadi sesuatu kepada Dika. Karena sekarang Dekta pun telah menjadi korban.
"Untuk beberapa hari ke depan aku mohon kamu jangan hubungi aku dulu ya! Aku takut mereka ngejar kamu juga," kata Dika.
__ADS_1
"Ia, aku gak akan hubungi kamu untuk beberapa hari ke depan," kata Ocha.
"Pak Dika, lihat ini!" kata orang yang mengecek CCTV.
Dika pun menghampiri orang yang mengecek CCTV tersebut dan melihat rekaman selanjutnya.
"Udah dulu ya Cha," kata Dika.
Ocha pun mengiayakan dan langsung mematikan ponselnya. Setelah selesai berbicara dengan Dika, Ocha akan pergi ke Resto karena ada tiga orang karyawan yang sakit jadi Ocha harus menggantikan mereka. Di tambah Galang sekarang sedang kuliah dan Mutiara dapat pekerjaan baru, tidak ada yang membantu Ocha sekarang.
"Kak aku berangkat dulu ya, nanti pulang dari kantor aku langsung ke Resto bantuin kakak," kata mutiara yang hendak pergi bekerja.
"Hati-hati ya," kata Ocha.
Mutiara pun berangkat kerja setelah berpamitan kepada Ocha, Ocha langsung berangkat ke Resto.
Mutiara telah mendapatkan pekerjaan di kantor sebagai karyawan biasa, karena keinginannya bekerja di Perusahaan. Ditawarkan bekerja di Resto pun tidak mau.
Kini Ocha telah berada di Resto membantu karyawannya dan Ocha membantu dibagian kasir.
"Siapa yang tega melakukan hal sejahat itu kepada Dika, sekarang yang menjadi korban adalah Dekta suami dari sahabatku, orang yang tidak bersalah terkena akibatnya. Dika sebenarnya punya masalah apa sampai ada orang yang ingin mencelakainya," batin Ocha.
"Bu Ocha, bu..." kata salah satu orang karyawan.
"Hmm, ya..." Ocha tersadar dari lamunannya.
Ocha pun langsung melayani pembeli yang hendak membayar. Karena melamun, ada tiga orang yang mengantri untuk membayar.
"Aduh Ocha fokus dong!" batin Ocha.
Dika masih melihat rekaman CCTV dan ternyata dua orang tersebut mengintai Perusahaannya dari pagi saat hujan turun, Sampai malam. Dan mereka masuk ke Perusahaannya dengan niat berbuat jahat.
Polisi pun segera menyelidiki siapa pelaku sebenarnya, tetapi sulit bagi polisi untuk melacaknya karena pelaku memakai masker dan wajahnya tidak terlihat.
Salah satu Polisi diberitahu bahwa sidik jari pelaku telah keluar dan itu akan mempermudah pekerjaan serta akan mudah untuk menangkap pelaku.
Polisi pun menyuruh Dika agar tetap waspada dan laporkan setiap pergerakan yang mencurigakan kepada Polisi.
Kriiing...kriiing...kriiing.
Telepon Dika berdering ada panggilan masuk dari papahnya lalu Dika mengangkat telepon tersebut.
"Hallo," kata Dika.
"Kamu masih di kantor?" tanya Pak Tio.
__ADS_1
"Heem pah, Dika pusing banget ngadepin ini. Masalahnya, mereka main-main sama nyawa orang pah. Dika gak sanggup kalo gini," keluh Dika kepada papahnya.
"Papah dapat kabar bahwa Widia sudah bebas dari penjara Ka," kata papahnya.
"Apa pah? Papah dapat info dari mana?" tanya Dika.
"Tadi teman papah yang ngabarin, karena teman papah dekat sama papahnya Widia. Mungkin mereka cerita-cerita," kata papahnya.
"Widia bebas, Dekta jadi korban dan sasarannya itu aku, tapi akibatnya adalah membuat orang lain terluka," batin Dika.
"Ka kamu masih disitu kan?" tanya papahnya.
"Maaf pah, nanti aku sambung lagi ya," kata Dika.
Dika pun mematikan teleponnya lalu menghampiri Polisi dan menanyakan perihal Widia.
"Memang benar Pak Dika, saudari Widia telah bebas karena ada yang membantu membebaskannya," kata Polisi.
"Apa jangan-jangan ini semua ulah Widia? Kalo memang benar, kenapa dia bisa sejahat itu. Enggak, gak mungkin, pasti bukan dia," batin Dika.
Setelah selesai dengan tugasnya masing-masing, petugas CCTV, petugas listrik dan juga Polisi segera pergi dan akan menyelesaikan masalah ini secepatnya.
"Terima kasih pak atas bantuannya," kata Dika kepada para petugas.
"Kalau begitu kami permisi, dan jika ada informasi terbaru kami akan menghubungi anda," kata salah satu orang Polisi tersebut.
"Baik pak," kata Dika.
Benar-benar hari yang sangat buruk bagi Dika, karena fikirannya kini hanya tertuju kepada orang yang telah mencelakai Dekta dan keselamatannya Ocha.
Takut terjadi apa-apa terhadap orang yang ia sayangi, terlebih lagi calon istrinya itu. Tetapi bagaimana mungkin sekarang jika Dika harus pulang-pergi Jakarta-Yogyakarta.
Dika pun kembali ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Dekta yang masih dirawat.
Sesampainya di Rumah Sakit, keluarga Elsa sudah ada di ruang rawat Dekta. Melihat kedatangan Dika, keluarga Elsa sangat kecewa kepadanya.
"Kamu! Akhirnya datang juga kesini," kata Ibu Opi dengan tatapan sinisnya.
"Maaf tante, Dekta adalah tanggung jawab saya! Karena saya, Dekta menjadi seperti ini. Saya minta maaf," kata Dika.
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai menantu kami seperti ini?" tanya papahnya Elsa.
"Pah udah pah, ini bukan salah Dika," kata Dekta yang menghentikan pertanyaan papah mertuanya.
"Sebenarnya yang mereka incar adalah saya pak bukan Dekta. Mereka menginginkan saya, tetapi yang menjadi korban adalah Dekta," kata Dika.
__ADS_1
Dika pun menjadi merasa bersalah dan tidak enak kepada keluarganya Elsa, bagaimana pun Dekta tidak ada kaitannya dengan masalah ini dan sebenarnya masalah ini pun Dika tidak tahu apa maksud dibalik semua ini.