
"Hallo Ocha, ini aku Arvan kamu sudah membaikkan Cha?" kata orang yang menelpon Ocha.
"Dokter Arvan, dia telepon aku... lagi," batin Ocha.
***
Cuaca sore hari ini sangat mendung. Ocha sudah berada di rumah karena tadi siang langsung pulang dari Resto.
Ocha masih memikirkan Arvan yang menelponnya tadi pagi, Arvan mengajak Ocha untuk bertemu dan ingin membicarakan sesuatu dengannya.
Awalnya Ocha menolak untuk bertemu dengan Arvan, tetapi Arvan memohon untuk bertemu dengannya walaupun hanya sebentar. Ocha pun akan menemuinya asalkan bukan mempermasalahkan perasaan Arvan kepada Ocha.
Perjanjiannya, Arvan tidak akan membahas soal perasaannya kepada Ocha karena ada hal lain yang ingin dibicarakan dengannya.
Ocha terus memikirkan ada hal penting apa Arvan ingin bertemu dengannya, mungkin dia akan mengambil kalungnya dan memberikannya kepada gadis pilihannya.
"Cha, kita harus bertemu, ada hal penting yang harus aku bicarakan sama kamu. Aku harap kamu tidak menolak!"
"Hal penting apa?"
"Nanti aku jelaskan saat kita bertemu, besok sore di cafe. Aku tunggu kamu ya atau mau aku jemput?"
"Tidak perlu, aku akan datang bersama Galang. Tapi jangan bahas soal perasaan kamu lagi sama aku!"
"Baik, aku tidak akan membahas soal perasaanku sama kamu,"
Begitulah pembicaraan antara Ocha dan Arvan saat di telepon tadi. Penasaran dibuatnya Ocha pun mengambil kalung pemberian Arvan lalu dimasukkannya ke dalam tas.
"Kak Ocha, kakak kenapa?" tanya Mutiara kepada Ocha yang masuk kedalam kamarnya.
"Kakak gak papa. Ada apa Tiara?" tanya Ocha.
"Di depan ada tante Uma sama Om Tio," kata Mutiara.
"Hah?" kata Ocha kaget.
"Ia, ayo aku bantu ke depan!" kata Mutiara membantu mendorong kursi rodanya Ocha ke ruang tengah untuk menemui Ibu Uma dan Pak Tio.
"Ya Allah Ocha, calon menantu mamah," kata Ibu Uma lalu langsung memeluk Ocha.
"Tante, apa kabar tante?" tanya Ocha.
"Baik sayang," kata Ibu Uma lalu melepas pelukannya.
__ADS_1
"Kamu baik-baik aja kan Ocha, Om takut kamu kenapa-kenapa. Maafkan kami ya baru bisa datang menjenguk kamu," kata Pak Tio.
"Ia om, gak pa-pa terima kasih tante, om sudah repot-repot datang kesini untuk menjenguk Ocha," kata Ocha sambil tersenyum.
"Ini bu, pak, diminum dulu," kata Ibu Lina menyuguhkan air minum kepada Ibu Uma dan Pak Tio.
"Oh ya Fahri dimana?" tanya Pak Tio.
"Biasa Pak Tio, Fahri dia pergi ke Surabaya jaga cabang," kata Ibu Lina.
"Rajin ya Pak Fahri," kata Pak Tio.
"Ia, Besok juga Mutiara akan jemput Pak Fahri kesana," kata Ibu Lina.
***
"Aaakkhhh... mamah sama papah kemana sih, main rahasia-rahasiaan sama anaknya," kata Dika penasaran.
✉ "Ka, kamu mau ketemu mamah gak? Kalo mau sini ke Yogyakarta! Mamah sama papah lagi di rumah Ocha," pesan dari mamahnya Dika.
Dika membelakakan matanya saat menerima pesan dari mamahnya tidak percaya, belum juga Dika mendapatkan maaf dari Ocha kini orang tuanya sudah berada di rumah Ocha.
Pilihan tersulit menurut Dika tetapi bagaimanapun Dika tidak bisa terus seperti ini. Akhirnya Dika pun langsung bersiap hendak pergi ke Yogyakarta untuk menyusul mamah dan papahnya.
Setelah selesai, Dika pun mengeluarkan mobilnya dari bagasi dan segera melajukan mobilnya menuju ke Yogyakarta.
"Mamah sama papah ke Yogya gak kasih tau aku dulu selalu mendadak kayak gini, belum ada persiapan bahkan aku gak sanggup lihat wajah Ocha yang galak karena marah sama aku. Waktu itu di rumah sakit juga jutek banget apalagi sekarang," batin Dika dan frustasi dibuatnya.
Di rumah Ocha semuanya sedang makan bersama, Ibu Uma sudah menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya kepada keluarga Ocha agar tidak ada salah paham lagi antara Ocha dan Dika begitupun dengan Keluarga Ocha dan Keluarganya Dika.
Ibu Uma dan Pak Tio pun pamit untuk pulang ke Apartement-nya karena sudah larut.
Sebelum pulang ke Apartement, Ibu Uma dan Pak Tio membeli Stok bahan makanan untuk dimasak esok harinya karena tidak membawa stok bahan makanan dari Jakarta.
Pukul 02.00 dini hari, Dika baru sampai ke Yogyakarta lalu langsung masuk ke Apartementnya dan membaringkan diri di Sofa karena sudah terlalu lelah.
Ting... treng.. treng.
Suara gaduh di dapur membangunkan Dika yang masih tidur padahal baru sebentar tadi ia terlelap kini sudah terbangun kembali.
Dika pun beranjak dari sofa dan pergi ke dapur menghampiri asal suara gaduh tadi. Dilihatnya, mamahnya sedang memasak di dapur sendiri.
Dengan segera Dika membersihkan diri dan membantu mamahnya memasak, setelah itu Dika akan pergi ke rumah Ocha untuk meminta maaf kepadanya.
__ADS_1
Apapun yang terjadi, diterima atau pun tidak, Dika akan terus meminta maaf kepada Ocha. Dan bagaimana pun caranya Ocha harus memaafkan Dika. Pemaksaan memang, tetapi Dika tidak bisa jika harus tanpa Ocha.
"Kamu duduk aja sana tunggu mamah beres memasak!" kata Ibu Uma.
"Yah mah Dika udah lama gak bantu mamah masak, Dika kangen membantu mamah masak," kata Dika sambil membantu mengiris bawang. "Mamah sama papah kesini kenapa gak bilang Dika dulu?" sambungnya Dika.
"Kenapa harus bilang, toh mamah juga pengen dong ketemu sama calon mantu mamah," kata mamahnya menekankan pembicaraannya.
"Bukan gitu mah, tapi masalahnya Ocha lagi marah sama Dika," kata Dika.
"Udahlah kamu tuh makanya cepat minta maaf. kamu mau kapan lamar Ocha? Atau langsung Nikah aja, mamah tuh takut Ocha diambil orang," kata mamahnya yang masih sibuk mengaduk sayurnya.
Dika memikirkan kata-kata mamahnya, sebenarnya Dika sudah mempersiapkan segalanya tetapi tragedi yang menimpanya dan menimpa Ocha telah menunda semua rencananya.
Ditambah sekarang Ocha sedang marah kepadanya bagaimana agar Ocha bisa memaafkannya.
Setelah sarapan selesai, Dika segera pergi ke rumah Ocha untuk menemuinya dan meminta maaf dari Ocha.
"Eh ada Kak Dika," sapa Galang yang kebetulan keluar rumah karena akan mencuci mobil milik Ocha.
"Ia Lang, kamu apa kabar?" tanya Dika sambil menepuk pundak Galang.
"Baik kak, nyari Kak Ocha ya?" tebak Galang.
"Ia, Ada kan?" kata Dika.
"Ada, ayo kak masuk dulu aja nanti aku panggilkan," kata Galang.
Galang dan Dika pun masuk ke dalam, sedangkan Dika menunggu di ruang tamu. Galang memasuki kamar Ocha dan memberitahukan bahwa Dika sudah ada di depan.
Ocha yang sedang tiduran di kamar pun langsung membuka selimut yang menyelimuti seluruh tubuhnya karena kaget.
"Kak Ocha nih jam segini masih di kamar aja pakai selimut lagi," kata Galang.
"Komentar aja terus!" kata Ocha.
"Cepat lah kasian itu calon suami nunggu diruang tamu," kata Galang.
"Bawel," kata Ocha yang langsung berdiri karena sekarang Ocha sudah pulih dan bisa berjalan sedikit-sedikit.
Galang pun menggandeng tangan Ocha membantu Ocha berjalan menuju ke ruang tamu untuk menghampiri Dika.
"Ocha... " kata Dika yang melihat Ocha datang dan langsung berdiri.
__ADS_1