
Pagi hari ini semua keluarga Ocha sudah berkumpul di meja makan bersama, karena Ibu Lina sudah menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Mereka semua menunggu Ocha dan Dika karena belum juga keluar dari kamarnya.
“Masih lama gak di kamar mandinya?” teriak Dika yang sedang menunggu Ocha selesai mandi.
“Sebentar!” teriak Ocha.
“Aku duluan ya kasian loh dibawah udah pada nunggu kita buat sarapan bersama...” kata Dika.
“Ya udah sana duluan aja!”
Dika pun keluar dari kamar meninggalkan Ocha dan berkumpul bersama dengan keluarganya Ocha.
Semuanya sudah siap untuk makan. Tanpa menunggu lama, mereka pun makan tanpa menunggu Ocha karena mereka sudah tahu bahwa Ocha selalu lama jika sudah berurusan dengan kamar mandi.
“Kak Dika sabar-sabar ya sama Kak Ocha dia itu emang suka lama kalo di kamar mandi,” kata Mutiara.
“Siap adik cantik.” Kata Dika.
Setelah lama menunggu, akhirnya Ocha pun datang dan sudah siap bahkan sudah wangi karena hari ini ia akan ikut Dika ke Jakarta berbarengan dengan Elsa dan Dekta yang hari ini kebetulan mereka juga akan pulang ke Jakarta.
Ocha ikut makan bersama sedangkan yang lainnya sudah beres dan menjalani aktivitas masing-masing.
Dika menunggu Ocha yang belum selesai makan dan melihat Ocha dengan antengnya. Ocha hanya menatap wajah Dika sekilas dan melanjutkan makan lagi.
Ibu Lina yang sekarang berada di ruang keluarga sedang membantu merapikan barang bawaannya Ocha yang akan dibawa oleh Ocha ke Jakarta. Dan di ruang tamu sudah ada Ibu Uma dan Pak Tio yang sudah menunggu Dika dan juga menantunya.
Setelah selesai makan, Ocha langsung merapikan piring dan mencucinya. “Kamu makannya kenyang?” tanya Ocha kepada suaminya yang kini membantunya mengeringkan piring yang sudah dicuci oleh Ocha.
“Ia, dan masakan mamah kamu itu juara, tapi aku mau masakan buatan kamu.” Kata Dika.
“Nanti deh aku masakin, ya udah yuk mamah sama papah kamu udah nunggu kita...” kata Ocha.
Mereka berdua pun menuju ke ruang tamu dan mereka semua sudah berkumpul bersama termasuk orang tua Ocha dan kedua adiknya.
__ADS_1
Semua barang bawaan Ocha sudah Ibu Lina siapkan bahkan Pak Fahri pun ikut membantu menyiapkannya.
“Nanti kalian kesini lagi kan?” tanya Ibu Lina kepada Ocha yang sekarang sedang memeluk Ocha. “Jangan lama-lama disana ya...”
“Ia mamah, kita gak akan lama kok disana,” kata Ocha.
Ibu Lina pun melepas pelukannya dan mengusap air matanya padahal Ocha akan pulang lagi tetapi serasa akan ditinggalkan lama oleh Ocha. “Dika jagain Ocha ya jangan sampai Ocha nangis loh!” kata Ibu Lina.
“Mamah tenang aja, Ocha ini adalah bidadarinya Dika jadi Dika akan selalu buat hari Ocha bahagia...” kata Dika memeluk Ibu Lina sebentar.
“Bu Lina tenang saja, Ocha akan selalu kami sayangi karena Ocha adalah menantu sekaligus anak untuk kami. Jadi kami tidak akan pernah menyakiti Ocha Bu Lina." Kata Ibu Uma.
Ibu Lina pun mengganggukkan kepalanya mengiyakan perkataannya Ibu Uma. Ocha pun memeluk Pak Fahri dan juga kedua adiknya.
Lalu orang tua Dika menuju ke mobil duluan dan menunggu Dika dan juga Ocha. Dika pun berpamitan kepada orang tua Ocha.
“Ocha pamit ya mah, pah. Galang jagain mamah sama papah, oh ia jangan lupa cek cabang juga di Surabaya, dan kamu Mutiara harus selalu hati-hati ya,” kata Ocha.
Galang dan Mutiara hanya menganggukan kepalanya saat Ocha menyuruhnya ke cabang.
“Siap mah...” kata Dika.
Dika dan Ocha pun menuju ke mobil, Dika segera melajukan mobilnya dan berangkat menuju ke Jakarta. Di dalam mobil, Ibu Uma dan Ocha makan camilan bersama sedangkan Pak Tio masih asik dengan ponselnya. Kini Dika serasa menjadi supir mereka bertiga.
Dika pun diam dan cemberut karena tidak dibawa bicara bahkan mereka bertiga sedang asik dengan candaan dan makanan yang sedang dimakannya.
“Suami kamu kayaknya marah tuh Cha," kata Ibu Uma terkekeh.
“Ia kayaknya mah...” kata Ocha dengan santainya.
“Kamu marah sama aku?” tanya Ocha sambil bersandar di pundaknya Dika.
“Enggak yangku, aku gak marah apalagi sama kamu.” Jawab Dika.
__ADS_1
“Yakin?” kata Ocha.
“Yakin sayangku...” kata Dika.
Lalu, Ocha menyuapi camilan untuk Dika karena kasihan juga menyetir berjam-jam pastinya sangat melelahkan. Siang harinya Dika masih menyetir dan sekarang jalanan sangat macet bahkan cuaca hari ini sangat panas.
Di rumah Ibu Lina, Mutiara dan Galang bersiap untuk ke Resto karena sudah satu minggu ini belum di cek. Mereka pergi ke Resto sambil membawa stok belanjaan. Sedangkan Ibu Lina dan Pak Fahri seperti biasa akan pergi ke Bandung dan setelah cek Resto di Yogya, Mutiara dan Galang akan pergi ke Surabaya.
Mutiara pun memberitahukan Wira bahwa malam ini dia akan pergi ke Surabaya dan akan libur untuk beberapa hari untuk tidak masuk kantor. Wira pun mengizinkan Mutiara untuk mengambil libur untuk beberapa hari.
Dika dan Ocha masih terjebak dalam kemacetan. Kini Ocha bemain ponsel untuk menghilangkan kejenuhan akibat macet, sedangkan Dika kini sedang besandar dibahunya Ocha dan melihat Ocha bermain ponsel, yang dimainkan Ocha adalah game memasak.
“Yang itu tuh layani dulu kasian dong yang dateng duluan kamu layani terakhir...” kata Dika yang sedang melihat gamenya.
“Ini pelanggannya banyak banget aku jadi bingung, levelnya sulit banget tau...” kata Ocha.
“Ya udah sini biar aku aja yang main,” kata Dika mengambil ponselnya Ocha lalu melanjutkan memainkan gamenya.
Sekarang giliran Ocha yang bersandar di bahunya Dika dan tak lama, Ocha terlelap dalam tidurnya. Dika yang melihat istrinya tertidur, Dia mencium kening istrinya itu dan berhenti main game.
Dika melihat kedua orang tuanya juga yang sekarang sudah terlelap.
Tak lama, jalanan mulai lancar kembali dan Dika melanjutkan perjalanan agar cepat sampai ke rumahnya dan segera beristirahat karena hari ini benar-benar membuat Dika lelah dan hanya ingin tidur.
Kring.. kring... kring.
Ponsel Dika berdering, ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Dika mengangkat telepon tersebut dan ternyata yang menelpon itu adalah Widia dan dia menelpon Dika dengan alasan memberitahukan kebebasannya dari kantor polisi.
Dika yang mendengar bahwa yang menelpon adalah Widia, Dika terperanjat kaget dan tidak menyangka bahwa Widia akan bebas secepat itu mengingat kejahatannya yang sudah ia lakukan terhadap Dekta, Ocha dan dirinya.
Di telepon, Widia meminta maaf dan meminta Dika untuk menemuinya bersama Ocha karena Widia juga ingin meminta maaf kepada Ocha juga atas kesalahan dan juga kejahatan yang telah ia lakukan waktu itu kepada Ocha.
Dika tidak terlalu menanggapi permintaannya Widia karena bagi Dika maaf untuk Widia sudah tidak ada lagi. kesempatan yang diberikan waktu itu sudah habis untuk Widia bahkan sekarang Dika takut karena orang yang berbuat jahat telah kembali.
__ADS_1
Dika berfikir bahwa dengan bebasnya Widia maka akan timbul masalah yang baru dan bagaimanapun itu Dika harus bisa menghindarinya. Dika akan memberitahukan ini semua kepada Ocha setelah sampai di Jakarta karena Ocha juga harus tahu bahwa sekarang Widia sudah kembali bebas.