Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 70 Tidak Bertemu Beberapa hari


__ADS_3

"Apa? Surabaya..." kata Dika membelalakan matanya.


***


Ocha pun sampai di Resto setelah dari Rumah Sakit. Galang yang melihat kakaknya pun langsung menghampirinya dengan panik.


Ocha pun hanya diam dan melihat keadaan sekitar yang berantakan. Ocha pun duduk di salah satu kursi Resto yang masih tersisa.


Kebakaran di cabang Resto sengaja Ocha sembunyikan dari mamah dan papahnya karena tidak ingin mereka panik, karena keadaannya sekarang tidak memungkinkan untuk memberitahukannya.


"Kak..." kata Galang yang langsung duduk disamping Ocha.


"Kenapa Lang?" tanya Ocha.


Galang pun menangis melihat Resto kakaknya yang terbakar dan tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis dan memeluk Ocha dari samping.


"Kamu kenapa nangis, udah besar juga..." kata Ocha sedikit ketawa tetapi sembari sedih dan mengelus tangannya Galang yang memeluk Ocha. "Kamu jangan nangis, malu tuh dilihatin karyawan kakak loh," sambung Ocha.


"Kak..." kata Galang lalu melepas pelukannya. "Kakak nih dalam keadaan kayak gini masih aja bercanda," kata Galang.


"Ih apaan kakak gak bercanda. Ah udah gak usah melow, kamu udah makan?" tanya Ocha.


"Keadaan kayak gini masih aja bisa tenang, padahal Kak Ocha saat ini sedang rugi besar." Batin Galang.


Mutiara, Wira dan Arvan pun sampai ke Restonya Ocha dan semuanya pun kaget saat melihat keadaan Resto.


Mutiara pun langsung menangis dan menghampiri Ocha yang sedang duduk bersama dengan Galang.


Disusul oleh Wira dan juga Arvan menghampiri Ocha.


"Kak Ocha..." kata Mutiara yang langsung duduk disamping Ocha dan memegang tangannya.


"Kalian datang cepat... kalian udah makan?" tanya Ocha.


"Kak plis deh, jangan tawarin kita makan disaat seperti ini," kata Mutiara.


"Cha... kamu baik-baik aja kan?" tanya Arvan.


"Aku baik, yang gak baik itu Restonya aku. Kamu lihat sendiri kan betapa gak baiknya kondisi Resto aku saat ini," kata Ocha.


"Ia Cha..." jawab Arvan.


Entah harus bagaimana lagi yang harus dilakukan oleh Ocha. Untung saja tidak ada korban jiwa dan hanya ada satu karyawan yang terkena luka bakar dan Ocha harus benar-benar memperhatikan Susan agar mendapatkan perawatan yang benar-benar baik.


Galang pun kini melihat Wira yang datang bersama Mutiara, wajah Galang berubah seketika menjadi kesal.


Begitupun dengan Wira betapa kagetnya dia melihat Galang ada disini bersama Ocha dan juga Mutiara.


Wira baru tahu jika Galang ini adalah adik dari Ocha dan juga Mutiara. Dengan cepat Galang pergi dari hadapan kakak-kakaknya setelah melihat Wira.

__ADS_1


Setelah mendengar kabar bahwa Ocha pergi ke Surabaya, Dika langsung pergi ke Rumah Sakit untuk memberitahu mamah dan papahnya.


Besok pagi Dika akan menyusul Ocha kesana setelah mengantar mamahnya pulang dari Rumah Sakit.


Hari sudah mulai gelap dan sekarang Ocha sudah berada di Apartement miliknya bersama dengan Mutiara dan juga Galang. Sedangkan Wira dan Arvan mereka berada di Apartement bersebelahan dengan Apartement milik Ocha.


"Kak Mutiara kakak kenapas sih pacaran sama Wira? Aku gak suka sama dia kak," kata Galang kepada Mutiara.


"Alasan kamu gak suka sama Wira kenapa? Wira baik kok orangnya," jawab Mutiara.


"Kak Mut, Kak Wira itu pernah tuduh aku merebut pacarnya dia waktu SMA. Aku benci sama dia kak," kata Galang.


"Galang, semua itu udah berlalu. Kakak mau kamu jangan egois," kata Mutiara.


"Cukup... kayak anak kecil aja deh kalian. Kalo punya masalah selesaikan diluar sana! Kakak gak mau dengar kalian bertengkar," bentak Ocha kepada Galang dan Mutiara.


Galang dan Mutiara pun seketika diam mendengar bentakan dari Ocha. Dengan cepat mereka kembali ke tempat tidur mereka masing-masing dan masih saling marahan.


Ocha pun hampir lupa mengabari Dika bahwa saat ini dirinya sesang ada di Surabaya. Dengan cepat Ocha meraih ponselnya yang berada di atas kasurnya untuk menelpon Dika.


"Ia Ocha..." kata Dika dari seberang sana.


"Kamu..." kata Ocha terputus saat Dika mengatakan sesuatu.


"Aku udah tau kamu sekarang ada di Surabaya kan? Kamu kenapa pergi gak kasih tau?" tanya Dika.


"Maaf ya, aku mendapat musibah. Resto aku tadi pagi terbakar jadi aku langsung kesini," kata Ocha.


"Gak apa-apa," kata Ocha. "Emm... kamu jangan marah ya, disini juga ada Dokter Arvan," kata Ocha dengan nada takut Dika akan marah.


"Kamu kasih tau Arvan bahwa Resto kamu kebakaran sedangkan aku kamu gak kasih tau," kata Dika.


"Aku gak kasih tau Arvan, dia dateng bareng Mutiara sama Wira. Aku juga gak tau kenapa Arvan bisa ikut mereka," kata Ocha dengan nada suara yang lemas.


"Ya udah gak usah difikirin, aku gak marah kok. Sekarang kamu istirahat ya!" kata Dika.


Dika pun besok pagi berencana akan pergi ke Surabaya untuk menyusul Ocha.


Keesokan harinya, Pak Tio sudah merapikan barang-barang milik Ibu Uma dan Dika mengantar mamah dan papahnya pulang. Setelah itu, Dika pun pamit untuk menyusul Ocha ke Surabaya.


Akan tetapi, Tiba-tiba Dika mendapat kabar bahwa Proyek yang sedang dibangun di Bali terkena masalah dan harus cepat diselesaikan.


Dika pun akhirnya mengabari Ocha dan tidak bisa menyusulnya karena Dika harus turun lapangan untuk melihat kondisi Proyeknya.


Dekta yang mengabari Dika bahwa saat ini dia sudah ada di Bali dan meminta Dika untuk menyusulnya.


Dengan terpaksa, Dika harus pergi ke Bali untuk mengurus Proyeknya. Sedangkan orang tua Dika akan tetap tinggal di Yogyakarta sampai orang tua Ocha kembali dari Bandung.


Hari ini Ocha memperbaiki kerusakan Resto dan menutupnya untuk sementara karena kerusakannya harus segera di perbaiki.

__ADS_1


"Kamu belum sarapan, sebaiknya kamu sarapan dulu Cha!" kata Arvan yang sekarang berdiri di samping Ocha.


Ocha pun melihat ke arah Arvan dan tidak berbicara apapun kepada Arvan karena Ocha saat ini hanya memperhatikan para tukang yang sedang memperbaiki kerusakan Resto.


Mutiara pun hendak menghampiri Ocha tetapi langkahnya terhenti saat melihat Dokter Arvan berada disampingnya Ocha dan berbicara dengan Ocha.


"Kamu sengaja ikut kesini untuk mendekati Mutiara kan?" kata Ocha.


"Kemarin aku ke kantornya, aku bertemu dengan Mutiara dan juga calon suaminya. Kenapa dari awal kamu gak bilang kalo Mutiara mempunyai calon suami?" kata Arvan dengan nada membentak.


"Kalo misalnya kamu tau Mutiara sudah punya calon suami kenapa kamu masih kejar dia? Aku gak tau apa yang sedang kamu fikirkan Dokter Arvan." Kata Ocha tanpa melihat ke arah Arvan.


Mutiara yang mendengarnya pun kaget dan berjalan mundur hendak pergi tetapi dia menabrak seseorang yaitu Wira yang kini sudah ada dibelakangnya.


"Haii kamu kenapa? Hati-hati kalo sampai kamu jatuh gimana?" kata Wira.


"Kita pergi dari sini ya," kata Mutiara sambil menarik tangannya Wira dan mengajaknya pergi.


Wira pun mengikuti Mutiara yang mengajaknya pergi ke suatu tempat. Wira pun bertanya-tanya kenapa Mutiara bertingkah aneh.


Sebelum sampai ke tempat yang akan dituju Mutiara, Wira dan Galang bertemu dan saling berhadapan. Kini mereka saling bertatapan.


Galang benar-benar kesal dan marah kali ini kepada Wira setelah bertahun-tahun lamanya. Ternyata Galang tidak bisa melupakan masa lalu yang terus membuatnya teringat.


"Galang..." kata Wira.


"Hmmm... kita ketemu lagi setelah sekian lama, ternyata kamu adalah calon suami Kak Mutiara. Kamu tau Kak Wira? Mutiara ini kakak aku dan aku adiknya," kata Galang penuh amarah.


"Aku tau Mutiara adalah kakak kamu Lang, aku minta maaf atas kejadian waktu itu." Kata Wira.


"Galang, kamu itu kenapa sih? Stop bertengkar dong kakak gak mau kalian terus bertengkar," teriak Mutiara.


Teriakan Mutiara pun sampai terdengar oleh Ocha karena jarak Mutiara dan Ocha tidak terlalu jauh. Ocha dengan cepat menghampiri Mutiara yang berteriak dan disusul oleh Arvan


Ocha pun melihat Wira dan Galang yang sedang bertengkar sedangkan Mutiara sekarang duduk di bawah karena sudah cape melihat Wira dan Galang yang bertengkar.


"Kalian kenapa lagi?" tanya Ocha.


"Tanya aja sama dia," kata Galang kepada Wira lalu pergi begitu saja.


"Wira tolong dong kamu jangan bertengkar terus sama Galang! Aku cape lihat kalian kayak gini. Kamu juga kan udah dewasa apa salahnya sih mengalah?" kata Ocha.


Belum sempat Wira menjelaskan, Ocha mendapat panggilan masuk yang langsung diangkat oleh Ocha.


Panggilan masuk tersebut dari Dika untuk memberi kabar bahwa hari ini Dika tidak bisa ke Surabaya karena ada urusan kantor dan Proyek yang sedang bermasalah.


"Cha, aku minta maaf ya hari ini aku gak bisa susul kamu kesana. Aku harus pergi ke Bali dan urus Proyek aku yang sedang bermasalah, kamu baik-baik ya selagi aku pergi." Kata Dika.


"Ia, kamu hati-hati. Sekali lagi aku minta maaf ya karena..." kata-kata Ocha pun terputus.

__ADS_1


"Gak usah minta maaf, yang penting aku percaya sama kamu dan kamu gak perlu khawatir soal aku ya... sekarang aku harus pergi Cha, nanti kalau sudah sampai di Bali aku kabarin kamu ya," kata Dika yang jauh disana.


"Hmm..." kata Ocha.


__ADS_2