
Ocha masuk ke dalam ruang rawat Dika dan memperhatikan Dika sambil menangis, karena Ocha tidak dapat menahan air matanya melihat Dika yang sudah lama tidak sadarkan diri.
Ibu Lina yang melihat Ocha dari jendela ruangan Dika pun menangis melihat Ocha sekarang.
Ibu Lina pun masuk ke dalam untuk menghampiri Ocha. Sebelum masuk, Ibu Lina mengusap air matanya dahulu agar Ocha tidak tahu bahwa Ia menangis.
"Ocha..." kata mamahnya yang sudah berada disampingnya.
"Mamah... Mamah disini," kata Ocha.
"Ia sayang, Cha pulang yuk!" ajak mamahnya kepada Ocha.
"Enggak mah, Ocha akan pulang setelah Dika siuman!" kata Ocha.
"Terus Kamu kenapa nangis?" tanya mamahnya.
"Mah..." kata Ocha yang langsung memeluk mamahnya. "Aku gak sanggup kalau harus kehilangan Dika mah," sambung Ocha.
"Kenapa Ocha, ada apa? Kamu harus yakin bahwa Dika akan baik-baik saja!" kata mamahnya yang mengusap punggungnya Ocha.
"Mamah, apa Ocha harus lepas Dika buat Heln mah?" tanya Ocha kepada mamahnya.
Mamahnya kaget mendengar Ocha berkata seperti itu, seperti tidak ada harapan lagi bagi Ocha untuk bertahan bersama Dika.
"Kamu kenapa bertanya seperti itu sama mamah sayang? Mamah mau kamu pertahankan Dika!" kata mamahnya.
"Tapi mah, kalau Ocha bertahan akan ada yang tersakiti mah," kata Ocha.
"Kamu jangan pernah melepaskan Dika untuk siapapun, ingat! Sebentar lagi kamu akan menikah sama Dika!" kata mamah.
Ocha pun terdiam mendengar perkataan mamahnya yang harus bertahan dan mempertahankan Dika.
__ADS_1
"Tenang saja sayang, kamu seperti ini juga gara-gara Dika. Dia yang udah tabrak kamu sampai kamu lumpuh gini, Dika harus menikah sama kamu karena calon suami kamu juga sudah meninggalkan kamu!" kata Ibu Nita.
"Tapi mah, cinta Ocha sama Dika begitu besar. Aku gak yakin mereka akan berpisah dengan mudahnya dan aku juga sebenernya gak mau merebut Dika dari Ocha mah," kata Heln.
"Hmm kamu ini, jangan berubah fikiran gitu dong, lihat kondisi kamu! Pokoknya kamu tenang aja, ada mamah disini dan mamah akan buat mereka berpisah!" kata ibu Nita
Ibu Nita pun tersenyum licik karena setelah ini akan ada rencana yang akan memisahkan Ocha dan Dika.
Diam-diam, setelah Ocha dan mamahnya pergi. Heln masuk sendiri kedalam ruangan Dika untuk menemuinya.
"Haiii... kamu belum bangun juga, aku selalu nungguin kamu buat bangun! Ternyata kalo kamu dilihat dari deket gini ganteng juga ya, hmm... Kamu tau Dika? Aku juga hampir mau menikah, tapi dia ninggalin aku karena kamu! Aku jadi lumpuh gara-gara kamu, kamu juga harus ninggalin calon istri kamu atau calon istri kamu yang harus ninggalin kamu, dan menikah sama aku menggantikan calon suami aku yang pergi!" kata Heln yang melihat Dika.
"Kamu ngapain disini?" tanya Ibu Uma yang tiba-tiba masuk.
"Eh tante, jangan galak-galak dong tante. Aku ini kan calon menantunya tante!" kata Heln.
"Jangan pernah bermimpi kamu untuk menjadi menantu saya!" kata Ibu Uma yang langsung membawa Heln keluar.
"Ibu Uma yang terhormat, tolong perlakukan anak saya dengan baik karena Heln ini sebentar lagi akan menjadi menantu anda!" kata Ibu Nita.
"Jangan banyak berharap Ibu Nita! Saya tau, anak saya Dika memang telah membuat kesalahan karena menabrak Heln. Tapi itu tidak disengaja, karena anak saya Dika dia juga korban dan lihat! Dia terbaring lemah tidak berdaya disana, dan anda masih mau membuat anak saya menderita," kata Ibu Uma.
"Hmm kamu mau bagaimana kalo tidak membuat anak kamu menikah dengan anakku? Oke kalo itu mau kamu, kamu harus bayar kami 500juta, bagaimana?" tanya Ibu Nita
Ibu Uma pun syok mendengar permintaan Ibu Nita dan tidak habis fikir, Ibu Nita ini benar-benar akan memeras keluarganya.
"Jangan pernah dengarkan apa kata dia mah!" kata Pak Tio datang secara tiba-tiba yang tidak sengaja mendengar perkataan Ibu Nita dan istrinya.
"Lalu bagaimana? Kalian pasti tidak sanggup kan untuk memberi kami uang ganti rugi? Jelas, maka dari itu kalian harus setujui anakku Heln menikah dengan anak kalian!" kata Ibu Nita.
"Kamu itu sungguh keterlaluan, itu uang jumlah yang banyak! Kamu bukan mau meminta ganti rugi, tapi memeras keluarga kami!" kata Ibu Uma.
__ADS_1
"Baik kalo begitu, berarti saya anggap kalian tidak mampu dan sesuai keinginan kami, nikahkan Dika dengan Heln!" kata Ibu Nita tegas lalu pergi.
"Bagaimana ini pah? Kita gak mungkin menikahkan Dika dengan gadis itu, lalu Ocha bagaimana?" kata Ibu Uma.
"Mamah tenang dulu yah, yang seharusnya kita fikirkan adalah keselamatannya Dika dulu, baru kita fikirkan masalah ini!" kata Pak Tio menenangkan Ibu Uma.
Hari berganti hari, sudah dua minggu Dika masih terbaring tidak sadarkan diri. Ibu Uma terus saja menemani siang dan malam tanpa henti.
Sesekali Ocha yang menggantikan Ibu Uma untuk menunggu Dika, karena keluarga Ocha telah pulang ke Yogyakarta karena urusan bisnis Restorannya yang tidak bisa di tinggalkan.
"Sudahlah Ocha ngapain sih kamu masih nungguin Dika? Orang dia gak sadar-sadar," kata Heln yang tiba-tiba masuk perlahan karena masih menggunakan kursi rodanya.
"Kamu tuh kenapa sih Heln?" kata Ocha.
"Aku gak kenapa-kenapa, cuma heran aja kamu masih nungguin dia, gak cape? Udahlah biar aku yang nungguin Dika sampai dia siuman, karena Dika itu udah jadi milik aku. Tapi kamu masih nungguin dia, gimana aku mau deket sama Dika," kata Heln.
"Apa kamu bilang? Dika milik kamu..." kata Ocha
"Ia dong, kamu kan tau kalo Dika itu harus bertanggung jawab menggantikan calon suami aku yang udah tinggalin aku karena sekarang aku lumpuh!" kata Heln kesal.
"Heln kamu gak bisa ambil hak orang lain apalagi soal cinta, cinta itu gak bisa dipaksakan Heln!" kata Ocha.
"Alah, kamu gak akan pernah bisa ngerasain gimana kayak aku. Sekarang aku lumpuh, itu semua gara-gara dia!" teriak Heln kepada Ocha sambil menujuk ke arah Dika.
Ocha pun menagis mendengar Heln yang terus memojokkannya dan Ocha tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang benar, Heln menjadi lumpuh karena kecelakaan itu.
"Sekarang jelas! Mulai sekarang kamu bukan siapa-siapa Dika lagi!" kata Heln lalu berlalu pergi.
"Aku gak mau... Aku sayang sama Dika," Ocha pun menangis sambil memegang tangannya Dika.
"Andai kamu tau, aku menunggu kamu bertahun-tahun, tapi setelah aku dapatkan kamu, sekarang aku harus melepas kamu pergi dari hidup aku lagi... aku gak sanggup Dika, tolong kamu bangun..." batin Ocha.
__ADS_1