Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 7 Ungkapan


__ADS_3

Pak Tio sekeluarga pergi ke rumah temannya, yaitu rumah keluarga Pak Setyo yang tak lain adalah orang tuanya Widia.


Lalu keluarga Pak Tio disambut hangat oleh keluarga Pak Setyo dan dipersilahkan masuk.


"Dika, perkernalkan ini Pak Setyo dan Ibu Nova sahabat papah," kata Pak Tio kepada Dika memperkenalkan sahabatnya.


"Ia Dika, om ini sudah bersahabat lama dengan papah kamu dari smp, sekarang gak kerasa yah waktu dulu kamu itu masih kecil loh sekarang udah besar," kata Pak Setyo kepada Dika.


Ibu Nova pun pergi meninggalkan mereka dan pergi ke kamarnya Widia.


"Ayo sayang kita ke bawah!" ajak mamahnya.


"Jadi bener mah dugaan aku, bahwa aku ini mau di jodohin. Aku gak mau mah di jodohin, aku udah punya pilihan aku sendiri," kata Widia meyakinkan mamahnya.


"Aduh sayang kamu liat dulu, kalo kamu suka bisa dilanjutkan, kalo enggak ya gak papa kamu bilang aja sama papah kamu bahwa kamu gak mau dijodohkan," kata Bu Nova kepada Widia.


Lalu mereka pun akhirnya turun bersama.


"Nah ini anak saya namanya Widia..." kata Pak Setyo.


Lalu Dika yang mendengar nama itu langsung melihat ke arah Widia dan kaget, begitupun dengan Widia dia kaget sekaligus senang. Karena ternyata yang dijodohkan dengannya tak lain adalah Dika, orang yang Widia sukai.


Mereka berkumpul bersama sambil membicarakan acara perjodohan mereka.


"Saya sangat senang sekali dan saya berharap perjodohan ini sampai ke jenjang pelaminan. Yah walaupun mereka masih kuliah tapi bisa menunggu sampai lulus," kata Pak Setyo kepada keluarga Pak Tio.


"Ya, saya juga berharap begitu Pak Setyo," kata Pak Tio.


Lalu acara mereka akhirnya selesai dan keluarga Pak Tio pun pergi dan langsung ke tujuan yang kedua yaitu butik.


"Mah, mamah ko diem aja sih Dika dijodohin gini," kata Dika ke mamahnya.


"Mamah bisa apa, mamah serahkan semuanya kepada kamu. Kamu juga kenapa diem, kamu juga bisa nolak kan," jawab mamahnya Dika.


"Udah jangan berisik, Widia juga cantik, pinter pula apa yang salah dengan perjodohan ini Dika?" kata papahnya.


"Tapi seenggaknya papa bisa bilang dong pah ke Dika sebelumnya," kata Dika.


"Kamu sabar sayang, namanya jodoh gak akan kemana. Bila kamu berjodoh dengan Widia pasti akan terus bersama. Tetapi kalau tidak maka perjodohannya akan selesai," kata Ibu Uma yang tak lain adalah mamahnya.


"Perjodohan akan tetap berlanjut!" kata papahnya Dika tegas.


"Pah, papah gak bisa dong kayak gini aku gak suka pah sama Widia!" tolak Dika kepada papahnya.


Tetapi papahnya Dika tidak menghiraukan perkataan Dika sedikitpun dan tetap kepada pendiriannya. Yaitu menjodohkan mereka berdua.


Lalu mereka sampai di butik, dan tidak menyangka ternyata butik yang mereka tuju adalah butiknya Ibu Opi mamahnya Elsa.


"Aaa... Jeung Uma," sambut mamahnya Elsa kepada mamahnya Dika.


"Apa kabar Jeung Opi, sudah lama yah rasanya gak ketemu," kata Ibu Uma.


"Ia kita sibuk yah sama urusan kita masing-masing. Waah jeung ini anaknya yah, ganteng banget loh," puji Ibu Opi kepada Dika.

__ADS_1


"Ia jeung, namanya Dika.. kami kesini mau cari baju buat acara tunangannya Dika loh jeung," kata mamahnya Dika.


"Oh gitu, kapan acara tunangannya jeung?" tanya Ibu Opi penasaran.


"Masih direncanakan jeung," sambil senyum.


"Ya sudah di pilih dulu aja di dalam silahkan!" kata Ibu Opi.


Lalu mereka memilih baju untuk Dika, sedangkan Dika hanya duduk dan fokus kepada ponselnya saja.


"Mah Elsa pulang dulu yah," kata Elsa yang keluar dari ruangan mamahnya.


"Elsa, eh jeung kenalin ini Elsa anakku..." kata Ibu opi.


"Waaah ini Elsa yah cantik sekali," puji Ibu Uma kepada Elsa.


Lalu Elsa pun bersalaman dengan Ibu Uma.


"Oh ia kenalin Elsa ini anak tante, Dika kesini sayang!" panggil Ibu Uma kepada Dika.


Lalu Dika pun menghampiri mamahnya dan keduanya kaget karena mereka saling mengenal satu sama lain.


"Jadi.. Dika ini anak tante?" kata Elsa.


"Ia Elsa, kalian sudah saling kenal ya," kata Ibu Uma.


"Elsa ini temen Dika mah di kampus," kata Dika cuek.


"Oh gitu ya," kata Ibu Uma.


"Coba deh lihat kamu suka gak yang ini?" kata Pak Tio menawarkan jasnya.


"Ia terserah papah aja deh!" sahut Dika kemudian duduk kembali.


"Tante gak nyangka loh Elsa kalian teman satu kampus," kata Ibu Uma.


"Ia, tante..." jawab Elsa.


"Katanya Dika ini mau tunangan loh El," kata mamahnya Elsa.


"Apa tunangan?" Elsa kaget mendengarnya.


"Ia tunangan sama Widia." Kata Bu Uma blak-blakan.


Elsa yang mendengarnya tidak percaya, Dika benar-benar akan bertunangan dengan Widia. Fikir Elsa, apakah Widia yang sama yang dikenalnya ataukah Widia yang berbeda. Sedangkan nama Widia kan banyak di dunia ini.


Lalu Elsa pun pulang tanpa kata dan meninggalkan mamahnya sendiri di butik, karena sudah terlalu larut dan Elsa harus siap siap ke kampus besok pagi.


Malam berganti pagi, Elsa sudah berada di depan rumah Ocha karena akan berangkat bersama dengan Ocha.


Tok... tok... tok.


Elsa mengetuk pintu rumah Ocha.

__ADS_1


"Ia sebentar!" teriak Mutiara lalu membukakan pintu.


"Eh kak Elsa, masuk ka," ajak Mutiara kepada Elsa.


Lalu mereka berdua pun masuk dan duduk bersama. Tak lama kemudian Ocha pun datang.


"Udah disini aja El cepet banget," kata Ocha sambil siap-siap berangkat.


"Ia kan biar pagi banget, oh ia tante Lina mana Cha?" tanya Elsa.


"Lagi ke pasar, sekarang yuk kita berangkat!" kata Ocha.


Lalu mereka pun berangkat kuliah bersama.


"Cha kamu tau gak kalo Dika itu katanya mau tunangan loh," kata Elsa heboh.


"tunangan..." kata Ocha.


"Ia Cha, coba tebak sama siapa Dika mau tunangan?" kata Elsa.


"Mana aku tau El!" jawab Ocha malas.


" Aku denger sih sama Widia, tapi aku juga gak tau sih Widia yang mana," Elsa heboh sendiri.


"Yeee... makanya jangan so tau deh!" kata Ocha.


"Hehe ya maaf Cha kan aku juga denger dari mamanya Dika kemarin di butik," sambil senyum kepada Ocha.


Lalu mereka sampai di kampus, tak lama Dika mengikuti ke parkiran dan menunggu Ocha keluar dari mobil. Lalu Ocha dan Elsa keluar, Dika pun menghampiri Ocha dan berdiri di hadapan Ocha.


"Kamu ngapain berdiri di depan aku?" tanya Ocha kepada Dika penasaran.


Elsa yang berada di belakang Ocha hanya melihat tingkah mereka berdua.


"Elsa, tinggalin aku sama Ocha berdua ya!" kata Dika.


"Oh ia, ia silahkan," kata Elsa.


Elsa pun langsung pergi dari hadapan mereka.


"Kamu suruh Elsa pergi? Kamu ini kenapa sih Dika aneh banget deh," kata Ocha heran.


Ocha yang melihat tingkah aneh Dika pun langsung mau pergi, tetapi Dika menahan Ocha dan memegang tangan Ocha, tetapi Ocha menepis tangan Dika.


"Aku mau ngomong sama kamu Cha!" kata Dika.


"Kayaknya gak ada yang perlu di omongin deh Ka," kata Ocha.


"Sebentar aja Cha..." kata Dika.


"Ya udah mau ngomong apa?" tanya Ocha.


Kemudian mereka pergi ke taman dekat kampus.

__ADS_1


"Cha maaf sebelumnya, aku mau bilang jujur sama kamu. Sebenarnya aku suka sama kamu dari pertama kita ketemu, tapi sekarang udah terlambat Cha. Aku dijodohin sama papah Aku," kata Dika terus terang.


Ocha yang mendengarnya terbelalak tidak percaya bahwa Dika mempunyai perasaan suka kepadanya. Sebenarnya Ocha juga mempunyai perasaan yang sama tetapi sudah terlambat.


__ADS_2