
“Aku bertengkar sama Izora dia temen kampus aku kak...” kata Galang.
“Hah? Berantem kok sama cewek sih...” kata Mutiara.
***
“Ra lihat kakak ipar kamu gak?” tanya Ocha yang baru saja masuk habis selesai menjemur pakaian.
“Oh kakak ipar, dia masuk ke kamar tadi.” kata Mutiara.
“Oh ya udah kakak ke kamar dulu ya. Oh ia tolong kamu masukin ember ke kamar mandi ya,” kata Ocha.
“Eh kak Ocha tunggu. Ini buat Kak Dika tadi kayaknya dia pengen kue ini,” kata Mutiara sambil memberikan kue cupcakenya.
Ocha pun mengambil kue cupcake yang diberikan oleh Mutiara dan dibawa ke kamar untuk diberikan kepada Dika. Setelah di kamar, Ocha melihat Dika yang sedang mengetik karena harus bekerja walaupun dari jarak jauh.
Ocha menyimpan kue itu di atas meja di pinggir komputer Dika dan melihat pekerjaan suaminya. Dika melirik kue yang dibawakan oleh Ocha ingin rasanya memakan kue itu.
“Kamu mau kue itu?” tanya Ocha.
“Ia, itu kue yang dibuat Mutiara kan? Aku mau itu...” kata Dika.
“Kamu benar-benar ngidam?” tanya Ocha
“Ia itu semua karena calon anak kita...” kata Dika sambil mencium perutnya Ocha.
“Jadi nyalahin calon anak kita.” Kata Ocha lalu memberikan kuenya kepada Dika.
"Aku bercanda sayang..." kata Dika.
Dika pun menyantap kue itu dengan lahap dan Ocha melihatnya bukannya tertarik tetapi malah keluar meninggalkan suaminya karena melihat Dika makan kue Ocha menjadi mual.
Melihat Ocha keluar dari kamar, Dika menyusulnya dan di bawah dia melihat Galang yang sedang cemberut dan duduk di sofa akhirnya dia menghampiri Galang dan duduk di sampingnya.
“Kamu kenapa Lang?” tanya Dika.
“Gak papa kak, aku lagi kesel aja,” kata Galang.
“Lah, kesel kenapa? Ini kamu mau gak kue cupcake?” tanya Dika.
“Enggak mau ah gak mood...” kata Galang.
Dika pun diam dan melanjutkan makan kuenya sampai lupa untuk menyusul Ocha dan sekarang Ocha pergi keluar bersama mamahnya dan juga Mutiara. Melihat Ocha yang pergi, Dika ingin ikut tetapi malah ditinggal tanpa di ajak padahal jika diajak Dika bisa menjadi supirnya.
__ADS_1
Dua jam kemudian, Ocha dan mamahnya beserta Mutiara sudah pulang ke rumah. Mereka pergi untuk mengantar kue dan memantau tempat yang sedang dibangun untuk membuat toko kue untuk Mutiara.
Selain itu, Ocha juga ikut untuk memantau untuk membangun sebuah proyek yang baru untuk toko kue Mutiara.
Proyek yang dibangun telah melalui tahap perencanaan yang baik, pengorganisasian yang sudah di rancang dengan sebaik-baiknya.
Jadi jika ada kekurangan tinggal menutupi kekurangan tersebut, seperti dana untuk proyek, peralatan dan bahan yang mumpuni untuk memenuhi kebutuhan proyek yang akan di bangun.
“Papah mana Lang?” tanya mamahnya kepada Galang yang sedang menonton tv.
“Di belakang mah sama Kak Dika gak tau deh lagi ngapain. Oh ia tadi Kak Dika beli burung merpati loh mah,” kata Galang.
“Hah merpati?” sambar Ocha yang langsung melihat ke belakang. “Ya ampun kamu beli burung merpati?” tanya Ocha.
“Ia sayang, lihat deh lucu kan nanti burung ini itu buat anak kita dan kucing yang papah beli juga untuk kamu, nanti untuk anak kita juga,” kata Dika.
Keesokan harinya, Ocha dan Dika pergi ke Resto untuk melihat keadaan disana karena sudah lama juga tidak memantau Resto. Para karyawan Ocha menyambut kedatangan Ocha yang lama tidak berkunjung ke Resto.
Di Resto, Dika melihat seseorang yang dikenalnya. Dia adalah Abyaz yang kebetulan sedang makan di Resto milik istrinya. Dika menghampiri Abyaz yang sedang menyantap makanannya.
“Hai kamu disini ternyata...” sapa Dika yang langsung duduk di hadapan Abyaz.
“Ia kak kebetulan lewat tadi dan lihat Resto ini rasanya ingin makan disini dan ternyata makanan disini itu enak banget. Kakak makan disini juga?” tanya Abyaz.
“Oh jadi Resto ini milik Kak Ocha?” tanya Abyaz yang sekarang masih menyantap makanannya.
“Ia Ocha pemilik Resto disini...” jawab Dika.
Tak lama setelah memantau, Ocha menghampiri Dika dan Abyaz “Ehh ada Abyaz ternyata...” sapa Ocha
“Ia kak... kebetulan banget ya kak kita ketemu lagi, waktu itu di supermarket sekarang di Resto kakak...” kata Abyaz “Ngomong-ngomong adik kakak yang galak itu gak ikut?” tanya Abyaz.
“Oh Mutiara, dia gak ikut biasalah lagi sibuk,” kata Ocha.
Setelah lama berbincang, Abyaz pun pamit untuk pergi dan melanjutkan untuk pemotretan. Sedangkan Ocha dan Dika, mereka langsung pulang karena Ocha harus banyak istirahat.
Dika sangat memanjakan istrinya dan dia sangat menyayangi Ocha karena selama ini perjuangan untuk mendapatkan Ocha akhirnya sudah terlaksanakan dan sekarang rumah tangga mereka tidak pernah ada permasalahan.
Satu persatu masalah hilang, tetapi dengan begitu namanya permasalahan akan tetap ada dan bagi Ocha dan Dika itu adalah suatu pelengkap dalam rumah tangganya karena itu akan membuat rumah tangganya semakin dekat dan jika tidak ada permasalahan itu sangat mustahil namanya juga kehidupan pasti di sela-sela itu masalah akan tetap ada. Asalkan masih dapat di atasi.
Satu bulan kemudian.
Mutiara beserta keluarganya meresmikan toko kue yang sudah selesai di bangun itu dan hari ini mereka mengadakan promo kue besar-besaran dan gratis mendapat kue untuk setiap yang akan makan di tempat.
__ADS_1
“Toko kue baru tuh...” gumam Abyaz, lalu Abyaz memasuki toko kue itu dan memesan kue gratis untuk makan di tempat.
Abyaz mencicipi kue yang dipesannya tadi “Hmm rasa kuenya enak banget...” gumam Abyaz.
“Ya ialah aku yang bikin, gratis lagi ...” sambar Mutiara yang sekarang sudah ada dibelakang Abyaz.
Abyaz pun menoleh kebelakang dan melihat Mutiara sudah berdiri di belakannya sambil menatapnya
Uhuk...uhuk...uhuk.
Abyaz yang sedang memakan kue tersedak dan Mutiara langsung membawa minuman lalu diberikan kepada Abyaz. Abyaz pun meminum minuman yang diberikan oleh Mutiara sampai habis.
“Makanya hati-hati kalau makan...” kata Mutiara yang langsung duduk di hadapan Abyaz. "Gimana kue gratissannya enak kan?” tanya Mutiara.
“Kalau aku tahu ini toko kue milik kamu aku gak bakalan dateng kesini tau gak,” kata Abyaz.
“Alah udahlah enak bilang aja enak gak usah ngeles segala...” kata Mutiara yang kini menatap Abyaz.
“Biasa aja dong lihatnya. Terpesona sama ketampanan aku ia?” tanya Abyaz yang sekarang membalas tatapannya.
“Idih amit-amit deh,” kata Mutiara yang masih duduk.
Abyaz pun hanya terkekeh melihat tingkah Mutiara dan ia pun menulis sesuatu di dalam kertas yang ditujukan untuk Mutiara. Setelah selesai menulis, Abyaz memberikan kertas itu kepada Mutiara.
Mutiara pun membaca tulisan yang ada di dalam kertas tersebut dan dia pun langsung menyerngitkan dahi. “Kamu pesan kue dan di tulis dalam kertas ini? Jadi cerritanya kamu suka sama kue buatan aku?” tanya Mutiara.
“Hmmm...” jawab Abyaz.
“Makanya gak usah gengsi...” kata Mutiara yang langsung masuk ke dalam toko kue dan membungkuskan kue yang dipesan oleh Abyaz.
Tak lama, Mutiara datang kembali dengan membawakan bingkisan berisi kue yang telah dipesan oleh Abyaz “Ini gak gratis ya...” kata Mutiara sambil memberikan kue yang dibawanya.
“Ia aku pasti bayar kok...” jawab Abyaz.
Mutiara pun hendak pergi tetapi Abyaz segera meraih tangan Mutiara dan berdiri di hadapannya. Mutiara pun menatap Abyaz dan melihat sekilas pergelangan tangan yang di raih oleh Abyaz. Abyaz pun segera melepaskan genggamannya.
“Kenapa?” tanya Mutiara.
“Aku mau minta maaf sama kamu, soal kejadian waktu itu di supermarket,” kata Abyaz.
“Oh itu, ia aku udah maafin kamu, walaupun terpaksa...” kata Mutiara.
“Hah terpaksa?”
__ADS_1
“Udah santai aja, udah aku maafin kok aku juga minta maaf karna marah-marah, sekarang udah gak ada masalah lagi kan? Kalo gitu silahkan menikmati hidangan gratisnya...” kata Mutiara lalu pergi dari hadapan Abyaz.