Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 45 Membantu Heln


__ADS_3

"Kamu minum obat dulu!" kata Ibu Nita memberikan obat kepada Heln.


"Bu, ibu kenapa sih waktu itu maksa banget buat Dika nikahin aku? Jadi aku juga ikutan maksa dia dan bahkan bertengkar dengan Ocha," kata Heln sambil mengambil obatnya dan meminumnya.


"Ia karena ibu pengen yang terbaik aja buat kamu, hidup enak tanpa harus bekerja siang dan malam. Bahkan kamu mau nikah jadi gagal gara-gara kamu lumpuh seperti ini," kata ibunya.


"Mah, ini juga karena tidak disengaja, dan sebenernya aku gak mau rusak hubungan orang lain," kata Heln.


"Ya udah sekarang kamu istirahat dan jangan lupa untuk ingatkan Dika karena harus bayar biayanya pengobatan terapi sampai kamu sembuh! Ibu mau kerja dulu, toko gak ada yang jaga," kata Ibu Nita berlalu pergi.


Sekarang pun Heln kefikiran soal Ocha, bagaimana bisa dia menyakiti seorang wanita, padahal dia sendiri seorang wanita dan tidak mungkin bagi Heln untuk merebut Dika dari Ocha.


Bagaimanapun, Heln masih mencintai calon suaminya yang telah meninggalkannya dan berharap untuk bisa kembali dengannya.


Ocha meminta Galang untuk mengantarnya ke cabang yang ada di Surabaya hari ini juga, karena Ocha ingin melihat kondisi Resto disana setelah lama tidak memantau.


Galang pun setuju untuk menemani Ocha ke Surabaya dan melihat keadaan cabang disana serta menginap untuk beberapa hari.


Ocha pun menunggu Galang di mobil karena Galang sedang membawa jaket di rumah. Ocha pun mengecek ponsel milik Galang yang memang kebetulan ditinggalkan di dalam mobil.


"Dika menghubungi Galang, sudahlah Ocha gak usah berharap lagi. Ini demi kebaikan Dika agar dika gak di tuntut sama Heln dan Tante Nita, kamu harus ikhlas lepasin Dika sama Heln." Batin Ocha.


Disimpannya ponsel Galang sebelum Galang kembali dan masuk ke dalam mobil.


"Kenapa sih kak kok sedih gitu? Udahlah, nih ya aku saranin mending sekarang kakak fokus aja sama karir kakak, kalo jodoh gak kemana kok," kata Galang yang masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya dan berangkat ke Surabaya.


"Bisa-bisanya ya ini anak satu bilang gitu, emang ini permainan apa yang harus lupain begitu aja, sembarangan banget!" batin Ocha.


"Udah gak usah mikir terus nanti cantiknya hilang tau kak," kata Galang sambil ketawa.


"Kamu tuh ya, fokus aja nyetirnya biar cepet nyampe!" kata Ocha.


"Ia ia, lagian tenang aja sih kak jodoh itu gak akan kemana, Kak Dika aman kok udah santai aja!" kata Galang.


"Kok dia bisa bilang gitu sih," batin Ocha.


"Ya bisa lah kak, kenapa enggak sih," kata Galang menebak fikirannya Ocha.


"Bercanda mulu sih," kata Ocha kesal lalu menggeplak lengannya Galang.


"Kamu kok masih telepon Dika sih Lang?" tanya Ocha.

__ADS_1


"Eeummm... karena Kak Dika telepon ya aku angkat, emang Kak Dika gak ada telepon kakak yah?" tanya Galang.


"Kakak blokir nomornya!" kata Ocha.


"Hah? Kok di blokir sih kak?" kata Galang terbelalak kaget.


Ocha pun malah mendengarkan musik dan tidak menghiraukan Galang adiknya. Karena keputusannya untuk memblokir nomor nya Dika adalah keputusan yang tepat.


Kriing... kriing... kriing.


Ponsel Dika pun berdering ada panggilan masuk dari Heln yang di angkat oleh Ibu Uma karena ponsel Dika tergeletak di meja ruang keluarga.


"Halo..." kata Ibu Uma.


"Tante..." kata Heln.


"Ngapain kamu hubungin anak saya?" tanya Ibu Uma.


Tiba-tiba Dika datang lalu diberikan ponselnya kepada Dika.


"Ini Pacar baru kamu telepon kamu!" kata Ibu Uma marah.


"Pacar baru apa mah?" tanya Dika.


"Halo Heln, ada apa?" tanya Dika.


"Dika, jadwal terapi aku di majuin jadi besok, kamu bisa datang kan buat nemenin aku terapi?" kata Heln.


"Bukannya lusa? kenapa jadi besok?" kata Dika.


"Aku juga gak tau, tapi emang jadwalnya jadi besok, bisa kan Dika?" kata Heln.


"Ia, besok aku kesana!" kata Dika lalu mematikan ponsel nya.


Sesampainya di Surabaya, Ocha langsung mengecek cabang dan bergegas mengecek stok yang tersisa.


"Aduh Ocha kok pergi gak bilang-bilang, main tinggalin mamahnya gitu aja," kata Ibu Lina yang baru tahu bahwa Ocha pergi ke Surabaya.


Kring... kring... kring.


Telepon Ibu Lina berdering, karena Dika menelpon Ibu Lina. Tak lama setelah tahu yang menelpon adalah Dika, Ibu Lina pun mengangkat telepon tersebut.

__ADS_1


"Halo Dika..." kata Ibu Lina


"Tante, aku mau tanya soal Ocha tante," kata Dika.


"Memangnya kamu gak hubungi Ocha Ka?" tanya Ibu Lina.


"Justru itu tante, makanya aku telepon tante karena nomor aku itu udah di blokir sama Ocha," kata Dika.


"Kok Ocha blokir nomor kamu, ya sudah nanti tante tanya sama Ocha ya. Hari ini Ocha lagi pergi ke Surabaya dan tante juga ditinggalin sama dia!" kata Ibu Lina.


"Ke Surabaya, ya ampun Ocha kamu kok gak ada istirahatnya, apa gak cape kemarin dari jakarta hari ini ke surabaya," batin Dika.


Semakin sedih hati Dika, disaat seperti ini tidak bisa menghubungi Ocha. Padahal dari hati yang paling dalam ingin sekali berada di sampingnya.


Keesokan harinya, sudah waktunya bagi Heln untuk terapi. Heln menunggu Dika yang sedari tadi belum datang.


Akhirnya Heln pun masuk ke ruang terapi. Tak berapa lama, Dika datang dan membantu Heln untuk terapi sekaligus ditemani oleh Dokter khusus.


Sesekali Heln terjatuh dan dibantu oleh Dika dan dipapah agar bisa terus melanjutkan terapi.


Di luar ruangan, terlihat Ibu Nita sedang memperhatikan Heln yang sedang terapi. Ibu Nita pun menitikkan air matanya teringat saat Heln masih dalam keadaan sehat. Tapi apa daya, semuanya sudah terjadi dan sekarang fokus pada kesembuhan Heln.


"Kamu udah hubungin Ocha?" tanya Heln kepada Dika sembari terapi.


"Nomor aku di blokir sama Ocha," kata Dika.


"Apa? Di blokir?" kata Heln.


"Ia di blokir, tapi kabarnya baik-baik aja dan rencananya setelah kamu sembuh aku mau temui dia disana. Aku harap setelah ini gak ada lagi kamu ganggu hidup aku!" kata Dika.


"Ia tenang aja, aku gak akan ganggu kamu. Setelah aku sembuh aku akan kembali pada kehidupanku. Oh ia kalau nanti bertemu dengan Ocha sampaikan permintaan maaf aku sama dia!" kata Heln.


"Ya sudah, sekarang kamu harus fokus dan harus sembuh!" kata Dika.


Fisioterapi dilakukan Heln setiap hari, untuk mengembalikan kekuatan otot dan fungsi bagian tubuh yang mengalami cidera akibat kecelakaan yang dialaminya beberapa minggu lalu.


Dika pun rutin menemani Heln terapi, sesekali Dika menelpon Galang dan menanyakan kabar Ocha.


Menunggu Heln untuk pulih memang tidak akan secara langsung, tetapi Dika terus bersabar agar Heln dapat sembuh kembali dan mejalani aktivitasnya sehari-hari.


Suatu hari, Heln meminta nomor Ocha kepada Dika karena ingin menelponnya dan memberi tahukan semua kebenarannnya. Tetapi Ocha tidak menerima panggilan masuk dari siapapun kecuali kliennya.

__ADS_1


Heln pun menyuruh Dika untuk berhenti membantu terapinya dan mengejar Ocha kembali, karena Heln tidak ingin Ocha salah faham lebih jauh lagi.


Tetapi Dika menolak permintaan Heln karena ingin fokus untuk membuat Heln pulih kembali dan bertanggung jawab atas kesalahannya yang telah membuatnya seperti ini.


__ADS_2